NovelToon NovelToon
Buy 1 Get 1

Buy 1 Get 1

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Brak!

Arka menggebrak meja gerobak kayunya. Ketukan itu tidak terlalu keras, namun getaran ketegasan di dalamnya seketika membuat ibu-ibu di sekitar tersentak dan membungkam riuh rendah protes mereka.

Tatapan mata Arka yang semula tenang, kini berkilat laksana badai yang siap meledak.

Ia sama sekali tidak terima melihat Sari dengan keangkuhannya mengusir para pelanggan setia yang selama ini menghidupi lapak kecilnya.

Dengan suara bariton yang bergetar hebat menahan amarah, Arka menunjuk ke arah luar pasar.

Ia kembali mengusir Sari habis-habisan tanpa memedulikan status sosial wanita itu.

"Cukup, Mbak! Pulanglah!" desis Arka, suaranya rendah namun penuh penekanan yang mengintimidasi.

"Uang Anda tidak akan pernah bisa mengatur prinsip hidup saya! Pelanggan saya membeli dengan rasa hormat, bukan dengan kesombongan seperti Anda. Pergi dari lapak saya sekarang juga!"

Dikepung oleh tatapan sinis dan bisikan mencemooh dari emak-emak pasar, serta intimidasi dingin dari Arka, pertahanan gengsi Sari yang setinggi langit mendadak goyah.

Dadanya sesak, dan matanya sempat memanas karena belum pernah seumur hidupnya ia dipermalukan sedemikian rupa di depan umum.

Namun, alih-alih menangis atau menyerah kalah, jiwa keras kepala Sari justru berontak.

Tanpa memedulikan larangan keras Arka, jemari lentik Sari dengan nekat menerobos kepulan asap kukusan yang membubung panas dari balik gerobak.

Ia bergerak cepat, mengambil paksa semua wadah mika berisi kue klepon yang ada di atas meja ke dalam pelukannya.

Sebelum Arka sempat merebutnya kembali, Sari merogoh tas Hermes-nya dengan tangan gemetar.

Ia mengeluarkan seikat uang pecahan seratus ribu rupiah yang masih kaku, lalu dengan gerakan kasar, ia melempar uang itu ke atas gerobak, tepat mendarat di depan dada Arka.

Sambil memeluk wadah-wadah klepon itu erat-erat seolah-olah baru saja memenangkan sebuah piala dunia, Sari menatap tajam langsung ke dalam manik mata Arka.

Dengan napas memburu dan bibir bergetar, ia mendesis ketus,

"Dasar pelit!"

Setelah meluapkan kekesalannya, Sari langsung berbalik dan melangkah pergi dengan langkah seribu.

Namun, Arka bukanlah pria yang bisa dijinakkan dengan segepok uang tunai.

Merasa harga dirinya dilecehkan oleh uang yang dilempar kasar tersebut, rahang Arka mengencang hebat. Luka lama di hatinya seolah dikuliti kembali.

Tanpa berpikir panjang, Arka menyambar seikat uang merah itu dari atas gerobak dan langsung melompat keluar dari balik lapak kayunya.

Ia mengejar Sari yang berjalan tergesa-gesa.

Di depan sana, Sari mulai kesulitan.

Sepatu high heels setinggi sepuluh sentimeter miliknya terus-menerus terbenam ke dalam tanah pasar yang becek, berlumpur, dan licin.

Langkah anggunnya berubah menjadi pincang dan tak seimbang.

Grep!

Tepat di area parkir pasar yang sepi, remang-remang, dan dinaungi pohon tua, Arka berhasil menyusulnya.

Sebuah cekalan kuat namun terukur mendarat di pergelangan tangan Sari, memaksa wanita itu untuk menghentikan langkahnya dan berbalik badan.

"Ambil kembali uang Anda!" gertak Arka, menyodorkan kembali seikat uang tersebut tepat di depan wajah Sari.

"Saya tidak butuh uang haram dari kesombongan Anda!"

"Lepas! Jangan sentuh aku!" jerit Sari panik.

Ia mencoba menarik tangannya dan melangkah mundur untuk menjauh dari jangkauan Arka.

