Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.
Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".
Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Bayang-Bayang Gereja
Malam itu, setelah Elaina tertidur, Sasuke dan Saviera duduk berdua di kamar mereka, suasana jauh lebih berat dari malam-malam sebelumnya. Kertas latihan aksara Elaina masih tergeletak di meja, huruf-huruf kecil yang ditulis dengan penuh semangat siang tadi terasa seperti pengingat dari dunia yang lebih sederhana, jauh dari ancaman yang baru saja mereka hadapi.
"Aku sudah memikirkannya," Sasuke akhirnya berkata, memecah keheningan. "Aku tidak bisa terus mengabaikan tekanan dari Gereja. Tapi aku juga tidak akan bertindak gegabah hanya karena mereka memaksa."
"Jadi apa rencanamu?" Saviera bertanya, duduk di tepi ranjang, tangannya terlipat di pangkuan.
"Aku perlu tahu lebih banyak," Sasuke menjawab. "Bukan hanya soal Eternity, tapi soal Gereja sendiri. Kalau mereka begitu ingin misi ini selesai cepat, aku ingin tahu kenapa. Apa alasan sebenarnya di balik urgensi ini."
Saviera mengangguk pelan, mempertimbangkan kata-katanya. "Kau curiga ada sesuatu yang tidak mereka ceritakan?"
"Selalu ada," Sasuke menjawab, mengingat kembali percakapannya dengan Dewa Agung tentang Gereja yang tidak semuanya bersih. "Dewa Agung sendiri pernah mengisyaratkan bahwa tidak semua cabang Gereja beroperasi dengan tujuan yang murni. Mungkin cabang yang mengirim Uskup Valemont bukan pengecualian."
---
Keesokan paginya, mereka memutuskan untuk mencari informasi lebih jauh sebelum melanjutkan perjalanan. Elaina dititipkan pada keluarga penitip yang sudah akrab dengan mereka, dengan pesan khusus dari Sasuke agar ia tetap di dalam rumah hari itu—kewaspadaan ekstra mengingat kunjungan Uskup Valemont kemarin. Sasuke mengunjungi perpustakaan kecil kota, sementara Saviera menghabiskan waktu mengobrol dengan beberapa petualang senior di Guild yang sudah lama malang-melintang di berbagai kota, mencoba mengorek informasi tentang reputasi Gereja Cabang Utara—cabang yang menaungi Uskup Valemont.
Perpustakaan kota itu kecil namun tertata rapi, rak-rak kayu tua memenuhi ruangan dengan aroma kertas lama dan debu yang khas. Sasuke menyusuri lorong-lorong sempit di antara rak, mencari bagian yang membahas sejarah dan struktur Gereja, sebelum akhirnya menemukan seorang wanita tua yang duduk di meja penjaga, kacamata bundar bertengger di ujung hidungnya, sibuk mencatat sesuatu di buku besar.
"Permisi," Sasuke menyapa sopan. "Aku mencari informasi tentang Gereja Cabang Utara. Sejarahnya, terutama."
Wanita tua itu mendongak, menatapnya lama sebelum melepas kacamatanya perlahan. "Pertanyaan yang jarang ditanyakan orang secara terbuka, Tuan Petualang. Kenapa kau ingin tahu?"
"Rasa ingin tahu pribadi," Sasuke menjawab hati-hati, tidak ingin membocorkan terlalu banyak tentang situasinya.
Wanita itu menatapnya lebih lama, seolah menilai kejujuran di balik jawaban sederhana itu, sebelum akhirnya menghela napas dan bangkit dari kursinya. "Ikut aku. Buku-buku yang kau cari tidak dipajang di rak umum."
Ia membawanya ke sebuah ruangan kecil di belakang perpustakaan, dipenuhi buku-buku yang tampak lebih tua dan lebih jarang disentuh, sebelum akhirnya duduk di salah satu kursi kayu, menatap Sasuke dengan ekspresi yang lebih serius.
"Gereja Cabang Utara," wanita tua itu memulai, menurunkan suaranya meski hanya mereka berdua di ruangan itu. "Dulu salah satu cabang paling dihormati, mengabdi murni untuk membantu rakyat kecil. Tapi sepuluh tahun terakhir, banyak yang bilang kepemimpinannya berubah drastis sejak Uskup Agung lama meninggal dan digantikan oleh yang baru."
"Apa yang berubah?" Sasuke bertanya, duduk di kursi seberangnya.
