NovelToon NovelToon
Suami Super Cool Berseragam Loreng

Suami Super Cool Berseragam Loreng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.

Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.

Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Tara langsung tertawa ngakak.."Siap, Nek! Nanti aku bilang, 'Bang, yang manggil bukan komandan... tapi Nenek.'"

Kali ini bahkan Nenek tidak sanggup lagi mempertahankan wajah seriusnya. Sudut bibirnya ikut terangkat. "Kamu ini..." Beliau menggeleng pelan. "Dari kecil sampai mau nikah tetap saja ada-ada."

Tara lalu menggenggam tangan Nenek. "Tenang, Nek." Wajahnya berubah lembut. "Tara cuma bercanda. Cincin ini nggak akan Tara jual. Kalaupun suatu hari hidup Tara susah, Tara lebih memilih bekerja lebih keras daripada menjual amanah dari Nenek."

Mendengar itu, mata Nenek kembali berkaca-kaca. Beliau mengusap pipi cucunya dengan penuh sayang. "Nah... begitu cucu Nenek."

Suasana yang sempat berubah menjadi riuh karena celetukan Tara kembali hangat. Memang begitulah Tara. Bahkan di tengah momen paling mengharukan sekalipun, selalu ada satu kalimat polos yang berhasil membuat semua orang antara ingin memeluknya... atau menjitak kepalanya.

***

Pagi itu, rumah keluarga Bani sudah dipenuhi kesibukan sejak matahari belum tinggi. Suara para perias, keluarga, dan tetangga yang membantu saling bersahutan memenuhi setiap sudut rumah. Sementara di dalam kamar, Tara telah selesai dirias. Kebaya putih gading pilihan Nenek Bani membalut tubuhnya dengan anggun. Riasan wajahnya tidak berlebihan, justru menonjolkan kecantikan alaminya. Senyum yang sejak dulu selalu menghiasi wajahnya kini berpadu dengan tatapan yang sedikit gugup, membuat siapa pun yang melihatnya sulit mengalihkan pandangan.

Satu per satu anggota keluarga masuk ke kamar.."Masya Allah..."

"Itu Tara?"

"Ya Allah, cantik sekali."

"Persis seperti putri."

Beberapa bibi sampai berkaca-kaca melihat gadis yang dulu masih berlarian di halaman rumah kini telah siap dipersunting.

Bu Nina berdiri paling dekat. Begitu melihat putri sulungnya duduk anggun dengan busana pengantin, air matanya langsung jatuh tanpa bisa ditahan.

"Bu..." Tara menggenggam tangan ibunya.

Nina hanya mampu mengelus pipi putrinya sambil tersenyum di sela tangis. "Cantik sekali, Nak." Ia menahan haru. "Ibu yakin ayahmu di sana pasti ikut bangga melihatmu hari ini."

Kalimat itu membuat mata Tara ikut memanas. Taufan dan Akmal yang biasanya tidak bisa berhenti bercanda pun mendadak diam.

Akmal bahkan berbisik pelan kepada kakaknya. "Kak... jangan lupa pulang ya."

Tara langsung tertawa kecil meski matanya berkaca-kaca. "Memangnya Kakak pindah ke luar negeri?" Tara menepuk bahu adiknya pelan.

Di luar kamar, para tamu juga tidak berhenti memuji kecantikan Tara.

"Nggak nyangka ya, Tara secantik ini kalau didandani."

"Memang dari dulu cantik, cuma anaknya sederhana."

"Nggak heran Sarif langsung jatuh hati."

Di tengah pujian yang terus berdatangan, hanya ada satu orang yang memilih menjauh. Tentu saja ia adalah Ratna. Sejak pagi ia lebih banyak mengurung diri di kamarnya. Beberapa kali ibunya memintanya menemani Tara, tetapi Ratna selalu mencari alasan. Bukan karena benci. Melainkan karena ia belum cukup kuat. Ia tahu, begitu melihat Tara dalam balutan gaun pengantin, kenyataan itu akan terasa semakin nyata.

Hari ini, Sarif benar-benar akan menjadi suami Tara. Dan semua itu bermula dari keputusan yang pernah ia ambil sendiri.

Ratna berdiri di balik pintu kamarnya dengan mata terpejam. Dari kejauhan ia masih bisa mendengar suara tawa, ucapan selamat, dan pujian yang ditujukan kepada sepupunya. Perlahan ia menarik napas panjang. Di dalam hatinya, dua perasaan bertarung dengan begitu hebat. Sebagian ingin ikut keluar, memeluk Tara, lalu mengucapkan selamat dengan tulus. Sebagian lagi masih belum mampu mengubur penyesalan yang terus menghantuinya.

