Alara percaya, jika ia berhasil menikah dengan cinta pertamanya, ia akan menjadi orang paling bahagia.
Karena itulah ia rela meninggalkan kariernya sebagai desainer dan model demi menikah dengan Bagas, pria yang telah ia cintai sejak remaja.
Namun pernikahan impiannya berubah menjadi mimpi buruk.
Bagas selalu sibuk bekerja dan tak pernah membelanya saat ibu mertuanya menghina serta memperlakukannya seperti pembantu. Bertahun-tahun tidak memiliki anak membuat Alara dicap mandul. Hingga suatu hari, ibu mertuanya membawa seorang wanita muda ke rumah dan memaksa Bagas menikah lagi.
Saat itulah kesabaran Alara habis.
Ia memilih bercerai dan pergi dengan harga diri yang tersisa.
Semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Nyatanya, Alara bangkit.
Ia kembali mengejar mimpi yang pernah ditinggalkan. Serta membalas rasa sakit hati yang ia rasakan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gugatan yang Tak Bisa Ditarik Lagi
"Cinta itu butuh dua orang untuk membangunnya, tetapi hanya butuh satu orang untuk menghancurkannya. Sayangnya, kamu tidak pernah sadar bahwa kitalah yang menghancurkan segalanya dengan diammu yang mematikan rasa itu."
Malam itu menjadi malam terpanjang dalam sejarah hidup Alara. Di dalam apartemen kecil yang sunyi, ia terduduk di lantai dengan punggung bersandar pada sofa. Cahaya lampu kota yang temaram menembus jendela, menyinari wajahnya yang pucat.
Alara akhirnya mengakui kenyataan pahit yang selama ini terus saja ia tepis, pernikahannya selama ini bukan lagi tentang cinta, melainkan hanya sebuah kurungan yang penuh dengan penghinaan terstruktur.
Alara memejamkan mata almondnya, lalu membiarkan memori masa lalunya berputar seperti film usang dalam otaknya. Ia teringat kembali pada hari di mana ia dengan sukarela menyerahkan surat pengunduran diri dari posisi manajer yang ia banggakan.
Ia ingat bagaimana ia mengubur impiannya untuk melanjutkan studi ke luar negeri demi mendukung Bagas membangun bisnisnya. Namun, pengorbanan itu kini terasa seperti bumerang yang justru menghujam dadanya sendiri. Ibu mertuanya tidak pernah melihat itu sebagai ketulusan karena di mata wanita tua itu, Alara hanyalah alat yang gagal menjalankan fungsinya sebagai istri.
"Kenapa aku sebodoh itu?" bisiknya lirih pada kesunyian.
Selama bertahun-tahun, ia percaya bahwa kesabaran adalah bentuk tertinggi dari kasih sayang. Ia pikir, jika ia terus tersenyum meski diinjak, Bagas akan melihat nilainya. Namun, kenyataan berkata lain. Kesabaran Alara justru menjadi bahan bakar bagi keluarga Bagas untuk semakin berani merendahkannya. Ia bukan lagi seorang istri, melainkan sasaran empuk untuk melampiaskan kekesalan.
Keesokan paginya, Alara bangun dengan tekad yang lebih kuat daripada biasanya. Ia melangkah menuju kantor hukum yang telah ia riset selama berhari-hari. Di sana, ia bertemu dengan seorang pengacara wanita yang menatapnya dengan penuh empati, namun tetap menjaga profesionalisme.
"Ibu Alara, sekali Anda menandatangani dokumen ini, proses hukum akan berjalan. Anda tidak bisa menariknya kembali tanpa alasan yang sangat mendasar dan persetujuan dari pihak terkait jika proses sudah masuk ke tahap mediasi," ujar pengacara itu sambil menyodorkan setumpuk berkas.
Tangan Alara gemetar saat memegang pulpen.
Ia membayangkan wajah Bagas, wajah Wendah mertuanya dan senyum meremehkan dari Nindy. Selama ini, ia takut membayangkan hari di mana ia tidak memiliki lagi status sebagai istri Bagas. Namun, saat ia menatap dokumen tersebut, ketakutan itu perlahan sirna, digantikan oleh rasa lega yang tak terlukiskan.
"Saya sudah siap," jawab Alara mantap.
Tanda tangannya di atas materai menjadi saksi bisu berakhirnya sebuah era lama. Saat pengacara itu mengambil berkas tersebut dan mulai memprosesnya, dada Alara terasa sedikit sesak, bukan karena sedih, melainkan karena ia baru saja melepaskan rantai yang selama ini membelenggu jiwanya.
Ia tidak sedang menghancurkan rumah tangga tapi ia sedang menyelamatkan diri sendiri dari reruntuhan yang sudah tak bisa lagi diselamatkan.
Di sisi lain kota, di ruang rapat yang mewah dan kedap suara, Bagas sedang memimpin presentasi besar untuk proyek klien internasional. Ia tampak dominan dan percaya diri, pria yang sukses dan disegani. Namun, keangkuhan itu hancur berkeping-keping saat ponselnya bergetar di atas meja.
