Alena berdiri dengan gugup di depan cermin rias yang memantulkan wajahnya yang begitu cantik memukau. Gaun pengantin yang membalut tubuhnya menambah kecantikan gadis itu. Hari itu adalah hari pernikahannya dengan Reno, pria yang sudah 3 tahun menjalin cinta dengannya.
Namun, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia itu hancur karena satu telepon dari calon suaminya.
“Alena… aku tidak bisa datang. Selena pingsan dalam perjalanan ke hotel. Kita tunda pernikahannya ya”
Wajah Alena mengeras, bukan satu dua kali hal ini terjadi, dia hafal betul seperti apa kakaknya itu. Bahkan kedua orang tuanya juga selalu memihak pada Selena.
Dengan wajah tegas, Alena berdiri di depan semua orang.
"Saya, Alena Bagaskara, menyatakan pernikahan antara saya dan Reno Sebastian dibatalkan!"
Aula pernikahan menjadi riuh, namun Alena tak peduli. Dia melangkah keluar bahkan mengabaikan ancaman dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
.
Hari itu menjadi hari yang sangat melelahkan bagi Bagaskara grup. Dua investor memilih menunda pencairan dana. Kontrak proyek Kawasan Industri Sentosa gagal ditandatangani. Beberapa divisi terpaksa menghentikan pekerjaan karena keputusan operasional belum bisa diambil.
Tuan Gunawan dan Selena tiba di rumah ketika hari menjelang malam.
Begitu memasuki rumah, Nyonya Miranda yang sejak tadi menunggu di ruang keluarga langsung berdiri menyambut kedatangan mereka. Namun, begitu melihat wajah mereka yang begitu kusut wanita paruh baya itu mengerutkan keningnya.
"Kalian kenapa?" tanyanya dengan mata menatap bergantian ke arah suami dan putrinya.
Apalagi saat melihat wajah Selena yang biasanya selalu ceria kini terlihat murung.
“Apa ada sesuatu yang terjadi di perusahaan?" tanya Nyonya Miranda khawatir.
Tuan Gunawan menghempaskan tubuhnya yang lelah ke atas sofa. Punggungnya bersandar dengan lemah, kepalanya tengadah ke atas dengan mata terpejam rapat. Pria itu kemudian menghembuskan napas panjang sebelum menceritakan seluruh kejadian yang terjadi sejak pagi.
Mulai dari para investor yang mulai meragukan stabilitas Bagaskara Group, hingga proyek besar yang gagal ditandatangani karena tidak ada seorang pun yang mampu menggantikan peran Alena.
Semakin lama mendengarkan cerita suaminya, wajah Nyonya Miranda ikut berubah tegang.
"Jadi... selama ini Alena memang menangani semua itu?"
Tuan Gunawan mengangguk pelan. "Aku juga baru tahu hari ini."
Ruangan kembali sunyi hingga beberapa saat kemudian, Nyonya Miranda berkata pelan,
"Kalau begitu… Kita panggil saja Alena pulang. Bagaimanapun juga dia anak kita. Perusahaan sedang membutuhkannya."
Selena mengepalkan tangannya erat. Tanpa diketahui oleh kedua orang tuanya rahang gadis itu mengeras. Ia tidak suka kalau Alena dipanggil kembali, tetapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Tuan Gunawan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. Pria itu menegakkan kembali punggungnya kemudian segera mengambil ponselnya untuk mencari nomor Alena.
Tetapi hingga beberapa kali melakukan panggilan, hanya terdengar bunyi ‘tut’ tanpa nada sambung. Yang mereka dengar hanya suara operator dari seberang, yang membuat rahangnya mengeras.
"Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau di luar jangkauan."
Nyonya Miranda ikut mengambil ponselnya untuk menghubungi Alena. Namun, hasilnya tetap sama. Karena merasa penasaran Selena ikut menghubungi dari ponselnya sendiri. Tapi tetap tidak tersambung.
Nyonya Miranda mulai merasa geram. “Ke mana sebenarnya anak itu? Kenapa sama sekali tidak bisa dihubungi?"
“Apa jangan-jangan dia sengaja supaya kita memanggilnya kembali?” Itulah isi pemikiran dari tuan Gunawan. Tidak ada kecemasan untuk Alena yang mereka pikirkan adalah perusahaan.
*
*
*
Sementara itu di kediaman keluarga Sebastian.
Suasana rumah megah yang biasanya tenang berubah mencekam.Suara bentakan keras menggema hingga ke seluruh ruangan utama.
Brak!
Sebuah vas kristal mahal meluncur menghantam lantai marmer hingga pecah berkeping-keping.
"Anak tidak berguna!"
Tuan Richard Sebastian berdiri tegak dengan kedua tangan berkacak pinggang. Wajah pria paruh baya itu memerah karena amarah yang sudah mencapai puncaknya. Ujung telunjuknya menunjuk tepat ke arah Reno yang sedang berlutut di hadapannya.
Reno sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya. Sekedar untuk menyentuh sudut bibirnya tampak robek pun tidak berani. Kedua pipinya tampak membiru. Bahkan pelipis kirinya masih terlihat memerah akibat pukulan yang baru saja diterimanya.
