Tatapannya masih menusuk tajam, tangannya mengunci dua lenganku ke atas. Menghimpitku ke dinding, aku seperti dejavu dengan posisi ini.
Mimpi itu ...
"Kamu kira aku bodoh, Gauri? Jika seseorang ingin menghancurkanku, maka bukan Yosita kuncinya." katanya penuh penekanan.
"Pria itu sudah kamu libatkan dalam masalah serius seumur hidupnya jika berhasil meniduri Yosi. Apa kamu tahu? Kenapa dia tak kunjung hamil, heh?"
Dengan kasar dia menarik bajuku hingga robek. Tubuhku terekspose hanya tertutup tanktop saja. Dia mencengkeram dagu dengan kuat. Menciumku secara brutal. Mataku mulai basah dengan sikapnya.
"Kamu terlalu naif dan gegabah, Gauri! Jangan salahkan aku jika kamu akan benar-benar tak bisa lepas dariku!" bisiknya di sela hembusan nafas.
"Kamu sudah ada dalam genggamanku. Adik-adikmu tak akan bisa memperbaiki kondisimu sekarang. Hanya aku. Aidam Ishwar Sura! Aku tak akan pernah membiarkanmu terluka, Gauri! Jadi, bersikaplah yang manis, hm?"
Klik Subscribe dulu sebelum baca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iftiati Maisyaroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Harus Akting Lagi?
Bab 27 Harus Akting Lagi?
"Siapa? Sadino?"
Semuanya menoleh kaget, Kenzie langsung berdiri tegap begitu juga Gauri yang sampai mundur selangkah.
"Papa?" Aidam menubruk tubuh pria paruh baya yang masih sangat kekar itu.
"Dia berhasil selamat. Hanya Aoron yang terpanggang di rumah itu. Kalian pergilah! Bersembunyi hingga kasus ini selesai. Akan Papa pastikan Sadino berakhir di tangan ini!" Sadana menepuk punggung Aidam lalu mengepalkan tangan seiring memberi jarak pada tubuh mereka.
"Bagaimana bisa? Aku belum selesai menyiapkan--"
"Hati-hati dengan ucapanmu, Aidam! Papa yang akan mengurus semuanya. Kalian hanya perlu menjaga Gauri. Takdir telah mempertemukan kalian bertiga untuk saling melindungi. Pergilah!"
Aidam mengangguk dan menoleh pada Gauri juga Kenzie yang menatap dua pria beda usia itu dengan bingung.
"Aku nggak ngerti, Aidam! Apa maksudnya? Kenapa jadi ada Kenzie dalam masalah kita?" protes Gauri menyejajari suaminya berdiri.
"Gruffith dan Heiji Mouru adalah orang yang sama." jawab kembaran Sadino itu.
"A-APA???"
Gauri menggeleng kuat dan menatap sendu pada Kenzie yang terhuyung sambil memegang dadanya.
"Jika saja Abyasa tahu sejak awal. Tak akan mungkin dia menitipkan Gauri kemari. Tapi itulah takdirnya. Gruffith tak akan membunuh putranya sendiri. Sementara Aidam dan Gauri harus didapatkannya dalam keadaan hidup jika ingin mendapatkan kembali harta berharganya lagi." terang Sadana melirik jam di tangannya.
"Tak ada waktu, dia sudah bebas dan sudah mendarat di Jakarta. Bawa mobil Papa! Semua sudah lengkap, kamu tahu passcode-nya, Aidam! Go! Go! Go!" Sadana menepuk dua kali bahu Aidam dan mendekati Kenzie, melakukan hal sama.
Pria berdarah Jepang itu masih mematung dan menatap kosong. Belum selesai dari keterkejutannya. Aidam meraih tangan Gauri yang masih enggan bergerak menatap sendu pada saudara su suannya.
"Ken ...." Gauri melangkah mengikis jarak dan memeluk Kenzie.
Sebuah kenyataan pahit yang harus diterimanya. Menjadi anak seorang yang buruk bukanlah inginnya. Juga tak bisa ditolak. Tetap akan merasa kecil dan sakit.
"Apa Umi dan Abah tahu tentang ini, Tuan Sadana?" Mencoba tegar dengan bertanya yang meloloskan sebulir air dari sudut matanya.
"Ya!" Sadana mengangguk pasti.
"Apa rencana Tuan untuknya?" Kenzie seperti ingin mengatakan untuk dilibatkan melalui sorot mata tajamnya.
