Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Keesokan harinya, suasana di rumah Ririn terasa begitu sunyi meski jarum jam sudah bergerak ke angka sembilan pagi. Sambil menekan setrika di atas kemeja, Rena menceritakan dengan suara bergetar apa yang terjadi dalam rumah tangganya semalam, termasuk perdebatannya dengan Aris.
Ririn yang duduk tak jauh dari Rena mendengarkan dengan seksama, lalu menceritakan ulang informasi yang ia dapatkan dari suaminya semalam tanpa ada yang dikurangi sedikit pun.
"Mbak Rena, jujur saya semalam sampai tidak bisa tidur memikirkan ini," kata Ririn dengan wajah prihatin. "Suamiku bilang, seluruh orang di divisi operasional tahu kalau Mas Aris itu punya keluarga kecil yang harmonis. Makanya saat aku bilang Mas Aris itu suamimu dan anaknya sudah SD, suamiku juga terlihat syok."
Rena menghentikan gerakan tangannya, menatap Ririn dengan mata yang menyiratkan tekad yang sudah bulat. Akhirnya, Rena meminta sebuah bantuan kepada Ririn.
"Mbak Ririn, kalau boleh... saya minta tolong satu hal. Nanti siang setelah Dio pulang sekolah, bolehkah saya menitipkan Dio di sini sebentar?"
Ririn langsung mengangguk tanpa ragu. "Tentu saja boleh, Mbak. Memangnya Mbak Rena mau ke mana?"
"Saya akan mencari tahu kebenaran tentang semua informasi yang saya dapat dari mbak Ririn karena saya sangat penasaran," jawab Rena tegas, meski dadanya bergemuruh. "Saya harus melihatnya dan membuktikannya dengan mata kepala saya sendiri."
Ririn memegang tangan Rena, memberikan kekuatan. "Pergilah, Mbak. Saya mau membantu menjaga Dio. Lagipula Dio bukan anak nakal yang kebanyakan tingkah. Ini kesempatan Mbak Rena untuk menyelidiki kebenaran tentang suamimu. Saya juga tidak mau suamiku dikira memfitnah Mas Aris. Kalau Mbak Rena sudah tahu kebenarannya dan ternyata informasi dari suamiku salah, saya siap untuk meminta maaf kepada Mbak."
"Terima kasih, Mbak Ririn. Kebetulan ini sangat berarti bagi saya," bisik Rena haru.
Siang itu, tepat pukul sebelas, Rena menjemput Dio dari sekolahnya. Alih-alih membawa anaknya pulang ke rumah mertuanya, Rena membawa Dio kembali ke rumah Ririn. Sebelum melangkah pergi, Rena berlutut di depan putranya dan berpesan kepada Dio dengan sangat lembut.
"Dio sayang, Ibu ada urusan sebentar di luar. Dio main di sini dulu sama Mbak Ririn dan dedek bayi, ya? Tolong, anak Ibu jangan nakal karena Ibu akan pergi sebentar, mungkin satu atau paling lama dua jam saja," tutur Rena sembari mengusap pipi Dio.
Dio mengangguk patuh dengan mata bulatnya yang polos. "Iya, Ibu. Dio janji enggak akan nakal."
Setelah memastikan anaknya aman, Rena bergegas keluar pagar. Dengan memakai masker kain yang menutupi separuh wajahnya dan memanfaatkan pesanan ojek online yang sengaja dia pesan, Rena segera meluncur membelah jalanan kota menuju alamat tempat kerja suaminya.
Sesampainya di depan Perusahaan X, Rena turun dari motor. Jantungnya berdegup kencang menatap logo biru besar yang terpampang di dinding gedung. Di pos penjagaan depan, dia bertemu dengan seorang security bertubuh tegap yang sedang berjaga.
Rena mengatur napasnya agar terdengar tenang. Dia awalnya berpura-pura mencari pekerjaan demi menggali informasi. "Selamat siang, Pak. Maaf mengganggu, saya mau bertanya apakah di perusahaan ini sedang ada lowongan pekerjaan? Walau sebagai cleaning service atau tenaga serabutan juga tidak apa-apa, Pak."
Security itu tersenyum ramah namun menggelengkan kepala. "Wah, selamat siang, Mbak. Mohon maaf sekali, sepertinya untuk saat ini sedang tidak ada lowongan pekerjaan di sini karena semua posisi sudah penuh, termasuk bagian kebersihan."
