Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.
Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.
"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.
Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"
"Gue juga gak mau."
"Bagus. Berarti kita sepakat."
Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."
Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.
Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?
Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Keputusan sepihak
Malam sudah cukup larut ketika suara motor memasuki rumah keluarga Alzavian.
Faris mematikan mesin motornya. Pemuda itu turun santai, melepas helm, lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
Penampilannya masih mengenakan seragam sekolah. Namun jika dilihat sekilas, hampir tidak ada yang menunjukkan ciri khas anak sekolah.
Kemejanya sudah keluar entah sejak kapan, dua kancing bagian atas terbuka, dasi entah kemana, dan lengan kemejanya digulung sampai siku.
Faris mengacak rambutnya sekali sebelum masuk ke dalam rumah. Baru saja ia membuka pintu, suara ibunya langsung terdengar.
"Faris!"
Langkah Faris terhenti. Di ruang tengah, ibunya berdiri sambil berkacak pinggang. Tatapannya sudah seperti siap menginterogasi tersangka.
"Ini pukul berapa?" Tanya ibunya.
Faris melirik jam dinding sekilas, "Sembilan malam."
Ibunya memejamkan mata sejenak. "Jangan bikin Mama emosi. Mama tanya, dari mana kamu pulang jam segini?"
"Dari apart Dhyo, Mah," jawab Faris santai.
Ibunya kini bersedekap dada, "Ngapain?"
"Main."
Jawaban singkat itu membuat ibunya semakin menghela nafas panjang. "Main, main, main! Pulang sekolah bukannya langsung pulang, malah keluyuran terus!"
Faris berjalan mendekat, satu tangan mengusap tengkuknya sekilas. "Kan sekarang udah pulang, Mah."
"Mama suruh pulangnya tadi, bukan sekarang."
"Ya, tadi ketiduran bentar," jawab Faris setelah berdehem kecil.
Ibunya langsung mengangkat alis, "Ketiduran, di apartemen orang?"
Faris mengangguk kecil, "Iya."
Ibunya menatap putranya sesaat, lalu menggeleng pelan. "Ya Allah... Mama kadang bingung, kamu ini anak sekolah atau anak jalanan?"
Faris menyeringai tipis, "Masih anak sekolah, Mah."
Ibunya mengusap wajahnya sekali, lalu menghela nafas panjang. "Anak sekolah mana yang pulangnya malam?"
"Ada, Mah. Itu yang ekskul Pramuka."
"Malah dijawab!"
Faris hanya berdiri diam tanpa kata. Sementara tatapan ibunya kini turun dari kepala sampai ujung kaki putranya. Semakin dilihat, semakin ibunya dibuat pusing.
"Kemeja gak dimasukin, lengan digulung, kancing dibuka..." Ibunya lagi-lagi mengomel. "Faris, penampilan kamu ini kenapa sih?"
Faris ikut melihat dirinya sendiri sekilas, "Kenapa, Mah? Normal kok."
Ibunya menatap Faris tidak percaya. "Normal kata siapa?"
"Kata Faris."
Ibunya kembali menggeleng. Terkadang, ia benar-benar heran bagaimana putranya bisa berangkat sekolah dengan pakaian rapi. Lalu pulang dalam kondisi seperti baru selesai syuting film anak nakal.
Sementara Faris seperti biasa. Ia berdiri dengan wajah datar, seolah omelan itu hanyalah bagian dari rutinitas sehari-harinya.
Ibunya kini memijat pelipisnya sejenak. Lalu, menunjuk ke arah tangga. "Cepat sana ganti baju!"
Faris sedikit mengernyit. "Sekarang? Tapi Faris lapar."
"Ya makanya, ganti baju terus makan." Ujarnya ibunya yang kembali menggeleng untuk kesekian kalinya.
Baru saja Faris hendak melangkah, suara ibunya kembali menghentikannya. "Sekalian, habis makan Mama sama Papa mau bicara."
Faris menoleh ke arah ibunya. "Bicara apaan?"
Tentunya, Faris langsung curiga. Entah kenapa, kalimat itu terdengar jauh lebih mengerikan daripada omelan tentang penampilannya.
Ibunya justru tersenyum tipis. Senyum yang entah mengapa membuat perasaan Faris mendadak tidak enak. "Pokoknya cepat ganti baju dan makan dulu."
Faris menatap ibunya beberapa saat. Hening, lalu ia menghela nafas pelan. Ia akhirnya berbalik dan melangkah menuju kamarnya. Langkahnya terdengar pelan menaiki tangga satu per satu.
