NovelToon NovelToon
Anak Kembar Mafia

Anak Kembar Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:60.1k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Hana Yasmin adalah lambang dari ketegaran wanita yang luar biasa. Enam tahun yang lalu terpaksa diusir dari rumah orang tuanya sendiri karena telah mengandung benih pria yang tidak dia kenal. Sebuah tragedi kelam merenggut paksa kesucianya. Trauma mendalam itu sempat meruntuhkan dunia Yasmin. Namun, takdir berkata lain. Bayi yang dititipkan dalam tahimnya lahir sepasang malaikat kecil laki-laki dan perempuan yang ia beri nama Fatir dan Fathia.

Yasmin berjuang sendiri membesarkan anak kembarnya itu hingga tumbuh menjadi anak yang cerdas, padahal masih usia 5 tahun dan sekolah TK. Yasmin yang bekerja di restoran bertemu Marco Bellini. Pria itu jatuh cinta kepadanya bahkan mengajak menikah dan berjanji untuk membesarkan si kembar, tapi rasa trauma membuat Yasmin tidak mudah untuk menerima.

"Yasmin, menikahlah denganku demi kamu dan anak-anak."



Apakah Yasmin akhirnya menerima Marco? Bagaimana kisah selanjutnya? Kita ikuti kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Dengan langkah berat, Yasmin berjalan menuju pintu kayu yang sederhana itu. Ia menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian yang tersisa, lalu perlahan membuka gagang pintu. Begitu terbuka, sosok ibu Retno pemilik kontrakkan menatap Yasmin sinis. Tubuhnya yang besar tampak mengisi seluruh celah pintu.

"Ah, akhirnya kamu keluar juga!" ucap bu Retno dengan nada tinggi dan kasar, hingga di dengar oleh Fatir dan Fathia dari dalam.

"Maaf Bu, kami sedang sarapan," Yasmin menanggapi dengan sopan, dan minta bu Retno masuk ikut sarapan.

"Saya kesini bukan mau minta makan, tapi sudah berapa bulan kamu menunggak uang sewa, Yasmin? Coba hitung sendiri! Tiga bulan penuh loh kamu tidak bayar, tapi masih saja santai-santai di dalam rumah ini dan makan enak!"

"Saya minta maaf, Bu," Yasmin merasa bersalah karena uang yang seharusnya untuk membayar kontrakan, ia gunakan untuk membayar uang muka sekolah Fatir dan Fathia.

"Akhir bulan kalau sudah gajian saya bayar ya, Bu."

"Janji-janji terus. Sudah berkali-kali kamu bilang begitu!" potong Bu Retno melengos geram, tangannya mengayun ke udara seolah hendak memukul sesuatu.

"Saya sudah tidak mau dengar alasan kamu lagi Yasmin. Saya bangun rumah ini tidak pakai janji, tapi membutuhkan uang banyak, saya kasih waktu seminggu, kalau tidak juga bayar, jangan salahkan kalau saya bawa semua barang-barang isi rumahmu sebagai ganti rugi, setelah itu kamu dan dua anakmu harus angkat kaki dari rumah ini!"

Bu Retno masih terus marah-marah, tidak tahu jika dari balik tirai jendela, dua pasang mata bulat sedang mengintip. Menatap bundanya yang sedang menunduk sedih.

"Kak, Bu Retno itu kok galak banget, kasihan Bunda," ucap Fathia kepada Fatir, ingin rasanya melakukan sesuatu untuk membantu Yasmin.

"Kita buat Bu Retno besok tidak akan marah-marah lagi, Dek, ikuti perintahku," kata Fatir, entah apa yang akan ia lakukan, gayanya seperti bos. Ia berjalan melewat pintu dapur diikuti Fathia, mengendap-endap mendekati sandal jepit bu Retno yang dilepas di ujung teras.

"Sekarang letakkan permen karet ini di atas sandal, terus tuangi bedak ini biar sandal dekil itu warnanya putih," pesan Fatir sembari tersenyum lalu meninggalkan Fathia yang mengangguk mengikuti perintahnya.

Tidak jauh dari tempat itu, Fatir meletakkan mainan karet berbentuk kodok di lantai yang akan bu Retno lalui, rupanya ia tahu jika pemilik kontrakkan itu paling jijik dengan bintang tersebut.

Selanjutnya Fatir meletakkan selembar kertas gambar di depan pintu rumah bu Retno yang di tulis dengan krayon khas anak TK.

"Ibu jangan marah-marah terus ya, ibu pasti tidak melihat dua malaikat yang mengikuti Ibu dan mencatat perbuatan buruk."

Fatir meninggalkan rumah bu Retno, lalu melongok wanita paruh baya itu masih menunjuk-nunjuk wajah bundanya.

 "Ayo masuk, Dek," Fatir menarik tangan Fathia lalu kembali duduk di tikar seolah tidak terjadi apa-apa.

