NovelToon NovelToon
女将军的命运之幕 ( Tirai Takdir Sang Jenderal Wanita )

女将军的命运之幕 ( Tirai Takdir Sang Jenderal Wanita )

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Ahli Bela Diri Kuno / Keluarga & Kasih Sayang / Action / Fantasi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Syifa Fha

Di bawah rembulan yang dingin, seorang jenderal berdiri tegak, pedangnya berkilauan memantulkan cahaya. Bukan hanya musuh di medan perang yang harus ia hadapi, tetapi juga takdir yang telah digariskan untuknya. Terjebak antara kehormatan dan cinta, antara tugas dan keinginan, ia harus memilih jalan yang akan menentukan nasibnya—dan mungkin juga seluruh kerajaannya. Siapakah sebenarnya sosok jenderal ini, dan pengorbanan apa yang bersedia ia lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Fha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

BRAK!!! CPRANGGGG!!!

Amarah Permaisuri Ning meledak. Sebuah vas keramik kuno melayang di udara, sebelum akhirnya menghantam lantai dengan bunyi yang memekakkan telinga. Pecahannya berserakan seperti serpihan mimpi yang hancur. Dayang-dayang istana dan para pengawal yang setia berdiri membeku, tubuh mereka bergetar karena amarah yang membara dari sang permaisuri.

"Kalian semua bodoh! Dasar tidak berguna!" teriak Permaisuri Ning, suaranya memecah kesunyian malam. "Sudah sebulan lebih! Sebulan lebih sejak Yu Zhang menghilang tanpa jejak! Bahkan informasi tentang gadis yang bersamanya pun tidak ada! Apa yang kalian lakukan selama sebulan ini hah?!"

Seorang dayang memberanikan diri untuk bersuara. "Ampun, Yang Mulia Permaisuri. Kami telah mengerahkan semua sumber daya yang ada. Setiap sudut kota, setiap desa terpencil, bahkan perbatasan kekaisaran telah kami sisir. Namun, jejak Yu Zhang dan gadis itu seolah lenyap ditelan bumi."

Plak!!!!

Darah keluar dari sudut bibir dayang itu.

"Alasan! Alasan lagi!" Permaisuri Ning mencibir. "Aku tidak butuh alasan! Aku butuh hasil! Aku tidak peduli cara apa yang kalian gunakan, intinya, temukan keberadaan si keparat Yu Zhang itu!"

Dengan kepala tertunduk dan langkah gemetar, para dayang dan pengawal meninggalkan ruangan, membawa serta sisa-sisa amarah sang permaisuri yang masih membara di udara. Sesaat setelah mereka pergi, bayangan gelap di sudut ruangan bergerak. Sesosok pria muncul dari kegelapan, pria itu tertawa.

"Sungguh pemandangan yang menghibur," ucap pria itu, suaranya rendah dan serak.

Permaisuri Ning mendengus, lalu menjatuhkan diri ke kursinya yang berlapis sutra. Tangannya memijat pelipisnya yang berdenyut. "Hah~" desisnya. "Seorang pemilik organisasi pembunuh bayaran yang katanya paling tidak tertarik dengan urusan kekaisaran. Apa yang membawamu kemari? Apa kau datang hanya untuk menyaksikan kehancuranku?"

Feng Yan kembali tertawa pelan, lalu melangkah mendekat. Cahaya rembulan yang menyelinap masuk melalui jendela menerangi wajahnya yang tampan namun dingin. "Apa kau masih ingat dengan ajakan kerja sama kembali yang pernah kau ajukan?"

Permaisuri Ning mengangkat alisnya, menatap Feng Yan dengan curiga. "Ya..., tapi bukankah kau menolaknya? Lagi pula, kau pikir aku butuh bantuan dari seorang pembunuh bayaran?"

"Jangan meremehkanku, Permaisuri," jawab Feng Yan dengan nada mengancam. " Memang kapan aku bilang bahwa aku menolak? Tentang kesepakatan yang pernah kau ajukan padaku beberapa waktu lalu, aku hanya berpikir sejenak, aku menyetujuinya."

