Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan mantan
Suasana di kediaman Chensi kini terasa lebih tenang sejak Mei diusir dan dilarang kembali. Tidak ada lagi bisikan iri atau tatapan sinis dari pelayan lain—semua orang kini tahu betul posisi Annisa di mata majikan mereka, dan tidak ada yang berani lagi mengganggu atau menghinanya. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Siang itu, saat matahari sedang terik‑teriknya, gerbang utama kediaman didorong paksa terbuka. Seorang wanita berpakaian mencolok dan penuh riasan tegas melangkah masuk dengan langkah cepat dan marah. Itu adalah Ailin, mantan kekasih Chensi yang masih tidak rela diputuskan begitu saja.
“Minggir! Aku mau menemui Chensi! Katakan padanya aku sudah datang!” bentaknya pada penjaga gerbang yang berusaha menghalangi.
“Nona Ailin, Tuan Chensi sudah memberi perintah agar Nona tidak boleh masuk lagi. Silakan pergi sebelum kami memanggil petugas keamanan,” jawab penjaga itu dengan sopan namun tegas.
Namun Ailin tidak peduli. Ia mendorong tubuh penjaga itu dan terus melangkah masuk ke halaman dalam, berjalan menuju pintu utama rumah.
“Chensi! Kau tidak bisa membuangku sesuka hati! Aku masih berhak bicara denganmu!” teriaknya keras, suaranya menggema di sepanjang lorong.
Saat itu juga, pintu kamar utama terbuka. Annisa keluar membawa nampan kosong setelah selesai menyiapkan kebutuhan Chensi di dalam. Ia berhenti sejenak, terkejut melihat sosok wanita asing yang berdiri di depan tangga dengan wajah penuh amarah.
Ailin juga langsung berhenti melangkah. Matanya menyipit tajam menatap sosok Annisa dari ujung kaki hingga kepala. Wanita itu mengenakan pakaian kerja yang rapi namun tertutup panjang, serta hijab yang menutupi rambut dan lehernya dengan sempurna—penampilan yang sangat berbeda dari kebiasaan wanita‑wanita yang pernah ada di sekitar Chensi.
Dahinya berkerut curiga. Selama bertahun‑tahun ia mengenal Chensi, ia tahu betul lelaki itu sangat selektif. Ia tidak suka ada wanita asing yang terlalu sering masuk ke ruang pribadinya, apalagi keluar‑masuk kamar tidurnya dengan bebas seperti ini.
“Siapa kau?” tanya Ailin dengan nada tajam dan merendahkan. “Pelayan baru? Kenapa penampilanmu aneh sekali? Seperti orang yang berasal dari tempat yang jauh dan asing.”
Annisa menunduk sopan, menjaga jarak. “Saya Annisa, Nona. Saya hanya pelayan yang bertugas mengurus kamar Tuan Chensi. Mohon izin saya lewat.”
Namun Ailin justru melangkah mendekat, menghalangi jalan Annisa. Matanya meneliti setiap gerak‑gerik gadis itu dengan pandangan yang penuh kecurigaan.
“Mengurus kamar? Sejak kapan Chensi membiarkan pelayan wanita masuk ke kamarnya setiap hari? Dia selalu bilang dia tidak suka ada orang yang mengganggu privasinya, apalagi wanita asing,” gumamnya dengan nada sinis. “Dan lihatlah pakaianmu… tertutup sampai ke pergelangan tangan dan kaki. Apa keyakinanmu berbeda dari kami? Apakah kau datang dari negeri yang jauh dengan adat yang aneh?”
Annisa tetap tenang, meski jantungnya berdebar kencang. “Saya hanya menjalankan tugas yang diberikan, Nona. Adat dan kebiasaan saya hanya urusan saya sendiri, selama tidak mengganggu pekerjaan di sini.”
“Tidak mengganggu?” tawa Ailin terdengar mengejek. “Jangan berpura‑pura polos di depanku. Aku sudah mengenal Chensi jauh lebih lama darimu. Dia tidak akan membiarkan wanita asing, dengan penampilan yang berbeda dan keyakinan yang berbeda, bergerak bebas di rumahnya—apalagi masuk ke ruang paling pribadinya—tanpa alasan yang jelas.”
