NovelToon NovelToon
MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:755
Nilai: 5
Nama Author: yurisii

Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Hari itu terasa istimewa bagi Alena. Setelah hampir dua minggu tinggal di rumah keluarga Baskara, akhirnya ia kembali ke rumahnya sendiri—tempat di mana ia dibesarkan—karena Kakek Wijaya serta ayah dan ibunya baru saja tiba dari perjalanan bisnis yang cukup lama di luar negeri. Kabar kepulangan mereka membuat hati Alena berbunga-bunga sejak pagi, dan ia pun segera berpamitan dengan Kakek Baskara serta Elio untuk pulang seharian guna bertemu keluarga tercintanya.

“Jangan lupa nanti malam kembali lagi ke sini ya, Nak. Kita sudah sepakat untuk makan malam bersama dan membahas hal penting,” pesan Kakek Baskara sambil menepuk bahu Alena dengan lembut.

“Siap, Kek. Saya pasti datang tepat waktu,” jawab Alena dengan senyum lebar.

Sementara itu, Elio yang mengantarnya sampai ke depan gerbang rumah terlihat sedikit cemas namun juga senang. “Jangan sampai lupa waktu ya. Kalau perlu, nanti sore aku jemput saja supaya tidak terlambat.”

Alena tertawa kecil, lalu menyentuh lengan Elio pelan. “Aku bisa pulang sendiri kok. Lagipula rumahku tidak terlalu jauh. Kamu tenang saja, nanti malam aku pasti ada di meja makan.”

Setelah berpisah, Alena menghabiskan siang dan sore harinya dengan bercengkerama bersama keluarga. Ia menceritakan segala hal yang terjadi selama ia tinggal di rumah Elio—mulai dari suasana yang nyaman, perlakuan baik Kakek Baskara, hingga bagaimana hubungannya dengan Elio yang perlahan berubah dari yang dulunya saling bermusuhan menjadi dekat dan penuh rasa sayang. Orang tuanya mendengarkan dengan perasaan lega, sementara Kakek Wijaya hanya tersenyum penuh makna, merasa bahwa keputusan menjodohkan mereka bukanlah sebuah kesalahan.

Malam pun tiba. Seperti yang telah disepakati, keluarga Wijaya datang berkunjung ke rumah keluarga Baskara. Suasana di ruang makan yang luas itu terasa hangat dan meriah, diterangi cahaya lampu gantung yang lembut serta dihiasi bunga segar di tengah meja. Berbagai hidangan lezat sudah tersaji rapi, menciptakan aroma yang menggugah selera.

Begitu semua duduk di tempat masing-masing, percakapan pun mengalir dengan lancar. Kedua kakek bertukar cerita mengenai pengalaman mereka selama di luar negeri, sementara orang tua Alena dan Elio membahas berbagai hal seputar kehidupan keluarga. Alena dan Elio duduk berdampingan, sesekali saling melirik dan tersenyum kecil, membuat suasana semakin terasa akrab.

Setelah perut terasa kenyang dan obrolan ringan mulai mereda, Kakek Baskara meletakkan sendok garpunya dengan tenang, lalu menatap semua orang dengan pandangan yang serius namun penuh kebahagiaan.

“Baiklah, sekarang mari kita bahas tujuan utama pertemuan malam ini,” ujarnya memulai. “Kami sudah membicarakan hal ini dengan Kakek Wijaya melalui telepon beberapa hari yang lalu, dan malam ini kita putuskan secara bersama-sama. Mengingat hubungan Alena dan Elio yang sudah semakin baik dan saling menerima, kami sepakat untuk segera melangsungkan acara pertunangan mereka.”

Mendengar ucapan itu, Alena dan Elio sama-sama menahan napas. Wajah Alena seketika memerah, sementara Elio menatapnya sekilas dengan pandangan yang penuh harap dan gembira.

Kakek Wijaya mengangguk setuju, lalu melanjutkan pembicaraan. “Benar sekali. Kami berharap pertunangan ini akan menjadi jembatan yang mengikat janji mereka agar hubungan semakin jelas dan terjaga. Setelah mempertimbangkan hari baik dan kesiapan kedua pihak, kami memutuskan acara pertunangan akan dilaksanakan tepat dua minggu dari hari ini. Apakah tanggal ini dirasa cukup waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya?”

Semua orang mengangguk setuju. Kedua orang tua pun menyatakan persetujuannya dengan senyum bahagia.

