NovelToon NovelToon
TO MARRY A REGEN

TO MARRY A REGEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: byKaru

“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”

Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.

Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: PERNIKAHAN

Brak!

Suara benda yang dilempar cukup keras ke lantai langsung memecah heningnya ruang rapat. Tablet yang baru saja dilempar Victor, membuat semua orang di ruangan itu membeku ketakutan, terutama sang sekretaris yang sudah berdiri bak patung di samping Victor.

"Kau masih belum bisa menghubunginya?!" suara Victor meninggi, penuh kemarahan yang tertahan.

Andre dengan cepat mematikan layar ponsel di tangannya.

"Aku sudah mencoba lebih dari sepuluh kali, Ayah. Ia tidak mengangkat teleponnya," jawabnya tergesa.

"Kenapa kau tidak menangani berita seperti ini?! Bagaimana bisa kau membiarkan hal semacam ini lolos?!" bentak Victor lagi, nadanya tajam, menekan setiap kata seolah menghakimi Andre di depan semua orang.

Marahnya Victor pada Andre bukanlah tanpa alasan. Sebagai Chief Operating Officer (COO) Regen Corporation, Andre memegang kendali penuh atas seluruh operasional perusahaan, mulai dari Regen Media Group, jaringan media dan PR yang bertugas membentuk citra publik keluarga mereka, hingga Food & Beverage International, yang menaungi deretan restoran mewah milik Regen di berbagai negara.

Kebocoran berita negatif adalah kegagalan besar. Dan Victor tidak pernah mentoleransi kegagalan, terlebih dari orang yang seharusnya menjadi penopang reputasi keluarga.

Kemarahan Victor pun berlipat ganda. Di satu sisi, ia kecewa pada Andre yang gagal mengendalikan situasi. Di sisi lain, Nathan kembali membuatnya kehilangan kesabaran. Padahal, Nathan adalah pilihannya.

Selama bertahun-tahun, Victor menilai kedua anaknya dengan cermat sebelum akhirnya memutuskan bahwa Nathan lah yang paling layak menggantikannya. Nathan memang lihai dalam berbisnis, tepat, cepat, dan sering kali bahkan melampaui ekspektasi Victor. Namun satu hal yang tidak pernah bisa Victor kendalikan adalah emosinya.

Karena itulah Victor selalu menekankan pentingnya menjaga kredibilitas Nathan. Satu kabar negatif saja bisa mengguncang kepercayaan investor dan pemegang saham, bahkan berpotensi membuat mereka meragukan kelayakannya sebagai penerus Regen Corporation.

Tapi itulah yang sebenarnya diinginkan Andre. Apa yang harus menjadi haknya haruslah kembali padanya.

"Ayah, ini bukan pertama kalinya aku menghapus berita buruk tentangnya," jelas Andre. "Aku selalu melakukannya jika itu akan memengaruhi Regen Corporation. Tapi berita kali ini berbeda. Kali ini wajahnya terlihat jelas, bahkan ada foto saat ia menggendong wanita itu di depan rumah sakit. Aku dan tim Regen Media Group sudah berusaha menghapusnya, tapi gambar itu sudah menyebar ke seluruh media. Kami tidak bisa menghentikannya lagi, Ayah," tambah Andre mencoba meyakinkan ayahnya.

"Cari dia! Jika perlu, paksa dia ke sini. Aku tidak peduli bagaimana kalian menemukannya, tetapi jika ia tidak ada di sini dalam tiga jam, kalian semua akan kupecat!" tegas Victor Regen pada sekretarisnya.

Sekretaris itu mengangguk cepat. Ia mengerti tugasnya, ini bukan pertama kalinya ia mendapat perintah seperti ini.

...*****...

"Hari ini, kita berkumpul bukan hanya untuk menyaksikan dua insan yang saling mencintai, tapi untuk melihat bagaimana cinta itu memilih untuk bertahan, untuk mengikat diri dalam janji yang suci."

Perlahan Romo itu menumpangkan tangannya di atas kepala Nathan dan Arin yang sedang berlutut di depan Altar menandai awal dari pemberkatan pernikahan mereka hari ini.

"Pernikahan bukan sekadar tentang hari ini, tentang cincin, bunga, atau gaun yang indah. Tapi tentang setiap hari setelah ini. Tentang kesabaran, pengertian, dan keberanian untuk tetap berjalan bersama, bahkan ketika langkah kalian terasa tidak seirama."

"Dan di hadapan Tuhan, kalian berdua tidak lagi dua, melainkan satu. Satu hati, satu kehidupan, dan satu tujuan yang akan kalian bangun bersama."

