NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:21
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 026: Rumah Tangga Baru

Tiga hari cukup untuk mengubah tanah rusak menjadi markas.

Pagi pertama, tembok luar masih berlubang.

Sore hari, Yuni sudah berdiri di atas tumpukan bata, menunjuk empat arah dengan suara kecil tetapi tajam.

"Tutup celah barat dulu. Jangan angkat semen ke gudang. Taruh di dekat pintu. Kalau Zombie datang dari utara, orang yang lari harus punya jalur mundur."

Dua pria yang baru bergabung saling pandang.

Mereka lebih tua, tubuh lebih besar, dan jelas tidak terbiasa diperintah gadis kecil.

Dara lewat di belakang mereka sambil membawa balok besi.

"Dengar dia."

Dua pria itu langsung bergerak.

Yuni menunduk sebentar.

"Terima kasih, Kak Dara."

"Jangan lembek. Kalau mereka lambat, teriak."

Yuni menarik napas, lalu menunjuk lagi.

"Kalian berdua! Jangan pakai papan itu. Lapuk. Ambil yang di dekat kolam."

Arga berdiri di balkon villa utama, menatap semua itu tanpa banyak bicara.

Di kehidupan sebelumnya, Yuni baru terlihat nilainya setelah tim sudah besar dan kacau. Ia kecil, pendiam, sering dianggap hanya anak yang bisa disuruh-suruh. Tapi sekali diberi wewenang, ia seperti paku yang ditancapkan ke tanah. Diam, tetapi membuat semua hal berdiri lurus.

Kali ini, Arga tidak menunggu.

Ia memberinya posisi sejak awal.

Hari kedua, gudang material selesai.

Hari ketiga, dapur umum mulai mengeluarkan asap sejak subuh.

Meilan mengatur pembagian bubur, air panas, garam, sambal, dan lauk kaleng dengan wajah tenang. Orang yang bekerja lebih berat mendapat tambahan. Orang yang pura-pura sakit langsung dicatat.

Di sisi lain halaman, Meiling duduk di meja kayu dengan tiga buku besar.

Setiap Kristal masuk ditulis.

Setiap paku keluar ditulis.

Setiap kantong beras yang dibuka harus punya nama penanggung jawab.

Masalah muncul menjelang siang.

Yuni datang membawa papan kecil penuh catatan.

"Aku butuh dua puluh lembar seng, empat gulung kawat, dan dua kotak paku sekarang."

Meiling tidak mengangkat kepala.

"Formulirnya belum lengkap."

"Kalau menunggu lengkap, sisi utara tetap terbuka."

"Kalau semua orang mengambil bahan dengan alasan darurat, stok akan hilang sebelum tembok berdiri."

Yuni menggigit bibir.

"Aku tidak mencuri."

"Saya tidak bilang kamu mencuri. Saya bilang sistem harus hidup."

Udara di dekat meja langsung kaku.

Beberapa pekerja berhenti memukul paku. Mereka tahu dua gadis itu sama-sama dekat dengan inti tim. Salah bicara bisa membuat mereka terseret.

Nadira datang sebelum suara meninggi.

"Yuni."

Yuni menoleh.

"Mulai sekarang kamu punya kartu bahan darurat. Maksimal tiga kali sehari. Untuk tembok, dapur, dan klinik. Kamu ambil dulu, Meiling audit setelahnya."

Meiling menatap Nadira.

"Ada batas jumlah?"

"Ada. Kamu yang menentukan angkanya. Kalau dia melewati batas, laporkan kepadaku."

Yuni kecil-kecil mengangguk.

"Baik."

Meiling menutup buku.

"Saya setuju."

Nadira melihat keduanya.

"Kalian bukan sedang berebut kuasa. Kalian sedang membangun rumah. Rumah yang tidak punya catatan akan bocor. Rumah yang terlalu banyak catatan akan runtuh sebelum selesai."

Arga mendengar kalimat itu dari kejauhan.

Ia hampir tersenyum.

Nadira selalu tahu cara membuat pisau dan timbangan berdiri di meja yang sama.

