Maura yang dulunya seorang Nona Muda keluarga ternama tiba-tiba harus menerima kenyataan keluarga nya bangkrut karena ulah sang paman yang serakah. Disaat sang kakek meninggal malah disuguhkan kenyataan dengan hutang yang menumpuk.
Bukan hanya itu, sahabat kakeknya membawa surat perjanjian perjodohan dengan seorang pria yang tak dia kenal. Mampukah Maura menerima pernikahannya dengan Dedi?
Bagaimana kisah cinta Maura dan Radit yang telah terjadi sejak lama setelah mengetahui kekasihnya kini jadi adik iparnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur hapidoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Kemarahan Radit
"Cepat katakan padaku, Mah! Di mana Maura?? Aku harus membawanya kembali dalam keadaan hidup ataupun mati. Aku tidak akan pernah membiarkan tubuhnya habis dimakan binatang buas. Tidak akan aku biarkan jiwanya merasa tak tenang!" Radit menangis tersedu-sedu saat dia membayangkan tentang Maura yang mungkin saja sudah meninggal atau sudah habis tubuhnya dimakan binatang buas mengingat Maura sudah meninggalkan mansion selama 2 hari lamanya.
Dedi dan Radit sama-sama berusaha membuat Rahayu jujur untuk memberitahukan keberadaan Maura sekarang. Rahayu kesal karena usaha dia meminta kedua anaknya untuk membujuk Surya tampaknya gagal karena keduanya lebih sibuk memikirkan soal Maura alih-alih memikirkan permintaan dia.
"Kalian ini benar-benar anak durhaka! Kalian tidak peduli dengan nasib ibunya yang terancam menjadi tunawisma karena diusir oleh kakek kalian dengan begitu kejam." Rahayu kesal setengah mati.
Radit mendengus kesal, mendengar ucapan ibunya yang mengeluh kepadanya dan Dedi. Radit yang selama ini sangat dekat dengan Rahayu, dia jelas sangat mengenal ibunya. Radit tahu dengan pasti bahwa air mata Rahayu hanyalah air mata buaya untuk membuat dirinya dan Dedi merasa kasihan kepadanya.
"Bukankah dulu Radit pernah mengatakan kepada Mama untuk tidak pernah mengganggu Maura, ya? Kenapa Mama bandel sekali, huh? Kalau tidak, Radit tidak akan pernah memaafkan Mama, selamanya!" Radit melotot sempurna pada Rahayu yang auto merinding melihat amarah Radit.
Selama ini semarah apapun Radit tidak pernah berani menunjukkan telunjuknya ke hadapannya. Sesayang itu Radit pada Rahayu sehingga selalu memaafkan apapun kesalahan ibunya. Tapi kini Radit tidak bisa mentolerir apa yang sudah dilakukan oleh Rahayu yang sudah sangat keterlaluan terhadap Maura. Setahu Radit, Maura selama ini tidak pernah mencari gara-gara dengan ibunya. Kenapa ibunya begitu kejam dan berniat membunuhnya?
Rahayu tentu saja merasa kecewa kepada Radit yang tidak bisa diandalkan untuk menolong dirinya. Rahayu menoleh pada Dedi dan memohon kepada Dedi agar menolongnya dan membujuk Surya untuk membatalkan keputusannya.
Dedi yang juga merasa kecewa kepada ibunya menolak untuk melakukan permintaan sang ibu. Dedi menggunakan moment itu untuk mencari muka pada Maura. "Maafkan aku, Mah. Aku tidak bisa membantu Mama dari amukan Kakek. Apa yang sudah Mama lakukan sangat keterlaluan dan termasuk tindakan kriminal karena berniat untuk menghapus nyawa seseorang!" Dedi benar-benar murka pada Rahayu yang telah membuat dirinya menjadi duda tanpa malam pertama.
"Ah, ngenes banget nasibku!" sesal Dedi sambil menjatuhkan bobotnya di kursi.
Radit yang mendengar gumaman Dedi pun bertanya maksud dari ucapan adiknya.
"Maksud kamu apa?" tanya Radit.
"Bukan urusanmu! Aku pergi dulu." Pamit Dedi dengan tergesa-gesa.
"Kau mau kemana?'' tanya Radit lagi.
Dedi yang merasa kesal dengan kekepoan Radit, akhirnya menghentikan langkahnya dan melihat ke arah lelaki yang selama ini selalu menjadi Rival dan musuhnya.
"Aku mau melapor ke kantor polisi untuk mencari keberadaan Maura!"
Tapi belum juga Dedi melangkahkan kakinya keluar rumah, tiba-tiba saja ekor matanya menangkap kedatangan sebuah mobil masuk menuju kediaman mereka melalui jendela rumah mereka.
