Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.
Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.
Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.
Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.
Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.
Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Rencana Penyusupan Istana
Hembusan angin malam dari Sektor Anggrek Barat terasa semakin pekat di dalam kabin sekoci yang tertutup rapat. Di atas meja besi di tengah ruangan, selembar peta cetak biru dari Istana Agung Kekaisaran bawah terhampar luas, memancarkan pendaran garis-garis tipis dari sihir pelacak statis.
Mayor Cakra mengetukkan jemarinya di atas peta, tepat pada sebuah jalur rahasia yang melintasi menara pasokan air bagian belakang istana.
"Penjagaan di gerbang utama istana akan diperketat tiga kali lipat menjelang Sidang Agung besok malam, Alden," buka Mayor Cakra, suaranya berat dan penuh perhitungan seorang perwira senior. "Marsekal Vane telah menempatkan Divisi Zirah Hitam, pasukan elit yang telah disusupi oleh pengaruh sekte, di setiap sudut koridor utama. Jika kau mencoba masuk lewat jalur formal, kau akan langsung diringkus sebelum sempat menginjakkan kaki di aula utama."
Kapten Alden menatap cetak biru tersebut dengan tatapan abu-abu badainya yang dingin. Tangan kanannya bertumpu pada hulu pedang *The Zephyr Blade*. "Aku tidak berniat masuk untuk menyerahkan diri, Cakra. Kita akan menggunakan jalur logistik air bawah tanah yang terhubung langsung dengan ruang utilitas di balik dinding aula sidang."
"Jalur itu memiliki sistem pengunci tekanan hidrolik yang hanya bisa dibuka dengan segel otoritas perwira tinggi," timpal Hana, pelayan setia yang kini ikut menyimak dengan seksama di dekat pintu kabin setelah memastikan Rin dan Toby tertidur lelap. "Dan sebagai pelarian politik, tanda pengenal militermu pasti sudah dinonaktifkan dari sistem pusat, Kapten."
"Itulah alasan mengapa aku berada di sini," seru Mayor Cakra dengan seulas senyum tegap. Ia meraba saku seragam militernya, lalu mengeluarkan sebuah lencana perak berbentuk elang kembar dengan dua bilah garis emas, simbol otoritas mutlak seorang Mayor Komando Utama. "Segel milikku masih aktif dan memiliki tingkat akses bypass untuk seluruh gerbang logistik di sektor barat istana. Aku yang akan memimpin barisan depan untuk membuka jalan bagi kalian."
Clara melangkah mendekati meja, sepasang mata jernihnya meneliti jalur-jalur pelarian darurat yang tertera di peta. "Mayor Cakra, tindakanmu ini sangat berbahaya. Jika rencana kita ini gagal di tengah jalan, kau tidak hanya akan kehilangan pangkatmu, tetapi dewan menteri akan mencapmu sebagai pengkhianat yang membantu pembelotan."
Cakra menatap Clara dengan pandangan penuh rasa hormat yang mendalam. "Nyonya Clara, sejak Marsekal Vane dan faksi sekte hitam mulai meracuni sistem pemerintahan dengan sihir terlarang, sumpah militer Kekaisaran ini sudah lama ternoda. Membantu Kapten Alden dan Anda untuk menyingkap kebenaran di hadapan Kaisar Tertinggi bukan lagi sekadar urusan persahabatan, melainkan tugas terakhirku untuk menyelamatkan masa depan seluruh wilayah langit dari kehancuran."
Mendengar ketulusan tekad dari sahabat karibnya, Alden menepuk pundak Cakra dengan erat. Ikatan persaudaraan di antara kedua perwira tinggi itu kini terasa semakin kokoh di tengah badai konspirasi politik yang menjepit mereka.