Mata Permaisuri Ning membulat karena terkejut. Ia tidak menyangka pria yang dikenal sulit ditangani ini menyetujui kesepakatan yang pernah ia ajukan. "Kau... kau serius?"

"Tentu saja," jawab Feng Yan, seringainya semakin lebar. "Dan sebagai bukti keseriusanku, aku bahkan memiliki informasi lengkap tentang gadis yang kau incar itu."

Feng Yan melemparkan sebuah gulungan berisikan biodata seseorang.

Permaisuri Ning terkesiap melihatnya. "Kau...., ini?!"

"Bagaimana? Apa sesuai?" jawab Feng Yan. "Tapi...." ucapannya terhenti sejenak, "tentu saja, informasi ini tidak gratis."

Ekspresi Permaisuri Ning langsung berubah serius, ia tahu informasi yang diberikan oleh Feng Yan tidaklah gratis. "Apa yang kau inginkan?" tanya Permaisuri Ning, matanya menyipit. Dia tahu bahwa Feng Yan tidak akan melakukan ini tanpa imbalan yang setimpal.

"Kau tidak perlu setegang itu, Yang Mulia. Keinginanku bisa dibilang sederhana," jawab Feng Yan, matanya menatap Permaisuri Ning dengan intens. "Saat Pangeran Ning Rui naik tahta nanti, biarkan aku yang mengendalikan kekaisaran ini dari balik layar."

Permaisuri Ning terdiam sejenak, menimbang-nimbang tawarannya. Dia tahu bahwa bersekutu dengan Feng Yan adalah langkah yang berbahaya, namun dia juga tahu bahwa dia tidak punya pilihan lain. Yu Zhang telah membuatnya kehilangan segalanya, dan dia bersedia melakukan apa saja untuk membalas dendam.

"Itu...." kata Permaisuri Ning ragu.

Seringai Feng Yan kembali muncul. "Kirim saja jawabannya lewat surat. Untuk detailnya, kita akan bicarakan nanti."Feng yan berhenti sejenak. " Jangan berbuat hal konyol jika kau tidak ingin masa lalumu bocor." Ancam Feng Yan lalu menghilang di hadapan permaisuri.

Permaisuri Ning kembali duduk dengan gemetar setelah mendengar hal tersebut,ia lantas kembali memijat kepalanya sembari memikirkan tentang ucapan Feng Yan. Padahal ia sendiri yang mengajukan kesepakatan, tapi entah kenapa ia merasa seperti masuk ke dalam kendali Feng Yan.

Kilasan memori tiba-tiba menyeruak dalam benaknya. Sembilan belas tahun yang lalu, malam pembantaian keluarga Marquis Liu.

Flashback on.

Api berkobar di seluruh kediaman Marquis Liu, asap hitam mengepul ke langit malam. Jeritan dan raungan kesakitan bergema di antara kobaran api, menciptakan simfoni kematian yang mengerikan. Permaisuri Ning, yang saat itu masih bergelar selir, berdiri di tengah kekacauan dengan wajah tanpa ekspresi. Di sekelilingnya, anggota organisasi pembunuh bayaran pimpinan Feng Yan bergerak dengan Presisi mematikan, menghabisi siapa pun yang menghalangi jalan mereka.

"Seorang selir repot repot meminta bantuan Mo Hui hanya untuk membantai Keluarga Marquis Liu,Apa kau punya alasan khusus,Yang mulia?."Ujar Feng Yan, suaranya dingin seperti es.

"Tidak perlu banyak tanya, Tuan pemilik Kita cukup lakukan sesuai dengan kesepakatan."Ucap Permaisuri Ning nada dingin.

"CK...CK...ck.., Sepertinya Nona selir lupa dengan sistem Mo hui."Bisiknya.

Bisikan Feng yan membuat permaisuri Ning tertegun, Ia lantas mengingat aturan kesepakatan yang sudah mereka sepakati.