Dedi langsung memeluk Maura saat dia melihat Maura dan Niken serta Surya berjalan beriringan dan masuk ke dalam mansion dengan tatapan penuh intimidasi kepada Rahayu yang ketakutan seakan melihat hantu saja.
Rahayu benar-benar tidak menyangka ternyata hanya butuh beberapa hari saja untuk membuat Surya menetap di rumah sakit. Mata Rahayu melotot tentu saja ketika dia melihat Maura baik-baik saja bahkan datang bersama Surya dan Niken.
"Kenapa kamu ada disini?" tanya Rahayu sambil mengerutkan keningnya karena merasa heran melihat Maura begitu sehat tanpa kekurangan apapun.
'Apakah Bejo sudah menipuku? Kemarin Dia bilang akan membuat Maura mati mengenaskan. Kenapa gadis ini sekarang malah mengejekku dengan senyum yang menyebalkan itu?' batin Rahayu mulai bingung.
Bagaimana mungkin orang yang sudah dibuang ke hutan dalam keadaan pingsan, tiba-tiba bisa hidup lagi dan berjalan di hadapannya dengan begitu terbuka. Seakan tidak pernah terjadi hal buruk kepadanya. Rahayu malah makin kesal pada Niken dan Maura yang sama-sama menyebalkan menurutnya.
Dedi langsung memeluk Maura saat dia melihat istrinya kini berjalan ke arahnya, sambil berdiri di samping Surya. Kakeknya terus menatap ke arah Rahayu yang masih saja belum mau meninggalkan kediaman Hartawan. Sungguh memalukan sekali dan tidak punya harga diri!!
"Syukurlah sayang, kau baik-baik saja. Apa kau tahu? Dua hari ini aku berusaha terus untuk mencarimu ke setiap sudut yang mungkin saja kau datangi. Tapi semua usahaku nihil." Dedi terlihat begitu sedih karena dua hari lamanya dia tidak menemukan keberadaan Maura.
Maura tersenyum kepada Dedi karena merasa bahagia. Kini suaminya mau ambil peduli dengan nasib dan kondisinya. Rasanya tidak sia-sia semua usaha dan pengorbanannya karena selalu ditekan dan dihina oleh Rahayu. Bahkan lebih sadis lagi Ibu mertuanya ternyata merencanakan ingin membunuh dirinya. Hati Maura sedih sekali rasanya. Ketika ingat kembali ketakutan dan rasa sakit yang dia alami karena perbuatan Rahayu.
"Untunglah ada Niken yang menolongku, Mas. Sehingga membuatku bisa melarikan diri dari tempat itu. Dia juga yang sudah membuat aku dirawat di rumah sakit karena mengalami dehidrasi. Para penculik itu tidak memberiku makan dan minum." Maura bahkan sampai meneteskan air matanya ketika mengingat kembali kenangan buruknya saat diculik oleh anak buahnya Rahayu.
Surya semakin geram mendengarkan cerita kekejaman yang sudah dilakukan oleh Rahayu kepada cucu mantunya yang amat dia sayangi.
"Cepat pergi dari mansion ini atau aku akan memanggil polisi dan memenjarakanmu atas kejahatanmu yang sudah mencoba membunuh cucu mantuku dan juga sahabat dari cucuku!" Perintah mutlak dan ancaman Surya bagai petir disiang bolong bagi Rahayu.
Rahayu bahkan sampai bersujud dihadapan Surya dan meminta agar tidak diusir dari rumah itu. Akan tetapi Surya yang sudah sakit hati dan marah tidak menggubrisnya sama sekali.
Surya bahkan memerintahkan kepada Halimah untuk segera membereskan semua barang Rahayu kemudian melemparkannya keluar dengan diseret oleh security karena Rahayu yang terus memberontak dan menolak untuk diusir.
Dedi dan Radit hanya melihat saja apa yang dialami oleh Rahayu. Mereka berdua benar-benar merasa kecewa dengan perbuatan Rahayu yang sangat ceroboh dan sangat keji.
Niken menatap Dedi dan Radit yang mata mereka hanya tertuju pada Maura. Dedi rupanya sudah melupakan persahabatan mereka yang terjalin sejak mereka masih usia balita. Niken merasa terluka hatinya karena sahabat yang dia bela dan dia kasihi ternyata tak lagi menganggap dia ada. Dimana Dedi hanya ada Maura saja sekarang.
lanjut thor
itu uang khalal kok yg berasal dr klurga km dulu yg jd jatah niken cm baru nyampe ketgny skrg stlh dikekepin mulu ma yg dia pangil bapakny yg udh kabur ma istri dan ankny yg rencanany mo insaf🤭🤭🤭
lanjut thor
lanjut thor