"Jangan Onii-san! Lindungi Gauri bersama Tuan Aidam. Kalian bertiga harus selalu bersama jika ingin selamatkan kami. Percayalah. Umi selalu mendoakan keselamatan kalian, hm?" Umi sudah berdiri di samping putranya dan mengelus punggung lebar Kenzie dengan sedikit tepukan.
"Umi ...." Pria berambut kecoklatan itu tak bisa lagi menahan isakan dalam pelukan sang ibu.
"Cepatlah, Nak!" Abah ikut memberi perintah dengan sedikit panik.
Sirine mobil polisi kembali meraung dari kejauhan.
"Pakai ini, Nak!"
Umi menyerahkan sejumlah pakaian serba hitam dan panjang beserta penutup kepala. Aidam dan Kenzie terpaksa memakainya. Sebuah kursi roda dan bantal disiapkan untuk Gauri. Penyamaran keadaan darurat dijalankan sebagai plan pertama Sadana.
Ketiganya berlari ke klinik mendorong Gauri yang duduk di kursi roda dengan perut besar. Satu kendaraan polisi memasuki halaman pesantren diikuti kendaraan lain hingga memenuhi pelataran berpaving itu kembali. Setelah sebelumnya sempat meninggalkan tempat mencari ilmu agama itu.
"Ya Allah ... Naaak ... cepat panggil ambulans!!! Teriak seorang wanita paruh baya menghampiri pria berkacamata dan tahi lalat besar di pipinya yang sedang mendorong seorang wanita bercadar dengan perut besar.
"Semuanya gara-gara polisi tadi ya? Kamu nahan sakit mau melahirkan? Ya Allah ... tolong! Cepatlah!!!" Dia mengguncang bahu wanita bercadar hingga tertutup matanya di samping pria berkacamata. Memburu agar cepat naik ke ambulans.
"Ada apa ini, Bu?" Seorang polisi yang baru datang menghampiri dan bertanya.
"Kalian nggak lihat? Dia mau melahirkan! Ini anak pertamanya dan kalian kembali lagi ke sini??? Di mana hati nurani kalian?" sentak wanita itu dengan lantang.
"Buka jalan untuk putriku!!! Kenapa masih menutup gerbang? Kendaraan kalian berisik sekali! Menantuku dan adiknya ini bisu dan tuli!!! Cepat bantu!!!" Tak henti-hentinya wanita itu terus berteriak meraung-raung membuka jalanan agar ambulans yang sudah dikemudikan seorang santri bisa melaju lancar.
Polisi itu pasrah dan tak jadi memeriksa ketiga orang yang sudah berada dalam kendaraan prioritas darurat kesehatan itu.
"Siapa tadi, Ken? Luar biasa aktingnya!" Gauri membuka cadar dan mengacungkan jempolnya.
"Tutup lagi dan pura-puralah mengaduh sampai aman!" Kenzie memberi isyarat hanya mengucapkan dengan gerakan bibir terkulum hampir tak dimengerti.
"Og--"
"Sssttt! Bisa jadi ada alat penyadap suara di sini. Jadi, diamlah dan menangis saja!" bisik Aidam membekap mulut istrinya yang meronta.
"Aaarrrgh!!! Aaauuuw ... sssshhhh ...." teriak Gauri merintih sambil memukul kepala Aidam yang melotot tak terima.
Wanita yang berbaring di brangkar itu mengulum senyum dan menjulurkan lidahnya. Memegang perut yang masih diberi bantal tambahan dan kembali berteriak kesakitan.
"Lebay!" desis Kenzie memalingkan wajah dari Gauri yang langsung menendangkan kakinya.
Pria yang sedang kegerahan memakai pakaian wanita bercadar hingga semua wajah tak terlihat itu mengepalkan tangannya.
"Awas ya? Tunggu nanti!" desisnya mengibaskan kerudung panjang berwarna gelap itu.
"Pak, sepertinya ada yang mengikuti kita!" Santri yang bertugas menjadi sopir memberi tahu melalui sebuah intercom dari kabin depan.
Ketiganya hanya bisa saling pandang mendengar kabar si sopir.
Bagaimana jika benar salah satu dari mereka atau ambulans ini sudah disadap sebelumnya?
...***...
^^^Bersambung ....^^^
Jangan lupa dukung terus dengan memberi like dan komentarnya ya, Akak?
Apakah ada yang kurang dalam ceritanya? Atau malah cacat logika menurut kalian gimana?
Kasih ulasannya dong, Akak pembaca 🥰🤗
Terima kasih 🙏
mgkn lbh baik
Sendiri...
🤭😵💫🤕
okelah, Thor...
Lanjutkan. kebingunganku ini.. 😁🤣