Ia melangkah semakin dekat, menatap mata Annisa dengan pandangan yang ingin membongkar rahasia. “Katakan saja yang sebenarnya. Apa hubunganmu dengan dia? Apakah kau sudah memikatnya dengan cara yang tidak terlihat? Apa yang membuatnya berubah sikap sampai membiarkan orang asing seperti ini ada di sisinya?”
Belum sempat Annisa menjawab, suara berat dan dingin terdengar dari belakang mereka.
“Dia adalah pelayan yang aku percayai. Itu saja sudah cukup.”
Chensi berdiri di ambang pintu, tatapannya langsung tertuju pada Ailin dengan wajah yang sudah terlihat marah sejak tadi mendengar keributan.
Ailin segera berbalik, raut wajahnya berubah menjadi lembut namun tetap menyimpan rasa cemburu yang mendalam. “Chensi… aku datang bukan untuk berkelahi. Aku hanya ingin bertanya. Kenapa kau membiarkan wanita asing ini ada di sini? Dia bahkan tidak seagama dan seadat kita. Bagaimana bisa kau mempercayainya lebih dari aku?”
Chensi melangkah turun dari tangga, berdiri tepat di samping Annisa dan tanpa sadar sedikit melindungi tubuh gadis itu di belakang punggungnya.
“Kepercayaan tidak diukur dari asal usul atau keyakinan, tapi dari sikap dan kesetiaan. Dia bekerja dengan baik, tidak menuntut apa‑apa, dan tidak pernah mengganggu ketenanganku. Berbeda dengan kau yang sudah mengkhianati kepercayaanku sendiri.”
“Tapi dia wanita asing! Bagaimana kau bisa membiarkan dia masuk ke dalam hidupmu begitu dekat?” desak Ailin, matanya melirik tajam ke arah Annisa lagi. “Lihat saja dia… pakaiannya tertutup rapat seolah ingin menyembunyikan sesuatu. Mungkin itu hanya trik agar terlihat berbeda dan menarik perhatianmu!”
Kalimat itu membuat rahang Chensi mengeras. Ia melangkah satu langkah ke depan, suaranya meninggi namun tetap terkontrol, penuh peringatan.
“Cukup! Jangan menyebut namanya lagi dengan nada seperti itu. Ingat perintahku sebelumnya: jangan pernah muncul lagi di depan mataku. Jika kau masih berani datang dan menimbulkan keributan, maka hukuman yang kau terima tidak akan selembut ini.”
Ailin terdiam, matanya berkaca‑kaca bukan karena sedih, tapi karena rasa cemburu dan rasa tidak terima yang meledak. Ia menatap Chensi, lalu kembali menatap Annisa dengan pandangan penuh kebencian.
“Baiklah… aku pergi. Tapi ingatlah, Chensi. Wanita yang berbeda keyakinan dan adat ini tidak akan pernah bisa sepenuhnya dipahami atau dipercaya. Suatu saat nanti kau akan menyesal telah membiarkannya masuk terlalu dalam ke hidupmu!”
Setelah melontarkan kata‑kata itu, Ailin berbalik dan pergi dengan langkah tergesa namun penuh amarah, meninggalkan suasana yang masih terasa tegang.
Chensi baru menoleh ke arah Annisa, melihat gadis itu masih berdiri diam dengan wajah sedikit pucat. Ia menghela napas panjang, lalu berbicara dengan nada lebih lembut.
“Jangan pedulikan kata‑katanya. Itu hanya luapan rasa tidak terima dan cemburu. Keyakinanmu, caramu berpakaian, dan siapa dirimu—itu tidak mengurangi sedikit pun nilai dirimu di mataku. Justru itu yang membuatmu berbeda dari wanita lain yang pernah aku kenal.”
Annisa hanya menunduk dalam, tidak menjawab. Di dalam hatinya, ia sadar bahwa perbedaan itu justru menjadi tembok yang semakin memperumit keadaannya—antara kewajiban, keyakinan, dan nasib yang kini terikat erat pada lelaki kejam di hadapannya.
