NovelToon NovelToon
The Dark Lord

The Dark Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Vampir
Popularitas:555
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.

Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.

Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.

Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alea

Suara kicauan burung yang saling bersahutan terdengar merdu, memecah kesunyian pagi. Sinar mentari yang mulai meninggi menyelinap masuk melalui jendela besar yang terbuka, memantulkan cahaya ke seluruh sudut ruangan hingga akhirnya mengenai wajah seorang gadis yang masih terlelap.

Kelopak mata Sonja bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka. Beberapa kali ia mengedipkan mata, berusaha menyesuaikan pandangannya dengan cahaya yang terasa begitu menyilaukan. Sesaat ia hanya terdiam.

Keningnya perlahan berkerut ketika denyutan nyeri menyerang kepalanya. Sonja mengangkat satu tangan, memijat pelipisnya sembari berusaha bangkit. Tubuhnya terasa lemas, seolah seluruh tenaganya terkuras habis. Setelah berhasil duduk, kedua mata bulatnya mulai menyapu ruangan di sekeliling.

Ruangan itu begitu luas. Langit-langitnya tinggi, dipenuhi ukiran-ukiran klasik yang indah. Tirai putih yang menjuntai panjang tertiup angin pagi, sementara jendela besar yang terbuka memperlihatkan hamparan pepohonan hijau yang menjulang tinggi sejauh mata memandang. Cahaya matahari memenuhi hampir seluruh ruangan, namun entah mengapa tempat itu justru terasa begitu asing dan sunyi.

Ini bukan kamarku.

Jantung Sonja mulai berdegup lebih cepat. Ia memejamkan mata sejenak, memaksa dirinya mengingat apa yang terjadi semalam.

Sepulang dari kafe, seseorang tiba-tiba membekap mulut dan hidungnya dari belakang. Sonja sempat meronta, namun aroma menyengat yang memenuhi penciumannya membuat pandangannya menggelap. Setelah itu, tidak ada lagi yang dia ingat. Mata Sonja kembali terbuka. Napasnya mulai memburu.

Apa aku diculik?

"Kau sudah bangun, Sonja?"

Suara seorang wanita dari arah pintu membuat Sonja tersentak. Kepalanya langsung menoleh. Seorang wanita berdiri di ambang pintu. Wajahnya begitu cantik dengan kulit pucat bak porselen. Rambut hitam pendeknya tergerai rapi, berpadu dengan gaun serba hitam yang dikenakannya.Tatapan matanya dingin, datar, tanpa sedikit pun menunjukkan emosi.

Entah mengapa wajah wanita itu terasa begitu familiar. Sonja terus menatapnya, mencoba mengingat. Beberapa detik kemudian, kedua matanya membelalak lebar."Kau..." Gumamnya pelan.

Bayangan malam itu kembali memenuhi ingatannya. Wanita yang terluka tempo hari. Wanita yang ternyata adalah seorang vampir.

"Ka-kau, bukankah..." suara Sonja bergetar, bahkan kalimatnya tak mampu ia selesaikan.

Sudut bibir wanita itu sedikit terangkat, meski senyumnya sama sekali tidak terasa hangat."Sepertinya kau sudah mengingatku," ucapnya tenang. "Bagus. Dengan begitu aku tidak perlu memperkenalkan diriku lagi."

Sonja tanpa sadar mundur beberapa senti di atas ranjang. Tatapannya dipenuhi rasa takut sekaligus waspada."Kau, vampir yang terluka waktu itu."

"Namaku Alea."

Keheningan kembali menyelimuti ruangan selama beberapa saat. Sonja menelan ludahnya dengan susah payah sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya."Apa kau yang membekapku semalam?"

"Ya."Jawaban Alea terdengar singkat dan datar."Akulah yang membawamu ke tempat ini." Tidak ada rasa bersalah sedikit pun dalam nada bicaranya.

Mendengar pengakuan itu, amarah Sonja mulai muncul, mengalahkan rasa takut yang sejak tadi memenuhi dadanya."Kenapa kau menculikku?" tanyanya dengan nada meninggi. "Apa salahku? Apa maumu dariku?"

