Viora Zealodie Walker, seorang gadis cantik yang memiliki kehidupan nyaris sempurna tanpa celah, namun seseorang berhasil menghancurkan segalanya dan membuat dirinya trauma hingga dia bertekad untuk mengubur sikap lemah, lugu, dan polosnya yang dulu menjadi sosok kuat, mandiri dan sifat dingin yang mendominasi.
Bahkan dia pindah sekolah ke tempat di mana ia mulai bangkit dari semua keterpurukan nya dan bertemu dengan seseorang yang diam-diam akan mencoba merobohkan tembok pertahanan nya yang beku.
Sosok dari masa lalu yang dia sendiri tidak pernah menyadari, sosok yang diam-diam memperhatikan dan peduli pada setiap gerak dan tindakan yang di ambilnya.
Agler Emilio Kendrick ketua geng motor besar yang ada di jakarta selatan sana... Black venom.
Dia adalah bad boy, yang memiliki sikap arogan.
Dan dia adalah sosok itu...
Akankah Agler berhasil mencairkan hati beku Viora dan merobohkan dinding pertahanan nya, atau cintanya tak kunjung mendapat balasan dan bertepuk sebelah tangan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARQ ween004, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah baru
Jam istirahat kedua di Starlight School selalu terasa hidup, tetapi siang itu suasananya jauh lebih ramai dari biasanya. Udara hangat bercampur aroma rumput segar dari taman belakang sekolah, tempat puluhan siswa berkumpul mengelilingi sebuah panggung kecil di bawah rindangnya pohon flamboyan.
Di atas panggung sederhana itu, beberapa anggota Music Club tengah bersiap. Ada yang menyetel gitar, memeriksa mikrofon, hingga menyesuaikan suara drum. Sebuah spanduk bertuliskan “Mini Live Performance — Music Club Showcase” terbentang rapi di belakang mereka.
Zea, Arcelyn, Claudy, dan Valesya baru saja tiba. Keempatnya berjalan beriringan melewati kerumunan yang semakin padat, menarik perhatian beberapa siswa di sekitar.
“Wah, rame juga, ya,” gumam Claudy sambil menepuk rok seragamnya sebelum duduk di salah satu bangku panjang.
Arcelyn langsung menyandarkan tubuhnya ke kursi, matanya tak lepas dari panggung. “Katanya Qyler jadi vokalis baru anak Music Club. Gue penasaran banget sama penampilan pertamanya.”
Belum lama kalimat itu terucap, petikan gitar mulai terdengar___jernih dan bersih, disusul hentakan drum yang lembut namun berirama. Suasana seketika berubah riuh ketika seorang siswa dengan kemeja putih berlengan tergulung naik ke atas panggung.
Qyler.
Rambutnya sedikit berantakan, namun tetap rapi. Wajahnya teduh dengan tatapan tenang. Ada sesuatu yang berbeda darinya___bukan dingin yang menakutkan, melainkan karisma diam yang secara alami menarik perhatian seluruh taman.
Ia menggenggam mikrofon tanpa banyak bicara.
“Selamat siang. Kami dari Music Club, dan ini lagu pertama kami, Fireline. Semoga kalian suka.”
Nada suaranya dalam dan sedikit serak, justru menambah pesona. Begitu musik dimulai, suaranya mengalun stabil___tenang namun kuat. Setiap bait terdengar begitu natural, seolah ia memang dilahirkan untuk berdiri di atas panggung.
Arcelyn yang sedari tadi menatap panggung nyaris lupa bernapas. Ia sedikit membungkuk ke depan dengan mata yang berkilat.
“Gue gak nyangka dia anak baru, tapi bisa setenang itu di depan banyak orang,” gumamnya pelan.
Valesya melirik sekilas. “Jangan bilang itu target berikut lo, Celyn?”
Ia tahu betul reputasi sahabatnya yang terkenal sebagai playgirl dan selalu berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.
Arcelyn terkekeh kecil. “Bisa jadi. Tapi kayaknya kali ini bakal agak susah. Auranya aja udah beda.”
“Huh, semua cowok lo ratain,” sela Claudy, membuat Zea terkekeh kecil di sampingnya.
Sorakan penonton kembali pecah ketika Qyler menutup lagu pertama. Ia menundukkan kepala sedikit dan tersenyum tipis tanpa berlebihan. Tatapannya sempat menyapu kerumunan, cukup sekilas untuk membuat sebagian siswi menahan napas tanpa sadar.