Malam ini Annisa duduk melamun sendirian di kamarnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apakah ia harus tetap bertahan disini? Bagaimana nasibnya nanti kedepannya? Rasanya ia ingin sekali pergi dan mencari kerjaan yang baru. Namun, ia sudah terikat kontrak kerja selama dua tahun kedepan. Dan segara dokumen pentingnya sudah di tahan oleh Chensi. Bagaimana ia bisa pergi tanpa surat-surat penting itu. Seperti pasport dan parmit, semua di pegang oleh chensi. Bahkan untuk kembali ke tanah air saja ia tidak bisa.
Hari‑hari berlalu, dan Annisa tidak punya pilihan selain terus bertahan. Ia sadar, tanpa dokumen perjalanan yang semuanya disimpan rapat oleh Chensi, ia tidak bisa ke mana pun—tidak bisa pindah kerja, tidak bisa keluar dari kota ini, apalagi pulang ke tanah air. Ia terjebak, terikat bukan hanya oleh kontrak kerja, tapi juga oleh kekuasaan lelaki yang memegang seluruh nasibnya.
Namun, selama itu pula, sikap Chensi tetap terjaga. Ia tidak lagi memaksakan kehendak, tidak lagi mendekat dengan cara yang membuatnya takut. Bahkan, perhatiannya terasa semakin jelas—memberikan ruang, memastikan kebutuhan hidupnya terpenuhi, dan melindunginya dari siapa saja yang berani menyinggung. Tapi di balik kebaikan itu, Annisa tetap hidup dalam bayang‑bayang ketakutan.
Setiap kali ia sedang membersihkan ruang kerja atau lewat di depan pintu yang terbuka, ia sering mendengar suara Chensi berbicara lewat telepon. Suaranya tetap dingin, tegas, dan penuh ancaman.
“Pastikan urusan itu selesai sebelum minggu ini. Jangan biarkan dia mengganggu jalanku lagi… Lakukan apa saja yang perlu, tapi jangan sampai ada jejak yang tertinggal.”
Kalimat‑kalimat itu selalu membuat bulu kuduk Annisa meremang. Ia tahu, di balik rumah megah ini, di balik kekuasaan dan kekayaan, tersembunyi banyak rahasia gelap dan darah yang mengalir. Ia hidup berdampingan dengan seorang penguasa yang tidak segan‑segan melenyapkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Rasa takut itu tidak pernah benar‑benar hilang, hanya terpendam rapat di dalam hatinya.
Suatu sore, saat matahari mulai terbenam dan langit berubah warna menjadi jingga, Chensi memanggil Annisa yang sedang merapikan ruang makan.
“Malam ini aku tidak ada urusan keluar. Makanlah bersamaku di sini,” ajaknya dengan nada datar namun tegas.
Annisa segera menunduk, menjawab dengan nada sopan namun halus menolak. “Maaf, Tuan. Sebaiknya saya makan di tempat biasa saja. Saya tidak pantas duduk semeja dengan Tuan.”
Chensi mengerutkan dahi, namun tidak langsung marah. “Tidak ada yang tidak pantas. Sekarang ikutlah duduk.”
Annisa melangkah mendekat, namun saat matanya menatap hidangan yang sudah tersaji di meja—terdapat daging babi, anggur, dan beberapa jenis masakan yang jelas‑jelas dilarang oleh agamanya—wajahnya seketika berubah pucat. Ia menelan ludah, lalu menunduk lebih dalam.
“Tuan… mohon maaf sekali lagi. Saya tidak bisa menyentuh makanan ini. Menurut keyakinan saya, makanan‑makanan itu tidak halal dan dilarang untuk dikonsumsi,” ucapnya dengan suara lirih, takut menyinggung hati majikannya.
Chensi terdiam sejenak. Ia tidak paham secara rinci, namun ia sudah sering melihat kebiasaan Annisa—cara ia berpakaian, caranya berdoa, dan hal‑hal kecil yang ia hindari. Tanpa bertanya lebih banyak, ia hanya mengangguk singkat.