Permaisuri Ning menghela nafasnya.

"Jenderal wanita Itu tahu terlalu banyak," jawab Permaisuri Ning, matanya terpaku pada kobaran api. "Dia tahu tentang rencana ku untuk menyingkirkan Putra Mahkota dan kematian permaisuri Yu. Dia harus dienyahkan, Intinya Mereka yang semua terlibat dengan jenderal wanita itu harus lenyap, Bukankah Kau juga ada urusan dengan keluarga Marquis bukan?" jawab Permaisuri Ning dengan nada dingin.

Feng Yan terdiam sejenak, menatap kobaran api yang melahap kediaman Marquis Liu. "Itu urusanku. Yang jelas, kita sepakat untuk menghabisi mereka." Dengan nada dingin. "Marquis Liu dan keluarganya adalah penghalang, dan penghalang harus disingkirkan."Lanjutnya.

Permaisuri Ning, menatap Feng Yan dengan curiga. "Kau tidak mungkin melakukan ini hanya demi kesenangan, kan?"

Feng Yan tertawa pelan. "Tentu saja tidak. Aku selalu punya alasan untuk setiap tindakanku. Tapi, untuk saat ini, anggap saja ini sebagai investasi. Investasi yang menguntungkan bagi kita berdua."

Permaisuri Ning menyipitkan matanya. "Kau selalu misterius, Feng Yan."

Kilasan memori itu berakhir secepat kilat. Permaisuri Ning tersentak, napasnya tersengal-sengal. Ia kembali memijat pelipisnya, berusaha menenangkan diri. Malam pembantaian keluarga Marquis Liu adalah rahasia kelam yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Hanya ia dan Feng Yan yang tahu tentang kejadian itu. Dan sekarang, Feng Yan menggunakan rahasia itu untuk mengendalikan dirinya.

"Sial!" umpat Permaisuri Ning. "Aku tidak boleh membiarkan dia mengendalikan diriku."

Tiba-tiba, langkah kaki terdengar mendekat. memasuki paviliun Permaisuri Ning.

"Yang Mulia Kaisar, Datang!!" Teriak seorang Kasim.

Permaisuri Ning segera berlutut, menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat. "Ampun, Yang Mulia Kaisar. Hamba siap mendengarkan titah Anda."

"Bangkitlah," titah Kaisar Shi. Ia berjalan mendekat dan memegang kedua bahu Permaisuri Ning, membantunya berdiri. " Ning'er," sapa Kaisar Shi dengan suara berat. "Aku ingin berbicara denganmu."

"Aku khawatir belakangan ini kau sering gelisah karena hilangnya Yu Zhang. Aku juga merasakan hal yang sama."

Permaisuri Ning menatap Kaisar Shi dengan mata berkaca-kaca. "Yang Mulia, hamba merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Yu Zhang dengan baik. Hamba khawatir akan keselamatannya."

Kaisar Shi menghela napas. "Aku tahu kau menyayanginya. Yu Zhang adalah salah satu jenderal terbaik kita. Kehilangannya adalah pukulan besar bagi kekaisaran."

"Yang Mulia, izinkan hamba untuk mencari Yu Zhang,sekali lagi" pinta Permaisuri Ning dengan nada memohon. "Hamba berjanji akan membawanya kembali dengan selamat."

Kaisar Shi terdiam sejenak, menimbang-nimbang permintaan Permaisuri Ning. "Aku mengerti perasaanmu," ucapnya akhirnya. "Tapi, aku tidak bisa mengizinkanmu pergi. Situasi di kekaisaran sedang tidak stabil. Aku membutuhkanmu di sisiku."

Permaisuri Ning menundukkan kepalanya dengan sedih. "Hamba mengerti, Yang Mulia."

"Namun," lanjut Kaisar Shi, "aku akan mengirimkan pasukan terbaik untuk mencari Yu Zhang,Kau bisa memerintahkan mereka. Aku berjanji akan melakukan segala yang mungkin untuk menemukannya."