"Strateginya sudah jelas," kata Clara, mengalihkan perhatian semua orang kembali ke peta. "Kita akan membagi tim menjadi dua kelompok kecil untuk meminimalkan kecurigaan sistem pemindai sihir istana. Kelompok pertama adalah Mayor Cakra bersama Hana dan dua prajurit elite. Kehadiran Hana yang membawa perlengkapan pelayan herbal bisa menjadi penyamaran yang sempurna jika kalian harus melewati pos logistik dalam. Kalian akan masuk lebih awal melalui jalur resmi untuk mematikan jaringan radar pemindai aura di sektor barat selama tepat sepuluh menit."
"Sepuluh menit adalah waktu yang lebih dari cukup bagi kita untuk menyusup lewat jalur air bawah tanah," sambung Alden, melirik ke arah Clara dengan tatapan yang protektif namun penuh rasa bangga atas kecerdasan strategi istrinya. "Kelompok kedua adalah aku, Clara, dan dua prajurit sisa. Kita akan bergerak senyap menembus pipa hidrolik begitu radar dimatikan."
"Bagaimana dengan Leo, Rin, dan Toby?" tanya Hana dengan nada khawatir. "Apakah aman meninggalkan mereka di atas *The Sky Leviathan* sementara kapal itu berada di dalam mode senyap di pelabuhan usang ini?"
"Bernet sudah mengunci seluruh sistem kapal dengan protokol perlindungan tertinggi," jawab Clara menenangkan pelayan setianya itu. "Leo memiliki api Phoenix yang matang untuk melindungi adik-adiknya di dalam kabin rahasia jika terjadi situasi darurat. Kapal itu tersembunyi dengan sempurna di balik hutan anggrek raksasa. Fokus utama kita sekarang adalah menyelesaikan pertempuran politik di dalam istana secepat mungkin."
Mayor Cakra segera menggulung kembali peta holografik tersebut dan menyimpannya di balik jubah militernya. Ia memeriksa jam saku mekanisnya yang berdetak konstan. "Waktu kita tidak banyak. Anggota dewan menteri akan mulai berkumpul di istana dalam waktu tiga jam dari sekarang untuk melakukan persiapan pra-sidang. Kita harus sudah berada di dalam posisi sebelum fajar pertama menyentuh menara barat."
"Bergerak sekarang," perintah Alden dengan nada absolut yang tidak terbantahkan.
Pintu kabin sekoci bergeser terbuka. Kelompok pertama yang dipimpin oleh Mayor Cakra bersama Hana segera melangkah keluar terlebih dahulu, menghilang dengan cepat di balik kepekatan kabut malam **Sektor Anggrek** menuju kendaraan militer cadangan yang telah disiapkan di luar dermaga usang.
Hana menggenggam erat keranjang logistiknya, memantapkan hati untuk membantu keluarga Kapten yang telah memperlakukannya dengan sangat baik selama ini.
Clara berbalik menatap Alden, tangan kirinya dengan lembut meraba dada kemeja militer suaminya, tempat di mana selembar saputangan kecil bersulam benang perak miliknya tersimpan dengan rapi sebagai jimat keberuntungan. "Apakah kau siap menghadapinya, Kaptenku?"
Alden menggenggam tangan Clara, menarik wanita itu sedikit lebih dekat ke dalam dekapan hangatnya sebelum mereka melangkah turun menuju kegelapan jalur bawah tanah. "Bersamamu di sampingku, Clara... jangankan dewan menteri yang korup, aku bahkan siap meruntuhkan seluruh langit jika mereka berani mencoba memisahkan keluarga kita lagi."
Dengan tekad yang telah terkunci rapat dan rencana penyusupan yang matang di bawah bantuan otoritas Mayor Cakra, sepasang suami istri itu melangkah tegap menembus keheningan pelabuhan tua.
Mereka bergerak senyap menuju jantung kekuasaan Kekaisaran, siap meletuskan badai kebenaran yang akan meremukkan seluruh konspirasi Sekte The Obsidian Dawn di bawah kilatan keadilan sejati mereka.