“Baiklah. Kalau begitu, ambil semuanya pergi dari meja ini,” perintahnya pada pelayan yang berdiri di sudut ruangan.
Pelayan itu terkejut, namun segera bergerak cepat mengangkat semua hidangan itu keluar. Chensi kemudian menoleh ke arah Li Wei yang berdiri di dekat pintu.
“Li Wei, cari restoran yang menyajikan makanan sesuai kebiasaan Annisa. Pastikan semuanya bersih dan halal, seperti yang dia butuhkan. Pesanlah cukup banyak untuk kita berdua,” perintahnya dengan nada yang tetap tegas namun tidak meninggi.
Li Wei mengangguk paham dan segera keluar untuk melaksanakannya.
Annisa hanya bisa berdiri mematung, matanya terbelalak tak percaya. Ia tidak menyangka Chensi akan membuang semua makanan mahal itu hanya karena permintaannya, lalu bersedia memesan makanan yang sesuai keyakinannya. Rasa sungkan dan bingung menyelimuti hatinya.
“Tuan… tidak perlu repot‑repot seperti ini. Saya bisa makan roti atau nasi biasa saja di dapur, tidak perlu memesan khusus,” ucapnya tergesa.
Chensi menatapnya, lalu menunjuk kursi di seberangnya. “Duduklah. Kalau kau tidak bisa makan yang ini, maka aku juga tidak akan memakannya malam ini. Aku tidak mau makan sendirian, dan aku juga tidak mau memaksamu melanggar apa yang kau percayai. Setiap orang punya aturannya sendiri, bukan?”
Beberapa menit kemudian, makanan pesanan itu tiba. Wangi masakan yang sudah biasa Annisa kenal langsung tercium memenuhi ruangan. Li Wei menyajikannya dengan rapi, memastikan tidak ada benda atau bahan yang dicurigai.
Malam itu, mereka makan bersama dalam keheningan yang aneh. Annisa makan dengan hati‑hati, merasa tidak nyaman namun juga terasa lebih tenang karena bisa memakan makanan yang halal. Sementara Chensi, meski rasa masakan itu terasa berbeda dari kebiasaannya, ia memakannya tanpa mengeluh sedikit pun.
Saat selesai makan, Chensi meletakkan sendoknya dan menatap Annisa lekat‑lekat.
“Kau lihat? Tidak sulit kan menyesuaikan diri? Selama ini aku hanya butuh tahu apa yang kau butuhkan dan apa yang tidak boleh kau lakukan. Mulai sekarang, katakan saja padaku jika ada hal yang tidak sesuai dengan kebiasaanmu. Aku tidak akan melarangnya, asalkan tidak mengganggu pekerjaanmu di sini.”
Annisa menunduk dalam, tangannya tergenggam di pangkuan. “Terima kasih, Tuan. Saya merasa sangat tidak enak hati. Saya hanya pelayan biasa, tapi Tuan memperlakukan saya seolah saya orang penting.”
Chensi tersenyum tipis, senyum yang jarang sekali terlihat. “Bukan soal jabatan atau kedudukan, Annisa. Ingatlah, aku yang telah mengubah nasibmu, dan aku yang bertanggung jawab atas dirimu. Apa pun yang kau butuhkan, sepanjang masih dalam batas kewajaran, akan aku penuhi.”
Mendengar kata‑kata itu, hati Annisa terasa semakin kacau. Di satu sisi, ia merasa terhormat dan terlindungi. Namun di sisi lain, ia sadar bahwa perhatian yang berlebihan ini justru semakin mempererat ikatan yang tidak ia inginkan. Ia semakin terjebak dalam perasaan bingung—antara rasa takut akan kejamnya Chensi, dan rasa bingung akan kebaikannya yang tiba‑tiba datang.
Di luar jendela, malam semakin larut, namun di dalam hati Annisa, kegelapan dan keraguan masih terus menyelimuti jalan yang harus ia pilih selanjutnya.