Zeya diam terpaku ketika melihat suaminya sedang jalan bergandengan tangan dengan wanita yang tak Zeya kenal.
Ryan yang kebetulan juga melihat Zeya melengos tanpa mau menyapa istrinya tersebut, malah Ia bergegas meninggalkan Zeya.
Menikah dengan Ryan keputusan hidup yang Zeya sesali, manis di awal ternyata hanya kedok belaka, agar bisa menikah dengan mantan kekasihnya.
Zeya menerima perceraian itu dan melanjutkan hidupnya dengan pindah ke kota besar.
Akankan Zeya menemukan kebahagiaannya sendiri, atau Zeya terus di bayang bayangi oleh masa lalunya.
Dan bagaimana kehidupan rumah tangga Ryan setelah menikah dengan mantan kekasihnya itu?, Kenapa dia kembali mengejar cinta nya Zeya?
Pergulatan batin Zeya dimulai di saat tuan Gatra ingin menikahinya sedangkan mantan istri Gatra ingin kembali rujuk dengan Gatra, ditambah lagi dengan Ryan yang kembali membayangi hidupnya…
Akankan keputusan Zeya akan merubah semuanya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mande Qita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22 Kesan Pertama
Zea melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya untuk mengambil tas dan segera pulang.
“Tumben lama Miss..” sapa Maya ketika berpapasan dengan Zea.
“Iya tadi Arsen di jemput papanya, jadi kami sedikit bicara dan berkenalan” sahut Zea
“Pasti Arsen sangat senang sekali ya Miss?” Maya sudah bisa membayangkan kegembiraan Arsen, karena tuan Gatra papanya Arsen jarang sekali ke sekolah untuk antar jemput Arsen, karena kesibukannya bekerja.
“Iya Miss Maya, terlihat sekali Arsen antusiasnya dan dia sangat senang” Zea membenarkan apa yang Maya tanyakan bagaimana tadi kondisi Arsen melihat papanya datang menjemput dirinya di sekolah.
“Tuan Gatra sangat jarang datang ke sekolah ini Miss Zea, mungkin karena kesibukannya jadi mengabaikan putra semata wayangnya itu” ungkap Maya.
“Makanya tadi agak lama mengantarkan Arsen pulang” imbuh Zea.
“Pasti tuan Gatra tampan sekali aslinya kan Miss Zea?” goda Maya membuat Zea ikutan tertawa kecil.
“Karena baru pertama kali bertemu, pandangan saya terhadap papanya Arsen, sama seperti yang Miss Maya katakan, idola kamu wanita he he he..” sahut Zea sambil terkekeh, Ia nggak mau munafik karena kenyataannya tuan Gatra memang sangat tampan.
“Ha ha ha semua perempuan yang bertemu dengan tuan Gatra pasti mengatakan kalau dia sangat tampan, sayang angkuh dan dingin sekali, terlalu cuek dan nggak begitu peduli dengan sekitarnya” ungkap Maya
“Wajar sih Miss Maya kalau taun Gatra angkuh dan dingin, dia punya semua yang di inginkan perempuan di dunia ini, harta, kedudukan, kekuasaan apalagi yang kurang padanya, kecuali menjadi duda keren”
Maya mengangguk setuju dengan apa yang Zea katakan barusan.
“Aku setuju dengan Miss Zea, hampir tidak ada yang kurang pada diri tuan Gatra, memang manusia itu tidak ada yang sempurna, buktinya tuan Gatra tidak bisa mempertahankan rumah tangganya”
Maya seakan menyesali kegagalan pernikahan tuan Gatra dengan mantan istrinya, karena bagi banyak orang yang mengenal mereka berdua, mereka adalah pasangan yang sangat serasi.
“Jodoh mereka singkat Miss Maya, mungkin ada yang lebih baik jodoh untuk tuan Gatra dan mantan istrinya” sahut Zea.
“He he he iya betul Miss Zea, tapi anda beruntung loh Miss, bisa ketemu dan. bicara langsung dengan tuan Gatra, kalau berita ini tersebar pasti banyak perempuan yang iri pada anda Miss Zea” kelakar Maya membuat Maya tersenyum tipis.
“Jangan sampai tersebar berita pertemuan saya dengan tuan Gatra Miss Maya, nanti banyak yang cemburu dan marah pada saya, ujung ujungnya nanti saya di musuhi oleh mereka yang suka pada tuan Gatra he he he”
Seloroh Zea, membuat Maya tergelak kencang. Mereka berdua menyadari apa artinya menjadi perempuan yang sangat dibenci oleh banyak perempuan karena persaingan mengejar cinta sang Idola.
“Iya Miss Zea, kita akan sembunyikan hal ini, lain kali kalau mis Zea bertemu dan bicara lagi dengan tuan Gatra, saya titip salam ya ha ha ha” gurau Maya sambil tertawa.
“Saya nggak berani Miss Maya, kalau untuk itu saat mohon maaf…” sahut Zea dan mereka pun tertawa bersama.
***
Apartemen Zea….
“Tatapan tuan Gatra sangat tajam dan dalam ketika kami bicara tadi, terlihat sekali tuan Gatra sangat sayang dengan putranya, hhuufftt pantas saja banyak yang mengatakan tuan Gatra angkuh dan dingin, tadi aku sempat melihat tatapan tajam dan dingin tuan Gatra”
Gumam Zea dalam hati, Ia masih ingat tatapan Gatra padanya ketika mengucapkan terima kasih karena sudah berhasil merubah sifat Arsen yang pendiam dan tak mau bergaul dengan teman temannya.
