Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Permainan Papan Catur Dua Jiwa dan Lahirnya Perjanjian Tiga Tahun
Malam merayap semakin larut, menyisakan keheningan pekat yang mendesak masuk lewat celah-celah jendela kaca kamar tidur Nadine. Mist tipis beraroma lavender dari mesin difuser uap terus menyembur ke udara, mencoba menenangkan atmosfer ruangan yang terasa kaku. Namun, keharuman menenangkan itu gagal total meredakan kepanikan yang sedang bergolak liar di dalam dada Nadine.
Langkah kakinya yang telanjang bergerak gusar, mondar-mandir di atas karpet bulu domba putih yang empuk. Sesekali, matanya melirik tajam ke arah ponsel pintar yang tergeletak pasrah di atas tempat tidur berseprai abu-abu.
{Bagaimana cara membatalkan kegilaan ini? Kalau Papa sampai tahu aku mendaftarkan pernikahan dengan orang asing dalam waktu tiga hari, beliau bisa terkena serangan jantung di tempat. Aku harus menghentikan ini sekarang juga sebelum semuanya terlambat.}
Nadine menyambar perangkat tipis itu dengan gerakan cepat. Jemarinya yang sedikit gemetar menyentuh layar, mengetikkan deretan nomor telepon yang tertera pada kartu nama hitam mengilap di tangan kirinya. Jantungnya berdentang keras, seolah memukul dinding dadanya tanpa ampun saat nada sambung mulai terdengar. Satu dering. Dua dering. Tepat pada deringan ketiga, panggilan itu mendadak tersambung dengan suara klik yang pelan namun tegas.
"Halo, Pak Kyle?"
Nadine menempelkan ponsel erat-erat ke telinganya, berusaha sekuat tenaga menyembunyikan getar samar pada suaranya agar terdengar seprofesional mungkin.
"Siapa?"
Suara berat dan dalam di seberang sana menyahut tanpa basa-basi. Nada bicaranya yang datar dan acuh tak acuh seketika mengirimkan sensasi dingin yang ganjil melalui gelombang udara telepon.
"Wanita dari sudut restoran industrial tadi siang."
"Ada apa?"
Nadine menarik napas panjang, meremas ujung blus tidurnya yang berbahan katun tipis untuk mencari kekuatan batin. "Apakah... apakah masih ada celah bagi saya untuk membatalkan kesepakatan impulsif yang kita bicarakan tadi siang?"
Hening sesaat, sebelum akhirnya terdengar suara kekehan sinis yang sangat tipis namun sarat akan ejekan dari seberang saluran. Kyle tampaknya sedang bergeser di atas kursi kerjanya, terdengar dari gesekan kulit mewah yang tertangkap mikrofon ponsel.
"Ah, jadi dugaanku memang benar. Anda ternyata menyukai saya dan mendadak ketakutan tidak bisa menahan iman Anda setelah melihat ketampanan saya dari jarak dekat, bukan?"
"Bukan begitu! Jangan terlalu percaya diri!"
Nadine menyela cepat dengan suara yang naik satu oktav, tidak terima harga dirinya diinjak-injak begitu saja oleh pria yang baru ia temui beberapa jam lalu.
"Lantas, apa alasan logis yang membuatmu berani mengganggu waktu istirahatku malam-malam begini?"
Nadine menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga memucat. Kepalanya berputar dengan kecepatan penuh, merangkai alasan yang paling masuk akal agar ia tidak terlihat kalah dalam permainan ego ini. "Saya belum meneliti draf perjanjian kontraknya secara detail dan tertulis. Ada beberapa poin perlindungan diri yang ingin saya tambahkan sebelum saya benar-benar berkomitmen dalam kerja sama jangka panjang ini."
"Begitu?"
Kyle menjeda ucapannya, tampaknya sedang menimbang kerasnya kepala wanita asing ini yang ternyata cukup menghibur untuk dilayani.
"Tenang saja, Pak Kyle. Ini sama sekali bukan pasal yang mengarah pada kehidupan pribadi Anda, ataupun tuntutan pembagian harta gono-gini di kemudian hari. Ini murni draf profesional demi kenyamanan bersama selama masa kontrak berjalan."
"Baik. Besok pagi sekretaris pribadiku akan mengirimkan draf resminya ke email Anda. Tulis apa saja pasal perlindungan yang Anda inginkan, sepanjang itu tidak mengusik batas privasi saya."
"Terima kasih banyak atas pengertiannya."
Nadine langsung memutuskan sambungan sepihak tanpa menunggu kalimat penutup dari pria itu. Ia melemparkan ponselnya ke atas tumpukan bantal dengan napas yang memburu, namun seulas kelegaan kini mulai merayap tipis di dadanya.
Keesokan harinya, sinar matahari pagi yang pucat menembus tirai tipis kamar kerja Nadine. Sebuah dokumen berformat PDF masuk ke dalam kotak masuk surat elektroniknya tepat pukul delapan pagi tanpa meleset satu menit pun, dikirim langsung oleh sekretaris pribadi dari kantor CEO Ernest Group.
Nadine duduk dengan punggung tegak di depan meja kayu jati yang menghadap langsung ke arah taman samping rumah. Mengenakan kacamata baca berbingkai tipis, jemari lentiknya menggulirkan layar tablet, meneliti kata demi kata yang tertulis di atas draf kontrak tersebut dengan ketelitian tingkat tinggi seorang analis keuangan.