Tidak lama kemudian, Yasmin masuk dengan senyum dipaksakan. Padahal pikirannya berkecamuk, dari mana mendapat uang satu juta delapan ratus dalam waktu seminggu?

"Kalian kok belum makan?" Tanya Yasmin memandangi makanan di piring anak-anaknya yang masih utuh.

"Nunggu Bunda..." jawab si kembar serentak.

Yasmin minta anak-anaknya segera makan karena biasanya sudah berangkat sekolah. Namun, baru saja menyuap, suara bu Retno di luar sana seperti terompet rusak.

"SIAPA YANG KURANG AJAR NARUH PERMEN KARET DI SANDAL JEPIT SAYA?! AWAS SAJA KALAU TAU PELAKUNYA! SAYA JEWER TELINGANYA!"

Yasmin berhenti mengunyah lalu menoleh ke arah pintu.

Sementara Fatir dan Fathia saling pandang menahan tawa.

"AAGGHHH... KODOOKKK..."

Baru berhenti beberapa detik, jeritan bu Retno semakin kencang. Dan pada akhirnya tawa Fatir dan Fathia pun pecah, Yasmin menoleh curiga ke wajah kedua anaknya.

"Jadi Bu Retno teriak itu karena ulah kalian?" Yasmin kaget karena tidak pernah mengajarkan anak-anaknya untuk berbuat yang aneh-aneh.

Melihat wajah Yasmin tidak suka, Fatir dan Fathia menunduk.

"Jawab Fatir, Fathia, apa yang kalian lakukan pada Bu Retno?" Desak Yasmin, ia ingin anak-anaknya belajar jujur.

"Fatir cuma taruh kodok mainan di depan rumah Bu Retno Bun, habisnya Bu Retno galak sama Bunda," jujur Fatir.

"Fatir, Fathia, lain kali tidak boleh begitu sayang... Ibu Retno tadi marah karena Bunda memang salah," Yasmin menasehati. Ia tidak ingin anak-anaknya mempunyai jiwa pendendam.

"Iya Bun..."

"Ya sudah... lanjut makan, terus kita berangkat," titah Yasmin, mengusap lembut kedua kepala anak-anaknya. Mereka pun akhirnya makan dengan cepat, Yasmin harus tiba di restoran tepat waktu, jika tidak pasti akan kena marah atasan.

Yasmin menuntun Fatir dan Fathia, berjalan kaki bersama karena jalanya searah.

"Kalian belajar yang benar, kalau sudah bubar sekolah, langsung pulang ya, Nak. Jangan kemana-mana," pesan Yasmin ketika tiba di depan TK yang tidak jauh dari rumah kontrakkan.

"Iya Bun," Fatir dan Fathia salim tangan bundanya. Lalu menatap Yasmin yang melambaikan tangan lalu pergi.

"Kasihan Bunda Kak," ucap Fathia, anak itu ingin rasanya membantu bundanya mencari uang agar tidak dimarahi bu Retno seperti tadi.

Iya, bagaimana kalau kita bantu bunda mencari uang," kata Fatir, seperti orang dewasa.

"Caranya?" Fathia pun setuju jika memang ada jalan.

"Kita pikirkan nanti, sekarang kita masuk kelas dulu." Fathia mengangguk, lalu masuk kelas.

Begitulah kondisi keuangan Yasmin membesarkan dua anak seorang diri, kerja di restoran masih kurang untuk kebutuhan sehari-sehari, maka ia sering ambil pekerjaan apapun bila restoran libur, yang penting bisa untuk mencukupi kebutuhan, tapi masih juga kehabisan jatah untuk membayar kontrakan.

Dengan jasa angkutan yang sudah jarang-jarang dan harus menunggu lumayan lama, dengan kendaraan tersebut Yasmin akhirnya tiba di depan restoran.

Begitu sampai di depan pintu restoran dan melihat jam dinding yang tergantung di sana, jantungnya serasa berhenti berdetak. Sudah lewat sepuluh menit dari jam masuk kerja. Napasnya memburu, keringat bercucuran membasahi dahi, bukan hanya karena lelah, tapi karena rasa takut yang menyergap dada. Omelan atasan pagi ini sudah pasti akan ia terima.

Benar saja, belum sempat ia menata napas atau menaruh tas kainnya, suara keras menyambar dari arah dapur.

"YASMIN! Kemana saja kamu, hah?!"

Bu Rina keluar dengan wajah emosi, tangannya bertolak pinggang, menatap Yasmin dengan pandangan membara. Para karyawan lain yang sedang sibuk menyiapkan meja atau menata bahan makanan, serentak menoleh dan diam membisu.

Yasmin menunduk dalam, tubuhnya menegang. Ia tahu bukan hanya kemarahan bu Rina saja konsekuensi yang akan ia terima karena datang terlambat, tapi bisa berujung pada pemotongan gaji atau bahkan pemecatan.

"Maaf, Bu...," lirih Yasmin, nyaris tak terdengar di tengah suasana hening.

