Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangkan di Balik Kekuasaan
Suasana di dalam ruangan penyimpanan itu terasa kaku dan penuh tekanan. Adiwinata berdiri membeku, diapit oleh Arga yang kini berpihak pada kebenaran dan Kolonel Bayu yang siap bertindak. Namun, senyum liciknya belum sepenuhnya hilang, seolah ia masih memegang satu kartu penting yang belum dimainkan. Kata‑katanya tentang adanya pejabat tinggi yang terlibat membuat hati Putra dan Citra kembali dihantui rasa was‑was.
Putra menatap tajam ke arah lelaki tua itu, tangannya tetap melindungi Citra dan Andi di sampingnya. Sebagai seorang tentara, ia paham betul bahwa menangkap satu orang belum tentu mengakhiri seluruh masalah, apalagi jika yang tersinggung adalah orang‑orang yang memiliki kekuasaan dan pengaruh luas.
“Kau tidak akan bisa mengancam kami selamanya,” ucap Putra tegas. “Kami memiliki bukti, dan hukum akan berjalan sebagaimana mestinya. Siapa pun yang terlibat, akan bertanggung jawab atas perbuatannya.”
Adiwinata tertawa pelan, suara itu terdengar dingin dan penuh ejekan. “Hukum? Di dunia ini, hukum seringkali bisa dibeli atau dibelokkan oleh mereka yang memiliki kekuasaan dan uang. Kalian pikir dokumen‑dokumen ini cukup untuk menjatuhkan mereka? Belum tentu. Mereka memiliki cara untuk menghapus jejak, menyembunyikan bukti, bahkan menciptakan kenyataan baru yang membuat kalian terlihat sebagai penjahat yang berusaha menguasai harta negara.”
Citra mengeratkan pelukannya pada Andi, lalu melangkah sedikit ke depan. Wajahnya yang biasanya lembut kini tampak tegas dan penuh keyakinan. Sebagai dokter, ia terbiasa menghadapi kenyataan pahit dan mencari solusi dengan kepala dingin.
“Tapi bukti tidak bisa dibohongi selamanya,” sahut Citra tenang namun tegas. “Ada catatan transaksi, ada saksi, ada rekaman pembicaraan, dan ada dokumen asli yang tidak bisa dipalsukan begitu saja. Selama kita berpegang pada jalur yang benar dan bekerja sama dengan pihak yang jujur, kebenaran pasti akan terungkap.”
Kolonel Bayu mengangguk setuju. Ia melangkah mendekati meja batu, lalu mulai memeriksa tumpukan dokumen dan surat‑surat lain yang tersusun rapi di rak. Tangannya yang sudah keriput namun masih kokoh menyentuh salah satu map tebal yang terikat tali kulit.
“Adiwinata benar dalam satu hal,” ujar Kolonel Bayu sambil membuka map itu. “Ini bukan hanya masalah satu orang. Di sini tercatat nama‑nama, tanggal, dan jumlah dana yang disalurkan. Jaringan ini sudah berjalan puluhan tahun, melibatkan orang‑orang yang duduk di kursi penting. Jika kita tidak berhati‑hati, justru kita yang akan menjadi sasaran berikutnya.”
Saat ia membuka lembaran demi lembaran, matanya tiba‑tiba terhenti pada satu nama yang tertulis dengan jelas di bagian atas halaman. Wajahnya berubah sedikit pucat, lalu ia menoleh cepat ke arah Putra dan Citra.
“Ini... ini lebih besar dari yang kita duga,” gumamnya pelan. “Ada nama seorang pejabat tinggi di kementerian pertahanan dan sumber daya alam. Orang ini memiliki pengaruh yang sangat kuat, bahkan bisa mempengaruhi jalannya penyelidikan.”
Putra mendekat untuk melihat tulisan itu, rahangnya mengeras menahan amarah. “Jadi selama ini, pencarian kebenaran tentang kematian ayahku selalu terhambat karena ada tangan tersembunyi yang mengaturnya?”
“Tepat sekali,” jawab Adiwinata. “Mereka membiarkan aku bergerak selama aku bekerja untuk kepentingan mereka. Namun, jika aku gagal, mereka tidak akan segan‑segan menyingkirkan aku juga dan kalian sekeluarga sebagai saksi yang tidak diinginkan.”
Belum sempat percakapan berlanjut, tiba‑tiba terdengar suara teriakan dan dentingan senjata dari arah pintu masuk lorong. Suara itu semakin keras, disertai langkah kaki yang berlarian cepat mendekat. Wajah Arga yang tadinya tenang kini berubah waspada.
“Kolonel!” seru Arga. “Sepertinya ada pasukan tambahan yang datang! Tapi mereka bukan pasukan resmi yang kita minta bantuan mereka mengenakan seragam yang berbeda dan bergerak dengan cepat!”
