"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"
Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.
Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.
Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...
siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 : SENGATAN DI UJUNG JARI
Driiiit... Driiiiit.... Driiiit!
Getaran keras ponsel Riko di saku dalam jasnya memecah hening ruang kerja. Tanpa mengalihkan pandangan dari lembaran berkas penting di mejanya, ia menggeser layar.
"Halo"
"Nak... ini Ayah" suara pria paruh baya mengalun hangat dari seberang sambungan.
Gerakan jemari Riko terhenti seketika. Matanya terangkat.
"Iya, Ayah"
"Kamu jadi datang ke pesta ulang tahun adikmu malam ini, kan?" tanya Mahenra penuh harap.
"Tentu saja, Yah. Aku pasti datang"
"Baguslah... Ami sangat senang mendengarnya. Sepertinya dia sudah tidak sabar ingin bicara denganmu" Suara Mahenra menjauh, berganti dengan grusa-grusu ponsel yang berpindah tangan.
"Don't be late! Remind me about my request, okay my brother?" seru Ami dengan nada mengintimidasi yang menggemaskan.
Riko terkekeh pelan, "Yes, of course! I didn't forget my promise"
"Good! Aku tunggu!"
"Bersiaplah dan tunggu kakakmu yang paling tampan ini datang"
"Um... okay..." Ami terdiam sejenak. "Apa Kamu yakin tidak mau memberiku hadiah lain selain permintaan yang kemarin?"
Permintaan Ami sederhana, namun menghantam ulu hati Riko yaitu ia hanya menginginkan Riko dan Angga dua saudaranya yang saling benci itu duduk bersama di satu meja tanpa ada pertumpahan darah.
"Yeah... I don't want any other gifts. I just want Mom, Dad, and my two older brothers to be here celebrating my birthday together"
"Brengsek" batin Riko mengutuk takdir. Namun suaranya tetap melunak.
"Baiklah... hadiahmu akan segera tiba"
"Yeeeei! Aku jadi tidak sabar!" jerit Ami kegirangan sebelum menutup sambungan.
Setitik kecemasan membakar raut tampan Riko. Ia tahu persis keras kepalanya Angga. Namun, keyakinan bahwa Angga tidak akan tega menghancurkan hati Ami membuat jemari Riko terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih di atas gelas kristalnya.
"Dia pasti datang..." gumam Riko dingin, menatap lurus ke depan dengan sorot penuh dendam.
"Kali ini aku lepaskan kamu, Angga... demi Ami"
Riko menyambar jasnya, melangkah tegas membelah koridor kantor menuju lift pribadi. Di lobi, Ivan asisten pribadinya sudah menyambut dengan senyum profesional seraya membukakan pintu SUV hitam yang telah menderu halus.
"Malam, Pak" sapa Ivan.
Riko hanya mengangguk singkat lalu menghempaskan tubuhnya di jok kulit yang nyaman, langsung menyalakan tablet mini untuk mengulas laporan kinerja harian.
"Ivan, antarkan aku ke Le Palais. Dan... apa kamu sudah menyiapkan apa yang kuminta?"
"Semua sudah beres, Pak" sahut Ivan seraya membelah kemacetan kota yang kian pekat.
Mobil merayap pelan di antara lautan lampu kendaraan. Sejenak keheningan mencekam hinggap di antara mereka, hingga Riko kembali membuka suara tanpa menatap lawan bicaranya.
"Soal pencarianmu... apa kamu sudah menemukannya?"
Ivan menelan ludah, mengikis keraguan di tenggorokannya.
"Saya masih ingin memastikannya, Pak. Mengenai profil Nona Anna yang Bapak berikan..."
Mata Riko seketika terangkat dari layar tablet. Tensi di dalam mobil mendadak melonjak.
"Lalu?"
"Kemarin malam saya melihat wanita yang sangat mirip dengannya. Posturnya mungil, berambut panjang dan kulitnya sangat putih berseri persis seperti di foto. Saya mencoba mengikutinya, tapi di persimpangan jalan... saya kehilangan jejak"
"Kalau itu benar dia... ke mana dia pergi selama tiga tahun ini?" gumam Riko, dadanya bergemuruh oleh gejolak teka-teki yang belum usai. Matanya mengeras.