"Di rumah tadi ada sedikit urusan mendadak, belum lagi menunggu angkutan lama, jadi terlambat," lanjut Yasmin, berharap penjelasannya diterima.

"Urusan, urusan terus jadi alasan kamu!" potong ibu Rina ketus, berjalan mendekat hingga wajahnya berhadapan dengan Yasmin.

 "Kamu pikir kerja di restoranmu sendiri, jadi bisa santai Yasmin! Semuanya harus tepat waktu. Pelanggan sudah mulai datang, tapi kamu baru muncul dengan wajah lesu begitu! Kamu pikir gaji yang kamu terima itu gratis? Kalau tidak sanggup disiplin, lebih baik kamu cari kerjaan lain saja!"

Kata-kata itu meluncur keluar seperti duri-duri tajam yang menusuk tepat ke ulu hati Yasmin.

"Maafkan saya, Bu... Saya janji tidak akan mengulangi lagi," jawab Yasmin sambil menundukkan kepala lebih dalam.

Saat sedang tegang, tiga orang pria masuk restoran, salah satu diantaranya berpakaian jas rapi, tapi wajahnya dingin. Dua orang menarik kursi, pria itu segera mengisi kursi kosong. Yasmin menarik napas lega karena bu Rina segera menyambut tamu tersebut. Namun, ketika Yasmin hendak meletakkan tas, bu Rina mendekat.

"Buatkan kopi tamu istimewa itu, awas, jangan mengecewakan mereka!" Ujar Rina lirih tapi ketus.

"Baik, Bu," Yasmin cepat membuat tiga cangkir kopi, tidak lama kemudian mengantar kepada tamu yang menurut Rina istimewa. Namun, tiba-tiba saja salah satu teman kerjanya entah sengaja atau tidak nyiku lengan Yasmin yang membawa nampan tepat di samping pria dingin itu.

Pyak!

"Aagghhh..."

Pria yang paling rapi di antara mereka berteriak ketika kopi tersebut tumpah dan kena lengannya.

"Maaf Tuan... saya tidak sengaja," Yasmin menarik tisue, dengan tangan gemetar membersihkan lengan pria yang menatapnya tajam.

...~Bersambung~...

1
🌷💚SITI.R💚🌷
gmn menjauhkanybdr kamu yasmin..udh cewey marcopolo itu segsmbreng di mana aja ada di setisp sudut kota dan desa pasti ada,,dan ga semudah itu jg menyungkirkny..sekarang kami yg hrs sisp mental kshor bathin de..pokoky msh banyak rahasisy.
Les Tary
Marco emang payah sekelas Mafia kakap asal gelap celop aja apalagi sekelas Rina🤭🤭
Eka ELissa
nah loh.....
bingung....tu...Marco mo jawab apaan....
Lia siti marlia
nah bagus yasmin kamu harus tegas sama marco🥺🥺🥺
🌷💚SITI.R💚🌷
hadeeh klu wanita udh gila harta dan nsfsu ga mikir bahsya dan baik tdky
Hera sasuwe
riweh nih masa lalu marco buat gregetan sampe emosi
Lisa Halik
lagi thor makin penasaran...sudah bagi gift juga
Lia siti marlia
waduh c rossa udah berani ngancam pake senjata siap siap kamu di kulitin sama marco rossa😂
ardiana dili
lanjut
Eka ELissa
alah ....ngimpi kwe Ross....
jgn kan knyataan dlm mimpi juga Marco GK bkln blik Karo kwe tau....🤣🤣🤣🤣🫣
Eka ELissa
waduh siapa lagi ini yass......
bnyak bgt ....bikin syok nya....dri kmrin 🤣🫣
Les Tary
Marco emang Rossa sudah kamu janjiin apa bisa senekat itu
Lisa Halik
gift menyusul thor...semangat updatenya
Teh Yen
ini pasti cewek yg kmr Dateng ke rmh Marco yah ,,.ktnya udh d usir Marco kok dia balik lagi sih
Teh Yen
waduh smoga Emil engg bilang ke Yasmin deh nanti nanti aj taunya gt hehe 😁
🌷💚SITI.R💚🌷
ujian kamu blm tuntas yasmin mungkin msh panjang,,apa lg berhadapan sm cewe kaya ditu yg tsk tau mslu..apa nanti² tuh cewe² marcopolo trs berdatangan ya trmasuk runa..wah yasmin kewalahan dan diap² genhatan senjaya lg nih
🌷💚SITI.R💚🌷
ini cewe selalu nyari gara² ya..tr lama² du buang ke antartika deh sm marcopolo
Bunda HB
Saya ada bu jasmin klo 2jt...tk bantu byr.👍🙏🫡🤣
Lia siti marlia
kondisi yasmin sekarang memang gak kekurarang masal uang masalah makan tapi hati yasmin masih harus terus menerus menghadapi oarang orang yang ada di masa lalu marco 🥺🥺🥺entah sampai kapan 🤔🤔🤔
ardiana dili
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!