NovelToon NovelToon
Berpijak Di Antara Batu Karang

Berpijak Di Antara Batu Karang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:250
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

meylani yang sedang putus cinta dengan Andrian membuat nya mengambil keputusan untuk menerima tawaran dipindahkan ke Surabaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakkan Di Atas Awan

Langit Semarang sore itu sedang dalam mood yang kelabu dan murung. Awan-awan tebal berwarna abu-abu timah menggantung rendah, seolah enggan melepaskan sisa-sisa cahaya matahari jingga yang perlahan-lahan tenggelam di ufuk barat, tertelan oleh siluet gedung-gedung pencakar langit dan bukit-bukit hijau yang mengelilingi kota lumpia. Angin sepoi-sepoi dari arah Gunung Ungaran membawa hawa dingin khas dataran tinggi, menyelinap masuk melalui celah-celah kayu jati tua yang kokoh membentuk dinding-dinding Joglo Langit. Aroma kayu lapuk yang bercampur dengan wangi kopi robusta panggang menciptakan sebuah nostalgia yang manis namun menusuk.

Tempat ini, Joglo Langit, bukan sekadar kafe dengan pemandangan kota yang memukau dari ketinggian. Bagi Meylani Nur Haliza, tempat ini adalah arkade memori. Setiap sudutnya menyimpan jejak tawa, setiap meja pernah menjadi saksi bisu dari janji-janji manis, dan setiap hembusan angin di terasnya pernah membelai wajah mereka saat mereka merajut rencana masa depan. Ini adalah tempat favorit mereka. Tempat di mana Andrian Alexander pertama kali menyatakan cinta, tempat di mana mereka merayakan ulang tahun hubungan, dan tempat di mana mereka berjanji untuk saling menjaga hingga maut memisahkan.

Namun sore ini, udara di antara mereka terasa berbeda. Ada keheningan yang berat, lebih menusuk daripada dinginnya angin malam yang mulai turun menggantikan hangatnya senja. Keheningan itu bukan ketenangan, melainkan kesenjangan yang menganga lebar, diisi oleh hal-hal yang tidak terucap dan perasaan yang tersimpan rapat.

Meylani duduk di kursi rotan anyaman, postur tubuhnya sedikit membungkuk. Kedua tangannya melingkari cangkir keramik berisi kopi latte yang sudah hampir habis dan dingin. Uap panasnya telah lama menghilang, sama seperti kehangatan yang dulu selalu ia rasakan saat berada di dekat Andrian. Matanya, yang biasanya berbinar cerah terbiasa menyala saat mempresentasikan target penjualan atau strategi pemasaran kini tampak redup. Ia menatap pria di hadapannya dengan tatapan yang penuh tanya, sekaligus takut akan jawabannya.

Andrian Alexander, lelaki yang selama tiga tahun terakhir menjadi sandaran hatinya, kini tampak asing. Ia duduk bersandar santai, namun matanya terpaku pada layar ponsel pintar di tangannya. Jempolnya bergerak cepat, mengetik sesuatu dengan fokus yang intens. Wajahnya datar, tanpa sedikit pun ekspresi yang mengarah pada Meylani. Di saku kemeja putihnya, terselip kartu identitas pegawai Kejaksaan Negeri Semarang, sebuah simbol kewibawaan dan kesibukan yang belakangan ini seolah menjadi tembok pemisah di antara mereka. Ia seolah-olah berada di dimensi lain, sebuah dunia dakwaan, bukti perkara, dan tenggat waktu hukum yang jauh lebih menarik daripada wanita yang duduk tepat di depannya.

Dada Meylani sesak. Rasa tidak nyaman yang menghantuinya beberapa minggu terakhir akhirnya memaksa bibirnya untuk berbicara. Ia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Ia tidak bisa lagi menelan kecewa itu sendirian.

"Andrian," panggil Meylani pelan. Suaranya bergetar tipis, nyaris tenggelam oleh denting sendok teh dari meja sebelah dan alunan musik jazz instrumental yang dimainkan lembut dari speaker gantung.

