Tentang Ulama, di benak Tumang ialah seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan. Tanpa sayu, parau dan Lelah memberikan nasehat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah serta meninggalkan laranganNya. Seperti perkataan Malaikat Jibril, “Ulama adalah Pelita dunia dan akhirat.”
Selain berkelana mencari dambaan hati, Tumang juga selalu berusaha memperbaiki diri dan berusaha sabar, Ridha dengan apa yang di dapat dari karunia Allah serta selalu berbuat Kebajikan. InsyaAllah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegagalan melepas perahu harapan
"Tum, Aya, Joko dan Wali Dimana ya?"
Butet menyangga tubuh Tumang. Sesekali dia mendengar suara ringisan Tumang yang menahan lukanya. Guratan di wajahnya sudah menggambarkan guratan kesakitan hingga dia sulit berkata. Tumang berencana menyelamatkan Butet terlebih dahulu.
Dari jarak jauh, Cahaya matahari menembus sela ranting dan dedaunan pepohonan. Suara deru ombak yang memecah batu karang bercampur gemuruh angin yang mengubah suasana sekitar.
"Ngg nggak ada tsunami kan Tum? Kita ma uke Pantai?" tanya Butet.
Sudah dua pertanyaan yang di ajukan akan tetapi tidak ada jawaban apapun. Tumang melepas kenangan pahit di hari ini Bersama Butet. Seolah-olah hatinya mulai goyah enggan mengucap satu nama yang dia tunggu selama ini. Surtinik tidak pernah sedikit pun menoleh padanya, bukan pula di dalam benak Tumang sedang menghitung-hitung besar pengorbanan Butet melewati malam mengumpankan Tubuh yang hampir di cabik-cabik serigala.
"Si Butet atau si Surtinik? Aku hanya menginginkan yang terbaik dan tetap di jalan yang baik dengan status halal di hadapan Allah" gumam Tumang.
"Tet, di dekat dermaga sana hanya ada satu perahu kecil khusus penjaga pantai serta merangkap menjadi pria yang di tugaskan membawa atau membeli keperluan pemondokan. Aku mendengarnya sendiri dari nek Sirih yang membisikkan kecil pada ku Ketika meminta pertolongan dari kejaran pria berbaju hitam. Disitu aku menyesal melepaskan Paijo. Aku tidak bisa meninggalkan tempat ini sebelum menemukan mereka semua"
"Nggak, aku mau kita sama-sama menyelamatkan mereka.."
Bukan drama atau kisah romantic percintaan di dalam kisah nyata, getar hati yang di rasakan tumang di tambah berdekatan yang bukan muhrim aja sudah membuat Tumang merasa berlumuran dosa. Dia juga merasa sangat bersalah pada Butet yang berani menyentuh kulitnya walau hanya untuk membantunya berjalan.
"Tet, aku butuh bantuan mu."
"Apaan, jangan yang aneh-aneh ya. Aku ini wanita yang mempertahankan harga diri ku. Atau kau mau memelet ku ya? Ku hajar kau!"
Plakk
"Aduh beneran aku di hajar! Padahal Cuma minta tolong carikan kayu yang cukup kuat atau apapun asal bisa membantu ku berjalan sendiri"
"Huhh! Nggak boleh!"
Tumang tidak gencar berharap keselamatan Butet, batas waktu pemberangkatan akan di mulai pada Tengah hari. Tumang tidak mau mereka di ketahui sip ria penjaga. Dia mengerahkan kekuatan terakhir untuk mendorong Butet masuk ke dalam kapal. Butet tanpa sengaja menekan luka di punggung Tumang, dia juga mencengkram kuat ujung bajunya.
"Kamu mau menyelesaikan semuanya sendiri dengan keadaan gitu?" ucap Butet lirih, suaranya mengecil sembari meneteskan air mata.
"Tum! Haloo!!"
Mereka menoleh mendengar suara teriakan laki-laki yang ada di dekat bebatuan pesisir Pantai. Semakin mendekat, Keleng salah satu santri di saung tiga tersenyum lebar menghampiri mereka. Ternyata dia tidak sendirian, ada Rati di belakangnya. Laju larinya sangat cepat sampai mendahului.
