Senja tak pernah menduga, jika di rahimnya bakal hadir dua sosok malaikat kecil akibat pelecehan yang dilakukan Bumi terhadapnya.
Pasca menikah dengan Bumi, Senja seringkali mendapat perlakuan kasar.
Bahkan Bumi tega beberapa kali mencelakai Senja hanya untuk melenyapkan bayi yang dikandungnya.
Di saat Senja tak mendapat kasih sayang dari suaminya, kehadiran Langit sudah cukup menjadi pelipur lara baginya. Namun, kehadiran Langit justru membuat Bumi menjadi cemburu sekaligus takut jika Senja akan jatuh ke pelukan Langit.
“Aku nggak mau kamu menjadi hujan. Tapi langit seperti namamu, Mas. Bak sebuah pepatah, 'Sesetia Langit Menemani Senja'. Langit yang begitu setia menemani senja meski ia nggak selamanya indah.” Senja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrafa Aris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. SLMS
Sore harinya, Senja kembali ke makam putranya. Keningnya seketika berkerut tipis memandangi Bu Cahaya dari kejauhan yang sedang berada di tempat itu.
“Rupanya Mak Lampir bisa menangis juga ya. Aneh, untuk apa dia ke makam putraku,” gumam Senja sembari mengayunkan langkah.
“Nggak usah mubazir membuang air mata buayamu. Percuma saja, karena putraku pun nggak sudi ditangisi wanita munafik berhati iblis sepertimu!”
Bu Cahaya langsung mendongak. Wanita paruh baya itu merasa geram mendengar kalimat bernada sarkas sekaligus tak sopan dari Senja.
Ia berdiri lalu mendekati Senja. Namun, Momy dari Kala dan Aru itu mundur satu langkah ke belakang. Menggelengkan kepala seraya menggoyangkan jari telunjuk.
“Senja! Beraninya kamu bersikap kurang sopan pada mama!”
Senja tersenyum sinis karena Bu Cahaya mengangkat tangan ingin melayangkan tamparan.
Namun, dengan cepat Senja menahan tangan itu lalu mencengkram kuat. Menatap tajam penuh kebencian pada mertuanya.
“Jangan harap kamu bisa menyakitiku lagi. Selama ini aku diam nggak membalas bukan karena aku lemah apalagi takut padamu. Akan tetapi, aku masih menghargai serta menghormatimu sebagai seorang Ibu.”
“Tapi sekarang itu sudah nggak berlaku. Jangan sampai tangan jahanammu ini menjadi cacat karena ulahmu. Camkan itu baik-baik!” ancam Senja lalu menghempas lengan Bu Cahaya kemudian mendorongnya.
“Senja ... kamu!!” hardik Bu Cahaya.
“Jangan pernah ke makam putraku lagi. Pergi kamu dari sini sekarang juga!!” bentak Senja.
Mau tak mau Bu Cahaya terpaksa meninggalkan tempat itu dengan wajah memerah menahan amarah. Ia seolah tak percaya jika Senja bisa bersikap kasar juga tak sopan padanya.
“Apa itu tadi?! Berani-beraninya dia memanggilku dengan sebutan 'KAMU'!!” gerutunya sambil terus melangkah.
“Mama!” tegur Bumi yang sejak tadi mengamati keduanya dari kejauhan.
Bu Cahaya seketika terkejut mendengar suara sang putra. “Bumi ... sejak kapan kamu di situ?”
“Sejak tadi saat Senja menghampiri Mama. Ada apa? Sepertinya Mama dan Senja habis bertengkar.”
“Apa kamu masih ingin mempertahankan wanita itu? Mama sarankan ceraikan saja dia. Apa kamu tahu, di baru saja mengancam mama. Bahkan bersikap kurang sopan. Dia nggak memanggil mama dengan sebutan MAMA tapi dengan sebutan KAMU,” omel Bu Cahaya dengan perasaan kesal.
Alih-alih marah atau membela sang Mama seperti sebelumnya, Bumi hanya bersikap santai lalu tersenyum tipis.
“Maklumi saja, Mah. Senja seperti itu karena kejiwaannya masih terguncang akibat kehilangan putra kami.”
Mendengar pembelaan dari Bumi, Bu Cahaya semakin di buat geram. Ia lalu mengarahkan ekor matanya ke arah Senja.
Setelah berpamitan pada bumi, ia menuju ke arah mobil. Namun, perasaannya seketika menjadi cemas memikirkan kejadian siang tadi di apartemen Rio.
“Mudah-mudahan Rio tetap bungkam. Aku berharap dia sudah meninggalkan Kota J,” gumamnya lalu menyalakan mesin mobil kemudian meninggalkan TPU.
Sedangkan Bumi, ia tetap berdiri di samping mobil. Memandangi Senja dari kejauhan.
“Senja, sampai kapan kamu akan seperti itu?” ucap Bumi dengan lirih.
Seperti hari-hari sebelumnya, ketika hari mulai gelap barulah Senja meninggalkan makam sang putra.
Ketika ia akan melanjutkan langkah menuju ke arah motornya diparkir, Bumi menyusul lalu dengan cepat memegang tangan Senja.
“Senja!”
“Lepasin!” Senja menepis kasar tangan suaminya.
“Senja, jangan seperti ini. Ayo kita pulang, sejak semalam aku mencemaskanmu.”
