Demi terbebas dari tekanan Melia—ibunya, Olla memutuskan menikah dengan pria pilihan Melia bernama Alvin. Seorang pengusaha muda yang begitu kaku dan sombong.
Ia memberikan semuanya, agar di hari yang sama dia bisa melarikan diri dan hidup bebas.
Namun, kaburnya Olla setelah malam pertama, justru membawa petaka bagi Alvin Perkasa. Bagi Alvin, Olla adalah syarat mutlak agar dia bisa merebut kembali perusahaan warisan milik ibunya yang kini dikuasai oleh ayah dan kakak tirinya.
Bermacam cara Alvin lakukan, hingga akhirnya dia berhasil menemukan Olla, tetapi wanita itu justru selalu berhasil kabur setiap kali Alvin berusaha membawanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon misshel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mati Langkah
Lapangan golf cenderung sepi di jam segini, tapi Andika sudah siap memukul bola. Ia begitu tenang seperti pohon besar yang tetap tenang meski badai sedang mengamuk. Ia tahu, sedang banyak perbincangan mengenai dirinya saat ini.
"Rupanya terlihat baik-baik saja tidaklah cukup." Andika bergumam saat mengayunkan stick golf penuh tenaga. Ia membuang napas saat melihat arah bola melambung.
Bola mendarat di tempat yang ia inginkan sehingga ia tertawa kecil. "Masih lumayan pukulanmu, Sayang."
Andika mengelus pelan stick golfnya yang mengkilat.
Rupanya, Edwin—orang yang ditargetkan Andika sedang memerhatikannya sejak tadi. Sejak kedatangan Andika, Edwin diam-diam mencuri pandang.
Dan seolah memang momen ini yang Andika tunggu, pria itu seperti notice kalau sedang diperhatikan sehingga ia menoleh tidak sengaja ke arah Edwin.
Andika tersenyum lalu dengan langkah yang dibuat setertarik mungkin dengan keberadaan pria itu, ia menghampiri Edwin.
"Rasanya mimpi semalam bukanlah kebetulan atau pertanda, tapi memang karena saya merindukan anda." Andika bersikap formal seolah jarak yang ada tidak membuatnya lancang. Hubungan mereka renggang—ingat ini selalu.
Edwin hanya menggerakkan kepala pelan sebagai jawaban. Ia kembali meminta stick yang tadi dipoles oleh sekretarisnya.
Ketika siap memukul bola, Edwin berkata. "Anda bilang, sampai kiamat Alvin tidak akan mampu memimpin perusahaan istri anda, ah, mendiang Nyonya Grace."
Andika tertohok diam-diam. Jadi beberapa orang masih ingat ucapannya tempo lalu rupanya. Pantas mereka berkasak-kusuk. Namun, pria itu tertawa pelan.
"Barang saja setiap waktu nilainya berubah, Pak Edwin ... manusia juga! Alvin sudah cukup membuktikan dirinya!"
Desing suara stick dan bola terpukul menjeda obrolan dingin keduanya.
Edwin mengawasi bolanya. Sebenarnya dia tidak peduli mau menyasar kemana bola itu. Dia hanya butuh di sini. Mencari entah apa yang bisa membuatnya tenang.
"Padahal, saya tidak pernah melihat Alvin berusaha. Sedikit lebih kuat saja tidak pernah." Edwin menatap Andika. "Anda memberikannya?"
Andika menunduk, senyumnya masih bertahta. Ia menata susunan katanya agar tidak terdengar kesal apalagi memihak.
"Jika iya, apa ini akan membuat anda senang?"
"Bisa ya, bisa tidak!" jawab Edwin seraya menatap kembali ke hamparan rumput yang sedikit menguning. "Kesenangan saya, tergantung apa keuntungan yang saya dapatkan dari anda dan Alvin! Besarnya juga tergantung banyak yang mana!"
Keuntungan pastinya. Andika tersenyum. "Saya jungkir balik membuat kualitas produk kami terjaga, pelayanan kami tetap prima ... tapi akan lain cerita jika berada di bawah pemimpin baru."
Edwin menoleh.
"Sekalipun dia sudah berusaha sangat keras, tapi pengalaman dan ujian dibawah tekanan tentu berbeda setiap orang kan? Usia tidak bisa membohongi." Andika mendekat selangkah. Andika cukup paham bagi Edwin; tidak ada keuntungan, artinya tidak ada kerja sama.
"Tapi bukan berarti, jika Demian menjadi presdir di sana, saya akan tetap bekerja sama, Pak Andika!" Edwin menyerahkan tongkat golf ke tangan sekretarisnya, lalu melepas sarung tangan. "Yang berkerabat dan bersahabat hanyalah Indira Grace dan orang tua saya, saya tidak ada hubungan apa-apa dengan mereka kendati saya mewarisi usaha ayah saya."
Andika semula ingin mendekat lalu menepuk pundak Edwin, tetapi rupanya ia harus mengurungkan semua niatnya. Edwin tetap tidak mudah.