Andrian tidak langsung menjawab. Ia masih asyik dengan layarnya, mungkin sedang membaca revisi tuntutan atau koordinasi dengan rekan satu timnya. Meylani menunggu lima detik, lalu sepuluh detik. Kesabaran yang menipis itu akhirnya membuatnya memanggil lagi, sedikit lebih tegas. "Andrian."

Barulah Andrian mendongak. Ia meletakkan ponselnya di atas meja kayu dengan bunyi tak yang tajam, sebuah suara kecil yang terdengar keras di telinga Meylani. Ia mengusap wajahnya dengan tangan, lalu menatap Meylani dengan pandangan yang lelah dan agak kesal. Garis-garis halus di dahinya terlihat lebih dalam dari biasanya, tanda dari tekanan pekerjaan sebagai jaksa muda yang sedang menangani kasus-kasus kompleks.

"Ya, Mey? Ada apa?" Suaranya terdengar datar, jauh dari kehangatan dan kelembutan yang biasa Meylani kenal. Nada bicaranya singkat, pragmatis, seolah-olah waktu Meylani adalah gangguan bagi jadwalnya yang padat.

Meylani menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberanian. Tenggorokannya kering. "Kenapa akhir-akhir ini kamu berubah? Kamu... kamu sepertinya tidak peduli lagi padaku. Kita jarang bertemu, kalau bertemu kamu sibuk dengan berkas atau ponselmu, dan ketika aku mencoba bicara, kamu selalu mengalihkan pembicaraan ke soal kantor."

Andrian menghela napas panjang, sebuah desahan kelelahan yang berlebihan. Ia menyandarkan punggungnya kembali ke kursi, menatap Meylani dengan pandangan yang sulit dibaca. Ada jarak di matanya, sebuah tembok tak kasat mata yang tiba-tiba muncul di antara mereka.

"Aku tidak berubah, Mey. Aku hanya sibuk. Kamu tahu kan, kasus korupsi dana desa yang sedang aku tangani sedang dalam tahap kritis. Penyidikan tambahan, permintaan keterangan saksi yang bertele-tele, dan atasan menuntut kelengkapan alat bukti sebelum sidang. Aku tidak punya banyak waktu untuk hal-hal lain. Aku lelah, Meylani. Sangat lelah secara mental."

"Hal-hal lain?" Meylani mengulang kata-kata itu, rasanya seperti ditampar. "Hubungan kita adalah 'hal lain' bagimu sekarang? Tiga tahun kita bersama, Andri. Tiga tahun! Apakah cintaku hanya 'hal lain' yang bisa kamu sisihkan saat kamu merasa tertekan dengan dakwaanmu?"

Andrian menghindari tatapan mata Meylani. Ia menoleh ke arah jendela kaca besar, memandang kerlap-kerlip lampu kota Semarang yang mulai menyala satu per satu, seperti bintang-bintang buatan yang kalah terang dibandingkan bintang-bintang harapan yang dulu mereka tanam bersama.

"Bukan berarti aku tidak menghargainya, Mey. Tapi realitanya, pekerjaanku menuntut fokus total. Satu kesalahan kecil dalam analisis hukum bisa menggagalkan seluruh proses penegakan keadilan. Dan jujur, tekanan dari hubungan kita... kadang terasa seperti beban tambahan yang membuatku semakin berat. Aku butuh ketenangan, bukan pertanyaan-pertanyaan tentang perasaan."

Kata-kata itu menghujam dada Meylani. Beban tambahan. Jadi, cintanya, perhatiannya, usahanya untuk memahami kesibukan Andrian yang sering pulang larut malam karena lembur di kejaksaan, semua itu dianggap sebagai beban? Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia menahan kuat-kuat. Ia tidak ingin menangis. Belum saatnya.

Meylani memberanikan diri. Ia ingin memperjuangkan apa yang mereka miliki. Ia ingat janji-janji manis di bawah langit yang sama, tentang pernikahan sederhana di kampung halaman, tentang rumah kecil dengan taman bunga mawar, tentang anak-anak yang akan berlarian di halaman. Ia berharap Andrian masih memiliki niat yang sama.

