Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 KEPANIKAN RUBI
SELAMAT MEMBACA !!!
Mereka kaget melihat siapa yang di ruang keluarga, gelak tawa terdengar dari pintu luar. Amara menoleh ke arah Fira tapi dia hanya menaikan kedua bahunya tanda tak tau siapa yang berada di ruang keluarga.
"Mama...!" teriak Fira, ingin berlari tapi di tahan oleh Amara.
"Ingat, Dek. Ada dua nyawa yang kamu bawa!" tegurnya dengan tajam.
Fira tersenyum lalu mengatupkan kedua tangannya, "Maaf, kakakku sayang. Aku lupa hehehehe," ucapnya terkekeh sambil menggandeng tangannya Amara.
Mereka berjalan melangkah ke arah sofa, "Mama sama Papa, kapan datangnya?" tanyanya berjalan sambil mencium tangan mereka. Lalu duduk di sebelah Nyonya Sintya sambil menyandarkan kepalanya ke pundak Nyonya Sintya.
"Kami baru saja sampai, Sayang. Kata Abangmu kalian tadi ke rumah sakit. Bagaimana keadaan kedua cucu Oma?" tanya Nyonya Sintya.
Amara yang terlalu semangat, ia yang menjawabnya, "Sangat menggemaskan, Ma. Mereka kembar sepasang. Lihatlah videonya!" seru Amara sambil menyodorkan hapenya yang belum sempat dikirim, karena tadi ada Nyonya Celine yang datang.
Mata Nyonya Sintya membelalak melihat video itu, "Masya Allah lucunya mereka, Sayang. Oma tak sabar ingin melihat kalian lahir ke dunia ini!" serunya.
Ia masih menatap wajah bayi yang masih di dalam perutnya Fira itu. Nyonya berjanji waktu mendekati HPL nya, ia akan mendampingi Fira lahiran di sini.
☆☆☆♡♡♡♡☆☆☆
Sementara di Bandung, Bryan semakin menggila kerjanya. Semenjak kepergiaan Fira dari sisinya, ia bertambah dingin lagi. Apalagi terhadap wanita yang ingin mendekatinya. Ia tak tanggung-tanggung kasih hukuman. Dan sampai sekarang ia tak pernah mau kembali ke Jakarta. Meskipun Papanya sendiri yang menyuruhnya.
"Bry...Malam minggu besok, Kita ada undangan dari klien acara pernikahan anaknya!" seru Bagas dengan menatap wajah sahabatnya itu.
Bryan yang fokus ke komputernya, ia mendongakan kepala menatap Bagas. "Kamu saja yang mewakili, Gas. Aku malas berada di keramaian, ujung-ujungnya banyak penjilat di sana. Lebih baik aku tidur di rumah," jawabnya agak malas membahas acara yang baginya tak penting itu.
"Kamu dimana, Sayang?" tanyanya dalam hati teringat pernikahannya dengan Fira yang dianggap begitu cepat.
"Apa belum ada kabar dari anak buahmu, tentang Fira, Gas?" tanya Bryan kepada Bagas.
Bagas menggelengkan kepalanya, "Belum, Bry. Sepertinya ada seseorang yang sengaja menutup jejaknya Fira, Bry. Kalau tak ada yang membantunya pasti kita bisa menemukan jejaknya. Sedangkan kepergiaan Fira seperti di telan bumi, tanpa meninggalkan jejak sedikit pun," jawab Bagas merasa janggal dengan kepergiannya istri dari sahabatnya itu.
Bryan juga merasa begitu sama dengan pemikiran Bagas. Walaupun Fira pergi sendirian, tanpa bantuan siapapun, dan berusaha untuk menutupi jejaknya sebaik apapun... ia pasti bisa menemukannya dengan cepat.
"Hmmm...siapa kira-kira yang membantunya ya, Bry. Anak buahku selalu mengawasi ketiga sahabatnya tapi tak ada yang mencurigakan, Bry!" ucap Bagas lagi, ia sangat kasian dengan sahabatnya itu.
Bryan hanya terdiam terpaku, "Biarkan Fira menenangkan dirinya dulu, Gas. Ini juga kebodohanku kenapa aku tak jujur padanya, jika aku sudah mengurus pernikahan kami, Gas," ucap Bryan sambil menghela napasnya yang berat.
Kemudian ia melanjutkan ucapannya lagi, "Mungkin selama ini, dia mengira aku tak sungguh-sungguh dengan pernikahan kami. Karena dia tak tau kalau aku sudah mengurus buku nikah dan pernikahan kami sudah terdaftar di KUA," jawab Bryan sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursinya dan memejamkan matanya.