Rena menunjukkan ekspresi kecewa yang dibuat-buat, lalu berpura-pura menyebutkan sebuah nama untuk memancing percakapan. "Oh, begitu ya, Pak... Sayang sekali. Padahal kata teman saya yang bekerja di sini, mending saya coba tanya langsung saja. Namanya Aris Wicaksono, Pak. Apa Bapak kenal?"
Mendengar nama itu, wajah security itu langsung berbinar mengenali nama tersebut. "Oh, Pak Aris Wicaksono? Kenal dong, Mbak! Beliau kan sekarang sudah jadi pengawas lapangan di bagian supervisor operasional. Mbak temannya Pak Aris?"
"Iya, Pak, teman lama waktu di kampung. Kami sudah lama sekali tidak bertemu," sahut Rena, jemarinya mengepal di balik saku daster yang dilapisi jaket. "Bagaimana kabar dia sekarang, Pak? Apa... apa dia sudah menikah? Waktu dulu terakhir ketemu, dia bilangnya masih jomblo."
Security itu tertawa kecil, menganggapnya sebagai obrolan santai. "Wah, Mbak ketinggalan berita kalau begitu. Pak Aris sepertinya sudah menikah dan punya keluarga kecil yang harmonis Mbak. Wong setiap pagi dia selalu berhenti di salon depan kantor itu untuk mengantarkan istri dan anaknya yang masih kecil. Dan kalau siang begini, mereka selalu makan siang bareng. Nah, sebentar lagi kan jam makan siang, kalau Mbak mau ketemu Pak Aris, sebentar lagi dia akan balik ke kantor."
Seketika jantung Rena seolah berhenti berdetak mendengar ucapan polos dari security itu. Dunia di sekitarnya mendadak sunyi, digantikan oleh rasa perih yang teramat sangat yang menghantam ulu hatinya. Informasi dari Ririn dan suaminya terbukti benar. Namun, Rena tidak ingin security itu curiga melihat perubahan ekspresinya. Dia sekuat tenaga mengendalikan perasaannya, menarik napas dalam-dalam di balik maskernya.
"Ah... begitu ya, Pak," ucap Rena, suaranya sedikit bergetar namun berhasil dia samarkan. "Kebetulan saya sedang buru-buru hari ini karena harus mencari lowongan pekerjaan di tempat lain. Mungkin lain kali saja saya mampir untuk bertemu dengan Aris."
Security itu sama sekali tidak menaruh curiga sedikit pun. Dia mengangguk ramah. "Baik, Mbak. Semoga cepat dapat pekerjaan ya."
"Terima kasih banyak, Pak," sahut Rena sebelum melangkah pergi.
Rena tidak benar-benar pergi meninggalkan kawasan itu. Dia hanya berjalan kaki sejauh beberapa meter, lalu berbelok menuju sebuah kedai minuman kecil yang letaknya tak jauh dari sana. Dari balik jendela kaca kedai yang mengarah langsung ke jalan raya, Rena duduk mengawasi, ingin memastikan apakah Aris benar-benar akan datang dan makan siang dengan wanita simpanannya itu. Jika memang benar, dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengambil bukti hari ini.
Sekitar lima belas menit kemudian, waktu menunjukkan pukul dua belas tepat. Sebuah mobil yang sangat Rena kenali—mobil yang cicilannya selalu dikeluhkan Aris hingga memotong uang belanja rumah tangga, benar-benar datang memasuki area jalan tersebut.
Namun, mobil itu tidak masuk ke dalam gerbang kantor Perusahaan X. Kendaraan roda empat itu justru memperlambat lajunya dan berhenti tepat di depan sebuah salon kecantikan yang berada persis di seberang kantor.
Pintu salon terbuka. Tak lama kemudian, seorang wanita cantik dengan pakaian modis keluar dari dalam salon sembari menggandeng seorang anak perempuan kecil bergaun merah. Wanita itu tersenyum lebar, mengetuk kaca mobil, lalu bersama anaknya masuk ke dalam mobil Aris di bagian bangku depan. Dari kejauhan, Rena bisa melihat siluet Aris yang mengacak rambut anak perempuan itu dengan penuh kasih sayang sebelum mobil kembali melaju.
Di dalam kedai minuman, Rena mengepalkan tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Air matanya mengalir di balik masker, bukan karena cinta yang dikhianati, melainkan karena rasa geram atas ketidakadilan yang dia dan Dio terima selama ini. Bukti sudah dia kantongi, semua kebohongan Aris kini sudah sangat jelas di bawah terik matahari siang itu.