"Cari dia, Ivan! Siapkan detektif terbaik di kota ini. Bahkan jika harus menggeledah seluruh penjuru negeri, bawa Anna kembali padaku!"
"Baik, Pak!" tegak Ivan.
"Oh ya Pak, soal investor asing yang akan datang bulan depan..."
"Cari tahu siapa mereka," pangkas Riko cepat.
"Sudah, Pak. Mereka adalah tim pengembang IT papan atas. Rekam jejak mereka gila, mereka berhasil melahirkan belasan perusahaan raksasa di sektor teknologi. Banyak korporasi besar di kota ini yang mulai merangkak untuk mendapatkan perhatian mereka"
Bibir Riko mengukir seringai tipis yang penuh ambisi. Ia mematikan layar tabletnya.
"Menarik. Aku menginginkan mereka. Siapkan rapat darurat dengan seluruh manajer divisi besok pagi. Kita harus merebut investor itu, bagaimanapun caranya"
Mobil Riko akhirnya berhenti di depan bangunan butik termewah di pusat kota. Ivan bergegas membukakan pintu. Begitu Riko melangkah keluar dengan setelan pas badan yang menonjolkan tubuh tegapnya, aura dominan sang pria langsung menyedot perhatian seisi ruangan.
"Ya Tuhan... Riko Mahenra" Bisik seorang staf wanita di balik etalase kaca.
"Pewaris tunggal kerajaan bisnis Mahenra... tampan, kaya dan sempurna"
"Sudah selesai gosipnya?" suara dingin Elena memotong percakapan mereka, membuat para staf kocar-kacir membubarkan diri.
Elena segera mengulas senyum paling memesona. Sebagai pelanggan VIP Gold, Riko adalah aset berharga.
"Selamat malam, Tuan Riko" sapa Elena hangat, memeluk singkat dan bertukar salam pipi.
"Malam, Elena. Aku butuh setelan terbaik untuk pesta ulang tahun adikku" ujar Riko tanpa basa-basi.
"Serahkan padaku" sahut Elena anggun, menuntun Riko ke suite VIP.
Tak butuh waktu lama bagi Riko untuk memilih. Sebuah setelan jas kustom berwarna abu-abu gelap dengan garis potongan tegas membalut tubuhnya dengan sempurna di depan cermin.
"Luar biasa. Tampan dan sangat berkelas" puji Elena jujur.
"Aku ambil yang ini" sahut Riko dingin. Usai mengisyaratkan Ivan untuk mengurus pembayaran dan memastikan kado Ami sudah siap, Riko melangkah keluar. Matanya menatap tajam kegelapan malam dari balik kaca mobil yang mulai melaju.
" jika malam ini kamu tidak muncul juga, Angga... aku pastikan kamu akan menyesalinya seumur hidupmu"
DI SISI LAIN KOTA...
Sementara itu, SUV hitam milik Angga membelah jalanan dengan ketegangan yang berbeda. Angga memijat tengkuknya, bingung menentukan kado untuk Ami. Matanya melirik ke arah Lulu yang duduk kaku di sampingnya dengan gaun marun dan riasan yang memukau.
"Lulu..." panggil Angga, memecah keheningan yang intens.
"Menurutmu, kado apa yang cocok untuk anak perempuan umur 12 tahun?"
Lulu mengerjap kaget, membetulkan posisi duduknya.
"Kalau boleh tahu... apa yang paling disukai oleh adik Pak Angga?"
"Dia... sangat menyukai bunga" sahut Angga jujur, memikirkan senyum ceria Ami.
"Kalau begitu, berikan saja buket bunga mawar merah yang besar, Pak. Tapi... apakah adik Bapak secara khusus meminta hadiah benda tertentu?"
Kata-kata Lulu mengetuk sanubari Angga.
"Dia hanya minta aku datang..." Batinnya
"Tidak" nada suara Angga melunak, menyisakan kerapuhan yang jarang ia perlihatkan.
"Dia hanya ingin saya hadir"
"Nah" tutur Lulu lembut, menatap Angga dengan pendar bijak yang menghangatkan suasana.
