Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOPENG DIBALIK KEGELAPAN
Ketegangann di sudut sofa premium itu terasa begitu mencekik bagi Kirana, jauh lebih menyiksa ketimbang bilur-bilur cambuk yang ditinggalkan Tuan Robert di punggungnya. Suara dentum musik bas dari pengeras suara utama kelab seolah menjadi latar suara dari detak jantungnya yang menggila. Di balik jaring-jaring renda hitam yang menyamarkan wajahnya, mata Kirana menatap lurus pada jemari Juragan Jaya yang dihiasi batu akik besar, jemari yang dahulu hampir saja merenggut kebebasannya di desa.
"Hahaha! Jaya, Jaya! Kamu ini ada-ada saja," Tuan Bramanto menimpali dengan tawa keras, memecah kecurigaan yang sempat menggantung di udara. Ia menuangkan kembali wiski ke dalam gelas kristal Juragan Jaya hingga busanya meluap tipis. "Semua wanita cantik di Valerion ini memang punya standar tubuh yang mirip. Langsing, tinggi, dan anggun. Jangan samakan permata kelab berkelas ini dengan gadis-gadis pencari kayu bakar di desamu itu!"
Juragan Jaya ikut tertawa, sebuah tawa serak yang terdengar begitu memuakkan di telinga Kirana. "Benar juga, Tuan Bramanto. Gadis di desa saya itu hitam karena tiap hari di sawah, mana mungkin punya kulit sehalus mawar ini," ujarnya sembari kembali menyandarkan tubuh gempalnya ke sofa, meski sepasang matanya yang kecil dan licik masih sesekali melirik ke arah Kirana dengan pandangan menyelidik.
Kirana menarik napas perlahan, menstabilkan gemuruh di dadanya. Ia tahu, dalam situasi seperti ini, suara adalah musuh terbesarnya. Logat bicaranya, meski sudah sedikit berubah setelah dua bulan di kota, tetap berisiko memicu ingatan pria tua bangka itu. Maka, Kirana memilih memainkan peran sebagai wanita malam yang bisu namun memikat—sebuah taktik yang sering ia gunakan untuk menghadapi tamu-tamu yang terlalu banyak menuntut.
Dengan gerakan tangan yang teratur dan anggun, Kirana mengambil botol wiski mahal di atas meja marmer. Ia menuangkan cairan emas itu ke dalam gelas Tuan Bramanto, lalu beralih ke gelas Juragan Jaya. Saat melakukannya, lengan gaun brokat hitamnya sedikit terangkat, menampilkan pergelangan tangannya yang putih bersih tanpa cacat.
"Nah, lihat itu, Jaya. Pelayanannya tidak ada tandingannya," puji Tuan Bramanto yang mulai terpengaruh oleh alkohol. Pria tambun itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu meletakkannya begitu saja di atas meja dekat jemari Kirana. "Ini untukmu, Mawar Hitam. Temani sahabatku ini dengan baik malam ini."
Kirana mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis di balik cadar rendanya yang tak bisa dilihat oleh mereka. Ia mengambil uang tersebut dengan sopan, lalu menyimpannya di dalam tas kecil yang melingkar di pinggangnya.
Waktu terus bergulir, merayap lambat di antara kepulan asap cerutu dan aroma alkohol yang kian pekat menodai udara. Juragan Jaya tampaknya mulai melupakan kecurigaannya seiring dengan banyaknya wiski yang masuk ke dalam tenggorokannya. Pria tua itu mulai bercerita dengan sombong mengenai keberhasilannya menguasai pasokan beras di wilayah kecamatan, sesekali menyombongkan uangnya di depan para wanita malam lain yang duduk di sekitar mereka.
"Di Valerion ini memang segalanya harus pakai uang," racau Juragan Jaya dengan logat daerahnya yang kental, wajahnya kini berona merah padam akibat mabuk. "Tapi di desa, saya adalah raja. Siapa saja yang butuh makan, harus sujud di depan pintu rumah saya. Termasuk keluarga musuh saya itu. Bapaknya mati mampus karena tidak punya uang berobat, dan sekarang anak perawannya hilang entah ke mana, paling-paling jadi babu di Jakarta!"
Brak!
Secara tidak sengaja, jemari Kirana menyenggol sebungkah es batu di dalam wadah kristal hingga terjatuh ke atas meja marmer. Kepalanya mendadak pening, dan rasa benci yang teramat sangat bergolak hebat di dasar lambungnya, naik menuntut untuk dimuntahkan tepat di wajah pria itu.
“Bapak... bapak tidak mati mampus, Bajingan!” batin Kirana menjerit dengan kemarahan yang membakar hingga ke sumsum tulang. “Bapak mati terhormat karena menjaga kesucian saya dari monster seperti kamu!”
"Eh, ada apa, Mawar Hitam? Kamu kurang sehat?" tanya Tuan Bramanto, menyadari sedikit perubahan pada gerak-gerik Kirana.
Kirana segera menguasai dirinya kembali. Ia menggelengkan kepala pelan, lalu mengambil selembar tisu untuk membersihkan lelehan air es di atas meja. Untuk mengalihkan perhatian, ia mengambil gelas wiski yang baru dan menyodorkannya langsung ke depan dada Juragan Jaya—sebuah gestur sensual yang biasa dilakukan untuk membungkam mulut tamu yang terlalu banyak bicara.