"Lebih banyak pajak untuk 'tugas suci', lebih banyak tekanan pada petualang muda untuk mengambil misi berbahaya demi 'kepentingan Gereja'," wanita itu menjelaskan, matanya menerawang mengingat sesuatu. "Cucuku sendiri pernah dikirim dalam misi yang katanya sangat penting bagi Gereja. Dia tidak pernah kembali. Ketika aku bertanya, mereka hanya bilang dia 'gugur demi tujuan mulia', tanpa penjelasan lebih lanjut."
Sasuke merasakan sesuatu yang dingin menjalar di dadanya, mengingat kembali ancaman terselubung dari Uskup Valemont tentang "mengalihkan tugas ke orang lain". "Aku turut prihatin," ia berkata pelan, tulus.
Wanita itu mengangguk kecil, menerima simpati itu dengan diam sejenak sebelum melanjutkan. "Banyak keluarga lain yang bernasib sama. Tapi tidak ada yang berani bicara terbuka. Gereja masih punya kekuatan besar di kota-kota seperti ini—terlalu banyak orang bergantung pada bantuan mereka untuk berani menentang secara terang-terangan."
"Apakah semua cabang Gereja seperti ini?" Sasuke bertanya, ingin tahu apakah korupsi ini menyebar luas atau hanya terbatas.
"Tidak," wanita tua itu menjawab, menggelengkan kepala. "Aku dengar Cabang Selatan dan beberapa cabang kecil lainnya masih menjaga tradisi lama dengan baik. Tapi cabang-cabang besar seperti Utara... entahlah. Terlalu banyak kekuasaan sering membuat orang lupa tujuan awal mereka."
"Apa kau tahu siapa pun yang dulu bekerja dekat dengan Uskup Agung lama? Seseorang yang mungkin tahu lebih banyak soal transisi kepemimpinan itu?" Sasuke bertanya, mengarahkan percakapan ke tujuan sebenarnya.
Wanita itu terdiam sejenak, mempertimbangkan apakah akan menjawab. "Ada satu nama yang pernah kudengar," ia akhirnya berkata pelan. "Pastor Elric. Dulu tangan kanan Uskup Agung lama, sangat dihormati. Setelah kepemimpinan berganti, dia menghilang begitu saja, tanpa penjelasan resmi. Gereja bilang dia 'mengundurkan diri untuk mengabdi secara pribadi', tapi tidak ada yang benar-benar percaya cerita itu."
"Kau tahu di mana dia sekarang?" Sasuke bertanya, mencondongkan tubuh sedikit.
"Tidak pasti," wanita itu menjawab. "Tapi ada rumor dia bersembunyi di suatu tempat di pegunungan sebelah barat, hidup sebagai pertapa jauh dari jangkauan Gereja."
---
Sementara itu, Saviera mendapat informasi serupa dari petualang-petualang senior di Guild—cerita tentang misi-misi "penting" yang berujung tragis, tentang petualang muda berbakat yang direkrut paksa dengan iming-iming pangkat tinggi namun berakhir menghilang tanpa jejak. Ketika ia menyebut nama Pastor Elric yang sempat disinggung penjaga perpustakaan pada Sasuke, salah satu petualang senior—pria berjanggut lebat dengan bekas luka melintang di pipinya—justru mengangguk mengenali nama itu.
"Pastor Elric," pria itu bergumam, menyesap birnya sejenak sebelum melanjutkan. "Dulu tangan kanan Uskup Agung lama, sangat dihormati semua orang yang pernah berurusan dengannya. Aku sendiri pernah bertemu dengannya sekali, waktu masih muda—orang yang sangat baik hati, selalu memastikan petualang yang terluka dalam misi Gereja mendapat perawatan layak, bukan sekadar dianggap 'korban yang gugur demi tujuan mulia' seperti sekarang."
"Kau tahu kenapa dia menghilang?" Saviera bertanya.
"Ada yang bilang dia melarikan diri setelah menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ia temukan," pria itu menjawab, suaranya merendah. "Sesuatu yang membuatnya begitu ketakutan hingga rela meninggalkan segalanya—posisi, penghormatan, semuanya."
"Kau tahu di mana dia sekarang?" Saviera bertanya lebih jauh, penasaran apakah informasi ini akan cocok dengan yang didapat Sasuke.
Petualang itu mengangkat bahu. "Rumor mengatakan dia bersembunyi di suatu tempat di pegunungan sebelah barat, hidup sebagai pertapa. Tapi itu cuma rumor yang sama yang selalu beredar bertahun-tahun. Tidak ada yang benar-benar tahu pasti, atau berani mencari tahu."
