Reza seorang mahasiswa baru di sebuah Universitas ternama di Kota Malang, jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Alvionita sang dosen yang dikiranya mahasiswi baru seperti dirinya.
"Aku masih gak percaya kalau kamu adalah dosen disini!" teriak Reza usai mata kuliah Rekam Medis berakhir.
Alvionita yang baru saja keluar dari ruang mengajar menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah datangnya suara.
"Buktinya aku tadi menyampaikan mata kuliah didepan kelas dan telah melakukan perkenalan didepan semua orang disana" tunjuk Alvionita dengan dagunya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Berhasilkah hubungan antara mahasiswa baru dan dosen muda itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 28 - Godaan Vio
Reza melangkahkan kakinya keluar dari bangunan hotel itu. Beruntung dia memilih hotel tak jauh dari kampus Vio. Meski cukup memakan waktu berlari dari hotel ke asrama, tempat Vio berada, sekitar tiga puluh menit. Lumayan lah, anggap saja sebagai pemanasan.
Dengan nafas tersengal, Reza merogoh saku celananya. Pria itu masih berpakaian lengkap karena tak lagi berpikir untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Reza menghubungi Vio melalui gawainya.
"Aku di depan asrama," ucap Reza sesaat panggilan ponselnya terhubung
Pip.
Vio menutup panggilan sepihak, tanpa mengucapkan sepatah kata. Reza menatap ponselnya nanar.
'Apa artinya aku masih ditolak?'
Untaian kata dalam surat dari Vio masih terngiang jelas di otaknya. Untaian kata yang Reza tahu jelas apa maksudnya. Tapi kenapa panggilannya ditutup sepihak?
Dengan langkah gontai, Reza perlahan berbalik pergi, hendak meninggalkan halaman asrama. Namun suara langkah sepatu wanita mengurungkan niatnya. Reza menghentikan langkah lalu berbalik melihat ke arah sumber suara.
Vio datang menghampiri Reza yang tengah terpana melihatnya.
Malam ini, Vio memoles wajahnya dengan sapuan make-up natural namun tampak seksi dengan pewarna bibir merah menyala. Dia sengaja berdandan hanya untuk pria yang tak lain suaminya.
Reza merentangkan kedua tangannya disusul Vio yang sedikit berlari menghambur ke dalam pelukannya. Pelukan pertama bagi keduanya setelah mereka berpisah sekian lama. Mereka saling mendekap erat, sama-sama tak ingin melepaskan.
Vio sedikit meregangkan tangannya, menatap pria muda yang jauh lebih tinggi dibanding dirinya.
Reza mulai tergoda. Perlahan, pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah istri cantiknya.
Sejuta rindu tak dapat lagi Reza bendung. Masa bodoh dengan perjanjian konyol masa lalu, karena kini Reza merasa Vio telah siap menerimanya. Wanita itu telah siap menerima Reza sepenuhnya.
Kedua bibir mereka saling bertemu. Berawal dari sentuhan lembut namun semakin menuntut. Lidah keduanya saling bertaut. Menyalurkan sejuta rasa yang lama terpendam. Mereka hampir lupa jika mereka masih berada di depan asrama.
Beruntung, mereka melakukannya bukan di negara mereka. Sehingga tak menjadi tontonan orang-orang yang lalu lalang di sana.
***
"Kamu tunggu sebentar. Aku mau ganti baju," ujar Reza sesaat setelah mereka masuk ke dalam kamar hotel Reza.
Ya, malam ini Reza menculik Vio dari asrama. Pria itu ingin menghabiskan waktunya berdua.
Reza yang hendak meninggalkan Vio mendadak menghentikan langkahnya. Tangannya dipegang erat oleh Vio.
"Ngapain ganti baju kalo nanti bakal dilepas lagi?" Ujar Vio.
Reza menaikkan sebelah alisnya. Detik berikutnya, ia melihat Vio membuka long-coatnya dan dress luarnya. Hanya menyisakan pakaian tipis yang menampakkan tubuh indah dengan penutup segitiga di bagian intinya.
Reza menelan ludahnya kasar. Ia tak sedikitpun berkedip, mengagumi pemandangan di depannya. Memandang takjub wanita yang menyandang status sebagai istrinya yang tengah malu-malu mengekspos beberapa bagian tubuhnya.
Tanpa basa-basi, Reza menghambur ke arah Vio. Penyatuan bibir dua insan yang saling memendam hasrat setelah kian lama itu semakin intense. Berawal dari sentuhan bibir yang ringan kini semakin menuntut.
Keduanya kini semakin terbakar gairah. Vio melingkarkan kedua tangannya ke leher Reza. Pria itu lalu mengangkat tubuh Vio dan menggendongnya layaknya kangguru. Perlahan namun pasti, Reza membaringkan Vio diatas ranjang besar kamar hotel itu.
Jemari Vio ikut bergerilya, membuka kancing kemeja pria yang kini berada diatasnya. Reza ikut membantu Vio tanpa menghentikan gerakan bibirnya.
"Bolehkah?" tanya Reza memastikan. Pria itu tak ingin Vio menyesal pada akhirnya.
Vio mengangguk sebagai bentuk persetujuan. Kilatan gairah terpancar jelas di kedua mata pasangan itu.
Reza secepat kilat melepaskan celananya, membiarkan tubuhnya polos di hadapan istrinya. Vio menutup kedua mata dengan tangannya. Wanita itu tampak malu-malu melihat milik Reza yang tegak sempurna.
Vio tampak tegang. Namun, hal itu tak berlangsung lama. Reza sangat pandai mengambil alih permainan. Setiap inci bagian Vio tak luput dari sentuhannya. Dimulai mengecup dahi, hingga kini turun ke perut. Tangan Reza juga ikut bergerilya, membuat Vio tanpa sadar mendesis keenakan.