Namun malang, tumit tajam sepatu mahalnya menginjak kubangan lumpur yang dalam dan licin. Keseimbangannya hilang seketika.

Krak!

"Ahhh!" Sari menjerit kesakitan saat pergelangan kaki kanannya tertekuk ke arah yang salah.

Arka spontan melepaskan cekalannya dan refleks mengulurkan tangan untuk menangkap tubuh Sari.

Namun, semuanya terlambat. Dalam hitungan detik, tubuh anggun sang CEO jatuh terduduk di atas tanah pasar yang kotor dan basah.

Wadah mika yang didekapnya terlepas, terbuka, dan membuat butiran-butiran kue klepon hijau itu menggelinding kotor di atas lumpur.

Arka tertegun, pandangannya menoleh ke bawah, menatap nanar ke arah kue-kue buatannya yang kini hancur, lalu beralih pada sosok Sari yang tampak begitu menyedihkan dengan jas formalnya yang kini ternoda lumpur hitam.

Melihat Arka yang hendak bergerak mendekat untuk memeriksa keadaannya, Sari segera mengangkat tangan kirinya, menghalau pria itu dengan sisa-sisa harga diri yang tersisa.

"Tidak usah bantu aku!!" ucap Sari setengah berteriak, suaranya serak menahan rasa sakit yang luar biasa di kakinya, sekaligus rasa malu yang teramat sangat.

Dengan gigi mengancing, Sari mencoba untuk bangun sendiri.

Namun, rasa nyeri yang menusuk tajam dari pergelangan kakinya membuat ia kembali terduduk.

Saat ia melirik ke bawah, mata kakinya sudah mulai membengkak kemerahan.

Sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar air matanya tidak tumpah di hadapan pria itu, Sari memaksakan diri berdiri dengan bertumpu pada satu kaki yang sehat.

Tanpa memedulikan tas Hermes-nya yang kotor atau kue-kue yang berserakan, ia mulai melangkah pincang, menyeret kakinya yang bengkak dengan sisa tenaga yang ada, mencoba berjalan keluar menuju gerbang pasar subuh yang masih remang-remang.

Arka berdiri mematung di area parkiran yang remang-remang.

Matanya menatap ke arah butiran klepon yang hancur menyatu dengan tanah, lalu beralih pada seikat uang tunai di tangannya yang gagal ia kembalikan.

Angin subuh yang berembus pelan perlahan mendinginkan kepala pria itu.

Amarahnya yang semula meluap kini mereda, menyisakan kekosongan yang digantikan oleh rasa bersalah yang teramat besar.

Biar bagaimanapun, Arka adalah seorang pria. Melihat seorang wanita terjatuh, terluka, dan melangkah pincang karena ego kelompok mereka membuat nurani laki-lakinya terusik hebat.

Arka melangkah kembali ke gerobaknya dengan perasaan yang sama sekali tidak tenang.

Saat beberapa pembeli mulai mendekat, ia tidak bisa fokus melayani.

Pikirannya tertinggal pada langkah pincang wanita berjas formal tadi. Akhirnya, dengan sisa keraguan yang pupus, Arka menoleh ke penjual sayur di sebelah lapaknya.

"Kang, titip lapak saya sebentar, ya. Ada urusan mendesak," cetus Arka cepat.

Tanpa menunggu jawaban, Arka menyambar kunci motor dan seikat uang tadi, lalu menghidupkan sepeda motor bebeknya untuk menyusul Sari ke luar pasar.

Sementara itu, Sari terus menyeret kakinya yang membengkak hebat hingga berhasil mencapai pinggir jalan raya utama di luar kawasan pasar.

Rasa sakit di pergelangan kakinya sudah tidak tertahankan lagi.

Dengan napas terengah dan air mata yang mulai menggenang, Sari melepas kedua sepatu high heels-nya yang patah dan penuh lumpur dengan perasaan frustrasi, lalu melemparkannya begitu saja ke aspal.

Di bawah temaram lampu jalan subuh yang menyedihkan, pertahanan Sari benar-benar runtuh.