---
Malam itu, Sasuke dan Saviera bertukar informasi yang mereka kumpulkan, duduk berdua di kamar penginapan sementara Elaina tertidur pulas di ranjang setelah pulang dari rumah keluarga penitipnya, tidak menyadari sedikit pun ketegangan yang menyelimuti kedua orang tuanya hari itu.
"Jadi," Saviera menyimpulkan, merapikan catatan kecil yang sempat ia buat sepanjang hari, "ada kemungkinan besar Gereja Cabang Utara ini korup, dan ada seseorang bernama Pastor Elric yang mungkin tahu lebih banyak, bersembunyi di pegunungan barat karena menemukan sesuatu yang membuatnya ketakutan."
"Kedua sumber kita sepakat soal itu," Sasuke menambahkan, "meski tidak ada yang tahu pasti apa yang sebenarnya ia temukan, atau lokasi persisnya di pegunungan itu."
"Pegunungan barat itu luas," Saviera berkata, sedikit khawatir. "Bisa memakan waktu berminggu-minggu hanya untuk mencarinya, kalau kita tidak punya petunjuk lebih spesifik."
"Aku tahu," Sasuke mengakui. "Tapi ini petunjuk terbaik yang kita punya sekarang. Dan mengingat betapa seriusnya wanita penjaga perpustakaan dan petualang senior tadi ketika membicarakannya, aku yakin ini bukan sekadar rumor kosong."
Saviera mengangguk, meski kekhawatiran masih terlihat di matanya. "Itu petunjuk yang cukup kuat untuk diikuti, kalau begitu."
"Kalau aku bisa memahami kenapa Gereja begitu terburu-buru mendesakku," Sasuke melanjutkan, memikirkan langkah selanjutnya, "mungkin aku juga akan memahami lebih banyak tentang Dewa Agung sendiri, dan misi yang sebenarnya kupikul ini."
"Kau curiga pada Dewa Agung juga sekarang?" Saviera bertanya hati-hati, memperhatikan reaksinya.
Sasuke terdiam sejenak, mempertimbangkan pertanyaan itu dengan serius. "Aku tidak tahu," ia akhirnya mengakui. "Tapi aku sudah belajar untuk tidak menerima segala sesuatu begitu saja, terutama ketika taruhannya sebesar ini—bukan hanya nyawaku sendiri, tapi juga kalian berdua."
"Kau tidak perlu merasa bersalah karena mulai meragukan sesuatu," Saviera berkata lembut, menyadari keraguan yang tersembunyi di balik kata-kata Sasuke. "Meragukan bukan berarti tidak berterima kasih atas kesempatan kedua yang diberikan padamu. Itu hanya berarti kau cukup bijak untuk tidak menerima segalanya secara membabi buta."
Sasuke menatapnya, sesuatu yang hangat menjalar di dadanya mendengar pembenaran sederhana itu. "Terima kasih," ia berkata pelan. "Aku butuh mendengar itu."
Saviera menggenggam tangannya erat, sebuah gestur yang sudah menjadi kebiasaan menenangkan di antara mereka. "Kalau begitu, mari kita cari Pastor Elric ini. Bersama-sama. Kapan kita berangkat?"
"Beberapa hari lagi," Sasuke menjawab, mempertimbangkan logistik perjalanan. "Aku ingin memastikan perbekalan kita cukup, dan mungkin membeli peta pegunungan barat yang lebih detail sebelum kita berangkat. Tidak ada gunanya tersesat di pegunungan asing tanpa persiapan yang layak."
"Bijak, seperti biasa," Saviera menggoda ringan, senyum kecil kembali muncul di wajahnya meski beban hari itu masih terasa.
Sasuke mengangguk, sebuah keputusan baru mulai terbentuk dalam benaknya—bukan lagi sekadar mencari Eternity secara membabi buta, melainkan memahami seluruh gambaran besar yang melingkupi misinya, langkah demi langkah, sebelum akhirnya siap menghadapi apa pun yang menanti di ujung perjalanan panjang ini.
Di luar jendela, dua bulan Astral bersinar terang di langit malam yang cerah, menyaksikan awal dari babak baru dalam perjalanan mereka—satu yang akan membawa mereka lebih dalam ke dalam misteri yang jauh lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.
---
*Bersambung ke Bab 23: Sang Pertapa Gunung*