Salah satu tangan Reza, sibuk meremas salah satu gunung milik Vio, sesekali memainkan puncak gundukan itu. Sementara gundukan yang lain ia lahap dengan rakus bagaikan bayi yang kehausan. Tangan Reza yang lain tak henti menjamah bagian yang lain, perlahan semakin turun hingga ke intinya yang masih tertutup kain segitiga itu.
Vio menggeliat tak karuan saat Reza mulai memasukkan jarinya ke lubang kenikmatan istrinya. Dirasakannya ada sebuah membran tipis yang sudah dipastikan akan ia koyakkan setelah ini.
Vio mengerang, dadanya membusung saat puncak kenikmatan pertamanya akan datang. Tak lama, Reza merasakan jemarinya basah. Vio mendapat pelepasan pertamanya.
Permainan yang sesungguhnya masih akan Reza mulai. Reza melihat Vio masih terengah dengan sedikit peluh yang mulai membasahi tubuhnya.
"Apa itu tadi?" tanya Vio.
"Bukan apa-apa, Sayang," jawab Reza enteng.
"Aku rasa tadi aku pipis."
Reza tersenyum. Vio masih belum bisa membedakan antara buang air kecil atau bukan disaat seperti ini.
"Permainan baru akan dimulai, Sayang." Reza menyeringai menggoda.
Vio sedikit ngeri melihat senyum Reza yang tak biasa. Pria itu lalu merobek pakaian tipis Vio berikut penutup bagian bawahnya. Ia membuangnya asal. Kini keduanya benar-benar polos tanpa sehelai benang pun.
"Akan sedikit sakit awalnya. Kamu tahan ya?" pinta Reza diikuti sapuan lembut bibir Reza di kening Vio.
Hal itu berlanjut dari dahi, mata dan pipi Vio. Semua bagian wajahnya tak luput dari sentuhan Reza yang kini berakhir dengan pertemuan bibir keduanya.
Perlahan Reza melakukan hal itu sehingga membuat Vio benar-benar terbuai oleh perlakuan lembut pria yang kini berada diatasnya.
Vio kini hanya bisa pasrah menerima semua perlakuan Reza terhadapnya.
Kedua bukit Vio tak luput dari aktivitas jemari lincah Reza. Disela pagutan bibirnya, wanita itu mengerang karena permainan tangan Reza di bagian sensitif tubuhnya.
Reza semakin menjadi-jadi. Pria itu meninggalkan jejak kepemilikan di setiap inci tubuh Vio. Kedua benda yang kini menjadi favoritnya tak luput dari hisapan kecil yang kemudian meninggalkan bekas kemerahan disana.
Vio mengabaikan apa yang dilakukan Reza. Dirinya pasrah, benar-benar terbuai hingga tubuhnya menggeliat tak berarah.
Reza menggoda Vio dengan menggesekkan miliknya di luar inti Vio. Pria itu sengaja membuat wanita dibawahnya frustrasi ingin dituntaskan. Tapi Reza tahu, awal perjalannya tak akan mudah.
Perlahan Reza memasukkan tongkat miliknya, masih hanya sebatas kepalanya. Reza mengerang kenikmatan dibarengi Vio yang mulai gelisah merasakan sensasi baru yang pertama kali ia rasakan.
Vio merasa sedikit tak nyaman, dia bergerak resah karena merasa ada sesuatu yang mengganjal di bagian bawahnya.
Reza yang memahami sikap Vio, kini bersiap untuk semakin menenggelamkan miliknya ke tubuh Vio. Dengan sekali sentakan, Reza berhasil meruntuhkan membran tipis penghalang itu, melesakkan miliknya secara penuh.
Vio sedikit berteriak saat Reza memaksakan miliknya. Namun teriakan itu berhasil Reza redam dengan membungkam mulut wanita di bawahnya. Air matanya tampak menetes merasakan perih yang teramat sangat.
Reza terdiam. Dia tak melakukan gerakan apapun, menunggu Vio sedikit merasa baikan. Setelah dirasa Vio siap, Reza mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur secara perlahan. Semakin lama tempo gerakannya semakin cepat.
Beberapa saat kemudian, keduanya merasa akan segera sampai. Reza semakin mempercepat gerakannya, hingga akhirnya keduanya mencapai puncak kenikmatan dunia bersama.
Reza merebahkan diri di samping Vio. Dia menutup tubuh Vio hingga ke lehernya. Dipeluknya erat wanita yang tak lagi gadis itu. Wanita yang telah menjadi miliknya seutuhnya.
Keduanya akhirnya terlelap kelelahan akibat pergulatan hebat keduanya diatas ranjang. Malam hangat yang melelahkan, yang selanjutnya akan menjadi cambuk rindu bila tak bertemu. Mereka tertidur dibawah selimut sembari berpelukan tanpa ada helai benang yang membatasi keduanya.
pokoknya top banget deh ceritanya
lanjutkan biar tidak penasaran
ternyata masih ada juga y seorang dosen dengan umur segitu,,,,
cie Reza udah mulai jatuh cinta pada pandan tu😂😂😂
ya ampun thorrr keren banget ceritanya
makasih thor
😂😂😂
semangat teruus yaa 🥰
tinggal menikmati masa indahnya hidup berdua.
bertemu lagi dgn pengisi suara novel ini 😁😁
semoga suka dgn suara recehku yg ala kadarnya, hehehe.
Jangan lupa dengerin audiobooknya juga ya, dan dukung terus karyanya
terima kasih kpd kak Dhanz yg melanjutkan cerita ini.
terima kasih