Pagi itu, seluruh rumah dipenuhi kebahagiaan. Hanya hati Ratna yang masih berusaha belajar menerima bahwa tidak semua kesempatan yang telah dilepaskan bisa datang untuk kedua kalinya.

Tak lama kemudian, suara rebana dan lantunan selawat mulai terdengar dari halaman depan rumah. Disusul riuh suara tamu yang saling bersahutan menyambut kedatangan rombongan pengantin pria. Suasana yang sejak pagi ramai kini berubah menjadi semakin semarak.

"Rombongan pengantin laki-laki sudah datang!" Seruan itu terdengar hingga ke seluruh sudut rumah.

Di dalam kamar pengantin, Tara otomatis semakin gugup. Jantungnya berdegup jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Ia menggenggam ujung kebayanya pelan, sementara para perias tersenyum melihat tingkah calon pengantin yang mendadak diam itu.

Berbeda dengan Tara, Ratna perlahan membuka tirai jendelanya. Awalnya ia hanya ingin melihat sekilas. Hanya sekilas. Namun, begitu pandangannya jatuh pada sosok Sarif yang baru turun dari mobil, Ratna seolah lupa cara mengalihkan pandangan.

Sarif mengenakan pakaian akad yang dipadukan dengan peci hitam. Wajahnya tampak teduh, senyumnya tipis, langkahnya tenang dan penuh wibawa. Entah mengapa, hari itu ia terlihat jauh lebih tampan daripada saat acara lamaran. Benar kata orang-orang tua. Kalau seseorang sedang berbahagia menuju hari pernikahannya, auranya akan keluar dengan sendirinya. Dan itulah yang Ratna lihat sekarang.

Sarif tampak bersinar. Bukan karena pakaian yang dikenakannya. Melainkan karena ketenangan yang terpancar dari wajahnya. Ratna menggigit bibir bawahnya pelan. Dadanya kembali terasa sesak. "Kenapa dulu aku bahkan tidak mau bertemu dengannya?"

Pertanyaan itu kembali menghantui pikirannya. Ia masih ingat bagaimana dirinya menolak mentah-mentah perjodohan itu, merasa Sarif tidak pantas hanya karena mengira ia hanyalah seorang tentara lulusan SMA. Padahal kenyataannya... Lelaki itu jauh lebih baik daripada semua prasangka yang pernah ia buat.

Ratna memejamkan mata sejenak. Ada penyesalan yang tidak lagi bisa diperbaiki.

Di halaman rumah, keluarga besar menyambut Sarif dengan hangat. Sementara dari balik jendela, Ratna hanya bisa menjadi penonton dari kebahagiaan yang dulu pernah datang mengetuk pintunya, tetapi ia sendiri yang memilih menutup rapat pintu itu. Hari ini, Sarif datang bukan untuknya. Hari ini, lelaki itu datang untuk mengucapkan ijab kabul dengan Tara.

Suasana di ruang akad mendadak hening ketika Sarif dipersilakan duduk di hadapan penghulu. Seluruh pasang mata tertuju kepadanya. Hari itu, untuk pertama kalinya banyak tamu dari pihak Tara mengetahui siapa sebenarnya calon mempelai pria. Selama ini mereka hanya tahu Sarif adalah seorang prajurit TNI. Namun, dari obrolan keluarga dan rekan-rekan satuannya yang hadir, barulah tersiar bahwa Sarif bukanlah prajurit biasa. Ia adalah seorang perwira TNI yang menempuh pendidikan kedokteran dan kini mengemban tugas sebagai dokter militer. Kabar itu membuat beberapa tamu saling berpandangan. Tidak sedikit yang baru memahami mengapa pembawaan Sarif begitu tenang, berwibawa, dan tutur katanya selalu terukur.

Ketika prosesi akad dimulai, suasana kembali khusyuk. Penghulu membacakan nasihat pernikahan, lalu mempersilakan wali mempelai perempuan mengucapkan ijab. Semua yang hadir menahan napas, menunggu detik-detik paling menentukan dalam hidup dua insan tersebut.

Begitu ijab selesai diucapkan, Sarif langsung menjawab tanpa ragu. Lafaz kabulnya terdengar lantang, tegas, jelas, dan mantap. Tidak terbata. Tidak mengulang. Setiap kata keluar dengan penuh keyakinan.

1
Inde Hara
Inde Hara
InshaAllah ✓
Inde Hara
🤣🤣🤣🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!