"Saudara Nathan, apakah saudara bersedia menerima Saudari Arin sebagai istri yang dikaruniakan Tuhan kepada saudara? Mencintainya, menghormatinya, dan setia kepadanya dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan, dalam sehat maupun sakit, hingga maut memisahkan kalian berdua?"

"Saya bersedia," jawab Nathan cepat.

"Saudari Arin, apakah saudari bersedia menerima Saudara Nathan sebagai suami yang dikaruniakan Tuhan kepada saudari? Mencintainya, menghormatinya, dan setia kepadanya dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan, dalam sehat maupun sakit, hingga maut memisahkan kalian berdua?"

"....Saya bersedia," jawab Arin yang masih belum yakin apakah yang ia lakukan ini benar atau tidak.

"Dengan ini atas nama Gereja dan dengan kuasa yang dipercayakan kepada saya, saya menyatakan bahwa pernikahan antara saudara Nathan dan saudari Arin telah sah di hadapan Allah dan Gereja. Apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia."

...*****...

Pernikahan hari ini berjalan dengan lancar. Seluruh prosesi telah direkam oleh Aldo, sesuai perintah Nathan. Bahkan, Nathan meminta agar video pernikahan mereka segera dibagikan ke media sosial.

Karena pernikahan itu hanya dihadiri oleh Luna dan Aldo, Nathan tahu, ia perlu membuat dunia tahu bahwa ia telah menikah.

"Maaf, ini gaunmu," ucap Arin pelan, sambil menyerahkan gaun putih yang dibawa Luna ke apartemen Nathan untuk dipinjamkan padanya di hari pernikahan ini.

Luna menerimanya dengan senyum hangat. Ia menyambut Arin tanpa sedikit pun menunjukkan rasa canggung. Bahkan saat Nathan menelpon dan mengatakan bahwa ia akan menikahi Arin, Luna tidak menanyakan apa pun. Ia tahu, ini satu-satunya cara bagi Nathan untuk lepas dari rantai perjodohan yang diatur Victor.

"Sekarang kita kemana?" tanya Aldo tanpa menoleh, matanya masih terpaku pada layar ponsel, mengedit potongan video pernikahan yang baru saja direkamnya.

"Mendaftarkan pernikahan ini ke catatan sipil," jawab Nathan singkat sambil mengambil kunci mobil di meja. "Kita akan berangkat sekarang. Kalian tetap jadi saksiku," ucap Nathan, menatap Luna yang berdiri di dekat pintu.

"Tentu." Luna menoleh ke arah Aldo sejenak, lalu berkata lembut, "Sayang, bisakah kau mengantar Arin ke mobil dulu?"

Aldo mendengar itu, lalu ia meminta Arin untuk mengikutinya. Tanpa bertanya apa pun, Arin pun mengikuti Aldo.

"Aku tidak menyangka akan sejauh ini. Aku pikir kita akan langsung ke catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahanmu," jelas Luna.

Pernikahan ini terasa seperti bukan sandiwara, tetapi pernikahan sungguhan. Jujur saja, Luna sedang berpikir apakah Nathan tahu apa yang sedang ia perbuat. Ini terlalu jauh jika hanya disebut pernikahan kontrak.

"Aku perlu membuat semuanya sempurna. Jika hanya mendaftar ke catatan sipil, Ayahku tidak akan percaya," jawab Nathan.

Ia mengenal betul ayahnya. Jika mau, Victor bisa saja menggunakan kekuasaannya untuk menghapus jejak pernikahan kontrak itu dari catatan sipil. Tapi dengan video pernikahan hari ini yang tersebar di media, ayahnya tidak bisa berbuat apa-apa. Nathan sudah merancang semuanya dengan teliti, memastikan rencananya berjalan sempurna.

Mendengar itu, Luna hanya mengangguk. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Akhirnya, mereka berjalan menuju mobil, tempat Aldo dan Arin sudah menunggu.

Begitu masuk mobil, tatapan Nathan sempat bertemu dengan mata Arin, tetapi keduanya cukup canggung. Akhirnya, Nathan menyalakan mobilnya dan bergegas melaju.

"Beberapa video sudah selesai, juga beberapa foto pernikahan kalian. Langsung ku-upload?" tanya Aldo, matanya menatap Nathan.

"Lakukan," jawab Nathan singkat, tanpa memalingkan tatapannya dari jalan di depannya.

Klik.

Hanya dalam hitungan detik, Aldo menghela napas. "…Selesai. Perang resmi dimulai," ucap Aldo, sambil menjauhkan ponselnya sedikit ke arah Luna karena jujur saja ia juga merasa takut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!