Ia duduk bersimpuh di atas trotoar yang dingin, menyembunyikan wajahnya di balik kedua lutut, dan menangis sesenggukan.

Ini adalah titik terendah dalam hidupnya. Seorang Sari Maheswara, CEO bertangan dingin dari Maheswara Group yang disegani ratusan karyawan, kini terlantar, kotor oleh lumpur, dan habis diusir di pasar subuh.

Sialnya, kesialan Sari belum berakhir. Di jam sesubuh itu, jalanan utama masih lengang.

Sangat sulit mendapatkan taksi kosong yang lewat.

Dengan tangan gemetar, ia merogoh tas Hermes-nya yang kotor untuk mencari ponsel. Namun, saat layar ditekan, ponsel itu tetap gelap gulita.

Baterainya mati total karena ia sama sekali tidak sempat mengisi daya sejak maraton rapat di Singapura.

Suara deru motor bebek berhenti tepat di depan trotoar.

Sorot lampunya yang agak kuning menerangi tubuh Sari yang gemetaran.

Sari mendongak dengan mata sembap yang memerah.

Di balik kemudi motor itu, berdiri Arka yang langsung turun dan mematikan mesin.

Sari yang masih dirundung kejengkelan luar biasa langsung memalingkan muka, enggan menatap pria itu.

"Mau apa lagi? Mau menghina aku?!" ucap Sari dengan suara serak yang bergetar.

Arka yang mendengarnya tidak lagi memasang wajah sedingin es laksana beberapa menit lalu.

Sorot mata tajamnya kini melunak, berganti menjadi ekspresi datar namun sarat akan perhatian yang kaku.

Tanpa memedulikan penolakan kasar dan usiran Sari, Arka melangkah mendekat lalu berjongkok tepat di depan wanita itu.

Dengan keahlian tangannya yang biasa bekerja kasar dan cekatan, ia mengulurkan tangan untuk memeriksa pergelangan kaki Sari yang kian membengkak besar.

Grep.

Sari sempat terkesiap, tubuhnya menegang sesaat ketika telapak tangan kekar Arka yang hangat dan kapalan menyentuh kulit pergelangan kakinya yang sedingin es.

Sentuhan itu terasa begitu asing, namun entah mengapa mengirimkan desiran aneh yang menenangkan di tengah rasa sakitnya.

"Tidak usah kasihan sama aku..." bisik Sari lirih, mencoba menarik kakinya dari genggaman Arka.

Gengsi di dadanya masih menolak untuk terlihat lemah.

Dengan sisa tenaga yang ada, Sari bertumpu pada tiang di dekat trotoar, mencoba untuk kembali bangkit dan berdiri dengan satu kaki.

Ia memaksakan berdiri tegak dan membuang muka ke arah jalan raya.

Ia berpura-pura sibuk menunggu taksi yang sejak tadi belum ada satu pun yang lewat membelah keheningan subuh.

1
nunik rahyuni
lagian klo baru pertama kerja itu jgn lgsung dilepas di beri bimbingan dlu..suruh melihat dlu atau sambil di kasih aba aba apa dlu urutanya dan cara kerjanya..sdh tau orang kota kaya nyata ae g pernah tau bab dapur..melepuh kh tangan org..lgsg terjadi kecelakaan kerja
nunik rahyuni
thor sepanjang cerita aq masih bingung..bagaimana mereka lgsg serumah seatap tanpa ada ikatan pernikahan.....yg satu duda satunya wanita dewasa lho thor..mereka hidup di negara mana..pasti punya norma dan adat istiadat kan✌️✌️
nunik rahyuni
klo di dunia kita g ada ya thor modelan sari kya ini...yg ada sih sarimin🤣🤣🤣
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎
nunik rahyuni
mampir ya thor...perdana ni di lapak author..✌️✌️✌️
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Gege
cepetan kek arka disambar petirnya..🤣 trus diinjek sistem trilyuner gitu...🤭😄🤣
Gege
semua yang namanya sari selalu keras kepala ego tinggi suka bermain perasaan 🤣🤭😄kenyataan...
Rian Moontero
mampiiirr👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!