NovelToon NovelToon
Dendam Berdarah

Dendam Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.

Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan teman lama!

Keesokan paginya, suasana di rumah joglo sudah mulai menggeliat. Kru dan para pemain sudah bersiap dengan peralatan mereka, mengira akan melanjutkan syuting ke lokasi berikutnya. Namun, Sri segera mengumpulkan semua orang di ruang tengah untuk memberikan pengumuman mendadak.

"Teman-teman, minta perhatiannya sebentar," ujar Sri dengan suara lantang, mencoba menutupi kegundahan hatinya.

"Untuk hari ini, jadwal syuting terpaksa kita tunda sampai besok. Hari ini aku, Bagas, Tris, dan Susan harus keliling desa dulu untuk hunting lokasi baru yang lebih bagus dan pas untuk adegan-adegan krusial nanti. Jadi, hari ini kalian bisa manfaatkan untuk istirahat dan mendalami naskah lagi, ya."

Mendengar pengumuman itu, beberapa kru tampak mengembuskan napas lega karena mendapat waktu istirahat tambahan.

Mereka sama sekali tidak menaruh curiga. Padahal, alasan hunting lokasi itu hanyalah siasat Sri dan ketiga temannya agar mereka bisa menyelidiki misteri sosok tanpa kepala tanpa membuat yang lain panik.

Setelah kerumunan kru membubarkan diri, Sri melihat Mey yang sedang merapikan beberapa barang di sudut beranda. Sri menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah pelan mendekati gadis asli desa tersebut.

"Mey," panggil Sri ramah.

Mey menoleh dan tersenyum.

"Eh, iya, Sri? Ada apa?"

Sri berusaha tersenyum natural, lalu duduk di samping Mey.

"Mey aku mau tanya sesuatu... emang boleh dibilang agak sensitif, sih." Sri menjeda kalimatnya sejenak, menatap mata Mey dengan serius.

"Selama ini, di Desa Selogiri ini, apa ada pantangan atau larangan adat tertentu yang tidak boleh dilanggar oleh orang baru? Misalnya larangan di tempat-tempat tertentu?"

Mey mengernyitkan dahi, tampak berpikir sejenak mendengar pertanyaan Sri yang terkesan tiba-tiba itu. Namun tak lama, ia menggelengkan kepalanya dengan yakin.

"Pantangan? Setahuku tidak ada," jawab Mey polos.

"Selama aku tinggal di desa ini dari kecil, rasanya tidak ada pantangan aneh-aneh yang dilarang sama tetua desa. Warga di sini hidup biasa saja, asalkan kita sopan dan tidak merusak lingkungan, ya aman-aman saja. Memangnya ada apa ya? Apa ada sesuatu yang mengganggu?"

Jawaban Mey yang terkesan tak tahu apa-apa justru membuat Sri semakin bingung. Jika memang tidak ada pantangan yang dilanggar, lalu siapakah sosok mengerikan tanpa kepala yang terekam jelas di kamera mereka kemarin?

Sri terpaksa menelan kembali pertanyaan-pertanyaan lain yang sudah bersarang di kepalanya. Ia tidak ingin membuat Mey curiga atau malah ketakutan di desanya sendiri.

"Memangnya kenapa?" Tanya Mey.

"Oh, tidak apa-apa, Mey. Cuma memastikan saja," kata Sri sambil menepuk pelan bahu Mey, lalu berdiri.

"Namanya juga kita pendatang, kan harus tahu tata krama tempat yang kita datangi. Ya sudah, aku gabung sama Bagas dulu ya."

Mey hanya mengangguk sembari tersenyum ramah, lalu melanjutkan kegiatannya.

Sri segera melangkah ke halaman depan, di mana Bagas, Tris, dan Susan sudah menunggu di dengan raut wajah tegang. Begitu Sri mendekat, Bagas langsung menatapnya penuh tanya.

"Gimana, Sri? Mey bilang apa?" tanya Bagas berbisik.

Sri menggeleng lemah, membuat helaan napas kecewa terdengar dari mulut Tris.

"Mey bilang tidak ada pantangan apa-apa di desa ini. Dia dari kecil di sini dan semuanya normal-normal saja."

