KARYA SEDANG DI REVISI. HARAP MAKLUM JIKA MENJUMPAI KESALAHAN KATA ATAU ALUR YANG AMBURADUL!
WARNING
BAB YANG BERTANDA (~) TANDANYA TELAH REVISI. HARAP DI WAJARKAN JIKA TERDAPAT BANYAK PERUBAHAN ATAU SEMACAM KESALAHAN DALAM PENYEBUTAN NAMA, TEMPAT DAN LAIN-LAIN.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifdetul Faihak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian The Gank Antariksa [Telah Revisi]
Hiruk pikuk kota berakhir tatkala sang surya dengan gagah membentangkan sinarnya. 8 kandidat berkumpul menjadi satu di ruangan OSIS, duduk membentuk lingkaran.
TAK!
Terlempar selembar kertas ke arah meja.
"Perjanjian di atas materai. Gue Antariksa, hidup dan mati gue pertaruhkan demi keadilan di tegakkan!" Tekan Rev di tiap kata, wajah beringas menghuni lekat, sorot mata tajam terpasang kuat.
"Tanda tangan. Bagi yang keberatan, silahkan keluar. Kita kuat bukan karena keinginan, tapi rintihan orang-orang!" Tegas Rev.
Suasana menegang akan menjadi sejarah yang menelungkup ke seluruh kandidat grup di namai Antariksa.
"Diam tidak akan menyelamatkan, diam hanya bentuk dari kekalahan. Sebagai sang malaikat pelindung, gue Bryan Leons Vantaris menyetujui perjanjian pra kontrak eksklusif." Sosok pengintai gank dengan spontan menanggapi.
"Hidup itu sekali, mati pun juga sekali. Mati dalam keadaan berusaha menjunjung tinggi keadilan terkesan mengerikan, tapi itu adalah sebuah jalan untuk menyebarkan kebenaran." Terlontar perkataan penuh ketegasan di bibir Angkasa."Lebih baik mati menjadi akhir dari misi, dari pada hidup di hantui ketakutan."
"Dengan sadar, gue Aldo Carvert Jackson menerima persyaratan dari balik terbentuknya The Gank Antariksa, sang penyelamat yang tidak akan pernah tumbang." Iris mata biru menatap sang ketua OSIS yang berdiri seorang diri.
"Meski bumi akan berhenti berputar." Sambung Rafael
"Walau langit akan runtuh." Lanjut Aryan.
"Keadilan harus tetap di tegakkan." Monolog Steven Kenzuela Nagaswara.
"Kami putra putri SMA Gloriacastra, menyatakan pertempuran demi sebuah keadilan yang di selipi resiko kematian. Walau dunia menyudutkan, Tuhan tetap mengikuti kemana langkah kami melangkah. Bersama kami hidup, berpisah kami mati." Terucap secara bersamaan kata-kata di bibir 9 orang kandidat The Gank Antariksa, setiap tangan terulur saling bertumpukan, seakan menjadi pemersatu dalam misi.
Kertas kontrak telah di buat dan juga di tandatangani oleh Revan Lorenza Pratama berada di tengah-tengah meja. Satu persatu, setiap orang mengukir tanda tangan di atas materai yang tertera nama masing-masing.
Berkobar energi dalam pemersatu kebajikan demi menghilangkan kemungkaran di diri 9 orang manusia. Wajah-wajah sangar nan tegas membekap muka, bibir berhenti berkata, hati sibuk mengumpulkan tekad semakin membara.
Berkas bermaterai berada di genggaman Rev. Mata menatap seksama, tersirat tekad besar dari selembar kertas putih.
"Antariksa tidak akan pernah mati, Antariksa akan selalu abadi dan terkenang sampai mati." Batin Rev.
Terbitnya Antariksa adalah bencana yang akan di jadikan landasan kehancuran mereka yang tengah berusaha memporak-porandakan dunia dalam jalur yang salah. Kini kejahatan merajalela akan berangsur-angsur padam di terpa ombak.
...🎃🎃🎃...
Kegiatan belajar mengajar masih berlangsung normal. Walau beberapa kali berita kematian menghampiri, tetap saja KBM berjalan dengan pada umumnya. Seolah tak pernah ada yang terjadi.