Semua orang segera bersiap siaga. Putra berdiri di depan Citra dan Andi, tangan kanannya sudah memegang gagang pistol di pinggangnya. Kolonel Bayu dan Arga berdiri di sisi kiri dan kanan pintu, siap menghadapi siapa pun yang datang.
Beberapa detik kemudian, sekelompok orang berseragam hitam dengan wajah tertutup sebagian muncul di mulut pintu. Mereka tidak menunjukkan tanda‑tanda ingin bernegosiasi, melainkan langsung mengarahkan senjata ke arah orang‑orang di dalam ruangan.
“Serahkan semua dokumen dan kotak itu, dan kalian boleh selamat!” teriak salah satu dari mereka dengan suara berat. “Perintah langsung dari atas!”
Adiwinata tersenyum tipis, seolah telah menduga hal ini akan terjadi. “Lihat? Mereka datang bukan untuk menyelamatkanku, tapi untuk memastikan rahasia ini terkubur selamanya. Kalian lihat sekarang siapa yang sebenarnya berkuasa di balik semua ini?”
Namun, sebelum kelompok itu sempat melangkah masuk lebih jauh, tiba‑tiba terdengar suara peluit panjang dan keras dari arah belakang mereka, disusul suara langkah kaki yang teratur dan banyak. Sebuah suara tegas menggelegar memecah ketegangan:
“Berhenti! Jangan bergerak! Kalian sudah dikepung oleh pasukan resmi! Turunkan senjata sekarang juga!”
Kelompok berseragam hitam itu terkejut dan berbalik, namun jalan keluar mereka sudah tertutup oleh pasukan yang dipimpin oleh seorang perwira yang dikenal Kolonel Bayu seorang rekan kerja yang selama ini dipercaya memiliki integritas tinggi.
“Kolonel Bayu!” seru perwira itu sambil melangkah masuk dengan pengawalan. “Saya mendapat laporan dari Arga dan datang secepatnya. Kami berhasil menangkap sebagian besar yang mencoba melarikan diri, tapi ada beberapa yang berhasil lolos lewat jalan rahasia yang terhubung dengan luar tambang.”
Putra menghela napas lega, namun perasaan tenang itu tidak berlangsung lama. Ia menyadari bahwa meski situasi di dalam tambang kini terkendali, ada anggota jaringan yang berhasil melarikan diri. Mereka pasti akan melaporkan apa yang terjadi, dan ancaman terhadap keluarganya belum sepenuhnya hilang.
Citra memegang lengan suaminya dengan lembut, seolah membaca pikirannya. “Kita sudah mendapatkan bukti, itu hal terpenting. Selama dokumen ini aman dan diserahkan kepada pihak yang benar, kita masih memiliki kesempatan untuk mengungkap semuanya.”
Putra menatap istrinya, lalu menunduk melihat Andi yang kini terlihat lebih segar dan tenang, seolah memahami bahwa bahaya segera berkurang namun belum sepenuhnya pergi. Ia kemudian menoleh kembali ke arah dokumen‑dokumen di meja, lalu meraih map tebal yang berisi daftar nama itu.
“Kita akan membawa ini ke tempat yang aman,” ucap Putra tegas. “Tapi kita harus bergerak cepat. Mereka yang lolos tidak akan tinggal diam. Mereka akan berusaha mengambil kembali bukti ini, atau bahkan menyakiti kita untuk menutup mulut selamanya.”
Kolonel Bayu mengangguk setuju. “Benar. Kita akan memindahkan kalian ke tempat perlindungan sementara, dan saya akan mengatur agar dokumen asli disimpan di tempat yang sangat aman, sementara salinannya diserahkan kepada tim penyelidikan yang independen.”
Namun, saat mereka bersiap untuk meninggalkan ruangan itu, Arga yang sedang memeriksa sisa barang di sudut ruangan tiba‑tiba menemukan sebuah laci tersembunyi di bagian bawah meja batu. Ia menariknya perlahan, dan di dalamnya terdapat sebuah buku catatan kecil yang tertutup debu.
“Kolonel... lihat ini,” ucap Arga sambil menyerahkan buku itu.
Kolonel Bayu membuka halaman pertama, dan matanya segera melebar. Isinya bukan hanya catatan tentang tambang atau transaksi, melainkan catatan pribadi yang ditulis oleh ayah Putra, Agus. Di halaman terakhir, tertulis sebuah pesan yang membuat semua orang terdiam:
“Jika kalian membaca ini, ketahuilah bahwa nama yang tertulis di daftar itu hanyalah puncak gunung es. Ada satu orang lagi yang berada di posisi paling atas, yang namanya tidak tercatat di mana pun. Dia adalah orang yang paling berbahaya, dan dia mengawasi setiap langkah kita. Hati‑hatilah, karena dia bisa menyamar sebagai teman, kerabat, atau bahkan orang yang paling dipercaya...”