{Tokoh Utama di ambil dari tokoh figuran Novel LONACA;
Bunga Ariella ~ Robin Chandra}
♡♡♡
"Daratan sudah ku lewati, Lautan sudah ku arungi.
Banyak Bunga telah ku dekati,
hanya ada satu bunga yang harumnya menusuk sampai ke hati.
Takdir membuat aku dan dia hidup bersama hingga kami berpisah. Namun, takdir pula yang mempertemukan kami kembali di lain waktu.
Saat kami bertemu, entah mengapa terselip rasa rindu hingga berubah menjadi cinta yang luar biasa, semua berubah, dadaku terasa bergetar hebat, aku salah tingkah! namun sayang dia tak mencintaiku."
♡♡♡
Dilarang keras Plagiat karya sarahmai.
Jadilah seorang penulis sejati bukan seorang penjiplak!
♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
Selamat datang Raden. Sambut hangat Bunga sudah terlihat mandi. Ia lebih dulu sampai daripada Robin. Pria itu mengalami keterlambatan menuju rumahnya.
"Besok cuci mobilku!" Pinta Robin berwajah datar sambil membuka jasnya dan melempar kecil ke arah Bunga, dengan sigap wanita itu menangkapnya.
"Baik Raden," jawab Bunga mengangguk kesal.😏
...
...
Setelah makan malam serta aktifitas lainnya. Keesokan pagi, Bunga membersihkan mobil Robin.
"Kira-kira ini berapa M yah harganya, keren banget!" Gumam Bunga, sambil berdiri memandangi mobil.
Siapa saja tentu sangat silau melihat benda mewah.
"Ehem, sudah siap?" Kata Robin berdiri dengan rapi memandang Bunga dalam kondisi basah.
"Sudah Raden!" Jawab Bunga masih memperhatikan penampilan Robin yang cukup memukai dan harum semerbak.
Tentu wanita manapun akan terpikat kepadanya. Harus di akui Bunga suka melihat style Robin hingga ia bisa melupakan Hery dan sempat jatuh cinta kepada lelaki bangsawan itu.
.....
.....
Tiba-tiba ponsel pria itu berdering.
"Halo sayang! Kamu sudah nungguin! Sabar yah!" Ucap Robin dengan gayanya yang sedang menelpon wanita-wanita selingan jalan bersama Robin, untuk membuat Bunga lebih iri.
Bunga langsung pergi meninggalkan Robin...
....
....
Hari demi hari terlalui...
Bunga juga sering menelpon ibu dan kakaknya. Menanya Kan kabar mereka, sebagai pelepas rindu.
Sehabis bekerja, ia menghabiskan waktunya di kamar dengan belajar dari youtuber cara merajut syal, cardigan, apa saja yang ia inginkan. Untuk menemani hari-hari sepinya.
....
....
"Bungaaa!" Panggil Robin
" Ia Den!"
"Aku mau nonton, temani!" Pinta Robin terlihat manja.
Robin juga anak paling kecil dari 3 bersaudara yaitu keduanya telah menikah.
Robin dan Bunga sama-sama anak paling kecil.
"Iyah" jawab Bunga bangkit dengan cepat membawa kerajinan tangan ke ruang tv.
Robin hanya memperhatikan Bunga, membawa peralatan rajutannya.
...
Bunga berubah menjadi sosok yang semakin pendiam dan mengurung diri di dalam kamar sehabis bekerja. Ia tak banyak bicara, selain seperlunya saja, dan itu konsisten sudah berhari-hari ia lakukan. Sampai-sampai Robin suka memanggil dan menyuruh hal-hal yang tidak penting.
"Biasanya ia masih mau berbicara atau sedikit kepo bertanya. Mengapa tiba-tiba sangat pendiam!" Gumam Robin melirik kecil Bunga yang asyik dengan kerajinan tangannya.
...
Suasana hening yang ada hanya suara televisi.
Robin menonton dengan wajah garingnya sementara Bunga asyik dengan rajutannya yang semakin mahir.
...
...
"Lagi Buat apa?" Tanya Robin memecah suasana.
"Merajut baju hangat!" Jawab singkat Bunga.
"Mau di jual atau di pakai!" Tanya Robin.
"Untuk saat ini belum, hanya mencari skill, siapa tau nanti aku tidak mendapat pekerjaan!"
"Ouh!"
Bunga mencoba mencari bakat-bakat diri dari hal-hal yang ia sukai, seperti kerajinan tangan.
...
...
"Den! Hari ini jadwal menelpon sang calon Tunangan, jangan sampai lupa nanti dia di ambil orang!" ucap Bunga.
"Hal itu tidak perlu kamu ingatkan, tidak hanya dia, wanita lain juga banyak yang menelpon ku!" Jawab Robin dengan sombongnya.
"Hehe...Benar sekali Raden, pria seperti Raden langka sekali di cari, kaya raya, cakep, baik hati, enggak pelit, sempurnalah! Tentu banyak wanita yang menelpon!" Ucap Bunga sambil cengengesan.
"Heh!" Tawa kecil Robin mendengar pujian manis dari Bunga.
