Mengisahkan tentang dua orang anak kembar yang memilki dunia yang sama. Karena sejak kecil mereka memang tidak pernah terpisahkan.
Rean Arya Partama, kakak dari Sean Kingston yang terkenal sebagai dokter playboy, padahal dirinya bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Sosok hangat yang selalu menjadi partner terbaik dalam hidup adik kembarnya, Sean.
Sean Aryo Pratama, seorang dokter muda yang memiliki kesabaran seluar lautan, namun berubah menjadi dingin saat sebuah kecelakaan merenggut seluruh masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12
Pagi harinya, Rean memilih libur dan mengambil sift sore sampai malam. Dia ingin mengajak Sean untuk keluar karena rasanya sudah sangat lama mereka tidak jalan bersama.
"Bangun! Ayo kita pergi!" ajaknya pada Sean yang masih bergelung di balik selimutnya.
Sebenarnya dia sudah bangun sejak tadi. Hanya saja, dia merasa malas untuk melakukan aktivitas di pagi hari.
"Bangun, Sean! Kau harus lebih bersemangat lagi. Keadaan mu sekarang bukan berarti hidupmu juga berhenti. Jika Karier dokter mu tidak bisa di lanjutkan lagi, hidupmu juga harus berjalan. Bukan ikut berhenti!" ujar Rean menasehati.
Sean bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi dan meninggalkan Rean sendiri di dalam kamarnya.
Melihat Sean yang bergerak begitu membuat Rean juga langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi mereka. Karena pagi ini akan ada pembantu yang dulunya merawat mereka saat kecil.
Ternyata saat Rean turun, dia melihat bibi Mariani sudah berada di rumah.
"Kenapa cepat sekali datang, Bi?" tanya Rean saat melihat pengasuhnya dulu.
"Bibi khawatir sama den Sean, jadi bibi cepat datang buat bubur jagung kesukaan den Sean." mendengar hal itu membuat Rean tersenyum.
Dia datang memeluk wanita yang telah membesarkan mereka saat sang ibu memilih pergi dan tinggal di luar negeri saat ayah mereka meninggal waktu itu.
"Den Rean juga hati-hati, jaga diri. Walau takdir terkadang curang, setidaknya kita harus lebih mawas diri." Rean mengangguk dalam pelukan wanita paruh baya itu.
Saat Sean turun, dia melihat Rean yang berpelukan dengan seorang wanita disana membuatnya yakin, jika itu adalah bibi Mariani.
"Bi?" panggil Sean melihat wanita itu.
Bibi Mariani datang menghampiri anak asuhnya. Dia memeluk Sean dengan penuh kasih sayang, membuat Sean sedikit merasa lebih baik saat ini.
"Jangan nangis, bi. Sean baik-baik saja." ucapnya yang berusaha menenangkan.
Walau bibi Mariani tau, banyak perubahan pada diri Sean pasca kecelakaan itu. Rean juga sudah menjelaskan semuanya, membuat hati seorang wanita paruh baya yang di tinggal suaminya begitu saja merasa tersayat melihat anak asuhnya yang dulu ceria, kini berubah menjadi lebih pendiam.
"Ayo sarapan, bibi buat bubur jagung manis dengan air jahe untuk membantu peredaran darah. Biar den Sean cepat sembuh." Sean tersenyum kecil, karena perhatian wanita itu tidak berubah sedikitpun.
Setelah sarapan, mereka pergi jalan-jalan karena siang ini Sean akan terapi lagi.
"Bagaimana dengan gadis itu? Apa sudah ada kabar?" tanya Rean memberanikan diri untuk bertanya.
Sean menggelengkan kepalanya. Dia bahkan tidak berharap lagi untuk mencari tau tentang gadis itu.
"Apa aku harus mencarinya untukmu?" tanya Rean menawarkan bantuan.
"Tidak perlu. Aku tidak ingin mengingatnya lagi." jawab Sean sekenanya membuat Rean hanya bisa menghela nafasnya untuk itu.
Mereka melewati jalanan pagi ini dengan cukup mudah, sampai ketika di dekat lampu merah, pandangan awas Sean menangkap sosok yang sangat familiar baginya.
"Embun?" gumamnya melihat gadis yang memakai setelah kantor, turun dari mobil disana.
"Siapa?" tanya Rean yang tidak terlalu mendengar ucapan Sean.
Sean tidak menjawab, dia melihat kemana gadis itu pergi sampai dia melihat gadis itu masuk ke sebuah perusahaan yang dia kembali.
"Sean, kau baik-baik saja? Ada apa?" tanya Rean melihat Sean mengepalkan kedua tangannya.
"Sean, are you oke?" tanya Rean lagi.
"Aku baik-baik saja." jawabnya cepat, tapi pandangannya masih tertuju pada gadis itu, hingga menghilang dari pandangannya.
"Mau kopi?" tawar Rean.
Sean menganggukkan kepalanya, dia membiarkan Rean membawanya kemanapun karena mereka memang sangat sulit memiliki waktu berdua seperti ini.
"Americano saja." ucap Sean sebelum Rean turun.
"Turun! Kau pikir aku supir?!" ucap Rean membuat Sean juga ikut turun.
Keduanya berjalan beriringan, menuju coffee shop disana. Rean dan Sean terlihat kompak hari ini. Bahkan hingga mereka dewasa saja pun mereka masih sehati untuk banyak hal.
Seperti penampilan mereka hari ini, Sean membiarkan Rean memesan minuman mereka disana, dan dia memilih berdiri di belakangnya.
Di sebelah sana, ada seseorang yang sejak tadi menatap kedatangan keduanya.
Merasa ada yang menatap ke arahnya, membuat Rean melihat sekelilingnya, dan dia menemukan seorang gadis memakai masker dan topi yang sedang memesan kopi di ujung sana. Dia hanya tersenyum saja mengetahui siapa gadis itu.
"Sekalian sama, yang disana. Kembaliannya ambil saja." ucap Rean sebelum pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Ayo!" ajak Rean pada Sean, dan keduanya keluar dari coffee shop tadi.
Sedangkan gadis itu, saat hendak membayar terkejut ketika mengetahui jika kopi miliknya sudah di bayar.
"Ternyata itu kembarannya. Mereka benar-benar mirip. Sama-sama terlihat seperti gapura kabupaten!" gumam Jasmine setelah mengetahui kopi dan cake miliknya sudah di bayar oleh dokter menyebalkan itu.
"Benar-benar definisi anak kembar. Bahkan hingga mereka dewasa masih memakai warna baju yang senada." gumam Jasmine lagi.
***
Btw jangan lupa, like, komen dan kasih rate bintang 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
jevan lho up sn... kok trs di tgl kn
eee jevan noh