NovelToon NovelToon
Lebih Sekadar Tante

Lebih Sekadar Tante

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kalau iya, kenapa?

Keheningan di kamar itu terasa begitu mencekam. Reno, Bima, dan Dito yang awalnya mau ikutan nimbrung langsung mengunci mulut mereka rapat-rapat, gak berani berkutik melihat aura serius yang menguar dari Reza dan Arvin.

Reza melangkah maju, memotong jarak di antara mereka. Tatapannya menuntut penjelasan. "Vin, gue nanya serius. Lo diem begini maksudnya apa? Foto di kelas tadi, terus kelakuan lo yang mendadak perhatian banget sama Tante Karin... lo beneran naksir tante gue?"

Arvin menurunkan ponselnya perlahan. Dia tidak menghindar, melainkan menatap lurus ke mata sahabatnya itu dengan sorot mata yang teramat tenang.

"Kalau iya, kenapa?" jawab Arvin, suaranya rendah dan kedengaran begitu mantap.

Deg.

Reza melotot, rahangnya mengeras. Dia benar-benar tidak menyangka Arvin bakal mengaku secepat dan seberani ini. "Lo gila ya, Vin?! Dia tante gue! Umur lo sama dia itu beda jauh, lo masih sekolah! Kenapa harus Tante Karin dari sekian banyak cewek di sekolah kita?!" Sentak Reza, frustrasi sekaligus bingung bagaimana harus merespons situasi segila ini.

Arvin menghela napas pendek, dia memasukkan satu tangannya ke saku celana. "Rasa suka gak bisa milih mau ke siapa, Ja. Gue gak pernah main-main soal ini."

"Tapi ini salah, bangsat!" Umpat Reza, emosinya mulai tersulut. Dia mencengkram kerah baju Arvin, membuat Reno dan Bima mendekat dari kasur karena takut terjadi baku hantam.

"Weh, Ja, Ja! Tenang, Cok! Jangan berantem di rumah orang!" Lerai Bima sambil memegangi pundak Reza, mencoba menariknya mundur.

"Lepas, Bim!" Bentak Reza, tapi matanya tetap menghujam Arvin. Sementara Arvin sendiri sama sekali tidak membalas cengkeraman itu, dia hanya diam membiarkan Reza meluapkan emosinya.

"Gue gak mau Tante Karin keganggu gara-gara kelakuan lo yang belum dewasa begini, Vin. Gue gak mau hubungan lo sama gue malah jadi rusak cuma gara-gara ini," ucap Reza lagi, suaranya mulai merendah, campur aduk antara marah dan kecewa karena posisi Arvin yang merupakan sahabat terbaiknya.

Arvin memegang pergelangan tangan Reza yang mencengkeram kerahnya, lalu menurunkannya secara perlahan namun tegas. "Gue gak bakal ngerusak apa pun, Ja. Hubungan gue sama lo gak bakal berubah. Dan soal Tante Karin... gue tahu batasan gue."

Reza mendengus sinis, memalingkan mukanya yang memerah padam. Dia langsung berbalik badan, berjalan keluar dari kamar cowok sambil membanting pintu dengan cukup keras, meninggalkan keheningan pekat di dalam ruangan.

Sementara itu di kamar sebelah, Karin baru saja selesai menata bantal-bantal di atas karpet bulunya. Kamarnya sudah siap menampung kelima gadis yang malam ini akan tidur bersamanya.

Namun, lamunan Karin terpecah saat mendengar suara benturan pintu yang cukup keras dari arah luar. Karin mengernyitkan dahi, merasa heran.

"Suara apaan tuh? Si Eja sama anak-anak mainnya heboh banget," gumam Karin sendiri.

Baru saja dia hendak melangkah menuju pintu untuk mengecek situasi di luar, pintu kamarnya tiba-tiba diketuk dari luar secara tergesa-gesa. Begitu Karin membukanya, sosok Aurel berdiri di sana dengan wajah yang tampak agak panik.

"Tante... itu, Si Reza sama Arvin kayaknya lagi berantem," bisik Aurel pelan, takut kedengaran anak-anak lain.

Jantung Karin seketika mencelos mendengar nama kedua anak itu disebut dalam satu kalimat bernada konflik.

Reza berjalan cepat setengah menghentak menuju teras depan, mengabaikan anak-anak lain di ruang tengah yang seketika bungkam melihat wajahnya yang merah padam menahan marah. Dia duduk di anak tangga teras, menyandarkan kedua sikunya di lutut sambil menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. Napasnya memburu, membuang pandangan ke arah jalanan komplek yang sepi.

Melihat situasi rumah yang mendadak tegang, Karin menarik napas dalam-dalam. Dia melangkah keluar ke teras, menutup pintu agar obrolan mereka tidak terdengar anak-anak di dalam.

Karin berjalan mendekat, lalu ikut duduk di anak tangga tepat di sebelah keponakannya.