Sore hari ketiga, gerbang kecil di sisi selatan dibuka untuk penyewa luar.

Meiling memasang papan tarif di depan area dagang.

Satu lapak kecil: satu Kristal Tingkat 1 per hari.

Lapak dekat dapur: dua Kristal.

Tempat penyimpanan aman: biaya terpisah.

Tidak boleh membawa senjata panjang ke area dagang.

Tidak boleh mengganggu anggota Tim Harem Arga.

Tidak boleh berutang.

Aturan terakhir membuat beberapa orang tertawa getir, tetapi mereka tetap antre.

Di Kota Harapan, tempat yang punya tembok, dapur, air, dan penjaga bersenjata lebih berharga daripada emas lama.

Menjelang malam, sudah ada lima puluh tiga penyewa luar. Ada tukang jahit, penukar barang, penjual obat luka, dua orang yang membawa kompor minyak bekas, dan satu keluarga yang hanya menyewakan tenaga cuci pakaian.

Meiling menyerahkan laporan kepada Arga.

"Jika semuanya membayar penuh besok, pemasukan harian tiga puluh satu Kristal Tingkat 1. Setelah biaya penjagaan dan jatah dapur, bersih sekitar dua puluh empat."

"Naikkan setelah tiga hari."

"Saya sudah menyiapkan dua tarif baru."

Nadira meliriknya.

"Kamu bahkan belum melihat reaksi pasar."

"Karena itu saya menyiapkan tiga skenario."

Dara tertawa pendek.

"Aku tidak mau berdebat soal angka denganmu."

"Keputusan bagus," jawab Meiling datar.

Di bawah cahaya lampu Hi-Tech, halaman markas mulai terdengar seperti pasar kecil. Orang tawar-menawar dengan suara tertahan. Anak-anak duduk di dekat dapur umum, menunggu sisa kuah. Penjaga perempuan berdiri di tiap sudut, tangan di gagang senjata.

Arga berjalan melewati mereka.

Tatapan para penyewa langsung berubah.

Takut.

Hormat.

Serakah yang dipaksa tenggelam.

Ia tidak perlu berpidato. Di dunia seperti ini, orang hanya percaya pada dua hal: makanan dan kekuatan yang bisa menjaga makanan itu tetap berada di tangan pemiliknya.

Di dekat sumur lama, Meilan sedang berbicara dengan seorang perempuan muda berkerudung abu-abu.

Perempuan itu berdiri tenang, tetapi matanya terus membaca keadaan. Ia tidak seperti pengungsi biasa yang hanya melihat makanan. Ia melihat posisi penjaga, jalur keluar, ember air, dan orang sakit di dekat dapur.

Meilan melihat Arga datang.

"Bos, ini Wulan Maharani."

Arga berhenti.

Nama itu sudah lama ada dalam memorinya.

Di kehidupan sebelumnya, Wulan muncul terlambat. Saat itu banyak orang sudah mati hanya karena air kotor dan luka yang membusuk. Setelah ia naik tingkat, kemampuan Air miliknya berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih langka.

Penyembuhan.

Kemampuannya kelak bisa menarik orang dari tepi kematian.

Namun sekarang, Wulan masih Tingkat 2. Wajahnya sedikit pucat. Pakaiannya bersih tetapi lusuh. Di pinggangnya tergantung pisau kecil, lebih sering dipakai memotong kain perban daripada membunuh.

"Kemampuanmu," kata Arga.

Wulan tidak kaget dengan nada langsung itu.

Ia menunjuk ember di samping sumur.

"Air sumur ini berbau besi dan tanah busuk. Tidak layak minum."

Ia berjongkok, memasukkan kedua tangan ke dalam ember.

Permukaan air bergetar.

Riak bening menyebar dari telapak tangannya.

Bau busuk menghilang.

Endapan gelap turun ke dasar.

Dalam kurang dari sepuluh detik, air di atasnya menjadi jernih.

Meilan mengambil cangkir, mencium, lalu mencicipi sedikit.

Matanya melebar.

"Bersih."

Wulan menarik tangannya, napasnya agak berat.