“Bagus kalau begitu,” lanjut Kakek Baskara. “Mulai besok, kita akan mulai mengatur persiapan, mulai dari tempat, undangan, hingga kebutuhan lainnya. Yang terpenting adalah kedua anak ini merasa nyaman dan siap dengan keputusan ini.”

Semua mata tertuju pada Alena dan Elio. Elio segera menjawab dengan suara mantap, “Saya siap sepenuhnya, Kek. Saya sudah lama menantikan momen ini.”

Kemudian giliran Alena yang ditatap. Ia menunduk sejenak, jantungnya berdebar kencang, namun saat ia mengangkat wajah dan menatap Elio yang menatapnya dengan penuh cinta, ia pun mengangguk lembut. “Saya juga siap. Terima kasih banyak atas kepercayaan dan doa dari semuanya.”

Suasana menjadi semakin hangat dan penuh haru. Makan malam dilanjutkan dengan suasana yang lebih ceria, diiringi tawa dan ucapan selamat dari semua pihak.

Setelah acara makan malam selesai dan para tamu mulai bersiap untuk pulang, Elio meminta izin kepada kedua keluarga untuk membawa Alena berjalan-jalan sebentar.

“Kami hanya ingin menghirup udara malam dan mengobrol sebentar saja. Tidak akan lama, kami segera kembali,” kata Elio dengan sopan.

Mendengar itu, Kakek Baskara dan Kakek Wijaya hanya tersenyum mengerti. “Silakan saja, jangan pulang terlalu larut ya,” jawab mereka serempak.

Dengan hati yang ringan, Elio mengajak Alena berjalan kaki keluar dari pekarangan rumah menuju sebuah taman kecil yang terletak tidak jauh dari kompleks perumahan itu. Malam itu langit terlihat sangat indah, bertabur bintang yang berkelap-kelip dan bulan purnama yang bersinar terang menerangi jalan setapak. Angin malam berhembus lembut, membawa kesejukan yang menenangkan hati.

Sesampainya di taman yang sepi dan tenang itu, Elio mengajak Alena duduk di bangku kayu yang berada di bawah pohon rindang. Mereka duduk berdampingan, menikmati keheningan malam yang hanya diiringi suara jangkrik dan gemerisik daun.

Selama beberapa menit hanya terdengar hening, namun bukan hening yang canggung, melainkan hening yang dipenuhi perasaan bahagia yang meluap. Hingga akhirnya Elio berdiri sebentar, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan yang tersembunyi di balik punggungnya. Saat ia membukanya, tampaklah sebuah rangkaian bunga mawar merah yang cantik, disusun rapi dan diikat dengan pita sutra berwarna putih.

Alena tertegun, matanya terbelalak melihat bunga itu. “Ini… untukku?” tanyanya dengan suara lirih yang terkejut.

Elio tersenyum lembut, lalu berlutut sebentar di hadapan Alena—gerakan yang membuat jantung gadis itu berdegup semakin kencang—sambil mengulurkan rangkaian bunga itu ke depan.

“Iya, ini untukmu, Alena,” ucap Elio dengan suara yang jelas, tenang, dan penuh ketulusan. “Sejujurnya, sejak pertama kali kita bertemu dan sering bertengkar, aku tidak pernah menyangka bahwa gadis yang dulunya membuatku kesal setiap hari justru akan menjadi orang yang paling aku cintai di dunia ini.”

Alena menatapnya dengan pandangan yang terasa berkabut, matanya mulai terasa panas oleh rasa haru. Ia menerima bunga itu dengan tangan yang sedikit gemetar, mencium wangi bunga yang segar dan menenangkan.

Elio melanjutkan kata-katanya, menatap mata Alena dalam-dalam tanpa berkedip sedikit pun. “Selama ini aku merasa perasaanku sudah cukup jelas, tapi aku sadar belum pernah mengatakannya secara resmi dan sungguh-sungguh. Malam ini, sebelum hari pertunangan tiba, aku ingin menyampaikannya dengan jujur dan tanpa ragu sedikit pun.”

Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan, “Alena, aku mencintaimu. Bukan hanya karena kita dijodohkan, bukan hanya karena kebiasaan, tapi karena setiap hari yang kita lewati bersama membuatku semakin yakin bahwa kaulah separuh jiwaku. Aku mencintai sifatmu yang tegas namun lembut, senyummu yang bisa membuat hariku terasa lebih indah, bahkan sifatmu yang kadang cemburu atau marah itu justru terlihat sangat menggemaskan bagiku.”

