Spin off Hati Untuk Arya
.
.
Ari putra wongso, mencintai seorang perempuan bernama Karina, namun tanpa sepengetahuannya sang kekasih mencintai sahabatnya sendiri. Ari selalu merasa Karina tak mencintainya,namun ia memilih bertahan dan berharap Karina akan mencintainya. Namun di penghujung jalannya ia menemukan sebuah jalan buntu. Rasa percaya dirinya runtuh karena takut tak bisa membahagiakan orang yang ia cintai.
Sementara Airil Karina Yatri menantang Ari untuk melangkah ke jalan yang serius, ia berjanji akan mencintai Ari setelah mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Namun Ari gugup untuk melangkah, tak yakin cinta bisa tumbuh semudah Karina mengatakannya.
Kehadiran seorang janda bernama Vanessa aulia putri memberi warna berbeda bagi laki-laki yang tengah dilanda rasa kesepian karena mengakhiri hubungannya dengan Karina. Kedewasaan Vanessa membuat Ari begitu nyaman dengannya.
Siapakah yang akan menjadi penghujung hati Ari? sang kekasih Karina atau sang janda Vanessa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catatan kecil di sudut buku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Karina menatap kepergian Ari dengan perasaan sakit di hatinya, dadanya terasa sesak seketika. Jantungnya semakin berdetak cepat, perasaannya teraduk-aduk tak menentu, bahkan pikirannya terasa kaku, tak sanggup mencerna peristiwa apa terjadi barusan.
dr. Rangga masuk ke dalam ruangan Karina dan segera menutup pintu ruangan itu. Ia menatap wajah Karina yang terlihat pias dan masih terpaku di posisinya berdiri. “Rin,” gumam dr. Rangga yang membuat Karina tersadar dengan keadaan.
“ada perlu apa, mas?” tanya Karina yang memilih kembali duduk di kursinya.
“aku mau ngobrol aja sama kamu, Rin” ucap dr. Rangga yang juga duduk di kursi yang ada di depan meja Karina.
Karina mengangguk pelan, ia mengambil selembar kertas dari laci mejanya dan kemudian membacanya. “kamu beda, Rin,” ucap dr. Rangga.
“beda, mas?” Karina melirik ke arah dr. Rangga dengan alisnya terangkat sebelah.
“kamu boleh nolak aku, Rin. Tapi aku akan buktikan sama kamu kalau aku pantas buat kamu, Rin,” ucap dr. Rangga dengan sungguh-sungguh.
Karina menopang dahinya dengan tangan kirinya, ia menunduk melihat kertas yang ada di atas meja kerjanya, sekarang ia benar-benar risih dengan sikap dr. Rangga. “aku jujur sama kamu, mas, aku nggak bakalan bisa memberikan perasaanku sama kamu, mas” ucap Karina mencoba membuat dr. Rangga menyerah dari tujuannya.
dr. Rangga tersenyum sinis, “kita bisa lihat nanti, Rin, aku akan tunjukan kepadamu seperti apa keseriusanku,” jawab dr. Rangga. Selama ini ia tidak pernah melihat Karina dekat sama laki-laki manapun, membuatnya percaya diri bisa mendapatkan hati Karina. Kesempatannya terasa jauh lebih besar.
Karina diam tak menjawab lagi, ia hanya menanggapi pembicaraan dr. Rangga selanjutnya hanya seadanya saja. Tak ingin menanggapi lebih. ahh’ dalam keadaan seperti itu, ia ingat lagi sama Ari. Jika Ari, pasti sudah sadar dengan ketidak sukaannya, lalu Ari akan pergi meninggalkannya sendiri, sementara Rangga terus asyik bicara tentang banyak hal di rumah sakit tempat mereka bekerja itu.
Sementara Ari telah melajukan mobilnya dengan cepat, gemuruh hatinya kembali terasa membebani pikirannya. Ingin sekali ia menemui Vanessa dan melepas rasa kalut di hatinya. Tapi jelas itu bukan pilihan, Vanessa akan menjauh darinya jika tahu ia masih menyimpan perasaan itu kepada Karina. Ari memukul stir mobilnya dengan frustasi, ia meringis, menahan sakit di hatinya.
Ari mengeluarkan ponselnya, ia segera menghubungi Arya. Meminta sahabatnya menemaninya melepas rasa kalut di hatinya. Saat panggilannya terhubung, Ari langsung bicara,
“gue mau ke bukit, gue tunggu lo di sana” ucap Ari, ia kemudian mematikannya tanpa mendengar jawaban Arya.
Membuat Arya menatap bingung ponselnya. ‘nih, anak kenapa lagi sih?’ batin Arya yang tak habis pikir kepada Ari. Dari dulu ia mengenal Ari, ia tak pernah melihat Ari sampai seperti itu.
Arya melihat jam di digital di meja kerjanya, masih terlalu siang untuk meninggalkan kantor megah milik Adinata group. Tapi persahabatan, jauh lebih besar nilainya ketimbang semua bisnis Adinata group yang semakin berkembang pesat. Sebuah prinsip yang selalu mereka pegang tanpa perlu mereka ucapkan, persahabatan mereka, bernilai besar dari bisnis-bisnis mereka. Arya memindahkan semua dokumen di mejanya ke dalam tas kerjanya. Ia kemudian segera meninggalkan meja kerjanya.