Begitu tiba di kamar, Faris langsung masuk. Matanya menyapu ruangan sekilas. Helm cadangan tergantung di salah satu sudut, beberapa miniatur motor tersusun di rak, dan jaket-jaketnya tergantung di belakang pintu.
Faris meletakkan helmnya di atas meja belajar. Niat awalnya adalah mandi dan berganti pakaian seperti yang diperintahkan ibunya. Namun entah mengapa, langkahnya justru berhenti di samping tempat tidur.
Faris menjatuhkan tubuhnya di atas kasur begitu saja. Suara pendingin ruangan dan sesekali suara deru motor dari jalanan terdengar samar.
Faris menghela nafas pelan. Entah mengapa, ucapan ibunya tadi terus terngiang di kepalanya. Ia mengernyit kecil, perasaannya benar-benar tidak enak. Bahkan, omelan tentang pulang malam pun terasa lebih baik daripada kalimat itu.
Faris menatap langit-langit kamarnya. Lalu akhirnya ia menarik nafas panjang. Kalau dipikir-pikir, hidupnya akhir-akhir ini memang terasa aneh. Pernikahan mendadak, status yang berubah tanpa persetujuannya, dan kini orang tuanya ingin membicarakan sesuatu dengan wajah serius.
Alis Faris langsung bertaut, "Jangan-jangan..." Ia kemudian menggeleng. "Bukan masalah baru lagi, kan?"
Faris masih berbaring di atas kasurnya, menatap langit-langit kamar tanpa benar-benar memikirkan apapun. Atau mungkin justru memikirkan banyak hal sekaligus.
"Ck, bikin gak tenang aja," gumamnya pelan.
Akhirnya, Faris bangkit dari tempat tidur. Ia meraih handuk yang bergantung di belakang pintu, lalu berjalan menuju kamar mandi. Tak lama kemudian, suara air terdengar dari dalam.
Beberapa menit setelahnya, pintu kamar mandi terbuka. Faris keluar sembari mengusap rambutnya dengan handuk. Kini ia sudah berganti pakaian, kaos hitam polos dan celana pendek selutut menggantikan seragam sekolahnya.
Rambutnya masih sedikit basah dan acak-acakan karena dikeringkan asal. Beberapa helai bahkan jatuh di dahinya. Ia melempar handuk ke atas tempat tidur, lalu melangkah keluar dari kamar.
Begitu tiba di lantai bawah, suasana rumah sudah jauh lebih tenang. Jam dinding di ruang makan menunjuk pukul sepuluh malam, pantas saja.
Faris melirik meja makan dan mendapati hanya ada satu piring di atas meja, dengan lauk pauknya tertutup tudung saji.
"Mama sama Papa belum makan?" Tanya Faris sambil membuka tudung saji.
Ibunya yang mendengar dari ruang tengah menoleh sekilas, "Udah. Tadinya mau nunggu kamu, tapi kamu pulangnya kemalaman."
Setelahnya, Faris menarik kursi dan duduk. Di hadapannya sudah tersedia nasi hangat, sayur, dan beberapa lauk yang sengaja disisakan untuknya. Lalu, ia mulai makan dengan tenang, terlalu tenang bahkan.
Sesekali, telinganya menangkap suara kedua orang tuanya yang berbicara pelan di ruang tengah. Namun karena suaranya begitu lirih, tidak satu pun kalimat dapat ia dengar dengan jelas.
Suapan demi suapan masuk ke mulut, tapi pikirannya sudah melayang kemana-mana. Faris mengerutkan dahi lagi, tidak ada gunanya menebak-nebak. Lagipula, jika memang ada sesuatu, sebentar lagi ia juga akan tahu.
Setelah selesai makan dan membawa piringnya ke dapur, Faris berjalan menuju ruang tengah. Ayah dan ibunya masih duduk di sofa yang sama.
Faris menghela nafas pelan, lalu akhirnya menjatuhkan tubuhnya di atas sofa seberang mereka. Ia bersandar, sementara tangannya terlipat di atas pangkuan. Tatapannya berpindah dari ibunya ke ayahnya.
"Nah," ujar Faris sembari mengangkat sebelah alisnya. "Mau ngomong apa? Dari tadi serius banget."
Kedua orang tuanya saling bertukar pandang sejenak, lalu ibunya tersenyum tipis. "Tadi ayah Tya menelepon."
Mendengar itu, Faris langsung mengernyit. "Tya?"