Bu Monic guru mapel Ekonomi menjelaskan tentang persamaan dasar akuntansi yang di simak baik-baik oleh setiap penghuni kelas unggulan.
Lirikan mata Rev jatuh pada tiga bangku siswi yang telah kosong. Pemiliknya mati dalam peristiwa maut terburuk dalam sejarah."Dapatkah kalian memberitahu kami tentang apa yang kalian rasakan. Kami butuh bantuan kalian untuk suksesnya Antariksa." Batin Rev.
Sekilas pandangan lantas kembali ke depan. Perasaan bergemuruh melanda hati, hilangnya 3 siswi dari muka bumi menimbulkan asumsi buruk yang menerjang kelas unggulan. Batin hanya bisa diam, mengikuti alur tanpa bisa memberontak.
"Cara gampangnya dalam mengetahui benar atau tidaknya persamaan akuntansi, tinggal perhatikan sisi kanan dan sisi kiri. Jika kedua sisi hasilnya sama, maka jawaban kalian pasti benar." Tips mudah di berikan kepada segenap anak unggulan yang akan memudahkan dalam menjawab pertanyaan.
Tiba-tiba tatapan terpusat pada pintu yang terdapat sosok tengah berdiri tegak, wajah sayu, tatapan letih. Tatapan horor menimpa seorang gadis datang di menit 25 di jam pertama. Sosok guru tergarang di sekolah bersedekap dada, memperlihatkan aura menakutkan.
"Pertama dalam sejarah. Ada murid yang telat di jam pelajaran saya. Kenapa kamu masih mau masuk ke kelas? Besar juga nyali kamu. Apa kamu sudah lupa peraturan yang saya buat di kelas ini?"
Jantung gadis cantik berbando biru atas nama Miranda terbungkam hebat. Perangai sosok bersuara itu sangat mengerikan. Sejak kelas 10 peraturan bagi yang telat datang ke kelas di jam Bu Monic akan di hukum berat yang memungkinkan setiap siswa kapok terlambat.
"Maaf Bu." Tertunduk pasrah ke tanah, wajah sayu kurang sehat hinggap di diri Miranda.
"Masuk ke ruangan BK, laporkan diri kamu, setelah istirahat baru, kamu kerjakan hukuman yang akan saya berikan." Tegas Bu Monic.
Dengan letih Miranda menarik langkah berjalan menuju ruangan BK. Hari jumat ini adalah hari petaka yang sangat menguras jiwa. Bagi Miranda hukuman itu adalah hal paling menakutkan yang pernah ada, terlebih siapa yang memberikan hukuman.
"Kok bisa-bisanya dia telat." Geleng-geleng kepala Reyhan menurunkan volume.
"Sstt." Imbauan dari sang ketua OSIS sukses membuat bibir terkatup.
Suasana damai masih menyapa kelas unggulan, kekacauan kecil yang pada umumnya bisa membuat gaduh kelas, tapi di kelas unggulan semua tidak akan pernah ada. Diam lebih penting dari pada di terkam oleh sosok paling ganas di sekolah.
3 orang sahabat Miranda hanya bisa berharap gadis itu baik-baik saja. Tak dapat diri membantu, karena akan berakibat terkena getahnya.
Gadis itu kembali setelah melakukan apa yang di perintahkan. Sosok gadis tertangkap bermata sayu hari ini duduk di samping Gina. Kembali mengikuti kelas walau beban masih bertumpukan di pundak.
Tatapan mata elang jatuh pada dia yang baru datang. Penjelasan Bu Monic tak lagi di perhatikan. Pemuda itu perlahan mengeluarkan benda keramat, lembaran buku di buka satu persatu sampai terhenti di pertengahan yang terdapat banyak nama manusia tercetak rapih di sana. Jari telunjuk menggulir bergerak di tiap-tiap nama sampai terhenti di urutan nama ke-4."Jadi dia termasuk." Batin Angkasa.
Terpampang jelas nama gadis tersandung masalah yang di curigai dalang di balik tewasnya seorang Dyera Erly, Kayla Ramadhani dan Maria Sheljia.
Mata mendelik tajam, mulut terbuka lebar. Gadis duduk di sisi deret bangku pertama dengan posisi kelima ternganga. Kamera hp keluar dari slorokan, jepretan adalah tanda kelakukan yang berhasil di abadikan."Kena lo." Batin Laras.