Saat ia hendak membuka pintu ruangannya, pintu itu sudah terlebih dahulu terbuka, Hilman masuk ke dalam dengan membawa sebuah map berwarna kuning. “mau kemana, tuan?” tanya Hilman melihat Arya yang sepertinya akan meninggalkan kantor.
“aku ada perlu, man, tolong kamu handle jika nanti ada tamu yang menemui saya,” ucap Arya yang terlihat tergesa-gesa.
“tapi ini kan baru selesai jam istirahat, tuan, kenapa perginya buru-buru seperti ini?” tanya Hilman yang heran melihat raut wajah kekhawatiran Arya.
“kamu urus aja, Man, aku buru-buru,” jawab Arya, ia kemudian keluar dari ruangannya, meninggalkan Hilman yang hanya bisa melihat bingung ke arah dokumennya yang ia pegang. Sementara Arya sudah berlalu pergi setelah menitipkan beberapa pekerjaan kepada Rita yang biasa duduk manis menyelesaikan pekerjaannya di depan ruangan Arya.
Dan disanalah Arya sekarang, ia berdiri melihat punggung Ari yang duduk di atas rerumputan sembari melihat pemandagan ibukota. Tempat yang biasa mereka gunakan saat ada masalah besar dan mereka tidak sempat ke gunung untuk menenangkan pikiran. Arya menarik nafas berat, ia sudah yakin, Karina adalah masalahnya. Tak ada yang bisa membuat Ari sampai seperti itu selain masalah Karina.
Arya melangakh pelan, ia mengusap bahu Ari dan duduk disamping sahabatnya itu. “Karina lagi?” tanya Arya dengan nada pelan.
“gue benar-benar benci sama dia, Arya” gumam Ari dengan emosional.
“lo nggak benci sama Karina, Ri, buktinya lo sampai kayak gini mikirin dia,” jawab Arya dengan pelan. Ia ikut melihat ke arah pemandangan kota, kabut seperti menyelimuti kota paling besar di Negara ini, sedikit menganggu pemandangan indah mereka melihat keindahan ibu kota.
“dia benar-benar nggak punya perasaan, dia udah ngehancurin gue kayak gini, dan sekarang dia dengan mudahnya menuruti keinginan ayahnya untuk melaksanakan projek klinik itu sama gue, gue heran, apa mau dia sebenarnya, apa dia benar-benar melihat gue hancur, sehancur-hancurnya,” ucap Ari dengan geram.
“lo hanya emosi Ri, sekarang coba lo pikirin, jika Karina datang kepada lo dan dia minta balikan, lo terima nggak?” tanya Arya menguji perasaan Ari.
“dia udah ngusir gue dari hidupnya, gue nggak bakalan mau balikan lagi sama dia, sudah cukup gue sebagai pengemis cinta di depan dia,”
“dia bahkan terang-terang menjalin hubungan dengan orang lain tanpa canggung di depan gue, dia benar-benar tidak punya hati, Arya, dulu sama gue kita pacaran kayak selingkuhan, hanya orang-orang terdekat kita saja yang tahu kita pacaran, yang lain Cuma ngira kami rekan kerja,” ucap Ari yang jelas menyiratkan kekecewaan hatinya.
Arya melepas nafas panjang, ia kemudian merebahkan dirinya di atas rerumputan untuk melepas lelah. Ia menjadikan tangan kirinya sebagai bantal, matanya menerawang jauh le langit biru untuk, melihat keindahan awan tipis yang menyelimuti langit.
“ternyata kita sama, Ri, sama-sama nggak paham dengan perempuan, mungkin lo salah paham sama Karina, lo tahu sendiri Karina itu perempuan seperti apa,” jelas Arya mencoba menenangkan perasaan Ari yang terlihat menggeb-gebu melalui dari sorot matanya
Ari mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, ia kemudian ikut merebahkan dirinya seperti Arya. Mereka berdua sama-sama menikmatinya keindahan langit biru.
"Gue yang sudah terlanjur kecewa sama Karina, dan sekarang dia memilih cowok lain, gue hanya sakit hati Arya, karena nggak pernah diperlakukan Karina seperti itu dulu," ucap Ari dengan pelan.
"mungkin memang laki-laki itu yang diinginkan Karian, gue yang salah menilainya, dia bersikap seperti itu kepada gue karena ingin gue segera pergi dari hidupnya," ucap Ari dengan nada rendah.
"Lo kayak gini karena Lo nggak mengakhirinya dengan baik-baik sama Karina, Ri. Coba lo ketemu sama dia, berdua aja di ruangannya, truss Lo selesain masalah kalian ini dengan baik-baik, Lo pasti lega dan bakalan ikhlas, Ri," Arya memberi saran kepada Ari.
apalagi Karina yang katanya didikan agama nya lebih dari Ari
dan itu sangat jarang...