"Dalam sehari, kalau tidak dipaksa bertempur, aku bisa memurnikan sekitar dua ton. Lebih dari itu bisa, tapi tubuhku akan gemetar."

Meiling yang ikut mendekat langsung menghitung.

"Dua ton berarti cukup untuk minum inti tim, dapur, dan sebagian pekerja. Mengurangi ketergantungan pada botol air otomatis."

Nadira memandang Arga.

Ia sudah tahu keputusan Arga bahkan sebelum Arga bicara.

"Mulai malam ini, kamu tinggal di villa inti," kata Arga.

Wulan terdiam.

Beberapa penyewa luar di sekitar sumur langsung menoleh.

Masuk villa inti berarti bukan anggota biasa.

Itu berarti perlindungan langsung.

Juga berarti tanggung jawab langsung.

Wulan bertanya hati-hati, "Karena air?"

"Karena air. Karena kamu Tingkat 2. Karena kamu tidak panik saat melihat senjata. Dan karena orang yang bisa menjaga air bisa menjaga nyawa."

Wulan menunduk.

"Aku tidak suka menjadi beban."

"Kalau begitu jangan."

Kalimat itu dingin, tetapi justru membuat bahu Wulan rileks.

"Baik, Bos Arga."

Kiara berdiri tidak jauh dari sana.

Sejak tadi ia diam.

Ia melihat Wulan. Lalu Meilan. Lalu Nadira yang berdiri terlalu dekat dengan Arga tanpa terlihat takut sedikit pun.

Dulu, dunia Kiara sempit.

Hanya kamar kos, kampus, Ratna, Rina, lapar, takut, dan Arga yang datang seperti pisau tajam di tengah kekacauan.

Sekarang dunia Arga semakin luas.

Setiap hari ada perempuan baru yang kuat, berguna, cantik, atau berani.

Dan semua mata itu, pada akhirnya, akan melihat ke arah yang sama.

Ke arah Arga.

Malam itu, makan bersama berlangsung di ruang tengah villa.

Meilan membawa semangkuk sup panas untuk Arga. Lantai dekat meja baru saja diperbaiki, satu papan belum benar-benar rata. Kakinya tersangkut. Sup hampir tumpah.

Arga menangkap pergelangan tangannya.

Meilan terjatuh ke arah dadanya.

Hanya satu detik.

Tidak ada yang berlebihan.

Tetapi suara sendok Kiara jatuh ke meja terdengar tajam.

Ruang makan mendadak sunyi.

Kiara berdiri.

"Aku sudah kenyang."

Ia berjalan keluar.

Dara mengangkat alis.

Meilan panik.

"Aku tidak sengaja."

Arga melepaskan tangan Meilan.

"Aku tahu."

Ia menyusul Kiara.

Kiara berhenti di sudut tembok utara, tempat cahaya bulan jatuh di atas beton baru. Dari luar, suara Zombie terdengar jauh, seperti napas berat yang belum menemukan pintu.

Arga berdiri di sampingnya.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Akhirnya Kiara berkata, "Aku tahu di dunia seperti ini, pria kuat akan dikelilingi banyak perempuan."

Ia menggenggam tepi tembok sampai buku jarinya memucat.

"Aku juga tahu mereka bukan perempuan bodoh. Nadira pintar. Dara kuat. Meilan baik. Meiling berguna. Yuni membuat seluruh markas bergerak. Wulan bisa menyelamatkan air kita."

Ia tertawa pelan, pahit.

"Aku tahu semuanya. Tapi aku tetap sakit hati."

Arga tidak langsung menjawab.

Kiara menoleh.

"Kalau kamu mau bilang aku kekanak-kanakan, bilang saja."

"Tidak."

"Lalu?"

Arga menatap kegelapan di luar tembok.

"Aku tidak akan meninggalkanmu. Tapi aku juga tidak akan berbohong bahwa kamu satu-satunya."

Kiara terdiam.

Jawaban itu terdengar dingin, bahkan agak kejam.

Kiara tidak bisa marah dengan cara lama.

