NovelToon NovelToon
LOLIPOP MANIS

LOLIPOP MANIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: nila edrina

PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?

Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.

MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?

NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 — ALBUM KENANGAN

BAB 15 — ALBUM KENANGAN

Langit sore mulai berubah jingga.

Mahendra masih duduk di dalam mobil sambil memandangi album foto yang baru saja ia dapatkan dari studio foto tua. Jemarinya perlahan membuka halaman demi halaman.

Di setiap foto...

Selalu ada seorang gadis kecil berambut keemasan yang tersenyum ceria.

Dan di sampingnya...

Seorang remaja laki-laki bermata biru yang tak pernah melepaskan pandangannya darinya.

Mahendra tersenyum tipis.

"Itu benar-benar kamu..."

Suara itu nyaris tak terdengar.

Asisten 01 yang duduk di kursi depan memilih diam. Ia tahu atasannya sedang larut dalam kenangan.

"Tuan..."

Mahendra menutup album itu.

"Kita pulang."

"Baik, Tuan."

Mobil hitam itu pun melaju meninggalkan studio.

Namun, beberapa ratus meter dari sana...

Sebuah mobil berwarna abu-abu mengikuti mereka dari kejauhan.

Di dalam mobil itu duduk seorang pria yang mengenakan topi dan masker hitam.

"Akhirnya album itu ditemukan..."

Ia mengambil ponselnya.

"Target membawa album."

Suara dari seberang telepon terdengar dingin.

"Jangan biarkan album itu sampai ke rumah."

Pria itu mengangguk.

"Baik."

Di kediaman Axlarta.

Eiri sedang membantu pelayan menata meja makan.

"Nona, biar kami saja."

Eiri tersenyum.

"Tidak apa-apa. Aku juga ingin belajar."

Para pelayan saling berpandangan.

Mereka belum pernah melihat nyonya rumah yang begitu rendah hati.

Saat itulah...

Melveri datang membawa sebuah kotak kecil.

"Eiri."

"Iya, Kak?"

"Aku menemukan ini tadi di gudang."

Kotak itu diserahkan kepada Eiri.

"Apa isinya?"

"Buka saja."

Perlahan Eiri membuka kotak tersebut.

Di dalamnya terdapat sebuah jepit rambut berbentuk bunga sakura.

Warnanya memang sudah sedikit pudar.

Namun masih terlihat indah.

"Eh..."

"Lucu sekali."

Melveri tersenyum.

"Aneh ya."

"Melihat jepit itu, aku merasa pernah memberikannya kepada seseorang."

Eiri mengusap jepit rambut itu dengan lembut.

Entah mengapa...

Dadanya kembali terasa sesak.

Sebuah bayangan samar muncul.

"Kalau rambutmu panjang, pakai ini ya."

Suara seorang gadis remaja terdengar lembut.

Namun wajahnya tidak terlihat jelas.

"Aah..."

Eiri memegang kepalanya.

"Kenapa lagi?"

Melveri panik.

"Eiri!"

"Aku... tidak apa-apa."

Tetapi air mata Eiri kembali jatuh tanpa alasan yang ia mengerti.

Sementara itu...

Mobil Mahendra memasuki jalan menuju rumah.

Tiba-tiba...

Brak!!

Sebuah truk besar melintang di depan mereka.

"Asisten, rem!"

Ciiittt!!

Mobil berhenti mendadak.

Belum sempat mereka bernapas lega...

Dua mobil hitam datang dari belakang dan menutup jalan.

"Asisten..."

Mahendra membuka pintu mobil.

"Sepertinya kita mendapat tamu."

Lima pria berpakaian hitam turun sambil membawa tongkat besi.

Salah satu dari mereka berkata dingin,

"Serahkan album itu."

Mahendra tersenyum tipis.

"Kalau aku menolak?"

Pria itu mengangkat tongkatnya.

"Maka kami mengambilnya dengan paksa."

Mahendra melepas jasnya dan menyerahkannya kepada Asisten 01.

"Simpan album itu."

"Baik, Tuan."

Tanpa menunggu lebih lama...

Pria-pria itu menyerang.

Buk!

Mahendra menghindar dengan cepat lalu menghantam perut salah satu penyerang.

Pria itu langsung terjatuh.

Dua orang lainnya menyerang bersamaan.

Mahendra memutar tubuhnya dan menendang salah satunya hingga menghantam kap mobil.

Brak!

"Ternyata..."

Mahendra tersenyum dingin.

"Kalian memilih cara yang salah."

Kurang dari lima menit...

Kelima pria itu sudah tergeletak di jalan.

Asisten 01 hanya menggeleng pelan.

"Sudah lama saya tidak melihat Tuan bertarung."

Mahendra mengambil kembali jasnya.

"Cari tahu siapa yang mengirim mereka."

"Baik."

Namun saat Mahendra hendak masuk ke mobil...

Ia menyadari sesuatu.

Salah satu pria itu menggenggam sebuah liontin berbentuk bulan sabit.

Mahendra mengambilnya.

"Lambang ini..."

Matanya menyipit.

Ia pernah melihat simbol itu bertahun-tahun yang lalu.

Malam hari.

Mahendra akhirnya tiba di rumah.

Begitu masuk ke ruang tamu...

Ia melihat Eiri tertidur di sofa sambil memeluk sebuah bantal.

Mahendra tersenyum kecil.

Pelan-pelan ia menyelimuti tubuh Eiri dengan selimut.

Saat hendak pergi...

"Ehm..."

Eiri tanpa sadar menggenggam ujung lengan bajunya.

"Jangan pergi..."

bisiknya dalam tidur.

Mahendra membeku.

Beberapa detik kemudian...

Ia duduk di samping Eiri.

"Aku tidak akan pergi."

Suara itu sangat pelan.

Seolah hanya ingin didengar oleh dirinya sendiri.

Tanpa sadar...

Eiri tersenyum dalam tidurnya.

Di luar rumah.

Rivan berdiri memandang jendela ruang tamu.

Ia melihat Mahendra menjaga Eiri dengan penuh perhatian.

"Terima kasih..."

gumamnya.

"Setidaknya... kau benar-benar menjaganya."

Namun senyum Rivan perlahan menghilang ketika melihat sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari sana.

Seseorang turun dari mobil itu.

Pria bertubuh tinggi dengan bekas luka di pipinya.

Rivan langsung mengenalinya.

"Wah..."

"Kenapa dia keluar sekarang?"

Pria itu menatap rumah keluarga Axlarta sambil tersenyum dingin.

"Permainan yang sebenarnya... baru akan dimulai."

Bersambung ke BAB 16 — Musuh yang Muncul.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!