Sebuah kecelakaan membawa jiwa Jessica Light menjelajah ke belahan dunia lain. Dia bahkan harus menempati tubuh seorang gadis culun dan gemuk yang selalu dikucilkan bernama Jennifer To.
Jiwa Jenni bergentayangan di dekat tubuhnya karena dia sempat mencoba bunuh diri lantaran tak kuat dengan penindasan yang selalu didapatkan selama ini. Bahkan ayahnya sendiri membencinya sejak lahir.
"Kau adalah anak pembawa sial! Jika bukan karena melahirkanmu, aku tidak mungkin kehilangan istriku!"
Sebuah kalimat yang selalu didengar ketika sang ayah memarahinya.
Mampukah Jessica membantu Jennifer mengubah takdir. Akankah jiwa mereka bisa kembali ke tubuh masing-masing?
Cerita ini hanyalah fiktif belaka karangan author. Jika ada kesamaan latar, tokoh, dan alur murni karena ketidaksengajaan.
WARNING!!! CERITA INI MENGANDUNG AKSI KARENA JESSICA ADALAH KETURUNAN JESSLYN LIGHT DI NOVEL YANG BERJUDUL 'Dangerous Woman Jesslyn'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rissa audy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Kecemburuan
Sorenya Rose pulang sekolah dengan wajah kesal. Dia membuang tasnya ke sembarang tempat dan langsung meletakkan diri di kursi keluarga karena masih malas ke kamar. Pagi tadi pria tampan yang mengantarkan Je mengabaikannya dan siang harinya gadis itu malah diperebutkan oleh dua orang pria lagi.
"Menyebalkan!" Rose mendengus kesal dengan wajah wajah mengeluarkan semburat merah. Rasa cemburu kembali menguasainya setelah sekian tahun berada di atas awan karena dipuja banyak orang.
Kini Jenni kembali menjadi pusat perhatian dan Rose tidak suka akan hal itu. Bukan hanya teman-teman di sekolah tak lagi merundung Jenni, tetapi dia bahkan berteman dengan Sam Sul. Pria tampan idaman gadis-gadis sekolahan yang merupakan anak dari konglomerat ternama.
Belum sempat rasa cemburunya reda karena itu. Jenni malah kembali diperebutkan pria dewasa yang cukup tampan dan mempesona. Sepengetahuannya salah satu pria itu adalah Richard, dokter tampan dengan sifat dinginnya, tetapi membuat siswi lain berbondong-bondong ke ruang kesehatan.
"Tapi siapa pria satunya itu?" gumam Rose sambil menggeleng kecil mengingat kembali wajah tampan yang tak pernah dia lihat sebelumnya itu.
"Menyebalkan! Menyebalkan! Menyebalkan!" teriak Rose dengan kesal sambil memukul-mukul bantal kursi di sampingnya.
Min Ten yang baru turun dari tangga melihat anaknya tampak frustrasi pun mendekat ke arahnya. "Kau kenapa, Sayang?" tanyanya sambil duduk di sebelah sang putri.
"Jenni, Mom. Dia sungguh membuatku kesal. Aku pikir setelah diusir dia akan menderita. Tapi lihat sekarang! Dia malah jadi langsing dan dikerumuni banyak pria," ucap Rose mengerucutkan bibirnya.
Niat ibu dan anak itu sejak awal menendang Jenni keluar dari rumah supaya gadis itu menjadi gelandangan. Namun, mereka tak mengerti bagaimana bisa dia malah berjaya di luar dan mampu mengubah penampilannya dengan sempurna.
"Sudahlah. Jangan terlalu memikirkan bocah sialan itu! Lebih baik kau jalan-jalan saja untuk menghilangkan stres. Nah!" Min Ten memberikan beberapa lembar uang kepada putrinya untuk berfoya-foya. Seperti biasa mereka memang suka menghambur-hamburkan uang dengan hal membuat keduanya senang.
"Apa, Mommy mau pergi!" tanya Rose melihat ibunya yang sudah tampil rapi. Lengkap dengan aroma menggoda gairah yang biasa dipakai jika menemui seseorang.
"Tentu saja. Mommy sudah ditunggu. Jangan terlalu memikirkan gadis itu lagi!" Dia berdiri dari posisinya sambil mengusap pucuk kepala sang anak.
"Bagaimana kalau Daddy pulang dan tahu Mommy keluar?" Biasanya setiap Min Ten keluar, Rose akan memberikan alasan klasik ketika Su Man To pulang. Entah ibunya sedang pergi arisan bersama teman sosialita atau kegiatan para mama muda high class lainnya.
"Dia tidak akan tahu, mungkin sudah tidak bisa pulang lagi. Jangan terlalu memikirkannya! Mommy pergi dulu." Tanpa membuang waktu Min ten beranjak pergi dan meninggalkan putrinya yang hanya bisa menggaruk tengkuknya.
"Apa maksud Mommy?" ucapnya keheranan, tetapi dengan cepat gadis itu menepis pikirannya. "Sudahlah. Lebih baik aku pergi ke club malam."
Rose meraih tasnya dan bergerak ke lantai atas dengan wajah ceria. Dia mengibaskan lembaran uang yang diberikan ibunya sebagai kipas. Kapan lagi bisa bermain-main di club malam dengan teman-teman tanpa mengkhawatirkan hal itu diketahui sang ayah.
Sementara itu, Min Ten yang bergerak keluar rumah langsung masuk ke sebuah mobil hitam yang berhenti di tepi jalan. "Maaf lama menunggu," ucapnya sambil mengecup bibir pengemudi di kendaraan itu.
TO be Continue...