Permaisuri Ning mengangkat wajahnya, menatap Kaisar Shi dengan penuh harap. "Benarkah, Yang Mulia?"

Kaisar Shi mengangguk. "Aku tidak akan pernah mengecewakanmu, Ning'er. Aku akan membawa Yu Zhang kembali, demi dirimu dan demi kekaisaran."

Kaisar Shi memeluk Permaisuri Ning dengan erat, mencoba menenangkan hatinya yang sedang bergejolak. Di balik pelukan itu, Permaisuri Ning menyembunyikan seringai licik. Rencananya berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan dukungan Kaisar Shi, ia akan memiliki kekuatan untuk melakukan apa pun yang ia inginkan. Dan tidak ada yang bisa menghentikannya.

"Dasar pak tua Bodoh, Kau pasti melakukan ini karena citra mu hampir rusak di mata rakyat bukan? Tapi Baguslah Dengan ini, aku tidak perlu repot-repot lagi menemukan si Keparat itu."Gumam permaisuri Ning dalam pikirannya.

...

Yu Zhang menyusuri jalan setapak yang berliku di dalam Sekte. Udara pegunungan yang segar memenuhi paru-parunya, terlihat jelas dari raut wajahnya ia sangat merindukan sekte ini.

Tiba-tiba, suara riang memanggil namanya dari kejauhan.

"SHIXIONG!!!!"

Yu Zhang tersenyum tipis. Ia tahu siapa pemilik suara itu. sesosok gadis dengan rambut dikepang dua dan mata berbinar-binar berlari ke arahnya, dengan senyum lebarnya yang khas, langsung memeluk lengan Yu Zhang erat-erat.

"Shixiong, aku merindukanmu! Kau menghilang begitu lama, aku khawatir!" ucap gadis itu dengan nada manja.

Yu Zhang mengusap kepala adik seperguruan nya dengan sayang. "Aku baik-baik saja, Qiong Xiao. Hanya ada sedikit urusan yang harus diselesaikan."

Gadis bernama Qiong Xiao itu terus mengoceh tentang hal-hal yang terjadi selama Yu Zhang pergi meninggalkan sekte. Ia menceritakan tentang latihan-latihan yang sulit, tentang murid-murid baru yang lucu, dan tentang gosip-gosip terbaru yang beredar di kalangan murid.

"Shixiong, kau tahu tidak? Murid baru bernama Xiao Li itu ternyata naksir padamu!" bisik Qiong Xiao dengan nada kesal.

Yu Zhang hanya tersenyum mendengar celotehan Qiong Xiao. Ia sudah terbiasa dengan tingkah laku adik seperguruannya itu yang selalu ceria dan penuh energi.

Yu Zhang menghela napas panjang.

"Omong omong Qiong Xiao, apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Yu Zhang. "Bukankah seharusnya kau sedang berlatih?" Tanya yu zhang.

Gadis itu hanya menyeringai....,Gugup.

"I....Itu...."

2 jam sebelumnya.....

Di tengah lapangan latihan yang luas, Qiong Xiao dengan lincah melayangkan pedangnya, menebas dan menusuk dengan gerakan yang cepat dan presisi. Keringat membasahi dahinya, namun semangatnya tak surut sedikit pun. Di hadapannya, Tetua Bai, seorang wanita paruh baya dengan wajah tegas dan aura yang kuat, mengawasi latihannya dengan seksama.

"Bagus, Qiong Xiao," puji Tetua Bai dengan nada datar. "Gerakanmu semakin meningkat. Namun, kau masih harus meningkatkan fokus dan konsentrasimu."

Qiong Xiao mengangguk patuh. Ia tahu bahwa Tetua Bai adalah guru yang sangat ketat dan perfeksionis. Ia selalu menuntut yang terbaik dari murid-muridnya.

"Ya, Tetua," jawab Qiong Xiao dengan hormat. "Saya akan berusaha lebih keras."