Bunga kembali serius dengan rajutannya.
"Pria kaya mana lagi yang akan menjadi target kamu setelah aku!" Tanya Robin yang sangat menjengkelkan Bunga.
Bunga sempat terdiam.
Tak berapa lama ia berdiri persis di hadapan Bunga.
"Ada Den, aku sudah me-list-nya, karena aku masih muda dan cuantik bangeeeeet,😘😘!"
Ucap Bunga centil sambil berputar dengan gaun rumahannya hingga kibasan ujung rambut panjang Bunga mengenai wajah Robin.
Dahi Robin otomatis langsung mengkerut.🤨🤨🤨.
"Ahahahahahaha!" tawa Robin terbahak-bahak
("Ih!Dasar pria songong!" gumam Bunga geram)
Pria mana sih? yang sudah menjadi list kamu? jangan bilang pangeran William yah, dia sudah beristri!" ejek Robin dengan tawa bahagia.
"Hehehehe, nanti Raden akan tau, makanya sebenarnya aku tidak sabar ingin berpisah dari Raden!" kata Bunga tak mau kalah.
"Oooouh!" Ucap pria itu.
("Andai saja ada mesin waktu aku ingin mempercepat perceraian ini, ih😠 hari-hari tingkahnya buat jengkel" ucap Bunga dalam hati)
....
....
Subuh yang sangat sejuk.
Tampak sosok perempuan muda yang tergesa-gesa, keluar dari rumah dengan sepedanya. Kepergiannya tidak diketahui oleh sang pemilik rumah.
"Hiks!...hiks!...kakak...isak tangis Bunga yang mempercepat goetan sepedanya, ia tidak perduli gelapnya area pedesaan yang di lalui serta dinginnya suasana pagi.
Bunga mendapat kabar jika kakaknya sudah sakaratul maut...
Begitu sampai di rumah Anggun. Bunga langsung membuang sepedanya. Dan berlari cepat mendapati sang kakak.
Terlihat Anggun dengan nafas yang sudah terputus-putus...
"Kakaaaaak," teriak Bunga....
Tangisan Isak itu seketika pecah di kamar Anggun...
"Maaf....kan...kakak sa...yaaa...Ng!"
Kata-kata terakhir Bunga hingga Anggun menghembuskan nafas terakhir.
"Kakaaaaaaaaaaak" teriak Bunga dengan derai airmata kesedihan dan kepahitan.
.…..
Seketika rumah itu pun ramai di datangi orang sekitar...
"Sabar yah Bunga!" Ucap orang-orang sekitarnya.
....
....
Tania juga diizinkan melayat sang putri dengan pengawalan polisi.
Bunga dan Tania saling berpelukan.
...
...
Hari itu Robin bangun kesiangan, langsung memanggil Bunga sang istri sekaligus pelayan pribadinya.
"Bunga..."
"Bungaa..."
Berjalan mencari Bunga di area ruang tamu, makan, dapur dan terakhir membuka kamar Bunga yang tidak terkunci. Namun Robin tidak menemukan wanita itu.
"Kemana dia?" Gumam Robin kocak pinggang berdiri di depan pintu kamar Bunga. Kemudian pria itu melihat ke lokasi tempat sepeda Bunga.
"Sepedanya tidak ada, apa dia pergi belanja?"
Pria itu juga melihat tidak ada makanan di atas meja.
Biasanya jika wanita itu pergi selalu menuliskan pesan kecil di tempel di pintu kulkas dan sudah menyiapkan makanan.
Robin juga melihat gerbang tidak tertutup. Ia berlari ke kamar mengambil ponselnya dan mencoba menelpon Bunga berkali-kali, namun tidak di angkat.
"Kemana dia?" Apa ada sesuatu sedang terjadi, penculikan, perampokan! Tapi tidak mungkin!" Ucapnya sambil memperhatikan suasana rumah yang masih terlihat rapi, lalu bergegas memakai jaketnya kemudian pergi menggunakan mobilnya.
"Sebaiknya aku menuju rumah Anggun, aduh! tapi aku tidak tau alamatnya yang baru!" keluh Robin.
Akhirnya Robin menelpon pengacara Anggun yang kebetulan masih tersimpan di ponsel Robin.
.....
.....
∆∆∆∆∆∆
"Anggun hari ini telah meninggal dunia mas!"
"Apah?" Ucapnya terkejut.
"Okeh! Thanks!"
∆∆∆∆∆∆
Robin bergegas melaju kencang menuju rumah Anggun!
...
Sesampai di rumah Anggun, tampak banyak orang ramai.
Jasad Anggun sudah di dalam keranda mayat dan siap di kebumikan. Proses yang tidak ingin lama-lama karena kondisi fisik Anggun yang tidak sehat, serta sang ibu tidak punya waktu lama, Tania ingin menyaksikan penguburan Anggun.
Robin masih memperhatikan suasana. Ia menyoroti wajah Bunga yang lemas dalam pelukan Tania. Wajah sendu dengan mata memerah...
love beut anggun 🥰😭🤧