NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Mafia Lumpuh

Pengantin Pengganti Tuan Mafia Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti / Anak Genius
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mami Al

Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.

Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily tak mengingat kejadian yang lalu. Akankah keduanya bersatu lagi merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Emily terbangun di tengah malam, ia melihat ke arah sampingnya. Leon tidur dengan posisi terlentang dan beberapa kancing piyama bagian atas terlepas sehingga menampakkan bagian dadanya.

Tanpa sengaja mata Emily menangkap sesuatu di dada suaminya. Sebuah luka kecil di bagian dada kiri. Emily pun mengingat ketika dirinya memberikan sedikit pukulan ke bagian itu.

"Pantas saja kau kesakitan!" lirih Emily.

Penasaran, Emily dengan hati-hati melihat lebih dekat luka tersebut. Ia menyingkap sedikit bagian atas piyama. Matanya melebar ketika luka itu.

Belum sempat menarik tangannya dari tubuh suaminya, Leon memergokinya dan memegang tangan Emily. "Apa yang kau lakukan?" ia merasa ada sentuhan lantas terbangun.

Emily menarik kuat tangannya dan akhirnya terlepas. "Apa yang terjadi denganmu?" tatapannya ke arah dada suaminya.

Leon bangkit dan duduk, ia menutupi bagian dadanya dengan mengancingkan piyamanya.

"Luka apa itu?" tanya Emily penasaran.

"Ini hanya luka kecil," jawab Leon.

"Kau pikir aku bodoh dan percaya saja kalau itu luka kecil," ucap Emily. "Kelihatan dari lukanya, pasti kau ditembak seseorang!" tebaknya.

Leon tersenyum getir.

"Kenapa tidak mau jujur? Aku ini istrimu!" kata Emily.

"Kita menikah hanya diatas kertas!" ucap Leon.

"Kalau memang begitu, mengapa kita harus satu ranjang?" singgung Emily membuat Leon terdiam.

"Sudahlah, jangan membahas lukaku. Lebih baik kau tidur lagi biar besok tidak kesiangan!" Leon mengalihkan pembicaraan.

Emily menahan napas sejenak lalu dihembuskannya. "Aku tetap harus tau tentang luka itu. Semua juga demi keselamatan aku!"

"Kau tetap aman bersamaku!" Leon meyakinkan istrinya.

"Aku tidak percaya. Kau memiliki musuh, pasti mereka juga akan menganggap aku musuhnya!" kata Emily.

"Mereka tidak mengenal istriku!" ucap Leon.

"Tak mungkin mereka tidak mengenal aku. Pastinya mereka akan mencari tahu mengenai aku dan mereka juga menjadikan aku sebagai kelemahan dirimu!" kata Emily lagi.

Leon menatap diam istrinya.

"Apa bisnis yang sedang kau jalani?" tanya Emily.

"Kau tidak perlu tau!" jawab Leon enggan memberitahu mengenai dirinya.

"Aku berhak tau, Leon. Aku istrimu dan aku juga pasti dalam bahaya!" Emily menerka.

"Kau akan baik-baik saja, percaya padaku. Aku pastikan mereka takkan berani menyentuhmu!" Leon meninggikan suaranya.

"Aku pegang janjimu!" kesal Emily, ia kembali merebahkan tubuhnya dan memunggungi suaminya.

Leon memandangi punggung istrinya, ia tak mungkin menjelaskan bisnis yang dijalaninya. Keselamatan Emily adalah terpenting karena dialah yang menarik wanita itu dalam pernikahan mereka.

***

Pagi harinya, Emily penuh kehati-hatian memakaikan pakaian Leon meskipun sudah dalam keadaan sehat.

"Kau mempunyai orang tua yang lengkap dan menyayangimu. Apa yang sebenarnya kau cari diluar sana?" Emily bertanya sembari mengancingkan kemeja suaminya.

"Aku menyukai tantangan," jawab Leon.

Emily tersenyum getir mendengarnya.

"Kenapa kau begitu penasaran dengan bisnis milikku?" tanya Leon.

"Apa kau tidak mau memiliki kehidupan bahagia?" Emily malah balik bertanya.

"Selama orang tuaku sehat dan hidup, semua kebutuhannya tercukupi aku sudah bahagia," jawab Leon lagi.

"Lalu bagaimana dengan aku?" Emily menatap mata suaminya.

Leon terdiam.

"Apa kau tidak ingin memiliki keluarga kecil yang bahagia?" tanya Emily dengan nada suara rendah.

"Sepertinya aku tidak pernah bermimpi dan berharap," jawab Leon.

"Lalu aku, kau anggap apa?" tanya Emily dengan lirih dan mata berkaca-kaca.

"Aku membeli dirimu sangat mahal dari Antonio. Sebelum dia mengembalikan uangku, maka kau tidak mungkin ku lepaskan," jawab Leon membalikkan badannya.

"Kau menahan Papa Antonio dan Kak Belinda, bagaimana mungkin mereka mampu membayarnya?" tanya Emily lagi.

