Aku yang awalnya tinggal bersama mamah dan juga kakek nenekku harus berpisah karena sebuah kecelakaan, mereka semua meninggal. Aku diambil oleh ayahku yang telah menikah lagi dengan perempuan lain.
Setelah tinggal bersama ayahku hidupku tak pernah damai, aku selalu diperlakukan seperti seorang pelayan jika tidak ada ayah dirumah.
Tapi kehidupan ku tiba tiba berubah, saat bertemu dengan seorang laki laki yang tak sama sekali aku kenal, tapi dia seperti mengenalku.
Apakah dia orang dari masa laluku, atau siapa, dia memperlakukan dengan lembut dan juga sangat perhatian, dia begitu membuatku takut, tapi saat aku terus menghindar dia terus mengejarku.
Dan suatu hari aku mengetahui kalau dia telah melenyapkan seseorang, sedangkan hatiku sudah terikat dengannya, lalu apa yang harus aku lakukan, haruskah aku melaporkannya pada polisi atau membiarkannya ?
Ini adalah sambungan cerita psikopat Tampan dosenku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn dewi88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 ketakutan Darwin
"Maaf aku sudah menganggu kalian "
"Kak Chelsea sini masuk "
Aku melihat kak Chelsea yang diam saja dipintu. Seperti ada rasa sakit yang dia pendam. Dengan perlahan Kak Chelsea masuk dan memberikan pakaian ganti padaku.
"Gantilah pakaian mu ini, setelah ini kita pulang ya, sudah tak ada masalah lagi, kan "
"Iya sudah "
"Kata siapa, kau masih harus disini. Kau masih belum sembuh kau masih harus dirawat "
"Memangnya adikku sakit apa, dia sudah baik-baik saja berarti dia sudah boleh pulang, kan "
"Belum, dia masih harus dirawat kau bisa pulang "
Aku segera menjadi penengah " Abang aku baik-baik saja lebih baik aku pulang saja. Aku tidak mau disini, disini bau obat "
Abang menatapku dengan lekat lalu dia membuang pandangannya " Baiklah, ganti pakaian mu dan kita pulang sekarang "
Dengan semangat aku segera pergi kearah kamar mandi, aku menganti pakaian dengan cepat, tapi, aku urungkan niatku untuk keluar.
Karena aku mendengar suara Kakak yang bicara dengan Abang. Aku masih bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan meskipun sangat pelan.
"Kenapa Luc "
"Apanya yang kenapa "
"Kau tak pernah menganggap ku ada dari dulu " .
"Itu hanya fikiran mu saja, aku selalu menganggap mu, memangnya aku harus bagaimana padamu "
"Kau harus seperti pada Kat, aku juga mau kau memperlakukan aku seperti pada Kat "
"Tidak bisa, kau bukan Kat. Sudahlah aku tak mau membahas ini, ini sungguh tak penting bagiku "
"Tapi, ini penting bagiku Luc "
"Masa bodoh, aku tak peduli "
Aku tak mendengar suara mereka lagi, tapi, tiba-tiba aku mendengar suara gedoran pintu, sampai-sampai aku kaget.
"Kat apakah kau baik-baik saja ? "
"Ahh ya aku sudah Abang, sebentar "
Aku merapihkan penampilanku terlebih dahulu dan membuka pintunya. Abang langsung menarik tanganku tanpa menunggu Kak Chelsea.
Aku bahkan sudah menahan langkahku untuk menunggu Kak Chelsea, tapi Abang terus saja berjalan, mau tak mau aku juga harus ikut berjalan.
"Tunggu Abang, Kakak masih dibelakang"
"Tenang saja dia akan menyusul, kau tak usah risau dia sudah besar "
"Tapi, "
"Sudah Kat ayo " Abang memotong bicaraku, padahal aku belum beres bicarakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kenapa bisa gagal Darwin "
"Ya bisalah, lo tahu guru baru itu dateng sama Kakak lo. Mereka yang udah nolongin Kat, dan gue babak belur kayak gini. Kalau lo tadi ga dateng mungkin gue udah mati tahu "
"Ya gue juga dateng karena Kakak gue yang kasih tahu "
"Sebenernya ada apa sama Kakak lo itu, bukannya dia dulu benci banget sama Kat, terus kenapa dia sekarang peduli banget "
"Ga tahu juga, emang dia tuh suka bikin binggung"
"Apa dia lagi buat rencana ?"
"Ga tahu juga, karena memang pada dasarnya setelah Kakak gue kuliah kita udah ga deket lagi, dia kayak menjauh gitu loh "
"Pantesan "
"Gue pulang ya"
"Mau kemana lo Dimas, jangan ah gue sendirian dirumah sakit. Jangan tinggalin gue. Gue takut sama guru itu katanya dia bakal ambil mata gue, tolonglah jangan pergi"
"Apaan sih, itu mah cuman gurauan saja, gue harus pulang sekarang kalau ga pulang nanti ibu nyariin gue"
"Beneran dia ga akan dateng "
"Ga tenang saja "
Dimas langsung pergi meninggalkan Dimas sendirian, males juga kalau harus nunggu dirumah sakit.