Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.
Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.
Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.
pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aulia 18
Aulia perlahan menurunkan tangannya. Desir angin sore yang menerpa wajahnya terasa dingin, sekontras rasa panas yang menjalar di pipi kirinya akibat tamparan Bu Ratna.
Alih-alih menangis atau membalas memukul, Aulia justru menegakkan punggungnya. Dia menyeka sudut bibirnya yang sedikit berdarah dengan punggung tangan, lalu menatap Bu Ratna dan Rika dengan sorot mata yang kosong, namun begitu tajam hingga membuat kedua wanita di depannya mendadak bungkam.
"Selingkuh? Saya?" Aulia terkekeh hambar, suara tewanya terdengar begitu dingin di tengah keheningan sore.
"Luar biasa. Begitu anak kesayangan Ibu lari ketakutan, Ibu langsung mencari kambing hitam untuk menyelamatkan muka keluarga."
"Nggak usah berlagak suci kamu, Aulia!" bentak Rika, meskipun ia sempat ragu melihat ketenangan Aulia.
"Kalau kamu nggak salah, kenapa Galang sampai pucat begitu? Pasti karena dia capek batin menghadapi kelakuanmu di rumah!"
"Dia pucat karena dia tahu dia sedang berbohong, Mbak," sahut Aulia lantang, menatap Rika lurus-lurus.
Aulia lalu beralih kepada Pak Hendra, satu-satunya orang yang sejak tadi diam dengan rahang mengeras.
"Ayah, sebagai orang yang paling dihormati di keluarga ini, apakah Ayah benar-benar percaya ada 'rapat darurat' hari Minggu sore yang mengharuskan karyawannya memakai parfum wanita seminimalis dan senecis itu? Ayah tahu persis tabiat anak laki-laki Ayah. Dan ini bukan hanya mingu ini, tapi setiap minggu hampir setengah tahun ini!"
Pak Hendra tidak menjawab. Matanya menyipit, menatap sisa kepulan asap mobil Galang di gerbang. Ego pria tuanya terluka karena merasa dikelabui oleh anaknya sendiri, namun dia juga terlanjur malu untuk mengakui kebenaran di depan menantunya.
"Aulia! Cukup ya! Kamu tidak punya bukti apa-apa tapi berani menuduh anak saya serong?!" Bu Ratna kembali memekik, jarinya menunjuk-nunjuk wajah Aulia.
"Mana buktinya kalau Galang main gila? Mana buktinya kalau dia habis ratusan juta bukan karena kamu? Nggak ada, kan?! Kamu cuma modal omong kosong untuk menutupi kebusukanmu sendiri!"
Aulia menarik napas dalam-dalam. Di dalam hatinya, dia merutuki dirinya sendiri yang belum sempat meretas ponsel atau menyalin mutasi rekening Galang. Dia memang belum memegang selembar pun kertas bukti fisik di tangannya saat ini. Namun, Aulia tidak kalah cerdas. Dia tahu psikologis keluarga ini.
"Saya memang belum memegang cetakan mutasi rekening Mas Galang di tangan saya hari ini, Bu," ucap Aulia dengan nada suara yang sengaja diturunkan, namun penuh penekanan yang berwibawa.
"Tapi Ibu lupa satu hal. Uang ratusan juta tidak bisa menguap begitu saja tanpa jejak di era digital ini."
Aulia melangkah satu titik lebih dekat ke arah Bu Ratna, membuat mertuanya itu refleks mundur selangkah.
"Besok adalah hari Senin. Kantor bank buka jam delapan pagi," kata Aulia, suaranya mengalun tenang namun mematikan.
"Sebagai istri sah, saya punya hak hukum untuk mendatangi bank bersama Mas Galang, atau meminta pengadilan membuka data keuangannya atas dugaan penelantaran anak dan istri. Jika uang itu benar-benar habis untuk Cantika, maka di sana akan tertulis nama rumah sakit, nama klinik terapi, dan nama apotek tempat saya membeli vitamin." Aulia melirik Rika yang mulai tampak gelisah.
"Dan di sana juga akan terlihat, apakah ada aliran dana darurat yang Mas Galang bilang 'habis untuk membantu anak Mbak Rika' atau tidak. Kita lihat besok, siapa yang namanya tercoreng sebagai pembohong di buku tabungan itu."