Arga bisa saja berbohong. Bisa saja berkata semua perempuan itu hanya alat. Bisa saja membuatnya tenang malam ini, lalu menghancurkannya perlahan di hari lain.

Ia tidak melakukannya.

Kiara menunduk.

"Aku tidak suka."

"Aku tahu."

"Aku mungkin akan tetap cemburu."

"Wajar."

"Aku mungkin akan marah lagi."

"Kalau itu membuatmu tetap hidup, marahlah."

Kiara menatapnya lama.

Angin membawa rambutnya menempel ke pipi. Di bawah cahaya bulan, mata yang dulu penuh ketakutan di jendela UNDIP kini jauh lebih tajam.

"Aku lebih dulu berdiri di sisimu," katanya.

"Ya."

"Jangan buat aku merasa seperti orang yang bisa diganti."

"Tidak akan."

Kiara menarik napas panjang.

Ia tidak tersenyum. Tapi bahunya turun, seolah satu simpul di dalam dadanya akhirnya kendur.

"Aku tidak menerima karena aku tidak sakit hati lagi."

"Aku tahu."

"Aku menerima karena kamu jujur."

Arga mengangguk.

Kiara mendekat, menempelkan dahinya sebentar ke bahu Arga.

"Kalau ada yang mengkhianatimu, aku tetap yang pertama membunuhnya."

"Itu sebabnya kamu Kiara."

Di balik sudut tembok, Nadira berdiri diam beberapa langkah jauhnya. Ia tidak sengaja mendengar semuanya, atau mungkin ia memang sengaja tidak segera pergi.

Ketika Kiara kembali ke ruang makan lebih dulu, Nadira berjalan mendekat.

"Pembicaraan sulit?"

"Selesai."

"Untuk sementara."

Arga meliriknya.

Nadira tidak takut.

"Alasanmu menerima Wulan lebih panjang daripada laporan soal air, kan."

Arga tidak menjawab.

Nadira menghela napas.

"Setidaknya seleramu selalu bagus."

"Itu kritik?"

"Itu laporan risiko."

"Risikonya?"

"Jika semua perempuan kuat di kota ini akhirnya berkumpul di rumahmu, musuh akan membencimu dua kali lipat. Pertama karena sumber daya. Kedua karena iri."

"Biarkan mereka iri."

Nadira tersenyum tipis.

"Jawaban yang sangat Anda."

Lewat tengah malam, markas akhirnya tenang.

Dapur padam.

Gudang terkunci.

Meiling menyimpan buku laporan di kotak besi.

Yuni tidur di kursi dekat peta tembok karena menolak meninggalkan pekerjaan sebelum titik penjaga malam selesai ditandai.

Wulan duduk di ruang kecil villa inti, memurnikan satu tong terakhir untuk persediaan pagi. Meilan menaruh selimut di bahunya tanpa banyak kata.

Di atap villa utama, Arga berdiri sendirian.

Kota Harapan di selatan tampak seperti kumpulan bara kecil. Lemah, tetapi masih menyala.

Utara gelap.

Terlalu gelap.

Arga menutup mata.

Telepati menyebar keluar melewati tembok, melewati parit, melewati reruntuhan rumah yang setengah tenggelam lumpur.

Pikiran Zombie datang seperti bisikan pecah.

Lapar.

Darah.

Panas.

Hidup.

Biasanya suara itu tersebar, saling menabrak tanpa arah.

Malam ini berbeda.

Gerak mereka punya arah.

Mereka bergerak ke satu garis.

Lebih padat.

Lebih kuat.

Di antara ratusan pikiran Tingkat 1, ada beberapa tekanan yang lebih berat.

Tingkat 2.

Dan sesuatu yang lebih dalam, seperti batu besar di dasar sungai hitam.

Arga membuka mata.

Di kejauhan, di balik reruntuhan utara, titik-titik merah muncul satu per satu.

Puluhan.

Ratusan.

Lalu terlalu banyak untuk dihitung.

Angin malam membawa suara geraman panjang.

Arga menatapnya tanpa berkedip.

"Zombie ini..."

Jari-jarinya mengencang di pagar atap.

"Sedang berkumpul."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!