Proses negosiasi ulang dan revisi pasal-pasal perlindungan diri yang diajukan Nadine berlangsung cukup alot selama beberapa jam berikutnya, dimediasi oleh sekretaris Kyle yang bergerak cepat tanpa banyak bertanya. Akhirnya, tepat sebelum tengah hari, kedua belah pihak mencapai kata sepakat secara mutlak. Saat Nadine membaca lembar akhir dokumen yang telah dibubuhi tanda tangan digital berwarna biru tua milik Kyle Ernest, sebuah senyuman puas terukir di wajah cantiknya.
Dokumen tersebut kini memuat delapan pasal mutlak yang mengikat hubungan pernikahan kontrak mereka selama tiga tahun ke depan tanpa ruang untuk toleransi:
| Nomor Pasal | Isi Perjanjian Kontrak Pernikahan Kontrak |
| **Pasal 1** | Kontrak pernikahan ini hanya berlaku selama **3 tahun** terhitung sejak tanggal pendaftaran resmi di KUA. |
| **Pasal 2** | Pihak Pertama (Kyle Ernest) dan Pihak Kedua (Nadine Lavena) wajib **tidur di ruangan yang terpisah**. |
| **Pasal 3** | Kamar masing-masing pihak merupakan **ruang pribadi yang memiliki privasi penuh** dan dilarang keras dimasuki tanpa izin tertulis atau lisan dari pemilik kamar. |
| **Pasal 4** | Kedua belah pihak **dilarang keras mencampuri urusan pribadi** masing-masing di luar urusan yang melibatkan keluarga besar atau media. |
| **Pasal 5** | Kedua belah pihak **harus terlihat harmonis, serasi, dan saling mencintai** di depan keluarga besar dan di hadapan sorotan kamera media publik. |
| **Pasal 6** | **Tidak ada sentuhan fisik** yang bersifat intim di dalam rumah, apalagi perkembangan romansa dalam kehidupan sehari-hari secara nyata. |
| **Pasal 7** | **Denda sebesar Rp30.000.000.000 (Tiga Puluh Miliar Rupiah)** wajib dibayarkan secara tunai jika tidak menyelesaikan masa kontrak atau melanggar perjanjian terlebih dahulu. |
| **Pasal 8** | Pihak Kedua akan menerima **gaji per bulan sebesar Rp100.000.000 (Seratus Juta Rupiah)**, di luar fasilitas kartu ATM khusus dan barang-barang mewah yang diberikan untuk menunjang penampilan publik. |
Nadine mengetukkan kuku jarinya ke atas permukaan layar tablet yang dingin, memandangi angka seratus juta rupiah dan nilai denda tiga puluh miliar rupiah itu bergantian dengan binar mata yang berkilat tajam. Bagi seorang wanita yang telah mematikan fungsi hatinya dari segala urusan asmara, angka-angka fantastis ini adalah bentuk keamanan paling nyata yang bisa ia miliki.
{Tiga tahun hidup dalam kemewahan tanpa gangguan, dibayar seratus juta sebulan hanya untuk berpura-pura tersenyum di hadapan kamera, dan memiliki kamar tidur pribadi yang terpisah? Ini adalah kesepakatan bisnis terbaik yang pernah kudapatkan sepanjang hidupku. Pria angkuh sedingin es itu pikir dia bisa menakut-nakutiku dengan denda tiga puluh miliar? Dia tidak tahu saja bahwa aku sama sekali tidak tertarik pada tubuhnya atau kekuasaannya. Aku hanya memercayai uang, karena lembaran uang tidak akan pernah mengkhianatiku seperti Heyden, atau membuangku ke bawah guyuran hujan seperti wanita itu.}
Di belahan kota yang lain, di dalam ruang kantor utama di lantai teratas gedung Ernest Tower yang beraroma harum maskulin perpaduan kayu cedar dan kulit mewah, Kyle Ernest menyandarkan punggung tegapnya pada kursi kebesaran. Pandangannya menyapu pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang di bawah sana melalui dinding kaca tebal setinggi langit-langit.
Matanya beralih menatap salinan draf kontrak pernikahan yang baru saja selesai ditandatangani oleh kedua belah pihak di layar gawai pribadinya. Sebuah senyuman tipis yang sarat akan kelicikan muncul di wajah tampannya yang sedingin salju saat melihat nama 'Nadine Lavena' tertulis rapi di kolom pihak kedua.
"Dia wanita yang sangat menarik dan cukup tegas untuk ukuran orang asing. Setidaknya dia tidak menatapku dengan pandangan lapar atau berusaha menyentuhku seperti wanita-wanita lain yang dikirimkan Ibuku."
Kyle menggulirkan draf tersebut ke bawah, mengetuk-ngetuk jarinya pada poin denda tiga puluh miliar rupiah dengan santai.
"Biarkan dia bermain dengan aturan bisnis kecilnya ini untuk sementara waktu. Tiga tahun adalah waktu yang cukup lama untuk membuat Ibuku berhenti mengoceh tentang pernikahan."
Kyle bergumam dengan suara rendah yang menggetarkan ruangan, mengira dirinya telah mengendalikan seluruh jalannya bidak catur takdir ini dengan sempurna dari kursinya yang nyaman. Pria es itu sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang baru saja ia ikat dalam perjanjian tertulis ini memiliki kecerdikan dan keteguhan hati yang jauh lebih mematikan dari apa yang bisa ia bayangkan. Roda permainan baru saja dimulai, dan kali ini, sang penguasa bisnis mungkin telah menemukan lawan tanding yang sepadan untuk membekukan hatinya sendiri.