“Kamu pulang saja sendiri. Lagian aku tahu kok jalan pulang,” ucap Senja dengan sinis. “Ngapain juga kamu mencemaskanku, semua bentuk perhatianmu itu sudah terlambat.”
Bumi tertunduk lesu dengan mata berkaca-kaca. Ucapan Senja memang benar adanya. Bukan salah Senja melainkan salahnya sendiri.
.
.
.
“Dewa, pastikan pria brengsek itu tetap berada di sel tahanan sendirian. Syukurnya aku cepat ke apartemennya tadi siang. Jika nggak, aku pasti sudah kehilangan jejaknya. Soalnya dia akan meninggalkan Kota J menuju Singapura,” kata Gerry.
“Baiklah. Kamu tenang saja. Aku juga sekaligus berterima kasih padamu karena turut andil dalam kasus ini. Pulanglah, biar aku dan temanku yang mengurus sisanya,” timpal Dewa seraya menepuk pundak Gerry.
“Aku pamit.”
Sebelum benar-benar meninggalkan kantor polisi, Gerry terlebih dulu ke sel tahanan. Dari luar jeruji besi, ia tersenyum sinis.
“Selamat menikmati hari-harimu di hotel prodeo ini. Kamu akan tahu kelanjutan nasibmu setelah Pak Andara kemari besok.”
Rio hanya tertunduk lesu. Pikirnya, andai saja ia mengabaikan permintaan Bu Cahaya, ia pasti tak akan bernasib apes seperti saat ini.
“Oh ya, pastikan kamu berkata jujur mengikuti naluri kata hatimu. Setidaknya jadilah orang yang punya rasa empati. Apa kamu bisa membayangkan? Jika posisi wanita yang kamu tabrak itu adalah istrimu?”
Rio semakin menundukkan pandangan wajah sekaligus tertohok mendengar ucapan Gerry. Sedetik kemudian ia mengarahkan pandangan ke arah Gerry yang telah meninggalkan sel tahanan itu.
“Pak, Bumi ... kalian pasti terkejut jika dalang utama tabrak lari itu adalah Bu Cahaya,” ucap Gerry dengan lirih sesaat setelah berada di dalam mobil.
Yang ada di benak Gerry saat ini adalah, bagaimana caranya ia menjelaskan hal itu besok kepada Pak Andara juga Bumi.
.
.
.
Setibanya di rumah, Bumi langsung mempercepat langkahnya menapaki anak tangga menuju kamar.
Ia langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Menghela nafas dengan kasar sembari memejamkan mata.
“Senja, aku kangen akan dirimu yang dulu. Menyambutku pulang kerja dengan senyum manis, melayaniku dengan baik serta penuh perhatian. Semuanya sangat tulus meski aku selalu mengabaikan ketulusanmu bahkan selalu bersikap kasar padamu. Maafkan aku, Senja.”
Beberapa jam berlalu ....
Bumi menatap nanar makanan yang telah tersaji di atas meja makan.
“Nak Bumi,” tegur Bik Riri.
“Bik, apa tadi siang Senja pulang ke rumah?”
“Nak Senja belum pernah pulang, Nak. Sebenarnya bibik juga mencemaskannya.”
“Bik.” Bumi memeluk Bik Riri lalu menangis. “Aku mohon bujuk Senja untuk memberiku kesempatan. Aku sadar jika selama ini aku begitu kejam padanya. Tapi sekarang aku sudah berubah Bik, aku menyesal. Aku takut kehilangannya juga.”
Bik Riri mengelus punggung tegap Bumi. Entah ia juga harus bagaimana. Ia bahkan tak yakin bisa membujuk Senja. Apalagi akhir-akhir ini, wanita itu lebih banyak diam, bahkan terkesan seperti orang linglung.
*********
Malam yang semakin larut tentu saja membuat Bumi semakin khawatir karena Senja tak kunjung pulang.
Ia yang tadinya berada di ruang kerja sedang menggambar, memutuskan membereskan alat-alat kerjanya.
Bumi memilih turun ke lantai satu. Duduk di sofa sembari menyesap rokok dengan gelisah.
Arah jarum jam kini menunjukkan hampir jam dua belas malam. Bumi semakin merasa cemas.
“Ya Tuhan, kenapa dia belum pulang juga? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada dirinya di jalan,” ucap Bumi nyaris tak terdengar.
Ia pun berbaring di sofa. Menatap langit-langit dengan satu tangan di atas kepala. Tak lama berselang matanya perlahan terpejam masuk ke alam bawah sadarnya.
Tiga puluh menit kemudian ....
Senja baru saja tiba. Ia langsung menghela nafas kasar lalu memutar bola matanya malas ketika berdiri di ambang pintu.
Setelah menekan password, ia pun membuka pintu. Keningnya berkerut tipis saat mendapati Bumi sedang tertidur di sofa.
Alih-alih merasa terenyuh atau iba, Senja malah tak memperdulikan pria itu. Ia kembali mengayunkan langkah menuju kamarnya.
Tak ingin kecolongan lagi, ia langsung mengunci pintu kamar.
Karena sudah tak bisa melawan rasa kantuk, Senja perlahan merangkak naik ke atas ranjang lalu memejamkan mata.
...----------------...