Di mata teman-temannya yang sombong, Saka hanyalah "si beban" yang lamban, miskin, dan tak punya masa depan, sering kali menjadi bahan rongsokan ejekan dan perundungan. Namun, di balik senyum polos dan sikapnya yang kelihatannya bodoh itu, Saka menyembunyikan rahasia besar: dia adalah pewaris tunggal kemampuan mistis Raja Fengshui yang mampu melihat aliran Qi, pendar aura barang antik tak ternilai, hingga nasib malang-mujur seseorang hanya dalam sekali tatap. Sambil membiarkan musuh-musuhnya tertawa di atas ketidaktahuan mereka, Saka diam-diam meraup keberuntungan dari barang-barang pusaka yang dianggap remeh, menunggu momen paling tepat di sebuah pelelangan elit untuk membongkar kedoknya, menghancurkan harga diri mereka, dan memaksa dunia berlutut di hadapan sang Raja Fengshui yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Begitu sampai di depan pintu kamar Anya terdengar suara pecahan barang kaca yang dibanting dengan sangat keras.
Prang.
"Kalian semua dokter tidak berguna, keluar dari rumahku sekarang juga sebelum aku melempar kalian dari balkon." Terdengar suara bentakan seorang pria yang menggelegar sangat keras dari dalam kamar.
Beberapa dokter langsung berlari keluar dari kamar itu dengan wajah pucat pasi dan keringat dingin bercucuran. Mereka menunduk ketakutan melewati Saka dan Paman Surya tanpa berani mengangkat wajah sedikitpun.
Paman Surya menelan ludah pelan lalu memberanikan diri melangkah masuk ke dalam kamar yang suhunya terasa seperti lemari es itu. Saka mengekor di belakangnya dengan santai sambil mengamati dekorasi kamar mewah yang kini terlihat berantakan.
Di tengah ruangan berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan wajah yang sangat merah menahan amarah. Pria itu adalah Tuan Adijaya sang penguasa klan konglomerat yang sedang berada di puncak keputusasaannya.
Di atas ranjang terlihat Anya terbaring kaku dengan bibir yang sudah membiru dan napas yang sangat tipis nyaris tak terlihat. Kulit gadis itu pucat pasi bagaikan mayat yang sudah dibekukan di dalam tumpukan salju tebal.
"Tuan Besar, saya berhasil membawa Master Fengshui pemilik piring gaharu itu ke sini." Lapor Paman Surya sambil membungkuk hormat kepada majikannya.
Tuan Adijaya langsung memutar tubuhnya dengan cepat dan menatap ke arah pintu masuk dengan mata berbinar penuh harapan. Namun binar di matanya seketika memudar saat melihat sosok Saka yang masih sangat muda berdiri dengan gaya kasual.
"Surya, lelucon macam apa yang sedang kau bawa ke depanku saat putriku sedang sekarat begini." Geram Tuan Adijaya dengan suara berat yang menekan mental siapa saja yang mendengarnya.
"Aku menyuruhmu mencari Master Fengshui hebat bukan membawa anak kampus kemari untuk bermain dokter-dokteran." Bentak pria itu sambil menunjuk wajah Saka dengan tatapan penuh penghinaan.
Paman Surya buru-buru maju satu langkah mencoba menenangkan bosnya yang sedang dikuasai amarah buta itu. "Tuan Besar mohon tahan amarah Anda, pemuda ini benar-benar pemilik piring pusaka itu dan dia tahu rahasia kutukan Nona Anya."
Tuan Adijaya mendengus kasar lalu berjalan mendekati Saka dengan langkah yang sangat mengintimidasi. Tinggi badannya yang menjulang membuat pria itu menunduk menatap Saka seolah sedang melihat seekor semut kecil.
"Anak muda, aku tidak tahu trik penipuan apa yang kau pakai untuk membodohi bawahan setiaku ini." Ucap Tuan Adijaya dengan nada suara yang penuh ancaman mematikan.
"Tapi jika kau berani bermain-main dengan nyawa putriku hari ini, aku pastikan kau tidak akan bisa melihat matahari terbit besok pagi." Lanjut pria itu menatap mata Saka dengan kilatan membunuh yang sangat nyata.
Bukannya ketakutan Saka justru membalas tatapan membunuh penguasa klan itu dengan senyum meremehkan yang sangat menyebalkan. Dia bahkan tidak berkedip sedikitpun menghadapi tekanan mental dari aura seorang miliarder kejam di depannya ini.
"Ancaman yang sangat klise dan membosankan dari seorang ayah yang bahkan tidak becus melindungi putrinya sendiri." Balas Saka dengan nada suara yang luar biasa santai namun kata-katanya setajam pedang belati.
Tuan Adijaya melebarkan matanya kaget karena seumur hidupnya belum pernah ada satu orang pun yang berani membalas ucapannya seperti ini. Bahkan para pejabat tinggi di kota ini selalu menunduk hormat jika berhadapan langsung dengannya.
"Kurang ajar, kau berani menceramahiku di dalam rumahku sendiri." Tuan Adijaya mengangkat tangan kanannya bersiap untuk menampar wajah pemuda arogan tersebut.
Namun tangan pria itu langsung terhenti di udara saat Saka memiringkan kepalanya sedikit menatap lurus ke arah ranjang Anya. "Tampar saja saya Tuan, tapi setiap detik yang Anda buang untuk marah membuat racun es ungu itu semakin menggerogoti jantung putri Anda."
"Dan asal Anda tahu saja, piring rongsokan yang dibeli putri Anda seharga lima miliar itu hanyalah mainan bekas buanganku." Lanjut Saka memberikan fakta telak yang membuat Tuan Adijaya membeku di tempat.
"Saya di sini bukan untuk mengemis uang Anda, saya di sini murni karena kasihan melihat putri Anda yang bodoh namun keras kepala." Ucap Saka membalikkan keadaan menjadi seratus persen berada di bawah kendalinya.
Saka memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya dan menatap Tuan Adijaya dengan aura dominasi yang jauh lebih besar. "Sekarang pilihannya ada di tangan Anda Tuan Konglomerat."
"Penuhi syarat sepuluh miliarku dan minggir dari jalanku, atau silakan peluk putri Anda sambil menunggu malaikat maut datang menjemputnya dalam lima menit ke depan." Tantang Saka dengan ultimatum mutlak yang tidak memberikan ruang negosiasi sama sekali.
Keringat dingin seketika menetes dari dahi Tuan Adijaya melihat ketenangan luar biasa yang dipancarkan oleh pemuda di depannya ini. Insting bisnisnya sebagai penguasa klan mengatakan bahwa pemuda ini benar-benar memiliki kekuatan dewa yang tidak bisa diukur dengan akal sehat manusia.