Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...
Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...
Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 TINGKATAN KEKUATAN BANGSA PEREWANGAN
Dan, tanpa ku perintahkan, Sekar Mayang dengan berani, berkata pada Sekar Arum.
"Sudah cukup! Nisaku belum mampu menerima energi sebesar energimu!"
Aku hanya bisa melirik Sekar Mayang saat ia berkata seberani itu.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya, sangat mengejutkan bagiku.
Sekar Arum mengalihkan pandangannya dariku, kepalanya menoleh perlahan memandang ke Sekar Mayangku.
Dengan kedua mata yang masih menyala kuning keemasan, tatapannya jauh lebih tajam saat memandang Sekar Mayangku.
Dan tanpa berkata-kata, dengan tiba-tiba...
"Brukkk!!!"
SEKAR MAYANG JATUH TERDUDUK DI ATAS LANTAI!
SEKAR MAYANGKU...
SEPERTI LEMAS!
SEPERTI TAK BERDAYA!
TERDUDUK BERSIMPUH, DI BAWAH KAKI SEKAR ARUM.
Aku yang melihat kejadian itu, hanya bisa menahan napas seketika.
Jantungku terasa berhenti berdetak sebentar.
Sama sekali aku tak bisa mencerna, apa yang baru saja terjadi pada Sekar Mayangku.
Lalu, aku berusaha menoleh ke Sekar Mayang.
Berusaha memanggilnya.
Berusaha memintanya untuk kembali berdiri.
Entah, aku langsung merasa tak terima, jika Sekar Mayangku dibuat berlutut seperti itu.
Namun, sedetik kemudian, Sekar Arum berkata padaku.
"SUDAH KU KATAKAN BUKAN? JANGAN TAKUT DENGANKU..."
Sekarang, aku berusaha menoleh ke Dayang Putri.
Namun, betapa terkejutnya lagi diriku.
DAYANG PUTRIKU PUN TERNYATA SAMA
SUDAH JATUH TERDUDUK, BERSIMPUH SEPERTI SEKAR MAYANG!
"A-a-a... H-h-hah?!" suaraku keluar, sangat terbata-bata.
Kembali ku tatap wajah Sekar Arum.
.....
.....
Dan, langsung aku bisa memahami sesuatu atas semua yang terjadi barusan.
Seolah, Sekar Arum ingin mengajarkanku sesuatu.
Ternyata...
Di alam atau dunia sosok perewangan ghoib pun, ada yang namanya tingkatan kekuatan.
Ternyata...
Tak semua sosok perewangan ghoib memiliki kekuatan, energi, dan kemampuan yang setara.
.....
.....
Kemudian, Sekar Arum melepas sentuhan tangannya dari pipiku.
Dan, seketika itu juga, terasa jauh berkurang energi besarnya, yang amat sangat mendominasi di ruang tamuku ini.
Diiringi dengan memudarnya warna kuning keemasan di kedua mata Sekar Arum, ia berjalan pelan.
Berjalan ke arah kiriku.
Berjalan dengan santainya, melewati Sekar Mayang yang masih duduk bersimpuh di atas lantai.
Kepalaku hanya bisa menoleh, mengikuti langkahnya. Tanpa bisa ku gerakkan sama sekali tubuhku.
Tubuhku terasa sangat kaku.
Dan, kemudian, mataku melihat Sekar Arum itu berjalan masuk ke dalam kamarku.
Dan aku langsung paham apa maksud dan tujuannya masuk ke sana.
Iya, aku paham...
Sekar Arum akan selalu menjaga anakku...
Sama seperti Dayang Putri dan Sekar Mayang, yang selalu ada dan menjagaku selama ini.
Setelah Sekar Arum masuk ke dalam kamar, sosoknya langsung menghilang dalam gelapnya kamarku itu.
Dan, seketika itu juga, energi besarnya terasa memudar.
Hanya menyisakan energi dari Dayang Putri dan Sekar Mayang, yang kembali terasa kuat bagiku.
Sontak, tubuhku pun bisa ku gerakkan perlahan.
Aku langsung menjulurkan tangan kananku pada Dayang Putri, dan tangan kiriku pada Sekar Mayang.
Mereka berdua menatapku dari bawah, lalu, mereka berdua menyambut tanganku.
"Bangunlah... Kalian tak pantas bersimbuh di depanku begini!"
Dan, mereka berdua pun langsung bangkit, kembali berdiri.
Namun, sedetik kemudian aku menyadari sesuatu dari mereka berdua...
Masih di tengah gelapnya ruang tamuku ini, wajah Dayang Putri dan Sekar Mayang berubah ekspresinya.
Dengan jelas, ku lihat wajah mereka berdua seperti malu.
Mereka tak berani menatap wajahku.
Aku pun heran, ada apa?
Dan aku bertanya, "Kenapa kalian begitu?"
Namun, bukan jawaban yang aku harapkan, yang keluar dari mulut mereka berdua.
Dayang Putri malah mengucapkan satu kalimat, "MAAFKAN AKU NISA..."
"Hah? Maaf? Maaf kenapa Dayang Putri?" tanyaku seketika, dengan heran.
Dengan cepat, Sekar Mayang pun ku tatap.
Dia sedetik melirik wajahku, lalu kembali membuang pandangannya ke arah lain.
Tapi, Sekar Mayang terasa seperti "tak terima" sesuatu.
Dia malah mengumpat, "CIHHH!! SUDAH KU BILANG KAN DAYANG PUTRI?! JANGAN LEMAH!!"
Aku yang berada di antara mereka, malah kebingungan dengan sikap mereka itu.
Ada apa sebenarnya?
Kenapa malah Dayang Putri dan Sekar Mayangku bertingkah seperti ini di depanku?
Lalu, tiba-tiba...
.....
.....
"Trikk trikk trikk... Trikk trikk..."
Lampu ruang tamuku berkedip cepat.
Dan...
Menyala terang...
.....
.....
Semuanya kembali normal seketika.
Tak ada lagi wujud Sekar Mayang.
Tak ada lagi wujud Dayang Putri.
Aku...
Berdiri...
Sendirian...
Dengan segudang pertanyaan atas tingkah dua perewanganku itu.