"Tum, jangan katakana apapun pada mereka. Ingat pesan ku" bisik Butet.
"Kalian mau kemana? Tet, kamu mau kabur dari pemondokan?"
"Apakah? Kalian tidak mau menyelesaikan apa yang sudah kalian mulai? Terutama kau Tumang. Kau seolah-olah telah fasih menyebut segala isi ayat Nya" suara Rati terdengar mengerikan. Tumang merasakan aura iblis bersemayam di jiwanya. Di dalam benak, tidak putus atau Lelah mengucapkan beribu kali ayat kursi.
Rati menjauh, jari telunjuknya masih dengan posisi menunjuk. Butet meraih tubuh Rati yang rasanya sedingin butiran salju. Pupil matanya berubah seluruhnya memutih, senyuman Rati menyeringai lalu lalu memiringkan kepala.
"Rat, Rat!" Butet berhadapan semakin mendekat.
"Jangan kau berani menyakiti umat Allah yang beriman. Wahai iblis, sesungguhnya engkau adalah musuh manusia!"
Sementara di tempat lain, Sirih tidak berani melangkah sedikitpun dan menutup rapat-rapat pintunya. Dia telah terlepas dari maut, tapi kehilangan satu kaki seperti manusia yang telah mengalami kegagalan, kesedihan yang mendalam, frustasi hebat dan setiap hari mental berubah mengalami kegagalan, kesedihan yang mendalam, frustasi hebat dan setiap hari mental berubah semakin memburuk.
"Apakah, aku masih bisa mengingatkan orang-orang yang ada di salam sana? Tidak ada yang salah dengan pesantren itu, bangunan yang telah lama di tinggal dan ikatan yang menyalah gunakan kekuasaan lain lah di sebut iblis perusak manusia dan memerintahkan makhluk halus menggoda, menyesatkan orang-orang. Aku terpaksa berbohong pada anggota Brewok. Kematian ku kali ini tidak boleh sia-sia"
Sirih membatin Panjang. Dia mengintip dari sela rongga kecil, dia berpikir mencari cara yang manjur meskipun dia mengetahui kalau jelmaan sosok lain dari Kliwon dan para pengikutnya pasti akan membunuhnya jika mengetahui kenyataan.
Jasad Paijo menghilang, di dalam rumah Sirih yang lama itu semuanya di sembunyikan untuk menutupi jejak apapun. Sedang Aya setelah terjatuh dari jurang, di menutup mata selamanya.
"Tum, aku nggak mau mengikuti petunjuk arah dari si Rati" ucapnya melengos ketus.
"Kita nggak bisa tawar-menawar walau aku tau si Aya lagi kesurupan. Berlari saja susah, apapun yang terjadi tetap kau harus menyelamatkan diri mu sendiri. Aku akan mengalihkan pandangannya"
"Tum, aku tau apa maksud mu dan Butet. Sejujurnya, aku di suruh Rati untuk menemui kalian agar membawa Kembali ke pondok."
Tumang merasa kebingungan dan ketakutan dalam situasi yang semakin mencekam. Tumang merasa detak jantungnya semakin cepat berdegup, setiap detik terasa seperti berat seberat gunung yang menekan dadanya. Dia merasa seperti terjebak dalam labirin kegelapan yang tak berujung, tanpa ada cahaya yang menyinari jalan keluar.
Rati dan Keleng terus mendekati mereka dengan langkah yang mantap, wajah mereka menggambarkan ketenangan yang mengerikan. Sorot mata mereka terasa menyiksanya, seolah-olah mereka bisa membaca setiap pikiran dan rahasia yang tersembunyi dalam hati Tumang dan Butet.
Tumang mencoba menahan napasnya, berusaha memikirkan rencana untuk melarikan diri atau setidaknya menghadapi mereka dengan tenang. Tetapi pikirannya terasa kacau balau, terombang-ambing di lautan ketakutan yang mendalam.
