Alexandria Rigest tidak menyangka akan terjebak di antara baku tembak pendemo Sebagai jurnalis dia ingin mengupas tuntas sisi gelap prilaku oknum-oknum yang duduk di parlemen. Ketika terjadi demo serta baku tembak di salah satu gedung pemerintah, Alexa ikut terjaring. Dia sendiri diculik oleh beberapa orang yang berpakaian hitam- hitam dan disekap di ruangan bawah tanah. Alvaro Ady Mema, itu nama bos gangster yang menculiknya. Kehidupan Alexa di manipulasi dan Alexa menjadi budak nafsu Alvaro yang terkenal kejam tidak punya prikemanusiaan. Bisakah Alexa lepas dari cengkraman Alvaro? atau dia malah jatuh cinta kepada bos mafia itu?
****
Hallo readers yang selama ini sudah support aku, mampir ya...
jangan lupa kasi like, gift, vote dan favorit. Trimakasih....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YOUR SHADOW
Adakah yang bisa mengobati hati yang sakit? Alvaro duduk mematung sambil menyesap minumannya. Seumur hidup baru kali ini dia dibuat menangis oleh seorang gadis. Seandainya waktu itu dia mengajak Alexa pulang, Alexa pasti masih hidup.
Aku akan meresapi semua makna di balik kenangan pahit yang kau berikan padaku, akan kujadikan pelajaran dalam hidupku. Aku tidak tahu apakah sepeninggalmu, ada masa depan yang bisa aku gapai. Aku berkata, bahwa makna hidupku telah hilang ditelan masa dan sejujurnya, aku tidak ingin hidup lagi. rintih Alvaro sedih.
Kehilangan Alexa membuat dirinya tidak mampu berpikir jernih. Bayangan gadis itu terus menari di pelupuk matanya. Alvaro merasa sangat berdosa karena dirinya gadis itu meninggal.
"Tuan apakah kau ingin di pijat, aku ingin menyentuhmu." Kissy berdiri mendekati Alvaro yang duduk di balkon.
Pria itu duduk bersandar dan menaikan kakinya ke atas meja. Wajahnya yang ganteng dengan sorot mata tajam menatap Kissy dari atas ke bawah.
"Aku tidak berselera dengan kau. Jauhlah dariku."
"Maaf, aku akan menunggu disini." jawab wanita itu dengan sopan.
Harapan bercinta dengan bos ganteng ini punah. Kissy hanya bisa gigit jari ketika ditolak. Dia iri kepada wanita yang bisa menundukan pria dingin ini.
Alvaro membuka ponsel pribadinya ketika terus menerus berdering. Ponsel ini hanya bisa dihubungi oleh Marchel dan keluarga besarnya saja. Ada beberapa chat masuk dan panggilan dari Marchel.
Marchel mengatakan sistem data error dan kemungkinan sistem perusahan di hack oleh hacker. Alvaro tidak peduli, dia tidak ingin diganggu oleh masalah perusahan. Pria itu melewati chat dari mereka.
Tiba-tiba ponselnya error dan muncul chat aneh yang membingungkan. Kenapa bisa ada chat tanpa tuan?
"I am not burned by fire and not wet by water. I am your shadow. (aku tidak terbakar oleh api dan tidak basah oleh air. aku adalah bayanganmu).
Alvaro menaruh gelas minumannya, rasa pening akibat Tequila mendadak hilang. Apakah ponselnya dibajak? Alvaro meraih tas kerjanya dan mengambil ponselnya. Astaga, ke lima ponselnya mati dan di layar terpampang tulisan konyol itu.
"Heh...pinjam ponselmu, aku mau menelpon ajudanku." kata Alvaro kepada Kissy.
"Baik Tuan." Kissy menyerahkan ponselnya berharap Alvaro menyukainya.
Alvaro kemudian menelepon ke rumah, tapi tidak ada yang mengangkat.
"Suruh "mami" mu order Taxi, aku mau pulang." perintah Alvaro.
"Baik Tuan."
Alvaro mengambil tas kerjanya dan keluar menemui bos Pataya.
"Kenapa buru-buru Tuan."
"Aku ada urusan mami." kata Alvaro mengeluarkan ponselnya.
"Waduhh...ponselku error." kata Alvaro menepuk jidatnya. Dia tidak bisa membayar dengan mobile banking.
"Sudah ada yang melunasi Tuan." kata mami memperlihatkan tanda bukti pembayaran di ponsel mami. Alvaro kebingungan. Siapa yang melunasi?
Dalam perjalanan pulang Alvaro berpikir keras, dia curiga kepada Margareta, Honduras dan musuh-musuh yang lain. Otaknya tidak bisa mencerna lebih jauh masalah ini. Dia harus konsultasi dengan ahli I.T dan mengungkap pelaku yang ada dibalik nama Your Shadow.