Ibunya mengangguk, sementara ayahnya kini membuka suara. "Mulai besok, Tya akan tinggal di rumah ini."
"Apa?!" Tubuh Faris yang semula bersandar, langsung duduk tegak. "Tunggu, pindah ke sini?"
Faris menatap kedua orang tuanya bergantian, seolah berharap ada rumah lain yang dimaksud. Namun, kedua orang tuanya hanya mengangguk singkat, seolah membenarkan perkataan putra mereka.
"Faris kayaknya belum siap menerima informasi ini." Ujar Faris sambil menatap langit-langit rumahnya.
Ayahnya berdehem kecil, "Tadi ayah Tya bilang, beliau ingin Tya mulai tinggal di sini."
"Kenapa?" Tanya Faris sambil menoleh cepat.
"Karena bagaimanapun kalian sudah menikah." Jawab ayahnya tenang. "Cepat atau lambat, kalian memang harus tinggal satu rumah."
"Enggak," jawaban itu keluar begitu saja, cepat dan tegas.
Ibunya mengangkat sebelah alis, "Enggak?"
"Enggak," ulang Faris. "Pokoknya enggak!"
Faris bahkan sudah menggeleng sebelum kedua orang tuanya sempat mengatakan apapun lagi.
Ayahnya menghela nafas pelan. "Faris, dengarkan dulu-"
"Enggak Pah," potong Faris cepat. "Ini terlalu mendadak."
"Mendadak bagaimana?" Tanya ibunya.
"Ya... Mendadak aja!" Faris mengacak rambutnya asal. "Tiba-tiba besok dia tinggal di sini, serumah sama kita!"
Ibunya menatap putranya dengan sabar. "Emang ada yang salah?"
Faris langsung mengusap wajahnya sekilas. "Mah, aku sama Tya itu tiap ketemu selalu ribut."
"Itu bisa diperbaiki," jawab ibunya.
Faris mulai mondar-mandir di depan sofa. "Bukan diperbaiki, Mah. Itu udah kebiasaan."
Ayahnya kembali membuka suara. "Kalian suami istri."
"Nah, itu dia masalahnya!" Protes Faris. "Faris aja belum terbiasa sama status itu."
Ruangan itu terasa hening sejenak. Faris mengusap wajahnya lagi. Ia benar-benar tidak menyangka pembicaraan malam ini akan mengarah ke sana. Pernikahan mendadak saja belum selesai ia cerna, sekarang ditambah tinggal serumah dengan Tya.
"Kok semuanya serba mendadak, sih?" Gerutu Faris.
"Faris, cepat atau lambat ini memang harus terjadi," ujar ibunya.
"Ya jangan cepat-cepat juga, Mah." Jawab Faris. "Masih sekolah juga."
"Tapi kalian sudah menikah," sahut ibunya dengan sabar. "Kalian juga tinggal di kota yang sama."
Faris langsung memetik jari. "Nah, justru itu!" Ujarnya. "Karena dekat, kan gak harus tinggal serumah."
Ibunya terdiam beberapa saat. Logika putranya kadang-kadang memang aneh. Ayahnya kini menyandarkan tubuhnya pada sofa.
"Ayah Tya meminta ini dengan baik," ujar ayahnya. "Dan Papa setuju."
Faris langsung menoleh. "Papa setuju? Mama juga?"
Ibunya mengangguk tenang. "Iya."
Faris menatap kedua orang tuanya bergantian. Lalu perlahan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Beberapa detik kemudian, ia kembali menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
"Pokoknya Faris gak setuju." Tolak Faris.
Ibunya menghela nafas pelan. "Alasannya?"
Faris terdiam sejenak, lalu menjawab cepat. "Berisik, ribut, dan juga galak."
"Itu semua mengarah ke Tya?" Ujar ibunya.
"Iya memang!"
Jawaban jujur itu membuat ayahnya menggeleng kecil, sementara ibunya hanya menghela nafas pasrah.
Faris mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan harus pulang ke rumah yang sama dan bertemu Tya setiap hari. Di sekolah saja mereka sering adu mulut. Bagaimana jika di rumah?
"Pokoknya, Faris nolak!"
"Faris," panggil ibunya lembut. "Coba pikirkan dari sisi Tya."
Faris mengangkat sebelah alisnya. "Dari sisi apa?"
Ibunya terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Dia baru kehilangan ibunya."
"Itu Faris juga tau, Mah," jawab Faris. "Tapi bukan berarti harus tinggal di sini juga, kan?"