"Tum, kita harus bergerak cepat. Kita tidak boleh tinggal di sini lebih lama," bisik Butet dengan nada gemetar.
Tumang mengangguk, mencoba menemukan keberanian di dalam dirinya. Dia menggenggam erat tangan Butet, memberikan dukungan yang tak terucapkan.
Namun, sebelum mereka bisa bergerak, Rati dan Keleng sudah berdiri di depan mereka. Aura kegelapan terasa menyelimuti sekitar mereka, membuat udara terasa semakin mencekam.
"Tidak ada tempat untuk kalian lari," ucap Rati dengan suara yang menggetarkan jiwa. "Kalian telah memulai perjalanan yang tidak dapat dihindari, dan sekarang kalian harus menghadapinya."
Tumang dan Butet terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Mereka merasa seperti diseret ke dalam aliran air yang menghanyutkan, tanpa memiliki kendali atas nasib mereka sendiri.
"Tetapi kami tidak bersalah! Kami hanya ingin menyelamatkan teman-teman kami," ucap Butet dengan suara bergetar.
Rati tersenyum sinis, seolah-olah menikmati ketakutan yang melanda Tumang dan Butet. "Tidak ada yang bersalah di sini, tetapi setiap tindakan memiliki konsekuensinya sendiri. Dan kalian harus menghadapi konsekuensi dari perbuatan kalian."
Tanpa aba-aba lebih lanjut, Rati dan Keleng melangkah mendekati Tumang dan Butet. Mereka berdua merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk yang tak berujung, tanpa ada harapan untuk bangun dari kengerian yang mereka hadapi.
Dalam kegelapan yang menyelimuti mereka, Tumang dan Butet merasakan bahwa mereka akan menghadapi ujian yang lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan. Dan satu-satunya harapan yang mereka miliki adalah keberanian dan keteguhan hati untuk menghadapinya dengan tegar.
Balung seharusnya suruh dzikir saja biar nggak ketasukan setan atau apa gitu. jangan biarkan jiwa kita kosong apalagi saat kondisi kita dalam ketakutan seperti itu. Tukang dan teman teman seharusnya kalian baca surat pendek saja biar para setan nggak bisa mendekati kalian.
Maaf ya kak🙏😊💕
namun juga menegaskan bahwa kegelapan itu tidak terkalahkan. Selain itu, interaksi antara Butet dan nek Sirih menambah lapisan kompleksitas pada cerita, dengan pembaca dibawa pada perjalanan yang penuh dengan ketidakpastian dan keberanian yang tersembunyi. Kesimpulannya, komentar tersebut berhasil menarik perhatian pembaca dan membangun suasana yang mencekam.
Penjelajah pemberani yang menantang kegelapan memberikan dorongan pada narasi, namun nasibnya yang tragis menegaskan bahwa kekuatan jahat itu tidak terbendung. Suara-suara mengerikan yang menggema dari rumah tua yang terkutuk menambah lapisan ketegangan yang mencekam, sementara ketidakberdayaan warga desa yang terperangkap dalam cengkeraman kegelapan menciptakan atmosfer yang memicu adrenalin.
Interaksi antara Butet dan nek Sirih menambah kompleksitas pada cerita, dengan kehadiran tokoh tua tersebut memberikan nuansa yang lebih dalam terhadap rahasia yang tersembunyi di balik kegelapan itu. Ketegangan mencapai puncaknya ketika suara gemuruh yang menakutkan kembali menggema, memotong keheningan malam dengan kekerasan yang menakutkan, meningkatkan ketidakpastian dan kecemasan pembaca.
Dengan setiap langkah yang diambil Butet dalam usahanya untuk melawan kegelapan, pembaca merasakan ketegangan yang semakin memuncak, sementara suara tawa jahat Kliwon dan pengikutnya menggema di antara bayangan-bayangan gelap, menambah ketakutan yang menyelimuti pikiran.❤️
Sirih harus benar-benar kuat untuk bertahan menghadapi semua ancaman yang muncul dari kegelapan. Di bab ini si Butet liat si nenek menapak di atas tanah nggak?