"Andri, dengarkan aku," kata Meylani, suaranya dipenuhi harapan yang rapuh namun tulus. Ia meraih tangan Andrian yang tergeletak di meja, namun Andrian menarik tangannya dengan halus namun tegas. Meylani menarik kembali tangannya, merasakan dinginnya penolakan itu.

"Kalau memang sibuk, kita bisa cari solusi," lanjut Meylani, matanya menatap lurus ke mata Andrian, mencari sebercah kasih sayang di sana. "Aku juga sibuk dengan target marketing bulanan, klien yang rewel, dan presentasi yang harus disiapkan. Tapi aku selalu berusaha meluangkan waktu untukmu. Kita bisa mengatur waktu. Kita bisa membuat jadwal khusus untuk 'kita'. Aku tidak minta kamu meninggalkan pekerjaanmul, aku tahu integritas dan karirmu sebagai jaksa itu penting. Aku hanya minta kamu tetap ada di sisiku, secara mental dan emosional. Bukankah itu tujuan awal kita? Bukankah kamu yang mengatakan bahwa aku adalah tempatmu pulang setelah seharian bertarung di pengadilan?"

Hening.

Detik-detik berlalu seperti jam pasir yang tersumbat. Suara musik jazz berganti menjadi lagu yang lebih melankolis. Meylani menunggu. Ia menunggu Andrian untuk mengangguk, untuk memegang tangannya, untuk mengatakan bahwa ia juga menginginkan hal yang sama.

Namun, Andrian justru tertawa kecil. Tawa yang kering, tanpa humor, penuh dengan kepasrahan yang dingin.

Ia kembali menatap Meylani, kali ini dengan ketegasan yang mengerikan. Tatapannya tajam, membedah harapan Meylani satu per satu, layaknya ia membedah kelemahan argumen terdakwa di ruang sidang.

"Lan, dengarkan aku baik-baik. Jangan memaksakan sesuatu yang sudah retak. Kalau memang hubungan kita ini sudah terlalu berat untuk dipertahankan, kalau aku sudah tidak sanggup lagi menjalani dinamika ini, kalau cintaku sudah tidak sebesar dulu... lebih baik kita berpisah saja."

Dunia Meylani seolah berhenti berputar.

Kalimat itu menghantam dadanya lebih keras daripada ombak yang memecah karang di pantai selatan. Berpisah? Kata yang selama ini ia takutkan, kata yang ia doakan agar tidak pernah terucap dari mulut Andrian, kini dilontarkan dengan begitu mudahnya, seolah-olah memutuskan tali pengikat tiga tahun cinta mereka hanyalah seperti menutup sebuah berkas perkara yang selesai.

Rasa sakit itu menjalar dari dada ke seluruh tubuhnya. Tangannya gemetar. Napasnya tercekat. Ia merasa seperti terjatuh dari ketinggian Joglo Langit ini, jatuh bebas tanpa parasut, menuju jurang kekecewaan yang dalam dan gelap.

Meylani menatap Andrian, mencari tanda-tanda bahwa ini hanyalah lelucon buruk, atau ujian, atau kemarahan sesaat akibat stres kerja. Tapi wajah Andrian tenang. Terlalu tenang. Tidak ada penyesalan, tidak ada keraguan. Hanya ada kelegaan seseorang yang baru saja melepaskan beban berat dari pundaknya.

Dalam hati, Meylani masih berharap meski hanya secuil bahwa Andrian akan berubah pikiran. Bahwa Andrian akan melihat air mata yang tertahan di matanya dan menyadari betapa salahnya keputusan ini.

Tapi Andrian hanya mengambil ponselnya kembali, membuka aplikasi pesannya, seolah-olah percakapan penting yang baru saja mengakhiri hidup asmara mereka hanyalah obrolan basa-basi tentang cuaca.

Meylani menutup matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam yang menyakitkan. Ia harus kuat. Ia tidak boleh hancur di sini. Tidak di tempat favorit mereka. Tidak di hadapan pria yang sudah menyerah pada cinta mereka. Jika ia menangis sekarang, ia akan terlihat lemah, dan ia tidak ingin memberikan Andrian kepuasan melihatnya hancur.

