NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Fajar Baru di Mansion Wijaya

Detik demi detik berlalu, namun pelukan di lorong temaram lantai dua itu enggan terurai.

Suara gemercik air hujan yang menghantam kaca jendela besar di ujung koridor terdengar seperti simfoni latar yang menenangkan, mengisolasi Renard dan Arumi dari bisingnya penghakiman dunia luar.

Renard mempererat dekapannya, membiarkan jemari tangannya tenggelam di balik rambut hitam Arumi yang kini tergerai sebagian.

Kehangatan tubuh Arumi, isak tangis kecilnya yang perlahan mereda, serta pengakuan jujur yang baru saja lolos dari bibir tipis wanita itu, benar-benar meruntuhkan sisa-sisa keangkuhan yang selama ini ia agungkan.

Untuk pertama kalinya, sang penguasa Wijaya Group merasa benar-benar utuh—bukan karena angka-angka keuntungan di laporan keuangan, melainkan karena ia tahu hatinya telah menemukan pelabuhan yang tepat.

Perlahan, Renard melonggarkan pelukannya.

Ia memegang kedua bahu Arumi, mendorong tubuh istrinya sedikit menjauh agar ia bisa menatap wajah yang selalu berhasil mengacaukan logikanya tersebut.

Ibu jarinya bergerak lembut, mengusap sisa-sisa air mata yang berjejak di pipi mulus Arumi, menghapus duka masa lalu yang sempat bertamu malam ini.

"Jangan menangis lagi," bisik Renard, suaranya melembut, kehilangan seluruh aksen ketus yang biasa ia gunakan sebagai tameng.

"Mulai malam ini, tidak akan ada lagi yang boleh membuatmu merasa rendah diri di rumah ini, atau di mana pun. Aku tidak akan mengizinkannya."

Arumi mendongak, menatap sepasang mata elang yang kini memancarkan binar kehangatan yang begitu tulus.

Ia tersenyum, meski matanya masih sedikit sembap. Jas abu-abu milik Renard yang masih tersampir di bahunya terasa semakin hangat.

"Apakah ini berarti... kontrak kita sudah resmi berakhir, Tuan Renard?" goda Arumi sengaja, menyelipkan kembali panggilan formalnya dengan nada manis yang memancing senyum di wajah suaminya.

Renard mendengus pelan, sebuah senyuman asimetris yang menawan terbit di bibirnya. Ia menyentil dahi Arumi dengan pelan, membuat wanita itu mengaduh manja.

"Secara hukum di atas kertas, kontrak itu masih ada di dalam brankas. Tapi secara hukum di sini," Renard meraih tangan kanan Arumi, membawanya dan menempelkannya tepat di atas dada kirinya, di mana detak jantungnya masih berdegup dengan ritme yang cepat, "kertas itu sudah hangus tak bersisa. Dan berhenti memanggilku 'Tuan' jika kita sedang berdua."

Wajah Arumi seketika merona merah, menyaingi warna merah tipis yang kini juga menjalar di kedua ujung telinga Renard. Canggung yang manis mendadak merayap di antara mereka.

Renard berdeham kaku, berusaha mengalihkan rasa salah tingkahnya yang mulai kembali memuncak.

"Sudah sangat malam. Masuklah ke kamarmu dan segera bersihkan dirimu. Gaun ini... sangat indah, tapi aku tidak mau kamu masuk angin karena terlalu lama mengenakannya dalam kondisi dingin," ujar Renard sembari menuntun Arumi menuju pintu kamarnya yang hanya berjarak beberapa langkah.

Arumi mengangguk patuh.

Saat tangannya menyentuh kenop pintu, ia berbalik sejenak, menatap Renard yang masih berdiri setia di koridor, menjaganya. "Selamat tidur, Renard."

"Selamat tidur, Arumi."

Keesokan paginya, matahari musim penghujan terbit dengan malu-malu di balik awan mendung yang tipis.

Sinar fajar yang lembut mulai menyusup masuk melalui celah-celah gorden mansion, menyiram lantai pualam dengan cahaya keemasan yang hangat.

Suasana rumah besar itu terasa berbeda pagi ini, tidak ada lagi ketegangan yang sunyi, melainkan ada atmosfer baru yang terasa lebih hidup.

Di ruang makan utama, meja panjang yang biasanya tampak kaku kini telah dipenuhi oleh aroma harum masakan rumah.

Bi Sumi sibuk menata piring-piring porselen, sementara Mama Sofia sudah duduk manis di kursi kebesaran dengan wajah yang tampak jauh lebih segar dan berseri-seri dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Di bawah kursinya, si Oyen tampak sibuk mengesekkan tubuh bulu-bulunya ke kaki meja, mengejar aroma ikan yang menggoda selera.

Langkah kaki yang ringan terdengar menuruni tangga.

Arumi berjalan masuk ke ruang makan dengan pakaian rumah yang santai—sebuah tunik katun berwarna biru muda dan rambut yang diikat cepol rapi.