“Lagu berikutnya sedikit lebih santai,” katanya singkat. “Judulnya Silver Sky.”
Musik berubah lembut, nyaris seperti hembusan angin. Nada gitar berpadu dengan ritme drum yang pelan, menciptakan suasana tenang yang memantul di antara dedaunan flamboyan.
Zea bersandar santai, membiarkan musik mengisi udara sore.
Arcelyn masih terpaku. Dagunya kini bertumpu di kedua tangan. “Gue suka gaya nyanyinya,” katanya pelan. “Gak lebay, tapi dalem banget.”
Claudy menoleh kepadanya. “Lo beneran suka sama tuh cowok?”
“Kayaknya,” jawab Arcelyn santai tanpa mengalihkan pandangan.
Ketika lagu terakhir berakhir, tepuk tangan menggema di seluruh taman. Qyler hanya memberi anggukan singkat sebelum turun dari panggung bersama rekan-rekannya.
Claudy berdiri sambil meregangkan badan. “Wah, gak nyangka bakal sebagus ini. Harusnya tiap istirahat begini aja, gak sih?”
Arcelyn masih menatap panggung yang kini kosong.
“Gue setuju,” ujarnya pelan.
Valesya mengembuskan napas kecil. “Kayaknya mulai banyak yang bakal ngomongin anak itu. Apalagi udah ditargetin sama bocah satu ini.”
Ia melirik Arcelyn yang hanya tersenyum tipis.
Zea ikut tersenyum. “Kalian gak tau aja segencar apa Celyn deketin dia di kelas.”
“Serius?” tanya Claudy.
Zea mengangguk santai.
\*\*\*\*
Setelah acara mini konser berakhir, halaman belakang perlahan mulai sepi. Sebagian siswa kembali ke kelas, sementara yang lain masih sibuk membicarakan penampilan Qyler dan Music Club.
Arcelyn berdiri sambil merapikan rambutnya yang sedikit tertiup angin.
“Gue nyusul belakangan, ya,” katanya ringan sambil membuka cermin kecil dari saku seragamnya.
Claudy menatapnya curiga. “Mau ke mana lagi, Celyn?”
Arcelyn tersenyum penuh percaya diri. “Ngucapin selamat ke bintang sore ini, tentunya.”
Valesya menggeleng pasrah. “Jangan sampai cowoknya kabur duluan.”
Arcelyn mengangkat sebelah alis sebelum berbalik dan melangkah pergi.
Sementara itu di sisi lain, Qyler baru saja memasukkan gitarnya ke dalam tas hitam panjang ketika suara langkah sepatu mendekat dari belakang.
“Penampilan yang bagus.”
Qyler menoleh singkat. “Thanks.”
Jawabannya pendek dan datar. Ia kembali membereskan kabel mikrofon seolah percakapan itu sudah selesai.
Namun Arcelyn tidak menyerah. Ia melangkah lebih dekat dan berhenti tepat di hadapannya.
“Lo kelihatan tenang banget di atas panggung. Biasanya anak baru butuh waktu lama buat nyatu sama atmosfer Starlight.”
“Gue terbiasa tampil,” jawab Qyler tanpa menatap langsung.
Arcelyn menyilangkan tangan di depan dada. “Menarik. Gue pikir anak-anak pindahan bakal gugup di sini. Tapi lo beda.”
Qyler akhirnya mengangkat pandangannya. “Mungkin karena gue gak terlalu peduli sama kesan orang.” Ia menutup resleting tas gitarnya lalu bergeser sedikit memberi jarak.
Senyum Arcelyn justru semakin mengembang. “Cool. Tapi di Starlight, cepat atau lambat semua orang peduli sama pandangan orang lain.”
“Mungkin gue pengecualian.”
Beberapa siswi yang lewat berhenti sejenak dan mulai berbisik.
“Itu Arcelyn, kan?”
“Dia deket banget sama anak musik baru itu.”
“Kayaknya lagi ngerayu, deh.”
“Qyler-nya cuek banget.”
Bisikan itu cukup jelas untuk terdengar.
Arcelyn menoleh perlahan. Senyum manis di wajahnya berubah tajam. “Kalau mau ngomongin orang, pastiin jaraknya cukup jauh. Biar gak malu sendiri pas gue denger.”
Ketiga siswi itu langsung menunduk dan buru-buru pergi.
Qyler menatapnya sekilas. “Lo terbiasa bikin orang takut?”