"Kehadiran Bapak adalah hadiah utamanya. Buket bunga itu akan menjadi pelengkap yang manis untuk menunjukkan bahwa Bapak juga memikirkannya"
Angga terpana sejenak menatap mata Lulu, lalu mengangguk pelan. Ia segera memutar kemudi menuju florist langganannya, memesan buket mawar merah raksasa dan meminta toko mengirimkannya langsung ke kediaman Mahenra dengan menyematkan nomor ponsel Lulu di nota pemesanan sebagai kontak penerima untuk menghindari kecurigaan.
Beberapa saat kemudian, SUV hitam itu berbelok memasuki kawasan perumahan paling eksklusif di ibu kota. Gerbang besi tempa yang menjulang tinggi terbuka lambat, menyambut mereka ke dalam pelataran sebuah kediaman bak istana bergaya klasik Eropa. Pilar-pilar tinggi, patung marmer, dan pendar lampu warm white menciptakan kemewahan yang mengintimidasi.
Lulu menahan napas. Matanya melebar menatap deretan mobil hypercar dan busana sutra nan mewah milik para tamu kelas atas yang berkumpul di area drop-off. Rasa minder menghantamnya bagai gelombang pasang. Ia merasa bagai noda hitam di atas kain putih yang bersih.
"Ya Tuhan... kenapa aku harus menurut dan ikut ke tempat gila ini? Aku ingin pulang! " jerit Lulu dalam hati, menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura sibuk memperhatikan ujung sepatu heels-nya.
"Bisa cepat sedikit tidak jalannya?" tegur Angga dingin, menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan Lulu.
Lulu mendongak kaget. Postur Angga yang tegap bagaikan benteng kokoh yang memblokir pandangannya.
"E-eh... maaf, Pak!"
Lulu terburu-buru melangkah maju. Namun, kombinasi antara gaun panjang, rasa gugup yang memuncak dan heels yang tinggi menjadi mimpi buruk. Ujung hak sepatunya tersangkut di lipatan bawah gaunnya.
Keseimbangannya hancur seketika.
"Aaaakh!"
Tubuhnya terjungkal ke depan. Karena panik dan malu, bukannya meregangkan tangan untuk menahan jatuh, Lulu justru secara refleks menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan pasrah menunggu tubuhnya menghantam lantai marmer yang keras.
"Awas!"
Greb!
Sebuah lengan kekar bergerak secepat kilat. Sebelum tubuh Lulu menyentuh lantai, jemari Angga menyambar pinggang ramping itu dengan cengkeraman penuh dominasi, menariknya kuat-kuat ke dalam dekapan dadanya.
Suara benturan tak pernah terjadi. Yang ada hanyalah keheningan yang mendadak pekat.
Lulu perlahan merenggangkan jemarinya yang menutupi wajah. Matanya terbuka pelan... dan jantungnya serasa berhenti berdetak.
Wajah Angga berada hanya beberapa sentimeter di atas wajahnya. Tidak ada bentakan. Tidak ada cibiran. Hanya ada sepasang mata tajam yang kini menatapnya penuh pendar romantis dan keterpukuan yang membakar.
Dug-dug! Dug-dug!
Detak jantung Angga bergemuruh hebat di balik kemejanya begitu keras dan cepat hingga Lulu dapat merasakannya menembus telapak tangannya yang menempel di dada pria itu.
"Kamu... tidak apa-apa?" bisik Angga. Suaranya lolos begitu pelan, dalam dan serak serupa embusan angin malam yang menyapu ceruk leher Lulu, mengirimkan sengatan listrik yang melumpuhkan seluruh sel di tubuhnya.
Angga membeku. Ini bukan kali pertama ia menyelamatkan Lulu dari jatuh, tapi kali ini... rasanya berbeda. Cengkeraman jemarinya di pinggang halus Lulu terasa kian mengetat, seolah enggan melepaskannya. Ada desiran asing yang membakar logikanya sebuah gairah dan impuls protektif yang meledak tiba-tiba.
Mata Angga terkunci pada bibir merona Lulu yang sedikit terbuka karena terkejut, lalu naik menatap dalam-dalam manik mata jernih bawahannya itu. Di bawah sorot lampu istana dan riuh suara tamu di kejauhan, dunia seolah lenyap. Angga tersadar di detik itu juga... hatinya telah jatuh dan ia tak lagi bisa berpura-pura dingin di depan wanita di pelukannya ini.
semangat thor
jadi penasaran nih lanjut baca..