Wajahnya tampak segar tanpa beban, sisa-sisa kelelahan dari acara yudisium dan pesta semalam telah hilang sepenuhnya.

"Selamat pagi, Mama," sapa Arumi manis, melangkah mendekat dan mencium lembut pipi ibu mertuanya.

"Selamat pagi, Sayang. Wah, menantu Mama pagi ini kelihatan cantik sekali. Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?" tanya Mama Sofia dengan nada suara yang penuh selidik namun sarat akan kebahagiaan.

Beliau tidak bisa menyembunyikan binar matanya, seolah tahu ada sesuatu yang besar telah berubah di antara putra dan menantunya setelah kepulangan mereka dari pesta semalam.

"Sangat nyenyak, Mama. Terima kasih," jawab Arumi, sedikit tersipu karena tatapan menggoda dari sang ibu.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang lebih berat dan tegas terdengar menyusul.

Renard masuk ke dalam ruang makan.

Pria itu sudah rapi dengan kemeja kerja berwarna putih bersih yang lengannya digulung hingga sebatas siku, memamerkan jam tangan mewahnya. Penampilannya tampak jauh lebih rileks, dan garis-garis tegang di dahinya yang biasa ada setiap pagi kini mendadak sirna.

Begitu matanya menangkap sosok Arumi yang sedang membantu Bi Sumi menuangkan air putih, langkah Renard sempat melambat.

Sepasang mata elangnya melembut dalam sekejap, memberikan sebuah tatapan yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.

"Pagi, Mama. Pagi... Arumi," sapa Renard. Suara baritonnya terdengar hangat, sebuah sapaan pagi yang belum pernah ia ucapkan dengan nada selembut itu selama mendiami mansion ini.

Mama Sofia hampir saja menjatuhkan sendok teh yang sedang ia pegang karena terkejut mendengar nada suara putranya.

Beliau melirik Bi Sumi yang berdiri di sudut ruangan, dan kedua wanita senior itu saling melemparkan senyuman penuh arti yang tertahan.

"Pagi, Renard. Duduklah, ini Mama minta Bi Sumi buatkan nasi goreng kesukaanmu," ujar Mama Sofia, pura-pura bersikap biasa saja meskipun hatinya sedang bersorak kegirangan.

Renard mengambil posisi duduk tepat di samping Arumi, sebuah perubahan drastis mengingat biasanya ia selalu memilih duduk di ujung meja yang berseberangan dengan alasan 'menjaga jarak profesional'.

Tanpa diminta, saat Arumi hendak meraih mangkuk berisi potongan buah segar, tangan Renard sudah lebih dulu bergerak mengambilnya dan menyodorkannya ke hadapan istrinya.

"Makanlah yang banyak. Semalam kamu tidak menyentuh makanan pesta sama sekali karena sibuk melayani obrolan relasi," ucap Renard pelan, namun nadanya terdengar begitu protektif.

Arumi menatap mangkuk buah di depannya, lalu menoleh ke arah Renard dengan senyuman tulus yang merekah indah. "Terima kasih."

Mama Sofia yang menyaksikan interaksi alami tanpa paksaan di depannya itu tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menggoda.

Beliau berdeham keras, membuat Renard seketika menegakkan punggungnya kaku.

"Ehem! Luar biasa ya, angin apa yang berembus di mansion ini semalam? Anak Mama yang biasanya ketus dan harus disuruh-suruh dulu kalau mau perhatian sama istri, sekarang malah sudah pintar berinisiatif sendiri," sindir Mama Sofia manja, menopang dagunya sembari menatap Renard dengan pandangan meledek.

"Apakah ini efek dari gaun hijau zamrud semalam, atau karena menantu Mama yang memang terlalu pintar melunakkan kanebo kering?"

Wajah Renard yang tadinya tenang, dalam hitungan detik langsung kembali dihiasi oleh semburat merah tipis di ujung telinganya.

Pria itu buru-buru meraih cangkir kopi hitamnya, meminumnya sedikit demi menutupi rasa salah tingkahnya yang mendadak diserang oleh sang ibu.

"Mama... jangan mulai," gumam Renard pendek dengan suara yang mendadak serak, membuat Arumi yang duduk di sebelahnya tidak bisa lagi menahan tawa renyahnya.

Di tengah kehangatan ruang makan pagi itu, riuh rendah tawa Arumi berpadu dengan gurauan manja Mama Sofia, serta kepasrahan Renard yang hanya bisa terdiam salah tingkah sembari sesekali melirik istrinya dengan pandangan penuh cinta.

Hari itu, sebuah fajar baru benar-benar telah menyingsing di Mansion Wijaya.

Sebuah awal di mana tidak ada lagi kebohongan yang harus disembunyikan, tidak ada lagi sekat kontraktual yang membatasi, karena cinta yang tulus akhirnya telah mengambil alih seluruh kemudi kehidupan mereka.

1
Rakha Al Badri Yasin
bagus😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!