"Maafkan yang terjadi di masa lalu, Edwin! Wika bukan satu-satunya wanita di dunia—"
"Anda benar, Pak ... saya bisa memilih siapa saja selain dia. Dan jujur saja, saya menjauhi anda bukan karena Wika lagi. Bagi saya, Wika sudah mati!" Edwin segera berlalu, membiarkan Andika memikirkan sendiri kenapa dia bisa menjauhinya.
"Kau penipu busuk, Andika!" Edwin mengulurkan tangannya ke arah sekretaris yang sejak tadi kerepotan mengimbangi gerakan cepat Edwin.
Sekarang pun demikian. Sampai Edwin menoleh dan menatap sekretaris wanita yang baru bekerja tiga bulan lamanya.
"Sudah ku bilang, kau harus latihan bergerak cepat!" Edwin menatap ke bawah, dimana wanita 30an tahun itu menunduk dan mencari serampangan ponsel mahal miliknya.
"Kau harus aku training sendiri!" gumam Edwin. "Lumayan buat selingan!"
Edwin menghela napas lalu melambaikan tangan ke arah sopir pribadinya. Pria itu bergerak cepat dari arah belakang dan mengulurkan ponsel miliknya.
"Alvin sudah menunggu, kenapa kau ikut berhenti di sana!"
Pria itu membungkuk, lalu berlari menuju pintu keluar. Ia tidak paham, kenapa bosnya terlihat tidak senang, padahal dia biasa gembira pulang dari tempat ini.
***
Alvin melihat kedatangan Edwin lalu segera menyambutnya.
"Sebaiknya kau segera beres kan pria tua itu, Vin! Muak aku melihatnya kesana kemari dengan rambut palsunya itu!" Edwin misuh-misuh.
"Kau lebih berhak agar wanita incaranmu segera menjanda." Alvin bisa tertawa dan santai di hadapan Edwin, sahabatnya. "Tapi lebih baik, setelah dia janda, menikahlah dengan wanita baik-baik, campakkan Wika seperti dia mencampakkan kamu!"
"Savage ide kamu, Vin!" Edwin menepuk pundak Alvin dan segera duduk di meja yang dipesan Alvin. "Bagaimana pun, aku hargai dia sebagai ayah kandungmu. Wika tidak terlalu berarti bagiku."
"Pastikan saja perasaanmu sudah tidak ada ke Wika, baru aku jandakan dia!" Alvin menyesap minumannya.
"Ketika dia lemah, sebaiknya kamu bereskan sekalian! Jangan membuang waktu atau kau akan rugi sendiri! Meski Demian tolol, tapi Ayahmu pintar."
Alvin mengangguk. Ia paham benar soal itu.
"Ngomong-ngomong, istri kamu trending hari ini!" Edwin segera mengulurkan tangan dan mengisyaratkan dengan jari ke sekretarisnya. Tapi sayang, lagi-lagi ponsel Edwin masih harus dicari.
"Pak, ponsel anda mungkin tertinggal di mobil!" Sekretaris itu pucat pasi.
Edwin menggeram tapi ia mencoba bersabar. Namun tetap saja, Alvin tertawa dibuatnya. Edwin seumur hidup, belum pernah dibuat menunggu atau bersabar. Dan sekretaris itu tampaknya sedang mengajari Edwin dua hal itu.
"Ah, sial!" Edwin berdiri lalu menyeret wanita itu ke arah kamar mandi.
Alvin tersenyum sinis melihat kelakuan sahabatnya yang putus cinta tapi tidak mengaku itu. Ia membiarkan saja. Toh Edwin selalu memberi kompensasi atas service yang didapatnya.
Dan 20 juta bukan uang yang sedikit. Alvin tidak peduli, justru ia penasaran pada apa yang Edwin katakan. Lalu ia membuka ponsel untuk mencari tahu dimana istrinya trending.
Rupanya, video Olla dipagari orangnya menyebar di kalangan tertentu.
"Ini nggak benar!" Ia mengkhawatirkan kecepatan jempol netizen belakangan ini.
ada apa dengan kak misshel?
tumben2an ini
Hanya karena wasiat harus memiliki pasangan baru dapat mewarisi bisnis tersebut, bukti nyata seperti buku nikah sudah cukup untuk memenuhi syarat. Hal seperti cinta tidak dapat dijadikan syarat karena sesungguhnya perasaan adalah suatu hal yg tak bisa di lihat, bisa dibuktikan tapi tetap tidak diketahui bukti tersebut tulus atau tidak.
Jadi, si tua Andika dan Damian kalian yg tidak memiliki perasaan dan hanya dibutakan harta harusnya lebih paham hal tersebut tapi malah sok² bijak/baik + sok tau menilai pernikahan seseorang demi mempertahankan yg bukan milik kalian. Sudah Jelas Tololnya + tak Tau malunya deh😏