Alea tetap memasang wajah tanpa ekspresi."Aku tidak memiliki wewenang untuk menjawab pertanyaan itu."

Jawabannya membuat Sonja semakin kesal."Kalau begitu lepaskan aku!"

Namun Alea sama sekali tidak menggubris protes tersebut."Bangun dan mandilah, bersihkan dirimu. Setelah itu, seseorang akan menjelaskan alasan kenapa kau berada di tempat ini."

Tanpa menunggu balasan, Alea berbalik dan melangkah keluar. Pintu kamar kembali tertutup. Meninggalkan Sonja seorang diri dengan jantung yang masih berdetak kencang, serta segudang pertanyaan yang belum mendapatkan jawaban.

***

Setelah meninggalkan kamar Sonja, Alea melangkah cepat menyusuri lorong panjang menuju aula utama. Langkahnya terdengar tegas di atas lantai marmer yang mengilap. Wajahnya tetap datar, tetapi pikirannya dipenuhi begitu banyak pertanyaan yang terus berputar tanpa henti.

Dia harus menemui Pangeran Alex. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya sejak mereka membawa tiga gadis manusia itu.

Alea dan Elleanor mendapat tugas khusus untuk mencari tiga gadis yang telah dipilih oleh Liontin Naga milik Pangeran Alex. Menurut ramalan, salah satu dari mereka adalah gadis yang diberkati, sosok yang selama ini dicari oleh seluruh bangsa vampir. Dan entah mengapa, semua firasat Alea mengarah pada satu nama.

Sonja.

Memang masih terlalu cepat untuk menarik kesimpulan. Namun, Alea tidak akan melupakan kejadian beberapa waktu lalu. Saat darah Sonja mengalir ke dalam kerongkongannya, walaupun hanya satu tetes tetapi mampu menghilangkan rasa sakit yang hampir merenggut nyawanya menghilang begitu saja. Luka yang seharusnya membutuhkan waktu berhari-hari untuk sembuh justru menutup hanya dalam hitungan menit. Tidak mungkin itu kebetulan. Darah gadis itu berbeda. Dan firasat Alea hampir tidak pernah salah.

Lamunannya buyar ketika ia tiba di aula besar. Pangeran Alex tengah duduk di singgasana sederhana di ujung ruangan sambil membaca beberapa gulungan laporan. Mendengar langkah kaki Alea, pria itu mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis."Sepertinya ada sesuatu yang sangat penting." Alex meletakkan gulungan di tangannya. "Jarang sekali kau mencariku tanpa dipanggil terlebih dahulu, Alea." Tatapan mata Pangeran Alex tanpa sadar tertuju cukup lama pada wanita berambut pendek itu.

Alea...

Wanita yang diam-diam selalu memenuhi pikirannya. Kecantikannya begitu alami, begitu dingin, dan sulit dijangkau. Selama bertahun-tahun Alex mencoba mendekatinya, tetapi yang ia terima hanyalah sikap acuh tak acuh. Meski begitu, perasaannya tidak pernah benar-benar berubah.

Alea tetap berdiri dengan ekspresi datar, seolah tidak menyadari tatapan pria itu."Bagaimana cara mengenali gadis yang diberkati, Pangeran?" tanyanya lugas. Tidak ada basa-basi.

Alex menghela napas pelan."Aku tidak tahu, Lea."

"Kau tidak tahu?"

"Peninggalan para leluhur hanya menyebutkan bahwa Liontin Naga mampu melacak gadis manusia yang terpilih, jadi salah satu dari mereka adalah gadis yang diberkati. Seandainya hanya ada satu liontin, semuanya akan jauh lebih mudah."

Alea mengepalkan jemarinya."Lalu sampai kapan kita akan menahan ketiga gadis itu di sini?"

"Sampai kakakku datang menjemput gadis yang terpilih."

Jawaban itu membuat tatapan Alea langsung berubah tajam."Apa maksudmu?" suaranya terdengar lebih dingin dari biasanya. "Kau menjadikan mereka umpan untuk memancing Pangeran kegelapan keluar?"