Bagas juga menggerutui kebodohannya Bryan, kenapa dia tak bilang dengan Fira. Jika pernikahannya sudah terdaftar di KUA.
**☆☆☆♡♡♡♡☆☆☆**
Di Negara Belanda, Fira sedang mendesain bajunya Calista dengan tema princess. Ia mengusap perutnya dengan pelan.
"Apa kamu nanti juga mau pesta ulang tahun bertema princess, Sayang. Lalu Abang mau tema apa, ya?" tanya Fira sambil mengajak kedua buah hatinya mengobrol.
"Kalian berdua harus kuat ya, buktikan bahwa kita bertiga bisa hidup tanpa mengandalkan kekayaan dari keluarga Papa kalian!" serunya lagi.
Keesokan paginya, sudah menjadi rutinitasnya Fira untuk berjalan mengelilingi rumah milik Haikal. Ia ingin saat mau lahiran nanti, bisa lahiran normal.
"Kamu sudah dari tadi olah raganya, Sayang?" tanya Nyonya Sintya, ikut berjalan menemani putri angkatnya.
Fira tersenyum cerah pagi ini, "Baru saja kok, Ma. Katanya Bu Dokter, biar lahirannya nanti bisa normal, Ma. Perkiraan dari Dokter Jihan mereka bisa lahir di minggu ke tiga puluh enam, Ma. Nanti Mama ke sini ya, Ma!" pinta Fira sambil menggenggam tangannya Nyonya Sintya.
Nyonya Sintya tersenyum dan mengangguk mantap, "Iya, Mama akan mendampingimu saat lahiran, Sayang. Kamu harus semangat terus jangan bersedih, nanti anakmu bisa merasakan perasaanmu yang sedang sedih," jawab Nyonya Sintya sambil berjalan menemani Fira berolah raga.
"Kemarin Tasya dan Elena, main ke rumah katanya nanti pas kamu sudah lahiran, mereka mau ikut Abangmu ke sini. Katanya sudah kangen denganmu dan ingin ketemu dengan si kembar," ucap Nyonya Sintya kembali.
Fira tersenyum senang, di saat ia tau ada janin di perutnya di saat itu juga suaminya bertunangan dengan wanita lain. Dulu ia mengira akan hidup berdua dengan janinnya tapi lihatlah banyak orang yang peduli dan sayang padanya dan kedua janinnya.
"Ayo masuk, Ma. Aku mau mengirimkan desain ke Butik untuk dibuatkan gaun ulang tahunnya Calista, Ma!" ajak Fira untuk masuk ke dalam rumah.
Nyonya Sintya hanya mengangguk pelan, tersenyum hangat sambil mengusap tangannya Fira, "Ayo masuk, Sayang. Mandi dan langsung sarapan, ya!"
Fira melangkahkan masuk dengan hati yang jauh lebih ringan dan penuh bersyukur. Meski perjalanan hidup yang dilaluinya tak mudah.
Setelah selesai mandi, Fira keluar dari kamarnya menuju ke ruang makan.
"Ayo sarapan dulu, Dek. Katanya mau ke Butik?" tanya Haikal.
Fira menganggukkan kepalanya, "Iya, Bang. Aku mau menyerahkan gaunnya Calista, anaknya Nyonya Celine, Bang," jawab Fira sambil mengambil nasi goreng untuk sarapannya.
Baru juga menyendok beberapa suap nasi gorengnya, hapenya berbunyi. "Halo, Kak Rubi. Ada apa, Kak?" tanya Fira heran, tumben pagi-pagi sudah menelepon dirinya.
"Halo, Dek. Kamu harus segera ke Butik, Dek. Ada orang yang marah-marah katanya kita telah membohonginya," ujar Kak Rubi dengan nada panik dan bingung.
"Baik, Kak. Aku akan ke sana secepatnya. Ulur waktunya sampai aku datang, Kak. Sebentar lagi aku akan sampai ke Butik!" perintah Fira kepada Asistennya.
Seluruh orang yang berada di meja makan hanya mendengarkan pembicaraan Fira dan Rubi sambil menyelesaikan sarapannya.
"Ada apa, Dek?" tanya Amara.
Fira menoleh ke arah Amara, sambil melanjutkan sarapannya. "Katanya ada pengunjung yang marah-marah karena merasa dibohongin, Kak. Tapi aku belum jelas masalahnya apa," jawab Fira sudah menyelesaikan sarapannya dan bersiap untuk pergi ke Butiknya.
Amara izin kepada suami dan mertuanya untuk ikut ke Butik menemani Fira