NovelToon NovelToon
Bidadari Tak Bersayap {Antara Dua Takdir}

Bidadari Tak Bersayap {Antara Dua Takdir}

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Selingkuh / Cintapertama / Tamat
Popularitas:13.8k
Nilai: 5
Nama Author: BundaNazwa

Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.

"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."

Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.

Yuk simak cerita selanjutnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saya Ingin Mengkhitbahmu

Setelah pengajian selesai, jamaah mulai berdiri dan membereskan sajadah mereka. Suasana masjid yang tadi khusyuk perlahan berubah menjadi ramai oleh suara ibu-ibu yang saling menyapa sebelum pulang.

Qais turun dari mimbar dengan langkah tenang, meski hatinya sebenarnya belum sepenuhnya tenang sejak tadi.

Beberapa bapak menyalaminya lebih dulu.

“Terima kasih tausiyahnya, Gus.”

“MasyaAllah, adem sekali.”

Qais hanya tersenyum sopan sambil membalas salam satu persatu.

Namun matanya sesekali melirik ke arah barisan jamaah wanita yang mulai bergerak keluar. Di antara kerumunan itu… ia melihat Aiza.

Wanita itu sedang berdiri bersama beberapa ibu kampung, memegang tas kecilnya sambil menunggu kerumunan agak reda.

Qais menarik napas pelan.

“Sekarang… atau tidak sama sekali.”

Ia lantas melangkah sedikit mendekat ke arah pintu keluar masjid.

“Aiza…”

Suaranya tidak terlalu keras, tapi cukup membuat wanita itu berhenti melangkah.

Aiza menoleh. Begitu menyadari siapa yang memanggilnya, ia tampak sedikit kaget.

“Iya, Gus?”

Beberapa ibu-ibu di sebelahnya langsung saling melirik.

“Eh, dipanggil Gus Qais,” bisik salah satu dari mereka.

Aiza berjalan mendekat beberapa langkah, meski wajahnya terlihat sedikit canggung.

“Iya, Gus… ada apa?”

Qais berdiri tegak di depannya, tapi tiba-tiba semua kalimat yang tadi ia siapkan terasa menghilang begitu saja.

Qais berdiri tegak di depannya, tapi tiba-tiba semua kalimat yang tadi ia siapkan terasa menghilang begitu saja.

Ia lantas berdeham kecil.

“Saya… ehm… ingin bicara sebentar.”

Aiza pun mengangguk pelan.

“Iya.”

Namun setelah itu Qais justru terdiam gugup. Ia mengusap tengkuknya sebentar, terlihat jelas bahwa ia sangat gugup.

Di belakang Aiza, ibu-ibu masih berdiri. Bukannya pulang, mereka malah pura-pura merapikan mukena.

Padahal mata mereka sesekali melirik ke arah Qais.

“Ya Allah… Gusnya gugup,” bisik salah satu ibu sambil menahan tawa.

Namun, meskipun begitu, Qais mencoba bicara lagi.

“Saya… sebenarnya ingin… eh…” Qais kembali menghentikan kalimatnya.

Aiza langsung menunduk, bibirnya sedikit melengkung menahan senyum. Sementara Qais menarik napas lagi, mencoba mengontrol rasa gugupnya yang entah mengapa sulit dikendalikan.

Dulu, dia pernah segugup ini, saat melakukan hal yang sama….pada wanita yang sama.

“Maksud saya… bukan begitu… eh, bukan maksudnya bukan…”

Ia sendiri tampak bingung dengan kalimatnya sendiri.

Dari belakang langsung terdengar tawa kecil dari ibu-ibu yang cepat-cepat ditahan.

“Gus… ngomong saja,” bisik seorang ibu pelan.

Qais menoleh sekilas ke arah mereka dengan wajah mulai memerah.

“Astaghfirullah…ibu-ibu.”

“Tidak apa-apa, Gus. Kami ini saksi saja,” jawab seorang ibu sambil tersenyum lebar.

Sementara Aiza benar-benar tidak tahu harus melihat kemana sekarang.

Qais menarik napas panjang.

“Aiza… saya ingin menyampaikan sesuatu yang serius.”Kali ini suaranya lebih tegas.

Aiza mengangkat wajahnya perlahan. “Iya, Gus.”

Qais menelan ludah. Rasa groginya semakin menjadi-jadi.

“Saya… berniat… untuk…”

Dari belakang langsung terdengar bisikan cukup jelas, “Lamar saja, Gus.”