Arcelyn kembali menoleh kepadanya. “Bukan takut. Cuma biar mereka belajar kapan harus diam.”
Qyler memasang tas gitarnya di bahu. “Saran aja, mungkin lo bakal lebih dapet simpati kalau gak terlalu dominan.”
Arcelyn tersenyum tipis. “Gue gak butuh simpati, Kay. Gue cuma tertarik sama sesuatu yang beda.”
Qyler tidak menjawab. Ia hanya berjalan pergi, meninggalkan Arcelyn yang berdiri sendirian di bawah hembusan angin sore.
Tatapan Arcelyn mengikuti punggungnya yang semakin menjauh.
Tidak ada rasa kesal di matanya.
Yang ada justru rasa penasaran.
Senyum kecil kembali muncul di bibirnya. “Oke... this might be fun.”
...****************...
Di sisi lain, halaman depan Starlight mulai kembali ramai menjelang bel masuk.
Zea baru saja menutup botol minumnya ketika seorang anggota Student Council menghampirinya sambil membawa clipboard.
“Zea, kan? Kita lagi buka pendaftaran anggota baru buat beberapa kegiatan sekolah. Kayaknya kamu cocok ikut salah satunya.”
Zea menatapnya sedikit terkejut. “Kegiatannya apa aja?”
“Ada marching band, cheer squad, literary club, sama event committee. Arcelyn juga ikut cheer squad.”
Claudy yang kebetulan lewat langsung menyela. “Lo harusnya ikut cheer squad juga, Zee. Lo punya aura yang pas buat itu.”
Zea terkekeh. “Aura apa? Aura capek latihan tiap sore?”
Valesya yang berdiri tak jauh dari mereka mengangkat alis. “Gue yakin. Kalau lo ikut, setengah cowok Starlight langsung daftar jadi supporter.”
Mereka tertawa kecil.
Zea melangkah mendekati papan pengumuman. Matanya menelusuri satu per satu kertas berwarna pastel yang tertempel rapi.
Marching Band.
Cheer Squad.
Literary Club.
Event Committee.
Ia berhenti cukup lama pada pilihan terakhir.
Ada sesuatu dalam kata perencanaan yang terasa selaras dengannya___sesuatu yang teratur, tenang, namun tetap memberi ruang bagi ide dan kreativitas.
Claudy memperhatikannya. “Gue tebak lo bakal pilih Literary Club. Lo kan suka nulis.”
Zea menggeleng pelan. “Dulu mungkin iya. Tapi sekarang gue pengin coba sesuatu yang baru.”
Arcelyn yang baru datang sambil membawa botol air langsung menimpali. “Event Committee, maybe? Mereka yang ngatur semua acara besar Starlight. Bulan depan ada Starlight Cultural Gala. Itu proyek besar.”
“Serius?” tanya Zea.
Arcelyn mengangguk. “Dan menurut gue lo cocok banget. Lo tenang, punya selera bagus, dan bisa mikir cepat. Orang kayak lo biasanya yang bikin acara jadi elegan.”
Claudy mendecak. “Lo promosiin Event Committee kayak lagi jual kosmetik.”
Arcelyn terkekeh kecil sebelum menoleh ke arah Zea. “Gue cuma bilang apa yang menurut gue cocok buat dia. Lagian, kayaknya lo juga butuh tempat buat ngalihin pikiran ke hal lain, kan, Zee?”
Ucapan itu membuat Zea terdiam.
Arcelyn benar.
Mungkin sudah waktunya berhenti berlari dari bayangan masa lalu.
Zea menarik napas pelan sebelum menatap panitia Student Council yang masih menunggu. “Oke,” katanya mantap. “Gue daftar di Event Committee.”
“Great!” Panitia itu langsung mencatat namanya.
“Rapat perkenalan nanti sore jam empat di ruang serbaguna. Jangan telat, ya.”
Zea mengangguk sambil tersenyum tipis. “Siap.”
Claudy menepuk pundaknya. “Welcome to chaos, babe. Lo bakal sibuk banget abis ini.”
“Justru itu,” jawab Zea santai sambil menutup botol minumnya. “Gue butuh kesibukan.”
Arcelyn tersenyum samar.
Sementara angin sore berembus pelan di halaman depan Starlight School, Zea menatap langit yang mulai berubah keemasan.
Tanpa ia sadari, langkah kecil yang baru saja diambilnya akan membawanya bertemu kembali dengan seseorang yang selama ini hanya hidup di keping kenangan.
lanjut Thor ceritanya