“Bengong dari tadi! mikirin siapa cantik..” goda Tari yang baru selesai mandi
“Nggak kok siapa yang melamun?...” tanya Zea balik
“jangan bohong, lagi mikirin Arsen ya” Tari langsung menyebutkan nama yang lahir akhir ini sering mereka bicarakan sebelum tidur.
“Ha ha ha iya! Arsen akhirnya bisa berbaur dengan teman temannya di kelas Tar, aku senang melihat perkembangannya ternyata Arsen itu anaknya sangat cerdas, lucu dan juga gesit dia sangat aktif sekali ternyata...” ungkap Zea
“Iya kebanyakan anak anak kalau sudah nyaman dia akan bertingkah sesuai dengan keinginannya, Arsen nyaman saat berada di dekat Lo Zea” imbuh Tari, Ia memang sudah tau, bagaimana usaha Zea untuk mendapatkan kepercayaan dari Arsen.
“Dan tadi papanya datang ke sekolah menjemput Arsen pulang dan Arsen terlihat sangat senang, aku terharu melihatnya” ucap Zea
“Apa Ze? tuan Gatra datang ke sekolah menjemput Arsen, yang berarti kamu ketemu dong dengan pria tampan yang jadi rebutan banyak wanita cantik dan kaya di luar sana?”
Tari langsung memegang lengan tangan Zea lalu mengguncangnya seolah ingin memastikan kalau hal itu benar.
“Tari apa apaan sih? kayak mendengar berita apaan saja, iya tuan Gatra tadi datang kami bertemu ketika aku mengantarkan Arsen menemui pengasuhnya, hal biasa yang setiap hari aku lakukan” ungkap Ze
“Astaga Zea, pasti tuan Gatra tampan sekali kan?” tanpa mau mendengarkan teguran Zea, Tati tetap menanyakan Gatra.
“Iya papanya Arsen sangat tampan sekali Tari, tapi tatapan mata angkuh dan dingin itu bikin hati membeku he he he” Zea mengatakan hal yang selama ini menjadi pembicaraan orang banyak bagaimana sikap tuan Gatra.
“Tatapan dingin dan angkuh itu yang jadi daya tariknya Ze, oh my God! mimpi apa kamu semalam, akhirnya bisa bertemu dengan pria yang punya spek dewa tersebut he he he” tanpa malu malu Tari memuji Gatra
“Kamu kenal dengan sahabatnya tuan Gatra nggak Tar?” tanya Zea, ketika ingat uncle Barra nya Arsen.
“Iya aku tahu nama sahabatnya tuan Gatra, kalau nggak salah tuan Barra, kenapa Ze? apa tadi tuan Barra juga datang menjemput Arsen bareng dengan tuan Gatra?” tanya Tari balik, Ia memang tahu siapa sahabat baik dari tuan Gatra.
“Iya tadi aku juga diperkenalkan oleh Arsen dengan tuan Barra” imbuh Zea
“Aduh kalau tahu begini kejadiannya aku bakalan ke sekolah kamu tadi siang Ze” ungkap Tari sambil menahan tawanya.
“Kamu kan kerja tari…”
“Kan bisa izin Ze, demi dua pangeran ha ha ha” sahut Tari sambil tergelak kencang, Zea hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Tari yang sangat antusias mendengar Gatra dan Barra bertemu dengan Zea.
“Aku tadi dapat kabar dari Paman…” ungkap Zea
“Apa Ryan masih mencarimu ze?” tanya Tari balik, yang di jawab anggukan kepalanya oleh Zea dengan malas.
“Malas banget denger kabar Ryan yang masih mencari dimana keberadaanku, padahal tinggal urus perceraian selesai masalah kami” ungkap Zea.
“Lupakan Ryan, kita bahas tuan Gatra dan tuan Barra saja Ze, tadi mereka ramah nggak bicara sama kamu Ze?” tanya Tari penasaran, dia menyuruh Zea melupakan persoalan Ryan untuk malam ini, karena tari masih ingin membahas Gatra dan Barra.
“Ha ha ha jadi kamu ingin denger cerita siapa nih, tuan Gatra apa tuan Barra?” Zea menggoda Tari yang langsung tersipu malu.
“Dua duanya Ze….”
“Yakin dia duanya, atau ingin tahu lebih mengenai tuan Barra?” kelakar Zea
“Ha ha ha tuan Barra tampan banget ya..” tanya Tari sambil tergelak kencang.
“Nggak kalah tampan dengan tuan Gatra, Ia punya daya tarik sendiri beda dengan tuan Gatra..” ungkap Zea
“Kenapa hatiku bergetar ketika kamu menyebutkan nama tuan Barra ya Ze?” imbuh Tari sambil memeluk gulingnya dan tersenyum tipis.
“Oii bangun oii jangan ketinggian menghayalnya! mereka berdua pria yang sulit untuk kita raih, bangun Tari!” panggil Zea, menyadarkan Zea yang masih tersenyum manis.
“Mumpung masih bisa bermimpi Ze, nggak ada yang melarang kan?” sahut Tari, membuat Zea tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya itu.