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Meylani membuka matanya. Ia menatap Andrian dengan pandangan yang kosong, namun stabil. Ia menahan kecewa yang begitu dalam, menguburnya jauh-jauh di dasar hati, mengunci rapat-rapat pintu hatinya yang baru saja dibanting tutup.

"Baiklah," jawab Meylani lirih. Suaranya terdengar aneh di telinganya sendiri, datar dan tanpa emosi, sebuah mekanisme pertahanan diri yang aktif secara otomatis. "Jika itu keputusanmu, Andrian. Jika kamu merasa bahwa berpisah adalah solusi terbaik untuk kelelahanmu... aku terima."

Andrian tampak sedikit terkejut dengan respons Meylani yang tenang. Mungkin ia mengharapkan tangisan, teriakan, atau permohonan. Tapi ia hanya mendapatkan penerimaan yang dingin. Andrian mengangguk singkat, seolah-olah putusan hakim telah dijatuhkan dan perkara selesai.

"Terima kasih sudah mengerti, Mey. Aku harap kamu bisa menemukan kebahagiaan yang lebih cocok untukmu."

Kalimat itu terdengar seperti kutukan yang dibungkus dalam kata-kata sopan. Kebahagiaan yang lebih cocok. Seolah-olah kebahagiaan Meylani tidak pernah bisa ditemukan bersamanya.

Meylani tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit yang tidak mencapai matanya. Senyuman topeng yang ia pakai untuk menyembunyikan luka yang menganga. "Sama-sama, Andrian. Semoga kariermu cemerlang dan hatimu menemukan ketenangan yang kamu cari."

Meylani berdiri. Kakinya terasa lemas, namun ia memaksakan dirinya untuk tegak. Ia mengambil tas kerjanya yang berisi laptop dan proposal marketing yang belum sempat ia diskusikan karena suasana yang buruk ini. Ia membayar bagian kopinya sendiri simbol terakhir dari kemandirian yang kini harus ia jalani sendirian dan berbalik pergi.

Ia tidak menoleh ke belakang. Ia tidak ingin melihat Andrian yang mungkin sudah kembali asyik dengan dunianya, memeriksa email dari rekan-rekannya di kejaksaan. Ia berjalan keluar dari Joglo Langit, melewati lorong kayu yang dulu sering mereka lalui sambil bergandengan tangan. Kini, langkahnya sendirian, gema sepatunya terdengar hampa di lantai kayu.

Di luar, hujan mulai turun rintik-rintik, membasahi batu-batu karang di tepi tebing Joglo Langit. Air hujan itu dingin, menyegarkan, namun juga menyadarkan. Meylani berdiri sejenak di teras, membiarkan butiran hujan menyentuh wajahnya, bercampur dengan air mata yang akhirnya lolos juga dari kendalinya.

Ia menatap kota Semarang yang kabur oleh hujan dan air mata. Lampu-lampu kota berkedip-kedip, indah dari jauh, namun dingin jika didekati. Meylani sadar bahwa ia kini harus belajar berdiri sendiri. Ia harus belajar berpijak di antara batu-batu karang kehidupan yang tajam dan licin, tanpa tangan Andrian yang dulu selalu siap menopangnya.

Ini bukan akhir dari hidupnya, meskipun rasanya seperti kiamat kecil. Ini adalah awal dari perjalanan baru. Perjalanan untuk menemukan siapa Meylani Nur Haliza tanpa embel-embel "kekasih Andrian Alexander". Perjalanan untuk menyembuhkan luka, membangun kembali harga diri, dan belajar bahwa cinta seharusnya tidak pernah menjadi beban, melainkan sayap.

Meylani menarik napas dalam-dalam, menghirup udara hujan yang segar. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan, menegakkan bahu, dan melangkah turun dari tangga Joglo Langit. Langkahnya mungkin masih goyah, hatinya masih hancur, tetapi tekadnya mulai terbentuk. Ia akan bertahan. Ia akan bangkit.

Hujan semakin deras, mencuci jejak-jejak masa lalu, mempersiapkan tanah untuk benih-benih kekuatan baru yang akan tumbuh di hati Meylani.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!