Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."
Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Ketukan Palu Keadilan
"Tergugat! Jaga sikap Anda! Ini ruang sidang terhormat, bukan pasar!" suara bariton Hakim Ketua menggelegar, memotong kepanikan Ardi.
Ardi ambruk kembali ke kursinya dengan napas tersengal-sengal. Matanya melirik liar ke arah berkas audit forensik di meja hakim. Di sampingnya, pengacara tua yang ia sewa hanya bisa menunduk pasrah. Bukti-bukti yang dibawa Rendra terlalu matang dan tidak bisa dibantah.
"Saudara tergugat Ardiansyah," panggil Hakim Ketua, suaranya kini kembali tenang namun menekan. "Karena Anda hadir secara langsung dalam sidang perdana ini dan menyatakan menolak untuk bercerai, maka sesuai hukum acara yang berlaku, pengadilan wajib memerintahkan Saudara berdua untuk menempuh proses mediasi terlebih dahulu."
Ardi menegakkan kepalanya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesombongannya yang mulai runtuh. "Benar, Yang Mulia! Saya tidak akan pernah menandatangani surat cerai atau kesepakatan apa pun! Sampai kapan pun Sarah tetap menjadi istri saya!"
Rendra tersenyum tipis, sementara Sarah sama esok tidak bergeming dari tempat duduknya.
Hakim Ketua menghela napas panjang, menatap Ardi dengan pandangan jengah. "Perlu Anda pahami, Saudara Tergugat. Penundaan untuk mediasi ini adalah prosedur wajib, bukan berarti gugatan penggugat gugur. Sidang pokok perkara cerai gugat ini resmi ditunda selama tiga puluh hari ke depan untuk memberikan waktu bagi Hakim Mediator."
Tok!
Ketukan palu hakim bergema satu kali, menandakan sidang pertama resmi ditutup.
Ardi langsung mengembuskan napas lega yang teramat panjang. Dalam otaknya yang narsistik, dia merasa menang karena berhasil mengulur waktu dan belum menandatangani dokumen perceraian apa pun. Dia segera bangkit, berniat mengejar Sarah di koridor untuk mengeluarkan jurus rayuan palsunya.
Namun, penderitaan Ardi yang sesungguhnya baru saja dimulai di luar ruangan itu.
Begitu Ardi melangkah keluar dari pintu lobi pengadilan menuju area parkir dengan langkah percaya diri, tiga orang pria bermata tajam dengan jaket kulit dan tanda pengenal penyidik kepolisian sudah berdiri menghadang jalannya.
"Saudara Ardiansyah?" panggil salah satu penyidik dengan suara bariton yang tegas.
Ardi tertegun, langkahnya terhenti seketika. "I-iya, saya sendiri. Ada apa, Pak?"
Penyidik tersebut mengeluarkan sebuah dokumen resmi. "Kami dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya. Anda kami amankan atas dugaan tindak pidana Penggelapan dalam Jabatan sesuai Pasal 374 KUHP. Anda dilaporkan oleh Konsorsium Adhitama karena terbukti menyalahgunakan jabatan sebagai Direktur Utama untuk mengalirkan dana kas PT Reksa Tama demi kepentingan pribadi."
Klik!
Sepasang borgol besi yang dingin langsung mengikat kedua pergelangan tangan Ardi di depan umum. Pengacara tua sewaan Ardi langsung melangkah mundur karena tahu ini adalah kasus pidana berat, bukan lagi urusan perceraian.
Ardi mendadak lemas, wajahnya pucat pasi bagai mayat. Dia baru tersadar bahwa meskipun dia adalah bos di perusahaan kontraktornya, uang di dalam PT tersebut adalah milik badan hukum dan investor, bukan uang pribadinya.
Ardi menoleh panik ke arah mobil Alphard hitam yang siap melaju, lalu berteriak histeris memanggil nama mantan istrinya yang berada di dalam. "Sarah!! Sarah, tolong aku, Sarah!! Jangan penjarakan aku!! Aku ini suamimu, Sarah!!"
Jeritan Ardi hanya menjadi tontonan memalukan di area parkir pengadilan, tanpa pernah dihiraukan lagi oleh Sarah yang mobilnya perlahan bergerak meninggalkan tempat itu.
.
.
.
.
.
.Mampus! Akhirnya si narsistik Ardi resmi jadi mantan dan langsung diringkus polisi! 🥳 Polisi langsung gercep ya bun! Yuk, klik LIKE banyak-banyak dan tulis KOMENTAR kalian: kira-kira bagaimana ya reaksi Mama Widya dan Mbak Rika saat tahu anak emas mereka sekarang pakai baju tahanan orange? 👇 orange? 👇✨