Yang aneh adalah membayar ke "mami" kenapa your shadow tahu dia berada di mami dan tidak bisa bayar. Sungguh memalukan. Alvaro merenung sepanjang perjalanan pulang.
Di Manssion, Margareta tersenyum penuh kemenangan tatkala ke empat bawahanya mengadu tentang kebakaran yang terjadi di Villa Alvaro. Mereka yakin Alexa sudah menjadi debu.
"Apakah sudah aman saat kalian berada disana. Aku ragu-ragu, masalahnya polisi tidak menemukan tulang manusia."
"Sudah jadi abu nona, pelakor itu pasti sudah mati. Tuan banyak musuh, saya yakin mereka tidak curiga dengan kita."
"Aku takut dia lari, kita tidak tahu pasti. Apa Alvaro mengunci pintu atau tidak." Margareta tampaknya masih ragu.
"Tuan tidak mungkin sembrono, dia pasti mengurung tawanannya. Apalagi Alexa, gadis yang disayang."
"Semoga wanita itu mati, aku paling benci dengan manusia itu. Pelakor sombong. Kalian ambil bayarannya, ingat tetap tutup mulut." Margareta memberi pengawal itu amplop coklat yang berisi uang.
"Baik nona ...." sahut mereka hampir berbarengan.
"Ada apa kalian disini?" tiba-tiba mereka di kagetkan oleh suara Marchel.
"Pengawal menjagaku, mereka kira aku mau mengamuk lagi. Aku sudah tenang." kata Margareta pura-pura sedih.
"Ada hacker yang membobol sistem kita. Nona bantu aku memulihkan data." kata Marchel kepada Margareta.
"Aku bukan ahli I.T minta tolong kepada pak Simon kepala I.T kantor." saran Margareta mengikuti Marchel ke ruang kerja Alvaro. Mereka berdua sibuk mencurigai setiap client, musuh dan karyawan terdekat.
Marchel kebingungan. Dia yakin ada yang nge hack data-data perusahan. Tapi siapa?
"Marchel...." suara Alvaro mengagetkan mereka.
"Untunglah Tuan datang, sistem kita bermasalah." kata Marchel.
"Aku tahu karena ponselku juga kena hack, anehnya dia yang membayar tagihanku kepsda mami."
"Kenapa bisa begitu. Berarti dia orang terdekat atau mama Farida."
"Astaga Marchel, mamaku hanya bisa main handphone. Dia tidak mungkin membuat aku menderita." pungkas Alvaro.
"Horreee...laptopnya hidup normal kembali!!" seru Margareta kegirangan.
"Benarkah..." Alvaro dan Marchel ikut senang.
Alvaro menelepon pak Simon di kantor memerintahkan supaya memeriksa sistem dan efek dari sistem yang di bajak selama lima belas menit.
"Marchel, cari ahli I.T supaya kita tahu kelemahan sistem kita. Kau priksa bursa efek, apa berpengaruh."
"Ya Tuan, aku akan menggunakan privasi sistem supaya income statement tidak bisa tersentuh oleh hacker."
"Apa kau berpikir ini ulah hacker?"
"Ya, kemungkinan dia sudah menguasai data-data kita. Jika dia bisa membayar tagihan berarti kebangktutan kita ada di depan mata." ucap Marchel dengan kening berkerut.
"Margareta coba kau ikut berpikir secara acak kira-kira siapa yang masuk list sebagai hacker."
"Bisa saja Maria, dia belum tertangkap selama ini. Aku melihat dia orangnya cerdas." jawab Margareta memandang Alvaro, padahal yang bertanya Marchel.
"Bisa jadi Tuan, selama ini kita mengabaikan perempuan itu. Bisa saja dia berkolaborasi dengan mafia lain dan Maria sampai ketemu, hidup atau mati." perintah Alvaro.
"Siap Tuan."
Alvaro merasa seperti mimpi menghadapi kejadian ini. Dia menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Ingatannya kepada Alexa kembali memenuhi otaknya. Rasa sedih mengoyak sanubarinya saat Slvaro memandang foto Alexa di galeti. Alvaro menyenderkan punggungnya lebih dalam di sofa, matanya memandang kosong ke depan.
"Sayank, apa kau ingin minum?" sentuhan lembut di bahunya membuat Alvaro menoleh. Margareta tersenyum manis, dia merendahkan dirinya menyapa Alvaro.
"Aku ingin mabuk supaya bisa melupakan Alexa." sahut Alvaro acuh.
"Bagaimana kalau kita ke kamar, aku akan membuat kau melayang."
"Ayolah, ambilkan aku satu botol minuman, aku ingin tidur."
"Aku akan membuat kau melupakan wanita itu untuk selamanya." kata Margareta menuntun Alvaro ke kamarnya.
****