Mendengar pengakuan itu, air mata bahagia akhirnya menetes di pipi Alena. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu tersenyum lebar sambil memeluk rangkaian bunga itu erat di dadanya.

“Elio… aku juga mencintaimu,” jawab Alena dengan suara yang sedikit bergetar namun penuh keyakinan. “Aku juga tidak menyangka perasaan ini bisa tumbuh secepat dan sedalam ini. Dulu aku mengira hidupku akan terasa berat dan membosankan karena perjodohan ini, tapi kamu mengubah semuanya. Kamu membuatku merasa dicintai, dilindungi, dan berharga. Aku sangat bersyukur memilikimu.”

Mendengar jawaban itu, Elio berdiri dan duduk kembali di samping Alena, lalu menarik tubuh gadis itu masuk ke dalam pelukannya yang hangat dan kuat. Ia mencium puncak kepala Alena, lalu mengusap punggungnya dengan lembut.

“Terima kasih sudah menerimaku apa adanya. Mulai hari ini, sampai kapan pun, aku berjanji akan selalu menjagamu, membahagiakanmu, dan tidak akan pernah membuat hatimu terluka,” bisik Elio lembut di telinga Alena.

Namun, suasana romantis itu tiba-tiba berubah sedikit lucu saat Elio melepaskan pelukannya dan menatap wajah Alena dengan tatapan yang sedikit nakal.

“Tapi ingat ya, mulai sekarang kamu sudah resmi menjadi milikku. Kalau ada pria lain yang berani melirik atau mendekat, kamu harus bilang padaku, supaya aku yang urus,” kata Elio dengan nada serius namun matanya berbinar menggoda.

Alena tertawa terbahak mendengar ucapan itu, lalu menjewer lengan Elio dengan lembut. “Kamu ini baru saja mengucapkan kata cinta, sudah mulai berlagak posesif lagi. Tenang saja, hatiku sudah penuh olehmu, tidak ada ruang untuk orang lain lagi.”

“Baguslah kalau begitu,” jawab Elio sambil tertawa dan mencubit pipi Alena. “Lagipula, aku juga tidak akan memberi ruang bagi gadis lain selain kamu. Lihat saja kejadian dengan Jena tempo hari, aku sudah tegas menolaknya, kan?”

Mengingat kejadian itu membuat Alena mengangguk setuju sambil tersenyum. “Iya, aku sangat menghargai sikapmu itu. Terima kasih sudah menjaga perasaanku.”

Mereka pun kembali duduk berdampingan, menikmati keindahan malam sambil sesekali mengobrol tentang rencana pertunangan dan harapan mereka ke depan. Elio sesekali mencuri ciuman singkat di kening atau pipi Alena, membuat gadis itu terus memerah namun tidak pernah menolak.

“Dua minggu lagi akan menjadi hari yang sangat bersejarah untuk kita,” kata Alena sambil menatap bintang-bintang di langit. “Aku merasa seperti bermimpi saja, rasanya baru kemarin kita masih saling membenci, sekarang sudah akan melangkah ke jenjang yang lebih serius.”

“Mimpi yang indah, kan? Dan mimpi ini akan terus kita jalani bersama-sama,” jawab Elio sambil menggenggam tangan Alena erat-erat. “Setiap hal yang kita lalui, baik suka maupun duka, akan membuat ikatan kita semakin kuat. Aku tidak sabar menunggu hari pertunangan itu tiba, dan nanti hari pernikahan kita pun akan segera menyusul.”

Alena hanya bisa tersenyum mendengarnya, merasakan kehangatan di genggaman tangan Elio yang memberinya rasa aman yang tak tergantikan. Malam itu menjadi malam yang paling berkesan dalam hidup mereka—malam di mana kepastian masa depan tergambar jelas, dan pengakuan cinta yang tulus terucap di bawah langit yang penuh bintang.

Ketika waktu sudah mulai larut, mereka pun berjalan pulang dengan langkah yang ringan dan hati yang penuh kebahagiaan. Di sepanjang jalan, mereka terus bercerita dan tertawa, membayangkan hari-hari indah yang akan datang. Semua rintangan dan kesalahpahaman di masa lalu kini terasa seperti cerita lucu yang hanya menambah warna pada kisah cinta mereka yang terus berkembang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!