"Ah, kamu mau saya minum lagi?" Juragan Jaya menyeringai menjijikkan, menerima gelas itu dari tangan Kirana. Saat jemari mereka bersentuhan, Kirana merasakan sensasi dingin yang menggelatuk dari kulit pria itu, membuatnya harus sekuat tenaga menahan diri agar tidak menarik tangannya dengan kasar. "Baik, baik. Demi wanita secantik kamu, satu botol lagi pun akan saya habiskan!"
Pria tua itu meneguk wiskinya hingga tandas, membiarkan cairan keras itu membakar sisa-sisa kesadarannya yang masih ada. tidak lama kemudian, kepalanya mulai terkulai ke sandaran sofa, matanya meredup, dan suaranya berubah menjadi gumaman tidak jelas sebelum akhirnya tertidur mendengkur di tengah bisingnya musik kelab.
Melihat Juragan Jaya telah sepenuhnya tidak sadarkan diri, Kirana merasakan sebuah kelegaan yang luar biasa besar perlahan merayap di dadanya. Bahayanya telah lewat untuk malam ini. Identitasnya tetap aman di balik topeng kegelapan The Velvet Rose.
Tuan Bramanto yang juga sudah setengah mabuk melambaikan tangan ke arah salah satu pengawal yang berjaga di dekat lorong. "Heh, urus si Jaya ini. Bawa dia ke mobil. Kita kembali ke hotel sekarang," perintahnya dengan suara serak.
Dua orang pria berbadan kekar segera maju, membopong tubuh tambun Juragan Jaya yang terkulai lemas keluar dari area sofa premium. Tuan Bramanto berdiri, menepuk pundak Kirana dengan kasar sembari melempar senyum puas. "Kerja bagus, Mawar Hitam. Kamu membuat temanku senang malam ini. Rosa tidak salah menempatkanmu di sini."
Kirana berdiri, membungkuk hormat dengan keanggunan yang sempurna saat Tuan Bramanto melangkah pergi menyusul anak buahnya. Ia tetap berdiri di tempatnya sampai bayangan kedua pria dari masa lalunya itu benar-benar menghilang di balik pintu keluar kelab yang megah.
Begitu mereka lenyap, tubuh Kirana mendadak lemas. Ia terduduk kembali di atas sofa kulit, napasnya memburu cepat, berkejaran dengan rasa sesak yang menghujam dadanya. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia melepaskan topi jaring-jaring hitam yang sejak tadi menutupi wajahnya, melemparkannya ke atas meja dengan perasaan muak yang tak tertahankan.
Wajah aslinya kini terekspos di bawah temaram lampu kelab—pucat pasi, dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya.
Mbak Lastri yang sejak tadi mengawasi dari kejauhan segera melangkah mendekat. Ia duduk di samping Kirana, lalu menyerahkan segelas air putih hangat yang sengaja ia bawa dari bar. "Minum dulu, Kirana. Kamu hebat sekali malam ini. Aku sempat takut kamu akan lepas kendali saat pria tua itu menyebut tentang desamu," bisik Lastri dengan nada khawatir yang tulus.
Kirana menerima gelas itu dengan kedua tangan yang masih gemetar, meminumnya beberapa teguk hingga rasa hangatnya sedikit menenangkan gejolak di lambungnya. "Saya hampir mati rasanya, Mbak," bisik Kirana, suaranya parau dan sarat akan keletihan jiwa yang amat dalam. "Mendengar dia menghina Bapak saya... melihat wajahnya yang tanpa dosa setelah menghancurkan hidup kami... saya ingin sekali menusuk matanya dengan patahan gelas ini."
Lastri menghela napas panjang, mengelus punggung Kirana dengan lembut. "Aku tahu, Nduk. Aku tahu rasanya. Tapi kamu sudah mengambil keputusan yang benar dengan tetap diam. Di Valerion ini, kemarahan yang tidak sabar hanya akan menjatuhkanmu ke dasar jurang. Kamu harus menyimpan durimu sampai waktunya tepat untuk menusuk."
Kirana menatap sisa air putih di dalam gelasnya dengan pandangan yang kian menajam. Ketakutan yang sempat melandanya kini telah sepenuhnya menguap, digantikan oleh lapisan es dendam yang kian tebal mengunci hatinya.
"Juragan Jaya datang ke sini untuk bisnis di Distrik Utara, kan, Mbak?" tanya Kirana tiba-tiba, suaranya kini terdengar begitu dingin dan fokus.
"Iya, begitulah yang kudengar dari obrolan Mami Rosa tadi siang," jawab Lastri heran.
"Kalau begitu, dia pasti akan sering kembali ke kelab ini selama proses bisnisnya berjalan," tutur Kirana, sebuah senyuman tipis yang sangat dingin terukir di bibirnya yang kemerahan. "Biarkan dia datang. Biarkan dia menikmati gemerlapnya Valerion. Saya akan memastikan, di tempat inilah dia akan kehilangan seluruh uang kesombongannya, dan di tempat ini pula saya akan mengirimnya ke neraka yang sama seperti yang dia berikan pada Bapak saya."
Kirana berdiri, merapikan kembali gaun brokat hitamnya yang ketat, lalu mengambil topi jaring-jaringnya dari atas meja. Di bawah temaram lampu The Velvet Rose yang bergoyang, mawar yang polos dari desa itu kini telah sepenuhnya menumbuhkan duri-duri beracunnya, siap untuk mencabik siapa saja yang telah menorehkan derita dalam garis kehidupannya.