Sebuah pesan dari ibunya muncul di layar.
Tulisan itu singkat, namun cukup untuk membuat seluruh dunia Bagas berhenti berputar.
'Alara benar-benar menggugatmu. Dia mendaftarkan cerai hari ini. Pulang sekarang juga!'
Bagas tertegun. Wajahnya yang semula tegas seketika berubah pucat pasi. Ia merasa seolah detak jantungnya terhenti sejenak.
"Bagas? Ada apa?" tanya salah satu rekan bisnisnya.
Tanpa memedulikan etika profesional, tanpa peduli pada proyek jutaan dolar yang ada di depannya, Bagas berdiri dengan kasar. Kursinya terdorong ke belakang hingga mengeluarkan bunyi decitan yang keras di lantai marmer.
"Rapat ini selesai," ucapnya dingin. Ia berjalan keluar dengan langkah lebar, mengabaikan tatapan heran seluruh peserta rapat.
Di dalam mobil, ia mencoba menghubungi Alara, namun nomornya sudah tidak aktif. Bagas memukul setir dengan frustrasi.
"Sial! Apa yang sebenarnya dia rencanakan?"
Di dalam benaknya, Bagas masih memegang teguh keyakinan bahwa Alara hanya sedang mencari perhatian.
'Dia pasti sedang marah karena kejadian di acara keluarga kemarin,' pikir Bagas untuk menenangkan egonya sendiri.
"Dia hanya ingin aku merayunya, dia hanya ingin aku meminta maaf dan semuanya akan kembali normal."
Namun, saat ia melaju kencang di jalanan, sebuah perasaan asing mulai merayap di dadanya, sebuah rasa takut yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Itu adalah rasa takut akan kehilangan. Selama ini, Bagas menganggap keberadaan Alara adalah sebuah konstanta, sesuatu yang tidak akan pernah berubah, seperti matahari yang selalu terbit setiap pagi. Ia tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan bahwa matahari itu bisa memilih untuk tidak lagi bersinar untuknya.
Bagaimana jika kali ini, Alara benar-benar tidak sedang bermain peran? Bagaimana jika Alara benar-benar telah memutus tali yang selama ini mereka ikat bersama?
Langkah Bagas saat ia memasuki rumahnya sendiri menjadi jauh lebih berat. Rumah itu tampak megah, namun terasa dingin. Wendah sudah menunggunya dengan wajah yang dipenuhi kemarahan yang meluap-luap.
"Lihat istrimu itu, Bagas! Dia benar-benar menantang keluarga kita!" seru ibunya saat Bagas masuk.
Bagas tidak menjawab. Matanya berkeliling ke setiap sudut ruangan, berharap melihat sosok Alara yang sedang menyiapkan teh atau merapikan meja, namun yang ia temukan hanyalah keheningan yang menyiksa.
Ia berjalan ke arah kamar mereka. Kamar itu rapi, namun terasa seperti ruangan yang tak berpenghuni. Bagas merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Ia mulai menyadari bahwa ia telah meremehkan keteguhan hati seorang wanita yang sudah terlalu lama disakiti.
"Alara ...," bisiknya pelan, memanggil nama yang tidak akan lagi memberikan jawaban.
Bagas akhirnya tersadar bahwa kendali yang selama ini ia miliki atas hidup Alara, kini telah lepas. Gugatan itu bukan sekadar kertas, namun itu adalah pernyataan bahwa Alara telah selesai dengan semua kebohongan ini.
Dan saat ia menatap cermin di kamarnya, Bagas melihat bayangan pria yang tidak lagi mengenal siapa dirinya sendiri tanpa keberadaan Alara di sisinya.
Ia telah kehilangan wanita itu, bukan karena kematian, melainkan karena pengabaian yang ia tanam sendiri selama bertahun-tahun. Dan sekarang, ia harus memanen apa yang telah ia tabur.
Bagas berdiri di tengah-tengah kamar utama, tempat di mana sisa-sisa aroma parfum Alara masih samar-samar tertinggal, menantang egonya yang hancur. Ia tidak memedulikan teriakan ibunya dari lantai bawah yang terus menuntut penjelasan atau kemarahan yang meluap-luap. Baginya, dunia terasa berputar ke arah yang berlawanan.
"Bagas! Jangan diam saja! Kamu harus segera bertindak, cari pengacara terbaik, hancurkan gugatan itu agar dia tahu siapa yang berkuasa di rumah ini!" suara ibunya melengking, memecah konsentrasi Bagas yang sedang mencoba menata serpihan-serpihan ingatannya.
Bersambung...
mga abs ni hkum krma dtng buat dia...dn buat bagas,slmt mnikmti pnyesalan......😛😛😛😛
Aku udh mmpir....slm knal....
aku udh ksel dr awal,gemes sm alara yg msih ngemis pnjlasan sm suami dn mrtua durjana....tp sykurlah krna skrng dia ush sdar....ttp smngt alara,abs ni km bkln jd orng sukses dn bhgia.....😘😘😘