"Tidak mungkin," sahut Susan, suaranya agak bergetar mengingat rekaman semalam.

"Kalau desa ini normal, lalu siapa yang berdiri di gerbang subuh kemarin? Jelas-jelas itu bukan manusia, kan?"

"Makanya, karena Mey tidak tahu, kita harus cari tahu sendiri," ujar Bagas sambil membetulkan letak jaketnya.

"Alasan kita hari ini kan keliling desa buat hunting lokasi. Kita manfaatkan ini buat mengamati sekitar, syukur-syukur kalau bisa ngobrol dan memancing informasi dari warga desa yang lebih tua secara acak."

Tris mengangguk setuju.

"Iya, jangan-jangan anak muda seperti Mey memang sengaja tidak diberitahu oleh orang tuanya tentang sejarah kelam atau cerita-cerita mistis di desa ini."

Dengan modal nekat dan rasa penasaran yang bercampur ngeri, keempat mahasiswa itu akhirnya mulai melangkahkan kaki keluar dari pekarangan.

Baru beberapa ratus meter berjalan menyusuri jalanan desa, mereka berempat kompak terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Kita mau mulai dari mana, Gas?" tanya Tris memecah keheningan, matanya menyapu deretan rumah warga yang letaknya agak berjauhan.

"Kita cari warung kopi atau tempat berkumpulnya orang-orang tua," jawab Bagas pelan.

"Biasanya di tempat seperti itu mereka suka mengobrol santai. Kita bisa pura-pura tanya lokasi yang bagus untuk foto-foto."

****

Hardi baru saja selesai merapikan beberapa barang ketika tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah depan, disusul oleh suara dehaman berat seseorang.

"Kulanuwun... Hardi? Di dalam, toh?"

Hardi mengernyitkan dahi. Ia melangkah ke pintu depan dan membukanya.

Di ambang pintu, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan kulit legam terbakar matahari, mengenakan pakaian sederhana khas orang desa.

Pria itu adalah Rasman, teman lama Hardi dulu sebelum Hardi merantau ke kota.

Begitu melihat sosok Rasman, raut wajah Hardi seketika berubah. Senyum ramah yang biasa ia pasang di depan warga desa mendadak lenyap, digantikan oleh ekspresi kaku dan kurang senang.

Gurat ketidaksukaan yang mendalam seketika tersirat di matanya. Berbeda dengan Hardi yang tampak tegang, wajah Rasman justru langsung merekah lebar penuh kerinduan begitu melihat sahabat lamanya. Ia melangkah maju tanpa ragu, menepuk bahu Hardi dengan keras.

"Wah, kau sudah sukses di kota sampai lupa pulang selama dua puluh tahun ternyata, Di!" seru Rasman dengan suara lantang, matanya melirik sekilas ke arah SUV hitam yang terparkir di pekarangan, lalu kembali menatap pakaian bagus yang dikenakan Hardi.

Hardi berdeham kaku, mencoba mengontrol ekspresi wajahnya agar tidak terlihat terlalu ketus, meski tangannya yang berada di dalam saku celana sudah mengepal erat.

"Ah... Rasman. Iya, begitulah. Pekerjaan di kota sangat menyita waktu, makanya baru bisa sempat tengok rumah sekarang," jawab Hardi dengan nada suara yang datar dan terkesan buru-buru, sama sekali tidak berniat untuk mempersilakan teman lamanya itu duduk atau masuk ke dalam rumah.

Tanpa memedulikan sikap kaku Hardi, Rasman justru melangkah maju begitu saja melewati bahu sahabat lamanya itu.

Tanpa permisi, ia langsung nyelonong masuk ke dalam ruang tamu dan mengempaskan tubuhnya di atas kursi jati tua yang berdebu. Matanya yang liar mulai mengitari ruangan, mengagumi sisa-sisa kemewahan yang dibawa Hardi dari kota.

Hardi yang masih berdiri di ambang pintu mendadak menegang. Rahangnya mengeras, melihat kelancangan Rasman.