Tetua Bai mengangguk puas. Ia melihat potensi besar dalam diri Qiong Xiao. Ia yakin bahwa gadis itu akan menjadi salah satu murid terbaik di Sekte Teratai.

"Lanjutkan," perintah Tetua Bai.

Qiong Xiao mengangguk dan kembali mengangkat pedangnya. Ia mulai bergerak dengan lincah, mengikuti instruksi Tetua Bai.

Saat Qiong Xiao sedang fokus berlatih, ia tiba-tiba mendengar suara bisik-bisik dari sekelompok murid yang sedang berkumpul di dekat gerbang lapangan latihan. Awalnya, ia tidak terlalu memperhatikannya. Namun, semakin lama, suara bisik-bisik itu semakin keras dan menarik perhatiannya.

"Apa yang sedang mereka bicarakan?" gumam Qiong Xiao dalam hati.

Ia mencoba untuk mengabaikan suara bisik-bisik itu dan fokus pada latihannya. Namun, pikirannya terusik. Ia merasa penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan oleh para murid itu.

"Qiong Xiao!" tegur Tetua Bai dengan nada keras. "Fokus! Jangan biarkan pikiranmu melayang!"

Qiong Xiao tersentak kaget Mendengarnya.

"Ma....Maafkan saya, Tetua," ucap Qiong Xiao dengan nada menyesal.

Tetua Bai terlihat menghela napas panjang.

"Kita istirahat sebentar." Ucapnya tegas.

Qiong Xiao mengangguk ia kemudian diam diam berjalan sedikit mendekat, Ia ingin tahu apa yang sedang dibicarakan oleh para murid itu.

" Aku dengar Senior Yu Zhang kembali ke Sekte!" bisik seorang murid dengan nada bersemangat.

"Benarkah?" tanya murid yang lain dengan nada tidak percaya. " Bukankah dia sudah lama meninggalkan Sekte?"

"Tapi, aku melihatnya sendiri. Dia berjalan menuju aula utama tadi."Ujar murid 1.

"Kyaaa!" seru murid ketiga. "Aku sudah lama tidak melihat Senior, Dia pasti semakin tampan!"

Qiong Xiao terkejut mendengar percakapan para murid itu. Ia tidak menyangka bahwa Yu Zhang Shixiong, orang yang sangat ia kagumi, telah kembali ke Sekte.

"Yu Zhang Shixiong kembali?" gumam Qiong Xiao dalam hati.

Ia merasa sangat senang dan bersemangat mendengar berita itu.

Tanpa pikir panjang Ia kemudian bangkit dari bangku dan berlari menuju gerbang lapangan latihan.

"Qiong Xiao, kau mau ke mana!?" tanya Tetua Bai dengan nada Tegas melihat muridnya itu berlari.

"Saya ingin pergi ke masa depan, Tetua!," Teriak Qiong Xiao dengan semangat.

Tetua Bai menatap Qiong Xiao dengan tatapan kebingungan.

...

1
Marini Dewi
ditunggu revisi nya KK. semangat
Dewi Asuma
oh Thor kau buat teka teki apalagi bikin penasaran. lanjut Thor 💪💪
Marini Dewi
semangat terusss untuk author y.💪💪💪
Marini Dewi
cerita y sangat menarik dan untuk author y tetap semangat
Marini Dewi
terus apa yang akan terjadi selanjutnya, ku tunggu update mu Thor
Marini Dewi
update lagi y thor.🙏🙏🙏
Marini Dewi
karyamu Thor sangat bagus. update lagi y🙏🙏
Marini Dewi
makin seru cerita y, up lagi y thor
Marini Dewi
bikin penasaran Thor
Marini Dewi
wow, siapa tuh
lanjut thor
Marini Dewi
cerita y sangat menarik. sukses selalu untuk author y. ditunggu kelanjutannya
Syaifudin Fudin
Sederhana namun dalam
RinSantorski
Jalan cerita hebat.
·Laius Wytte🔮·
Thor, aku sudah tidak sabar untuk baca kelanjutannya!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!