Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Riuh Terjadi
Ketegangan di kediaman Oliver Jones mencapai titik didih yang tak terbayangkan. Tuan Jones, patriark dari keluarga konglomerat Inggris tersebut, tiba di Jakarta bersama istrinya, Vivian Mercedes, dengan membawa kemarahan yang tertahan namun mematikan. Mereka bukan datang untuk berdiskusi, melainkan untuk memberikan perintah.
Ruang tamu yang biasanya tenang kini terasa seperti ruang sidang. Vivian Mercedes, wanita dengan perhiasan berlian yang berkilau tajam, menatap Anjani seolah-olah wanita itu hanyalah debu yang tidak sengaja menempel di lantai marmer mereka.
"Kau pikir kau siapa?" suara Vivian dingin, memotong keheningan. "Kau adalah seorang warga lokal yang bahkan tidak tahu bagaimana dunia ini bekerja. Anakku, Oliver, memiliki tanggung jawab besar. Dan kau hanyalah distraksi yang tidak pantas berada di sisinya.
Anjani berdiri tegak, meski tangannya di balik punggung gemetar hebat. Ia menatap pria yang baru saja ia nikahi—Oliver Jones. Oliver berdiri di sampingnya, tubuhnya kaku, wajahnya menegang menahan amarah yang luar biasa.
"Ayah, Ibu, aku sudah katakan berulang kali. Anjani adalah istriku. Tidak ada dokumen, tidak ada ancaman, dan tidak ada paksaan yang akan mengubah fakta itu," ucap Oliver dengan suara yang dalam dan bergetar karena emosi.
Adele Smith, yang berdiri di samping Vivian, tersenyum sinis. "Oliver, jangan keras kepala. Lihatlah dirimu. Kau kehilangan akal sehatmu karena wanita ini. Tuan Jones sudah menyiapkan surat cerai dan kompensasi yang sangat besar untuknya. Dia bisa pergi hari ini juga dengan hidup yang jauh lebih nyaman daripada yang bisa dia impikan."
Tuan Jones maju selangkah, menatap Anjani dengan tatapan merendahkan. "Anjani Direja, bukan? Kami sudah menyelidiki latar belakangmu. Keluarga Wiratama, masa lalu yang penuh dengan skandal kematian, dan kehidupanmu yang selalu dekat dengan masalah. Kau tidak setara. Kau hanya akan merusak reputasi Jones Group di pasar global. Tanda tangani ini, atau kami akan memastikan kariermu—dan mungkin sisa hidupmu—tidak akan pernah tenang."
Anjani merasakan sesak di dadanya, namun ia menolak untuk menangis. Ia menatap Tuan Jones tepat di mata. "Tuan Jones, mungkin saya memang bukan siapa-siapa dalam dunia bisnis Anda. Tapi saya adalah istri Oliver. Jika Anda menganggap cinta adalah sesuatu yang bisa dibeli atau dipaksa dengan dokumen, maka Anda yang tidak mengerti apa itu harga diri."
****
Situasi semakin memanas. Vivian hendak menyela dengan cercaan yang lebih kasar ketika tiba-tiba, suasana di sekitar rumah berubah drastis.
Di kejauhan, dari balik pepohonan yang rimbun di luar pagar tinggi kediaman, sebuah siluet wanita berdiri. Dara Mitha Dahayu, dengan pakaian yang compang-camping dan rambut yang mencuat liar, memegang alat pemicu dengan tangan yang gemetar. Matanya yang merah menatap ke arah pelataran rumah mewah itu. Tidak ada lagi logika dalam kepalanya; yang ada hanyalah gema tawa histeris yang memenuhi jiwanya.
"Mereka semua... mereka semua harus hancur," bisik Dara. Ia tidak lagi peduli apakah ia akan ikut terbakar. Ia hanya ingin melihat tontonan paling mengerikan dalam hidupnya.
Dara menekan tombol pemicu.
BOOM!
Sebuah ledakan dahsyat mengguncang bumi. Pelataran rumah Oliver yang megah seolah terangkat ke udara. Getaran itu begitu hebat hingga kaca-kaca jendela ruang tamu pecah berkeping-keping, menghujani semua orang di dalam dengan serpihan tajam.
Mobil mewah Tuan Jones yang terparkir di depan teras terpental hebat. Kendaraan itu terbalik di udara secara dramatis, menghantam tiang utama gerbang dengan dentuman logam yang memekakkan telinga, sebelum akhirnya meledak menjadi bola api raksasa yang membumbung tinggi ke langit Jakarta.
DUAARR!
Jeritan terdengar dari dalam rumah. Anjani terjatuh ke lantai, telinganya berdenging hebat akibat tekanan udara ledakan. Oliver segera bereaksi, menarik Anjani ke bawah meja kayu jati yang kokoh untuk melindunginya dari reruntuhan atap yang mulai runtuh.