"Kondisi Tya masih belum stabil. Ayahnya khawatir kalau dia terus sendirian," ujar ibunya lembut.
"Kan masih ada Papanya." Timpal Faris.
"Ayahnya bekerja," jawab ibunya tenang.
"Ya..." Faris sempat kehilangan kata-kata. "Ya bisa cari ART."
Ayahnya yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara. "Ayah Tya bukan ingin menitipkan anaknya karena tidak peduli. Justru karena beliau peduli." Ujarnya. "Beliau ingin memastikan Tya tidak merasa sendirian."
"Faris ngerti, Pah."
"Kalau mengerti, kenapa menolak?" Tanya ayahnya tenang.
Faris langsung membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Namun pada akhirnya ia kembali berujar. "Pokoknya, Faris tetap gak setuju."
Ibunya menghela nafas panjang, lalu mengangguk pelan. "Baik."
Jawaban itu membuat Faris mengernyitkan dahi. Biasanya, kalau ibunya setenang itu, justru ada sesuatu yang lebih mengerikan. Dan benar saja, ibunya mengangkat sebelah tangannya dengan sebuah benda kecil yang sangat dikenali Faris. Sebuah gantungan kunci yang bertaut dengan sebuah gelang hitam.
"Kalau begitu," ujar ibunya tenang sembari menggoyang-goyangkan kunci motor itu perlahan. "Mama simpan dulu ini."
Mata Faris langsung membelalak. Tatapannya berpindah dari kunci motor itu ke wajah ibunya. "Mah, kok kunci motor Faris ada di situ?"
Ibunya tersenyum tipis, "Tadi Mama ambil dari seragam sekolahmu."
Faris langsung terdiam, pikirannya berputar cepat. Tadi setelah pulang, ia memang meletakkan seragamnya di kamar mandi. Berarti, saat ia makan, ibunya sempat naik ke atas dan mengambil kunci motornya. Faris bahkan tidak menyadari hal itu.
"Mah, kenapa sih," ujar Faris terdengar frustasi. "Kenapa ancamannya selalu pakai motor?"
"Karena itu satu-satunya cara yang paling ampuh untuk membuat kamu diam." Sahut ayahnya.
Faris langsung menoleh. Sementara ayahnya melanjutkan dengan tenang. "Mama capek lihat kamu keluyuran terus. Pulang malam, nongkrong sampai lupa waktu... Mau jadi apa kamu?"
"Jadi manusia lah, Pah," jawab Faris cepat, hampir tanpa berpikir.
Ruangan hening beberapa detik. Ibunya memejamkan mata sejenak sambil menghela nafas panjang. Sementara ayahnya hanya mengusap pelipis pelan.
"Kadang Papa bingung," ujar ayahnya akhirnya. "Kamu ini serius atau bercanda?"
"Serius, Pah." Faris berdehem kecil, lalu mengalihkan pandangannya ke samping.
Ibunya kembali mengangkat kunci motor itu sedikit lebih tinggi. Gantungan kuncinya bergoyang pelan di depan mata Faris. "Jadi bagaimana, Tya tinggal di sini atau ini Mama simpan?"
Faris langsung menatap kunci itu, nada suaranya terdengar memelas. "Mah..."
Ibunya tersenyum tipis, "Pilih."
"Ini ancaman."
"Keputusan keluarga," jawab ibunya.
Faris terdiam. Beberapa menit berlalu, Faris menatap langit-langit rumah. Lagi-lagi ia menghela nafas panjang, seolah baru saja kalah dalam sebuah pertarungan.
"Iya-iya," jawab Faris akhirnya, nada suaranya terdengar ketus. "Suruh aja Tya tinggal di sini."
Faris bangkit dari sofa dengan gerakan cepat. Wajahnya masih menunjukkan ekspresi tidak rela. "Tapi jangan harap Faris akan lembut sama dia."
Setelah mengatakan itu, Faris langsung berbalik dan melangkah menuju tangga. Ibunya mencoba memanggil, namun Faris tidak menoleh.
Faris hanya mengangkat satu tangan sekilas, entah sebagai tanda mendengar atau justru tanda menyerah. Lalu ia terus berjalan menaiki tangga.
Ibu dan ayahnya hanya bisa menggeleng pasrah. Entah harus lega atau justru khawatir memikirkan apa yang akan terjadi mulai besok.
^^^Bersambung...^^^
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
jangan lupa mampir juga ya. ❤️