Dalam tahap revisi.
like, komentar, dan vote
Bermula dari pertengkaran Mawar dengan kedua orang tuanya, yang tidak memberi restu hubungannya dengan Marsel kekasihnya, Mawar memutuskan untuk pergi meninggalkan rumahnya. Di malam yang tengah turun hujan deras, Mawar mengendarai sepeda motornya tanpa arah dan tujuan. Hingga dia sampai dipertengahan jalan yang kanan-kirinya dikelilingi pohon yang menjulang tinggi. Jalan itu seperti tak berujung, Mawar lalu melihat seorang gadis seumurannya. Mawar berhenti dan bertanya arah jalan keluar. Gadis tersebut memberitahu Mawar untuk terus berjalan lurus, sampai ada jalan yang bercabang, Mawar diperintahkan untuk berbelok kiri. Mawar menuruti semua kata-kata gadis tersebut, lalu Mawar meneruskan perjalanannya. Sangat jauh jalan yang ia tempuh, hingga ia menemui jalan bercabang, ia berbelok kiri dan terjatuh karena menabrak sosok hitam tinggi besar. Seketika Mawar pingsan ditempat.
Sosok apa yan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sukangarang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Tekad Kuat Mawar dan Mira
Bi Minah mengambilkan minyak telon dan memberikannya kepada Wulan, Wulan mencoba untuk membaui Saras dengan minyak tersebut.
"Saya telfon, Bapak apa gimana, Nak Wulan?"
"Em, takut ganggu kerja beliau, Bi, lebih baik, kita tunggu saja sampai, Ibu Saras bangun. Takutnya, Om Ruman nanti malah panik juga, kalo dikabarin."
"Oh begitu, ya sudah, saya ambilkan air hangat dulu, Nak Wulan,"
"Iya, Bi!"
Bi Minah kemudian bergegas menuju ke dapur. Wulan mengipasi Saras, ia juga menempelkan minyak telon tersebut didepan hidung saras.
"Kayaknya, Tante Saras gak tegar orangnya, aku harus lebih berhati-hati dalam menyampaikan berita tentang, Mawar. Supaya beliau tidak kaget."
Wulan berkata dalam hatinya.
Mawar berhasil masuk ke dalam kamar Mira, ia kaget saat mengetahui, Mira masih terbaring di atas ranjang. Wajahnya terlihat pucat, banyak luka di sana sini. Rambutnya semakin jarang. Mawar prihatin melihat kondisi Mira.
"Mir, Mira, Mir, bangun, ini aku, Mawar!" Mawar menggoyang lengan Mira dengan pelan. Ia berbisik di telinga Mira.
"Mira, kamu baik-baik saja kan? Tolong, bangun lah, Mir, aku membutuhkanmu."
Mawar mulai terisak, saat beberapa kali mencoba membangunkan, Mira, namun tidak berhasil. Mawar menangis bersimpuh di pinggir ranjang Mira. Ia membenamkan wajahnya di lengan Mira.
"Ya Alloh, sembuhkan Mira, berikanlah Mira kekuatan, selamatkan lah kami berdua, Ya Alloh!"
Mawar tidak bisa membendung air matanya. Ia menangis tersedu.
Sementara di sisi lain, Umi Fatma tengah melamun, memandang ke arah jalan, tatapannya kosong. Yang ada dalam pikirannya hanya Mira.
"Ya Alloh, hamba sudah ikhlas jika engkau mengambil, Mira dariku, hamba ikhlas!" kata Umi Fatma dalam hatinya, ia kemudian tersenyum. Namun, air matanya berderai.
Kang Ridwan menghubungi Pak Kyai, kali ini, ia mengobrol lewat sambungan telepon. Bukan bertemu secara langsung.
"Iya, Kang, ada apa! Sepertinya ini sangat penting." tanya Pak Kyai dengan wajah serius.
"Iya, ini sangat penting, begini, Kyai. Saya kemaren malam mencoba untuk melihat dengan batin saya. Saya ingin memberitahu, kalau, Mawar bisa saja keluar dari dalam rumah Ndoro Kusuma, dengan cara membawa pusaka setengah Naga yang terpajang di singgasana Ndoro Kusuma. Rupa-rupanya, pusaka itu, milik Raden K yang telah dicuri, seratus tahun yang lalu. Suruh Mawar untuk membawa Pusaka tersebut ke makam Raden K. Satukan lah pusaka itu dengan potongan yang lainnya. Potongan itu terdapat di makam Raden K."
"Tapi, bukankah tidak mudah untuk mencari makam Raden K itu, Kang! Ndoro Kusuma pasti akan mengejar Mengejar Mawar."
"Itu pasti, tapi jangan takut, prajurit dan panglima Raden K akan membantu, Kyai tenang saja."
"Tapi dimana letak makam, Raden K itu!"
"Itu sangat mudah, karena dimensi di sana sama. Kyai cukup mengarahkan saja, nanti, Mawar akan sampai dengan sendirinya."
"Baiklah kalo begitu, saya sangat berterimakasih, Kang, karena kamu sudah mau membantu."
"Jangan sungkan, Pak Kyai. Pak Kyai, jangan lupa, sebelum, Pak Kyai mencobanya, Kyai beritahu keluarga Mawar terlebih dahulu, dan bilang kepada mereka untuk menemui jalan yang berada di selatan yang saya beritahu sebelumnya kepada Pak Kyai. Nanti, saya akan bantu bukakan jalan di sana."
"Baik, Kang. Saya sangat berterimakasih, kamu banyak membantuku."
"Iya, Pak Kyai. Oh iya, untuk tongkat delima yang saya bilang itu, kapan mau di ambil?"
"Kalo hanya dengan mengarahkan saja, Mawar bisa kembali, sepertinya saya tidak butuh lagi tongkat itu, Kang!"
Kang ridwan tersenyum tipis. "Kyai, di sana tidaklah mudah, sebelum Mawar berhasil bertemu dengan prajurit dan panglima Raden K, dia akan melewati anak buahnya Ndoro Kusuma terlebih dahulu, apa, Pak Kyai, tidak mau merogo sukmo dan menghabisi anak buahnya terlebih dahulu?" tanya Kang Ridwan mencoba mengingatkan Pak Kyai.
"Astagfirullohal'adzim, kenapa saya tidak kepikiran ya, Kang! Astaghfirulloh, iya, nanti saya akan perintahkan Dimas atau Aziz untuk kesana, Kang! Hari ini juga," kata Pak Kyai sambil mengelus dadanya.
"Baiklah kalo begitu, saya tutup dulu teleponnya ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam,"
Pak Kyai mengakhiri panggilannya. Ia merasa bersalah karena sudah merasa sombong, dengan tidak memerlukan tongkat delima tersebut. Pak Kyai tampak beberapa kali mengucap istighfar.
Kemudian ia memanggil Aziz dan Dimas untuk mengambil tongkat tersebut di rumah Kang Ridwan.
"Iya, saya minta tolong, yah sama kalian. Nanti, habis duhur, kalian bisa berangkat!"
"Nggeh, Pak Kyai," jawab Aziz dan Dimas bersamaan.
nduk itu kan panggilan orgtua ke anak perempuannya
semangat ya thor..
aq rasa mawar disesatkan didunia lain.