"TIDAK! AYAH!" teriak Oliver saat melihat asap tebal hitam mengepul dari mobil yang terbakar hebat.
Adele Smith berteriak histeris, jatuh terduduk di lantai sambil menutupi wajahnya yang berdarah karena terkena serpihan kaca. Tuan Jones dan Vivian, yang untungnya masih berada di dalam ruang tamu saat ledakan terjadi, tampak syok berat, menatap keluar jendela dengan mata melotot tidak percaya.
Di balik asap yang pekat, terdengar suara tawa yang begitu nyaring, begitu tidak manusiawi, dan begitu penuh dengan kepuasan. Itu adalah tawa Dara Mitha Dahayu.
"Hahaha! Lihat itu! Indah, bukan? Pesta pernikahan yang tertunda akhirnya dirayakan dengan api!" Dara tertawa sambil menari-nari di balik semak-semak, tidak peduli dengan pengawal yang mulai menyadari posisinya.
****
Oliver, dengan kemarahan yang meluap, segera bangkit. Ia mengambil pistol dari brankas kecil di balik lukisan dinding yang terbuka akibat getaran ledakan. Ia tidak peduli pada Adele, tidak peduli pada Tuan Jones. Ia hanya ingin menemukan pelakunya.
"Anjani, tetaplah di sini! Jangan bergerak!" teriak Oliver sebelum ia melesat keluar, menembus kabut asap dan panasnya api yang menjilat-jilat udara.
Anjani, meski masih dalam kondisi syok dan tubuh yang gemetar, bangkit berdiri. Ia melihat ke arah mobil yang terbakar. Kebencian, kehancuran, dan teror yang selama ini ia tulis dalam imajinasinya kini nyata terjadi di depan matanya sendiri. Dara telah kembali, dan kali ini, dia tidak sekadar ingin mengganggu—dia ingin membantai.
"Dara..." bisik Anjani dengan penuh kemarahan.
Di luar, suasana menjadi kacau balau. Sirine mobil polisi dan pemadam kebakaran mulai terdengar di kejauhan. Kehidupan mewah keluarga Jones yang selama ini dianggap sebagai benteng yang tak tertembus, kini telah hancur oleh kegilaan seorang wanita yang kehilangan segala akal sehatnya.
Oliver berlari menuju arah suara tawa itu, matanya tajam mencari setiap gerakan di antara asap. Ia menemukan Dara berdiri di sana, di balik reruntuhan pagar yang hancur. Dara tidak lari. Dia berdiri di sana, membiarkan dirinya terpapar oleh cahaya api yang berkobar, menatap Oliver dengan seringai yang mengerikan.
****
"Oliver! Lihat apa yang kubuat!" teriak Dara dengan suara melengking. "Ini hadiah untuk pengantin baru! Bukankah ini luar biasa? Tidak ada lagi pertunangan, tidak ada lagi masa depan untuk keluargamu!"
"Kau sudah gila, Dara!" teriak Oliver sambil mengacungkan senjata. "Berhenti sekarang atau aku akan menembak!"
Dara justru melangkah maju, mendekati moncong senjata Oliver dengan wajah tanpa takut. "Tembak saja! Hidupku sudah berakhir sejak hari itu! Tapi ingat, Oliver, Anjani tidak akan pernah bisa tidur nyenyak lagi. Karena setiap kali dia memejamkan mata, dia akan melihat api ini. Dia akan melihat kehancuran yang kau bawa ke hidupnya!"
Sebelum Oliver sempat menarik pelatuk, tim pengawal pribadi Oliver yang baru saja tiba dari sisi lain area rumah melepaskan tembakan peringatan ke udara dan segera mengepung Dara. Namun, Dara dengan kelincahan yang mustahil—seolah-olah dia memiliki kekuatan dari kemarahannya—melompat ke arah lubang pembuangan air di bawah pagar yang rusak dan menghilang ke dalam gorong-gorong yang gelap.
Suasana menjadi mencekam. Api masih berkobar di pelataran, menyinari wajah pucat Tuan Jones yang kini tampak jauh lebih tua dalam hitungan detik. Pernikahan yang ia remehkan, nyawa yang ia pertaruhkan demi harga diri, kini berujung pada pertumpahan darah yang sangat nyata.
Anjani berjalan keluar perlahan. Ia berdiri di samping Oliver, menatap api yang melahap sisa-sisa kemewahan keluarga Jones. Ia tidak lagi merasa takut. Ia merasa bahwa pertempuran ini tidak akan pernah usai sampai salah satu dari mereka benar-benar hancur.
"Dia tidak akan berhenti, Oliver," kata Anjani dengan suara dingin yang membuat Oliver menoleh padanya. "Dan aku pun tidak akan membiarkannya terus seperti ini. Jika dia ingin main-main dengan api, maka aku akan menjadi badai yang memadamkannya."
di rumah sakit kenapa tidak di bius atau di suntik mati misalkan...... tapi cerita ya tetap cerita....