Rasman terkekeh, lalu menatap Hardi dengan pandangan yang penuh arti.

"Hardi, Hardi. Kamu ini dari kota dan sudah sesukses ini, pasti pulang bawa banyak uang di dalam dompetmu, toh? Mobil bagus, pakaianmu juga bagus."

Pria desa itu mencondongkan badannya ke depan, lalu berkata dengan nada yang mula terdengar menuntut.

"Bagaimana kalau kamu berikan aku sedikit uang? Ya... hitung-hitung sebagai oleh-oleh untuk teman lama, teman yang selama ini menjaga desa."

Hardi tahu persis apa maksud terselubung di balik ucapan Rasman itu. Ini bukan sekadar meminta oleh-oleh, melainkan sebuah gertakan halus yang mengungkit masa lalu.

Tanpa membalas dengan sepatah kata pun, Hardi langsung merogoh saku celananya, menarik dompet kulitnya yang tebal, lalu dengan cepat mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah. Ia menyodorkan uang itu dengan kasar ke hadapan Rasman.

"Itu sudah lama," desis Hardi dengan suara rendah yang ditekan, matanya menatap tajam, mengancam balik.

"Lagipula kita sama-sama saat itu. Jadi jangan datang ke sini lagi untuk mengancamku."

Rasman melihat lembaran uang di tangan Hardi, lalu menerimanya dengan senyum lebar yang menyebalkan. Ia menghitung lembaran itu perlahan sebelum memasukkannya ke dalam saku kemeja lusuhnya.

"Wah, Hardi... jangan salah tangkap begitu, toh," ujar Rasman sambil terkekeh geli, mengangkat kedua tangannya seolah-olah tidak bersalah.

"Aku tidak sedang mengancammu. Aku kan datang ke sini hanya untuk mengunjungi teman lama yang baru pulang dari kota besar setelah dua puluh tahun. Apakah itu salah?"

Rasman kemudian bangkit dari kursi jatinya, menepuk-nepuk celananya yang kotor, lalu menatap Hardi dengan pandangan penuh arti.

"Terima kasih oleh-olehnya, Di. Nikmati waktumu di Selogiri," bisik Rasman sebelum akhirnya melangkah keluar, meninggalkan Hardi.

"Kurang ajar!" sergah Hardi penuh amarah, sembari memukul meja kayu di dekatnya hingga bergetar.

Napasnya memburu egois, rahangnya mengetat sampai urat-urat di lehernya menonjol tegang. Matanya yang merah menatap nanar ke arah pintu depan, seolah-olah bayangan Rasman masih berdiri di sana.

"Berani sekali dia datang menemuiku... berani sekali bajingan itu mengancamku!" desisnya lagi, suaranya bergetar antara murka yang meluap dan rasa waswas yang tak bisa disembunyikan.

1
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
sri di panggil ibunya
Maure Nia
balas dendamnya memang nunggu Sri Dateng...lanjut thor
Maure Nia
kan ketemu ibumu Sri🥺🥹hah jadi ikut mewek
Siti Yatmi
aduh..sri kalo kamu tau tentang riwayat kelahiran mu...auto sedih and pilu...ga kebayang penderitaan ibu mu...
Siti Yatmi
baru ngeh kalo udh 20 tahun setan baru nongol🤣
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Yulia Lia
yang manggil Sri itu ibu kandungmu sri
Yulia Lia
hutan tempat Sri di lahirkan dengan cara yg sangat tragis
Nurr Tika
ada yg menyesatkan jalan mereka
Nurr Tika
rasman ktemu ga yah
Maure Nia
Sri kamu bisa ketemu ibu kamu
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
siapa yg bwa rasman ya
Yulia Lia
ayo siapakah sosok misterius itu,,,apakah ada yg tau kejadian 20 THN silam
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
siapa yg menyeret tbuh rasman ya
Maure Nia
siapa. sosok itu..🤔? Rasman korban pertama mereka keluarga Sri... pasti.
Mamake Nayla
sudah 20th berlalu...bru pd nongol setan nya ya
Mamake Nayla: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭🤭
semangattttttt!!!! ayo pra setan pd gentayangan
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!