"Eja..." panggil Karin dengan nada yang teramat lembut, suara seorang tante yang selalu menjadi tempat aman bagi Reza sejak kecil.

Panggilan lembut itu seketika meruntuhkan benteng pertahanan Reza. Dia yang sedang diselimuti ego dan kekesalan itu langsung menoleh. Matanya yang memerah menatap Karin dengan pandangan campur aduk antara marah, kecewa, tapi juga tidak tega jika harus membentak tantenya sendiri.

Reza menghembuskan napas kasar lewat hidung, lalu memalingkan wajahnya lagi ke samping karena tidak sanggup menatap mata jernih Karin.

"Tante tahu gak sih?!" semprot Reza akhirnya, suaranya naik satu oktav, serak karena emosi yang tertahan di tenggorokan. "Arvin itu sahabat Eja, Tan! Kita bareng-bareng dari kelas satu SMP!"

Reza mencengkeram lututnya sendiri, meluapkan seluruh kekesalannya. "Tapi tadi... di forum sekolah, foto Tante sama dia di kelas udah kesebar ke mana-mana! Anak-anak satu angkatan pada heboh! Eja langsung nanya ke dia di kamar tadi, dan Tante tahu apa jawaban si berengsek itu?"

Reza menoleh lagi, menatap Karin dengan tatapan menuntut yang bergetar. "Dia bilang dia beneran suka sama Tante! Dia ngaku tanpa rasa bersalah sedikitpun!"

Reza mengacak rambutnya frustasi, pundaknya naik turun. "Eja kesel banget, Tan! Eja gak suka! Arvin itu masih anak sekolahan, umurnya jauh di bawah Tante, dia tuh bocah! Kok bisa-bisanya dia punya pikiran kurang ajar kayak gitu ke Tante Eja sendiri? Eja gak mau ya hubungan Eja sama Arvin jadi rusak gara-gara ini, dan Eja juga gak mau Tante dimanfaatin atau digosipin yang aneh-aneh sama anak-anak sekolah Eja. Tante harusnya marahin dia, Tan! Suruh dia sadar posisi!”

Karin terdiam. Perkataan Reza barusan seperti menghantam dadanya sendiri. Ingatannya berputar kembali ke malam itu, saat Arvin menatapnya tajam dan menyatakan perasaannya dengan begitu berani. Saat itu, Karin menganggapnya sebagai lelucon remaja yang lewat begitu saja. Namun sekarang, melihat bagaimana Arvin berani mengakuinya langsung di depan Reza, Karin sadar bahwa dia itu tidak pernah bermain-main.

Karin menghembuskan napas pendek. Dia menggeser duduknya menjadi lebih dekat, lalu tangan kanannya merangkul pundak lebar keponakannya itu, menarik tubuh Reza lembut ke dalam dekapannya sambil jemarinya mengelus rambut Reza dengan sayang.

"Rasa suka itu di luar kendali kita, Eja. Kita gak bisa ngatur orang buat suka atau benci ke kita," ucap Karin lembut, suaranya mengalir tenang, mencoba menurunkan ego Reza yang sedang membara.

Karin menjeda kalimatnya, membiarkan Reza meresapi elusan tangannya sebelum dia melanjutkan sebagai wanita yang lebih paham asam garam kehidupan.

"Tante paham kamu marah karena kamu peduli sama Tante, dan kamu takut persahabatan kamu sama Arvin rusak. Tapi dengerin Tante, Ja... Arvin emang suka sama Tante, tapi itu murni perasaan dia. Yang memegang kendali di sini bukan Arvin, melainkan Tante. Tante tahu mana yang benar, mana yang salah, tahu bagaimana perasaan tante dan tahu betul bagaimana cara menjaga diri Tante sendiri. Tante gak akan biarin ada hal aneh yang merugikan Tante, atau bahkan ngerusak pertemanan kalian."

Karin menangkup sebelah pipi Reza, memaksa keponakannya itu untuk menatap matanya secara langsung.

"Arvin itu anak yang tertutup, tapi dia sangat menghargai kamu sebagai sahabatnya. Dia masih punya otak buat gak ngelakuin hal bodoh yang bisa bikin kamu benci sama dia. Jadi, jangan biarin emosi malam ini ngerusak apa yang udah kalian bangun bertahun-tahun. Malu dong sama anak-anak di dalem, masa cuma karena gosip sekolah, dua pangeran SMA Harapan Bangsa ini langsung baku hantam di rumah Tante? Hm?" goda Karin di akhir kalimatnya, mencoba menyisipkan senyum kecil agar ketegangan di wajah Reza mencair.

1
Bunga
Karya terbaik😍semangat 💪
Agatha soul: terima kasih
total 1 replies
Bunga
Terbaik
mary dice
sepertinya ada yang mau nembak nih... lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!