NovelToon NovelToon
MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Duda
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."

​Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Sangkar Emas VIPlllll

BAB 28: Sangkar Emas VIP

​Rumah Sakit Medika Sentosa berdiri megah di kawasan elite kota, sangat kontras dengan hiruk-pikuk Rumah Sakit Pusat yang bising sebelumnya. Luna Maharani dipindahkan ke sebuah kamar perawatan kelas VIP yang teramat luas. Ruangan itu memiliki fasilitas lengkap layaknya hotel berbintang, mulai dari sofa kulit yang empuk, televisi layar datar besar, hingga dinding kaca besar yang menyuguhkan pemandangan taman asri di luar.

​Namun, bagi Luna, kemewahan ini tidak lebih dari sebuah sangkar emas yang mencekik. Begitu dia ditidurkan di atas ranjang medis yang jauh lebih nyaman, seorang pengawal berbadan tegap suruhan Devano langsung melangkah maju dan menyita ponsel milik Luna tanpa permisi.

​"Atas perintah Tuan Devano, semua akses komunikasi Anda ditangguhkan selama masa pemulihan, Nona," ujar pengawal itu dingin sebelum melangkah mundur menjauh.

​Luna hanya bisa menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong dan pasrah. Air matanya sudah mengering, menyisakan rasa lelah yang teramat sangat di sekujur tubuh ringkihnya. Dia benar-benar telah terisolasi dari dunia luar, dan yang paling membuatnya cemas adalah dia tidak bisa mengabari Dika bahwa dirinya baik-baik saja.

​Devano tidak langsung kembali ke gedung kantornya setelah proses administrasi selesai. Pria bertubuh tegap itu memilih untuk menetap di dalam kamar VIP tersebut. Dia melepas jas abu-abu gelapnya, menyisakan kemeja hitam yang lengannya telah digulung hingga ke siku, menampilkan lengan kokoh yang dipenuhi urat-urat tegas.

​Devano duduk di sofa kulit, membuka laptopnya untuk memeriksa beberapa dokumen pekerjaan dari sana. Sesekali, mata elangnya melirik ke arah ranjang, mengawasi Luna yang saat ini sedang memejamkan mata—berpura-pura tidur karena terlalu takut untuk menatap sang CEO.

​Di sela-sela jemari tangan kanannya, Devano memutar-mutar kunci tua berkarat milik almarhum ayah Luna yang disitanya tadi. Kilat logam kuno itu memantulkan cahaya lampu ruangan. Egonya yang tinggi berbisik bahwa kunci ini pasti membuka sesuatu yang sangat penting. Ada sebuah potongan teka-teki yang sengaja disembunyikan darinya selama dua tahun ini, namun harga diri Devano terlalu tinggi untuk merendahkan diri dan bertanya langsung pada asisten pribadinya yang tak berdaya itu.

​Bzzzt... Bzzzt...

​Ponsel pribadi Devano yang tergeletak di atas meja kaca bergetar nyaring. Layarnya menampilkan nama Siska. Devano menatap layar itu selama beberapa detik dengan ekspresi datar sebelum akhirnya menggeser tombol hijau.

​"Ya, Siska," jawab Devano, suara baritonnya terdengar sangat rendah dan dingin.

​"Mas Devano! Kamu di mana? Aku tadi ke kantormu tapi kata Rania kamu sedang keluar," suara Siska terdengar sangat manis dan manja dari seberang telepon, namun ada nada mendesak yang tersembunyi. "Mas, apa benar si Luna itu sudah dipecat karena kabur membawa uang kantor dengan manajer keuangan? Rania menceritakan semuanya padaku. Perempuan seperti itu memang harus segera disingkirkan, Mas!"

​Jika itu terjadi beberapa hari yang lalu, Devano pasti akan langsung menyetujui ucapan Siska tanpa ragu. Namun hari ini, setelah melihat potongan memo robek dan memegang kunci tua milik Mahardika, ada sesuatu yang terasa mengganjal di sudut hati Devano.

​"Urusan kantor adalah wewenangku, Siska. Kamu tidak perlu ikut campur," respons Devano dengan nada yang teramat datar, tanpa emosi sedikit pun.