"Jika aku melepaskannya, mereka juga tidak akan mau membayarnya. Mereka itu tak pernah menyayangimu!" jawab Leon tanpa menatap.

"Kalau begitu biarkan aku yang menggantikan hukuman mereka!" kata Emily.

Leon berbalik badan dan berucap, "Jangan bodoh, Emily!"

"Sampai kapan aku terus berada di rumah ini sedangkan kau tak pernah membuka hatimu untukku?"

Seketika Leon terdiam mendengar pertanyaan istrinya.

"Daripada kau menjadikan aku sebagai istrimu, lebih baik aku jadi pelayan di rumah ini!" kata Emily yang tanpa terasa air matanya menetes.

Leon yang tak sanggup melihat Emily bersedih lantas meninggalkan kamarnya.

-

Setelah Leon berangkat ke kantor, Emily duduk di taman. Pandangannya lurus ke depan, bayangan kebersamaan mereka beberapa hari lalu saat melatih Leon berjalan muncul.

Ketika itu Leon begitu patuh kepadanya, bahkan sesekali Leon melemparkan senyuman.

"Apa salahnya dia melepaskan aku jika memang tak membutuhkanku?" gumamnya.

Ditengah kegalauan hatinya, Karin datang menghampirinya dan berkata, "Nona, waktunya belajar menembak!"

Emily menoleh dan mendongakkan kepalanya ke samping. "Apa? Menembak? Mengapa ada latihan itu?"

"Tuan Leon yang memintanya," ucap Karin.

"Apa dia sebenarnya ingin aku terjun di dunia perang?" tanya Emily menggerutu.

"Tuan Leon cuma mau melihat Nona mampu menjaga diri sendiri," jawab Karin.

"Ciih..."

"Mari, Nona. Mobil yang akan membawa kita sudah menunggu di halaman depan!" kata Karin.

Emily beranjak dengan wajah mendengus kesal.

Emily berjalan lebih dulu dan Karin berada di belakangnya.

"Besok aku harus belajar apa lagi?" tanya Emily kesal saat ia masuk ke mobil.

***

Esok paginya, Emily terbangun dan melihat Leon tak berada disampingnya. Padahal, tadi malam ia masih melihat Leon tertidur.

Ya, Leon pulang larut malam ketika Emily telah memejamkan matanya. Ia sengaja tak membangunkan istrinya.

"Di mana suamiku?" tanya Emily pada Karin saat menyajikan sarapan dihadapannya.

"Sebelum matahari terbit, Tuan berangkat ke bandara," jawab Karin.

"Dia ke luar negeri?" tanya Emily.

"Ya," jawab Karin singkat.

"Berapa lama?" tanya Emily lagi.

"Kemungkinan satu minggu," jawab Karin.

Emily tampak kesal karena harus berjauhan dari Leon. Meskipun percakapan mereka bukan obrolan antara suami istri sesungguhnya tapi hanya Leon tempatnya bercerita walaupun terkadang terjadi percekcokan dan perdebatan sengit.

"Apa jadwal belajarku hari ini?"

"Selesai sarapan latihan berkuda dan sore harinya latihan berenang."

"Berkuda? Kau serius?" Emily menatap Karin.

"Iya, Nona."

"Aku takut dengan kuda!" Emily menolak.

"Kita sudah membuat janji dan tak mungkin dibatalkan!" kata Karin.

"Aku tetap tidak mau!" Emily sedikit meninggikan suaranya. "Hubungi suamiku, katakan padanya untuk membatalkannya!" titahnya.

"Saya tidak bisa, Nona. Peraturan tetap sama. Saya harus menunggu Tuan Charles yang lebih dulu menghubungi!"

"Bagaimana jika aku mati? Apa kalian baru akan menguburkan aku ketika dia sudah kembali?" tanya Emily menyinggung.

Karin terkejut dengan pertanyaan Emily, ia lalu meminta maaf dan menunduk.

"Baiklah, aku akan mencoba latihan berkuda. Aku harap kalian selalu ada jika terjadi sesuatu padaku!" Emily akhirnya pasrah dan bersedia.

Selesai sarapan, Emily dan beberapa pengawal berangkat ke arena berkuda.

Begitu sampai, tangan Emily berkeringat. Ia memiliki trauma dengan kuda. Beberapa tahun lalu, ia pernah menemani Belinda latihan berkuda dan juga mencoba melakukannya. Emily terjatuh dan tubuhnya terkena tendangan kaki kuda. Ketika itu ia tak menggunakan pakaian berkuda.

"Nona, silakan gunakan pakaiannya!" kata Karin.

Emily kemudian berjalan ke ruang ganti mengenakan pakaian berkuda, kemudian lanjut menuju ring kuda.

Emily kini berada di atas kuda meskipun raut wajah ketakutan terlihat jelas. Kuda mulai melangkah, Emily berusaha tetap tenang.

Beberapa detik kemudian...

"Arrgghh..."

Bruuk...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!