Beberapa ibu-ibu langsung menutup mulut menahan tawa. Wajah Qais memerah.

Namun akhirnya memejamkan mata sebentar lalu berkata cepat, “Saya berniat mengkhitbah Aiza.”

Untuk sesaat suasana mendadak hening. Lalu—

“MasyaAllah!”

“Alhamdulillah!”

Ibu-ibu seketika langsung heboh sendiri.

“Dari dulu juga sudah cocok itu!”

“Ya ampun akhirnya!”

Aiza langsung menundukkan wajahnya lagi. Pipinya yang berada di balik cadar itu merah sampai ke telinga.

Sementara Qais terlihat semakin gugup.

“Saya… maksud saya tentu saja secara baik-baik… melalui orang tua… sesuai syariat…”

Semakin ia menjelaskan, semakin terdengar seperti orang yang panik.

Salah satu ibu tertawa kecil.

“Aduh Gus, kami juga tahu itu.”

Ibu yang lain malah berkata sambil menyenggol temannya,

“Tuh kan, saya sudah bilang dari dulu juga begitu.”

Akhirnya seorang ibu yang paling tua berkata, “Sudah, sudah… kita pulang saja.” Ia menarik teman-temannya.

“Kasihan Gusnya malah tambah gugup kalau kita di sini.”

Ibu-ibu mulai berjalan keluar masjid sambil masih tersenyum lebar.

Kini masjid kini benar-benar sepi, tinggal Qais dan Aiza yang masih berdiri beberapa langkah dari pintu.

Qais menghela napas panjang, seperti baru saja lolos dari ujian yang sangat memalukan.

“Sepertinya… saya baru saja mempermalukan diri sendiri di depan ibu-ibu kampung.”

Aiza menunduk sambil tersenyum kecil.

“Tidak separah itu juga, Gus.”

Qais lantas mengusap tengkuknya karena rasa gugup yang masih tersisa.

“Saya bahkan tidak ingat apa saja yang tadi saya katakan.”

Aiza hampir tertawa lagi, tapi segera menahannya.

Beberapa detik mereka hanya berdiri dalam diam.

Lalu Qais kembali berbicara, kali ini suaranya lebih tenang.

“Aiza…”

“Iya, Gus.”

“Tadi… yang saya sampaikan sebenarnya bukan lamaran secara langsung.”

Aiza mengangkat wajahnya sedikit, menatap pada Qais yang sedang berusaha menjelaskan dengan gugup, meskipun tak segugup tadi.

“Saya hanya ingin menyampaikan niat saya.” Qais berhenti sebentar, memilih kata-kata dengan hati-hati.

“Kalau saya datang ke rumah Aiza bersama Abah dan Umi… untuk melamar secara resmi…” Ia menatap Aiza dengan serius sekarang. “…apakah Aiza bersedia mempertimbangkannya?”

Hening sesaat. Aiza tidak langsung menjawab. Namun tangannya menggenggam ujung kerudungnya.

Beberapa saat kemudian ia berkata pelan, “Gus Qais…”

“Iya?”

“Saya tidak menyangka Gus akan mengatakan itu.”

Meskipun penasaran, Qais tetap menunggu dengan sabar.

“Gus sudah tau keadaan saya.”

Suasana menjadi lebih sunyi. Qais menunggu dengan sabar sambil menatap dalam dan lembut.

“Saya sudah pernah menikah.” Aiza menunduk. “Dan sekarang… saya seorang janda.” Kata terakhir itu diucapkan dengan sangat pelan.

“Gus adalah anak seorang kyai. Dihormati banyak orang, seorang dokter, berpendidikan. Semua orang melihat Gus sebagai seseorang yang baik.” Aiza kembali berkata dengan sedikit ragu. Lalu, Aiza pun kembali melanjutkan, “Saya tidak yakin… saya pantas untuk Gus.”

Hening. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Kemudian Qais berkata dengan tenang.

“Aiza.” Wanita itu perlahan mengangkat wajahnya. “Saya tahu. Tapi bagi saya, itu tidak mengurangi apa pun dari diri Aiza.”

Aiza terdiam. Ia semakin meremat ujung jilbab panjangnya. Sementara Qais menatapnya lembut, kembali melanjutkan ucapannya dengan tegas, tapi tetap terdengar lembut dan sopan.

“Dalam Islam, seorang janda bukanlah aib. “Bahkan Rasulullah sendiri menikahi para janda.” Suara Qais tetap tenang.