Di sofa yang berada tak jauh dari sana, Nyonya Melanie Sebastian hanya mampu menangis sambil menutupi mulutnya. Berkali-kali wanita itu ingin menghentikan suaminya, tetapi kemarahan Richard kali ini benar-benar di luar kendali.
"Papa... cukup..." ucapnya lirih.
"Diam, Melanie!" bentak Richard tanpa menoleh.
Wanita itu langsung terisak lebih keras. Sementara Tuan Richard sama sekali tak mengalihkan tatapannya dari Reno.
"Kamu tahu apa yang sedang terjadi sekarang?!"
Reno mengepalkan kedua tangannya. "Reno tahu, Pa."
"Tidak!" bentak Richard. "Kamu sama sekali tidak tahu!"
Pria itu mengambil sebuah tablet yang tergeletak di atas meja, lalu melemparkannya ke hadapan Reno. "Lihat sendiri!"
Layar tablet itu masih menampilkan berbagai portal berita bisnis.
'Pernikahan Pewaris Sebastian Group Resmi Batal.'
'Alena Bagaskara Mengumumkan Pembatalan Pernikahan di Hadapan Tamu.'
'Hubungan Sebastian Group dan Bagaskara Group Dipertanyakan Pasar.'
Richard menarik napas kasar. "Hanya dalam satu hari! Satu hari saja! Nama keluarga Sebastian menjadi bahan pembicaraan seluruh negeri!"
Reno menundukkan kepala semakin dalam. "Maafin Reno, Pa."
"Minta maaf?" Richard tertawa sinis. "Kamu pikir kata maaf bisa mengembalikan harga diri keluarga Sebastian? Kamu meninggalkan calon istrimu sendirian di pelaminan! Di depan ribuan tamu! Di depan media! Dan sekarang dengan entengnya kamu mengatakan maaf?"
Reno menggigit bibirnya. "Pa… Aku hanya..."
"Diam!" Richard memotong sebelum Reno mengeluarkan pembelaan diri. "Kamu tahu kenapa Papa memilih Alena menjadi calon istrimu?"
Reno perlahan mengangkat wajah. “Karena perjodohan yang diatur oleh kakek."
Richard menggeleng. "Alena itu perempuan cerdas, berpendidikan, punya kemampuan memimpin. Selama bertahun-tahun Papa memperhatikan sendiri bagaimana dia membantu Bagaskara Grup berkembang. Perempuan seperti itu sangat pantas menjadi Nyonya Sebastian."
Tatapan Richard berubah semakin tajam. "Lalu apa yang kamu lakukan? Kamu dengan bodohnya meninggalkannya demi perempuan lain."
Reno buru-buru menggeleng. "Reno tidak memilih Selena, Pa. Reno hanya menemani dia ke rumah sakit.”
Richard kembali mengambil sesuatu dari atas meja dan kemudian melemparkannya dengan kasar hingga mengenai kening Reno membuat pria itu meringis kesakitan.
“Dasar bodoh!” teriaknya keras. “Apa matamu buta? Apa kamu bisa melihat kalau Selena itu wanita manipulatif? Dia itu hanya wanita manja yang sama sekali tidak tahu apa-apa.”
Reno terdiam, tetapi kedua tangannya terkepal di samping badan. Ia sama sekali tidak rela ada seseorang yang menjelekkan nama Selena meski itu adalah Ayah kandungnya sendiri.
Richard menggeleng pelan. "Kamu mengecewakan Papa."
Suara Tuan Richard terdengar pelan, tetapi itu justru terasa jauh lebih menyakitkan daripada bentakan sebelumnya.
Richard melangkah mendekat hingga berdiri tepat di depan putranya, kemudian kembali berbicara dengan suara berat.
"Papa baru saja mendapatkan berita dari orang kepercayaan Papa."
Reno spontan mengangkat kepala.
“Kondisi perusahaan itu sedang kacau. Tidak ada yang tahu di mana Alena berada. Nomornya tidak aktif. Dia bahkan meninggalkan rumah keluarganya."
Raut wajah Reno langsung berubah. "Apa? Meninggalkan rumah?"
Richard mengangguk dingin. "Orang tuanya mengusirnya."
Mata Reno membelalak lebar. Bayangan Alena yang berjalan pergi sendirian langsung memenuhi pikirannya.Ke mana gadis itu pergi? Apakah ia baik-baik saja? Entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa dadanya sesak.
"Dengarkan baik-baik." Richard menghela napas panjang. "Papa tidak peduli bagaimana caranya. Pokoknya kamu harus menemukan Alena dan membawanya kembali. Hanya dia yang akan papa aku sebagai menantu keluarga Sebastian. Kalau kamu gagal, Jangan harap papa akan memberikan kursi pewaris padamu.”
Tubuh Reno membeku mendengar ancaman Papanya. Selama ini ia mengira orang tuanya hanya mempertahankan hubungan tersebut demi kerja sama bisnis dan juga Perjodohan antar orang tua.
Baru sekarang ia menyadari, Ayahnya benar-benar menghargai Alena sebagai pribadi, bukan sekadar sebagai pewaris keluarga Bagaskara. Namun kini, perempuan yang selama ini selalu Ia abaikan demi Selena... telah benar-benar menghilang tanpa jejak. Ke mana dia harus mencari Alena?
si bos cemburu tuh.... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