​Siska di seberang telepon seketika tertegun. Nada dingin dan penolakan dari Devano yang tidak biasa ini membuat bulu kuduknya meremang. Rasa panik mendadak merayap di dadanya; dia mulai merasa posisi dan rahasia masa lalunya perlahan-lahan sedang terancam.

​"Ah... b-bukan begitu, Mas. Aku hanya cemas padamu—"

​"Aku sedang sibuk. Jangan menelepon jika tidak ada hal yang penting," potong Devano kejam, lalu langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

​Setelah meletakkan kembali ponselnya, pintu kamar VIP tiba-tiba diketuk dengan ketukan yang teratur. Seorang pengawal pribadi kepercayaan Devano melangkah masuk dengan kepala menunduk hormat. Di kedua tangannya, pengawal itu membawa sebuah kotak kayu kecil berukuran sebesar buku tebal. Kotak itu tampak sangat rapuh, berdebu, dan dipenuhi sarang laba-laba tipis di sudut-sudutnya.

​Pengawal itu mendekati Devano dan berbisik dengan suara yang sangat pelat agar tidak terdengar oleh Luna di ranjang. "Tuan Devano, tim kita baru saja selesai menyisir dan menggeledah sisa barang di rumah lama keluarga Maharani sebelum bangunan itu resmi disita oleh pihak rentenir siang ini. Kami menemukan kotak kayu ini tersembunyi dengan sangat rapi di bawah papan lantai kamar almarhum ayahnya."

​Devano bangkit berdiri, menatap tajam ke arah kotak kayu misterius tersebut. Dia mengambil kotak itu dari tangan pengawalnya, lalu meletakkannya di atas meja kaca.

​Mata elang Devano menyipit tajam saat menyadari ada sebuah lubang kunci kuno di bagian depan kotak kayu tersebut. Bentuk dan ukuran lubang kunci itu terasa sangat familier. Tanpa ragu, Devano merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci tua yang tadi dijatuhkan oleh Luna di Rumah Sakit Pusat.

​Ukurannya sangat pas. Kunci kuno berkarat itu adalah pasangan dari kotak kayu ini.

​Tepat di saat Devano mengarahkan ujung kunci itu ke dalam lubang dan hendak memutarnya untuk membuka paksa rahasia di dalamnya, sebuah suara teriakan histeris memecah kesunyian kamar.

​"Jangan dibuka, Tuan! Jangan!"

​Luna yang tadinya berpura-pura tidur mendadak bangkit berdiri dari ranjang medisnya dengan sisa tenaga yang dia miliki. Tanpa memedulikan rasa pening di kepalanya atau rasa perih dari selang infus yang tertarik kencang, Luna menerjang maju ke arah sofa dan langsung mencengkeram pergelangan tangan kokoh Devano, menahan gerakan pria itu agar tidak memutar kuncinya.

​Napas Luna memburu, wajahnya yang seputih kertas kini dibasahi oleh air mata kepanikan yang luar biasa. Dia menatap Devano dengan pandangan mata yang sarat akan keputusasaan dan ketakutan terdalam.

​"Saya mohon... saya memohon dengan sangat kepada Anda, Tuan Devano... jangan buka kotak itu sekarang," ratap Luna dengan suara bergetar hebat, jemari dinginnya mencengkeram lengan Devano seolah sedang mempertaruhkan hidupnya. "Jika Anda membukanya sekarang, di saat Anda masih dipenuhi oleh rasa benci dan dendam... Anda akan menyesal seumur hidup Anda!"

​Devano terpaku di tempatnya berdiri, dengan posisi kunci besi yang sudah setengah masuk ke dalam lubang kayu. Dia menatap tajam ke dalam manik mata bulat Luna yang dipenuhi ketakutan murni, membuat detak jantung sang CEO mendadak berdegup kencang oleh rasa penasaran yang teramat menyiksa. Rahasia besar apa sebenarnya yang tersimpan di dalam kotak tua peninggalan Mahardika Maharani ini?

1
Sarbina Sarbina
apa sih maunya di devano ini 😏
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!