Alex menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menyunggingkan senyum tipis.Dia merasa heran melihat reaksi Alea. Wanita itu terkenal tidak pernah ikut campur urusan siapa pun. Bahkan saat terjadi perang antar klan, Alea tetap bersikap tenang dan menjalankan tugasnya tanpa emosi. Namun kini, dia terlihat begitu peduli terhadap para manusia itu.

Apa karena Sonja?

Ada hubungan apa sebenarnya di antara mereka? Alex masih mengingat dengan jelas bagaimana Alea hampir tidak pernah meninggalkan kamar Sonja sejak gadis itu jatuh pingsan.

"Bukankah kau sudah tau, jika Liontin Naga mampu melemahkan kekuatan kakakku. Selama ketiga gadis itu mengenakannya, Pangeran Kegelapan tidak akan bisa menyentuh mereka." Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan."Aku akan memberikan liontin itu kepada mereka, dan kita lihat siapa yang akan dicari olehnya."

Alea mengernyit."Karena hanya Pangeran terkutuk yang mampu mengenali gadis yang diberkati?" tebaknya. Alex mengangguk pelan.

Ruangan kembali dipenuhi keheningan. Alea memahami maksud sang pangeran. Jika Sonja benar-benar gadis yang diberkati, Pangeran Kegelapan pasti akan datang mencarinya. Dan selama Liontin Naga berada di leher Sonja, pria itu tidak akan mampu menyentuh gadis tersebut.

Alea menarik napas panjang sebelum kembali berbicara."Kalau begitu berikan salah satu Liontin Naga itu padaku."

Alex mengangkat sebelah alisnya.

"Aku sendiri yang akan memberikannya pada Sonja," lanjut Alea."Pangeran terkutuk bisa menyerang kapan saja, aku tidak ingin mengambil risiko."

Permintaan itu membuat Alex semakin curiga."Kau terlihat sangat mengkhawatirkan gadis itu." Tatapannya semakin tajam."Apa ada sesuatu yang tidak kuketahui darimu, Alea?"

Hening.

Beberapa saat Alea hanya membalas tatapan sang pangeran tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dalam hatinya, dia sudah mengambil keputusan. Rahasia tentang darah Sonja, tidak boleh diketahui siapa pun. Jika sampai Alex mengetahui kemampuan luar biasa yang dimiliki gadis itu, keadaan bisa menjadi jauh lebih rumit.

"Tidak ada yang kusembunyikan, Pangeran," jawab Alea akhirnya dengan nada datar. "Aku hanya tidak ingin seorang manusia yang tidak tahu apa-apa menjadi korban permainan ini."

Alex terus menatapnya, mencoba membaca kebohongan di balik wajah tanpa ekspresi tersebut. Namun Alea terlalu pandai menyembunyikan perasaannya.

Pria itu akhirnya menghela napas pelan."Baiklah."

Alex membuka telapak tangannya. Kilatan cahaya keemasan muncul perlahan, lalu membentuk sebuah liontin bergambar naga yang memancarkan aura hangat."Jaga baik-baik liontin ini."

Alea menerima liontin itu dengan hati-hati.

"Selama benda itu berada di tubuh Sonja, kakakku tidak akan mampu melukainya."

Alea mengangguk singkat."Aku mengerti."

Tanpa menunggu izin lebih lanjut, ia segera berbalik meninggalkan aula.Tatapan Alex terus mengikuti punggung wanita itu hingga menghilang di balik pintu.

Entah mengapa, perasaannya mengatakan bahwa Alea sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat besar. Dan rahasia itu kemungkinan besar berkaitan dengan gadis manusia bernama Sonja.

1
Firkoh
menegangkannya dapet, cepet update ya kaka author
Saasaa: Terimakasih 🙏 Update tiap hari
total 1 replies
Firkoh
ngeri banget loe thur
Firkoh
kaaaaan bener
Firkoh
ikut tegang Cuy
Firkoh
jangan2 Arthur nih pangeran kegelapannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!