Mendengar tantangan terbuka yang begitu berani dari Aulia, nyali Bu Ratna mendadak ciut. Jika Aulia berani menantang hingga ke bank, artinya menantunya ini benar-benar tidak menikmati uang tersebut.
"Dan untuk tamparan ini..." Aulia menyentuh pipinya yang mulai memar, lalu menatap Bu Ratna dengan senyuman tipis yang mengerikan.
"Terima kasih, Bu. Ibu baru saja memberikan saya alasan paling kuat untuk tidak memberi ampun pada anak Ibu. Kompleks perumahan ini punya CCTV di gerbang depan, dan para tetangga menyaksikan Ibu memukul saya. Tanpa bukti perselingkuhan Mas Galang pun, satu tamparan ini sudah cukup bagi saya untuk melaporkan Ibu ke polisi atas dugaan penganiayaan."
"Kamu... kamu berani mengancam mertuamu sendiri?!" suara Bu Ratna bergetar, kali ini bukan karena marah, melainkan karena rasa takut yang mulai menjalar.
"Saya tidak mengancam, Bu. Saya hanya menyatakan apa yang akan terjadi besok pagi," pungkas Aulia dingin.
Tanpa menunggu balasan dari ketiganya, Aulia berbalik dengan anggun. Ia melangkah masuk ke dalam rumahnya, lalu menutup pintu depan dengan bantingan keras yang menggema di halaman, meninggalkan Bu Ratna, Pak Hendra, dan Rika berdiri terpaku dalam keraguan dan ketakutan yang mencekam. Permainan baru saja dimulai, dan Aulia akan berburu bukti itu besok pagi.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam ketika suara deru mobil Galang kembali terdengar memasuki pekarangan rumah. Suasana rumah sudah sangat sepi, hanya menyisakan lampu teras yang temaram.
Galang melangkah masuk dengan sangat berhati-hati, memutar kunci pintu selembut mungkin. Bajunya sudah kusut, dasinya sudah ditanggalkan, dan wajah klimisnya sore tadi kini berganti dengan raut wajah yang luar biasa tegang. Begitu berhasil kabur dari rumah sore tadi, Galang langsung menelepon ibunya, dan betapa terkejutnya dia saat mendengar suara Bu Ratna yang menangis histeris, memaki-makinya karena telah membohongi keluarga, sekaligus ketakutan karena ancaman Aulia yang akan membawa kasus tamparan itu ke jalur hukum.
Kini, Galang pulang dengan kepala yang rasanya mau pecah. Begitu pintu terbuka, dia langsung mendapati Aulia sedang duduk tenang di sofa ruang tamu yang remang-remang. Wanita itu tidak tidur. Dia hanya duduk bersila sembari menyesap teh hangat, seolah memang sengaja menunggu mangsanya kembali ke sarang.
"Rapat daruratnya baru selesai, Mas?" sindir Aulia tanpa mengalihkan pandangan dari cangkir tehnya.
Galang mengembuskan napas kasar. Mengingat Aulia belum memegang bukti fisik apa pun seperti yang dilaporkan ibunya lewat telepon, ego laki-laki Galang yang sempat ciut sore tadi perlahan bangkit kembali. Dia merasa masih punya kendali.
"Aulia! Kamu keterlaluan ya!" bentak Galang langsung menyerang, mencoba mengintimidasi untuk menutupi kepanikannya sendiri.
"Apa-apaan kamu sore tadi, hah?! Kamu sengaja mempermalukan aku di depan Ayah, Ibu, dan Mbak Rika dan bahkan para tetangga kita? Kamu memfitnah aku selingkuh, menuduh uangku habis buat perempuan lain, bahkan mengancam mau melaporkan Ibu ke polisi?! Kamu itu istri macam apa, Aulia?! Sedangkan kamu tak punya bukti apapun tentang tuduhan kamu. Aku bekerja sampai malam demi memenuhi kebutuhan rumah tangga kita, apa kamu tak bisa jangan kekanakan seperti ini, Aulia? Ada apa denganmu? Apa ini ada kaitannya dengan Pak Ghani? Apa hubungan kalian selama ini? Katakan padaku!"
Aulia meletakkan cangkir tehnya ke atas meja dengan ketukan perlahan yang entah mengapa terdengar begitu menekan di keheningan malam. Dia mendongak, menatap Galang dengan tatapan yang sangat dingin membuat Galang bahkan merinding merlihat tatapan istrinya.