“Yang saya lihat bukan masa lalu Aiza. Tapi saya melihat melihat siapa Aiza hari ini. Wanita yang lahir dari luka, tapi tetap berdiri hingga detik ini.”

Mata Aiza berkaca-kaca. Ia menunduk kian dalam.

“Aiza….kadang Allah mengambil sesuatu dari hidup kita… bukan untuk menyakiti kita.” Qais tersenyum lembut, lalu berkata dengan suara yang tenang namun hangat, “Melainkan untuk membersihkan jalan kita dari sesuatu yang bukan takdir kita.” Qais membetulkan letak sorbannya yang sebenarnya masih rapi. “Jadi jangan pernah merasa diri Aiza kurang hanya karena masa lalu.”

Aiza masih dia, tapi kaki ini dia mengangkat kepalanya.

“Saya masih berharap bisa menjadi seseorang yang menjaga Aiza dengan cara yang Allah ridai. Melanjutkan kisah yang sempat tertunda di antara kita.”

Gus…. Apa Gus benar-benar tidak mempermasalahkan itu? Status saya? Masa lalu saya? Juga keadaan kita yang tak setara?...” Qais langsung memotong, “Di dalam hidup saya tidak ada istilah setara atau tidak setara, karena akan sombong jadinya jika saya mengakui itu. Sebab, yang menciptakan saja tidak pernah membeda-bedakan ciptaanya. Dan….ya, saya tidak pernah mempermasalahkan status kamu sedikitpun.”

Aiza tersenyum tipis. Pipinya merona di balik cadar. Dua menarik nafas pelan sebelum memberi jawaban.

“Kalau begitu…saya tidak keberatan.”

Senyum lega langsung terlihat di wajah Qais. “Alhamdulillah.”

1
Trisna Suryani
kenapa harus berakhir seperti ini g tega sama zafran
Dartik Sriyanti
aku suka cerita nya
Erda Erda
gk sanggup baca ya kasihan snak ya ..
BundaNazwa: Iya sih, Kak 🥺
total 1 replies
jingga 007
gak Ada season 2 nya thor
BundaNazwa: Belum tau, Kak 🙏
total 1 replies
Mila Mulitasari
😭😭😭😭😭😭😭😭😭
BundaNazwa: 🥺🥺🥺🥺😭😭
total 1 replies
Badau Badau
baru kali ini baca novel sampai air mata keluar thorr
BundaNazwa: Maafkan aku, kak. Ini udah jadi jalan cerita 🙏🥺
total 1 replies
Trisna Suryani
berharap kematian aiza mimpi buruk Qais ternyata beneran ko jdi gini ceritanya thor
BundaNazwa: Maaf, Kak. Ini sudah alurnya begini 🥺🤧
total 1 replies
Mila Mulitasari
aiza jangan meninggal dong thor moga aja ada keajaiban gitu thor kasian baby khai 😭
BundaNazwa: Udah dikubur, kak. nggak bisa balik lagi 😭🙏
total 1 replies
Erda Erda
sedih .semoga gus gk nikah lagi lah..perjuwangan isteri ya berat kali 😍
BundaNazwa: Banget, kak 🤧
total 1 replies
Trisna Suryani
di mana otak c Arjuna coba aduuuh dulu kau yg g peduli sekarang
Yulia Anugrahwati
alhamdulillah
BundaNazwa: Alhamdulillah 😁
total 1 replies
Yulia Anugrahwati
semoga ini tanda" Aiza hamil y
Siti Java
lanjut dong kk
BundaNazwa: Oke Kak ☺️
total 1 replies
Siti Java
kk lanjutan y mna😍
BundaNazwa: Siap, Kak. OTW 😁
total 1 replies
Yulia Anugrahwati
cerita seru
BundaNazwa: Terima kasih ☺️🙏
total 1 replies
Pipit Sopiah
masih maraton bacanya
Pipit Sopiah
si Arjuna itu udah nikah ya, tapi kaya engga di restui sama orang tua si Arjuna
Pipit Sopiah
udah lama engga buka aplikasi noveltoon
sekarang buka lagi langsung meluncur ke ceritamu thor
BundaNazwa: Masya Allah. Terima kasih, Kak ☺️
total 1 replies
Umy Fauzan
ceritanya bagus,enggak banyak iklan juga
BundaNazwa: Terima kasih ☺️
total 1 replies
Trisna Suryani
Arjuna licik kamu dulu di dia siakan sekarang menghalalkan segala cara
BundaNazwa: Hooh 🤧 Sekarang malah obses
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!