Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 11
Mobil itu melaju meninggalkan pekarangan rumah, membelah hiruk pikuk jalanan pagi. Di dalam mobil, suasana hening. Alysia memutar lagu anak-anak yang ceria, namun Arkhasa sama sekali tidak berniat bernyanyi. Dia duduk di kursi khusus anak di belakang, menatap ke luar jendela dengan wajah yang ditekuk.
Alysia melihat dari kaca spion tengah. Mata bocah berusia enam tahun itu tampak bengkak, dan sesekali bahunya bergetar kecil karena menahan isak.
"Arkha sayang," panggil Alysia lembut setelah mereka berhenti di lampu merah. Dia menoleh ke belakang, memberikan senyuman paling hangat yang ia punya.
"Masih sedih, ya?"
Arkhasa tidak menjawab. Dia hanya memeluk boneka beruang kecil yang selalu dia bawa ke sekolah. Suaranya terdengar serak saat dia akhirnya berujar.
"Papa jahat, Ma. Papa janji mau lihat Arkha main drum minggu lalu, tapi Papa malah pergi ke Singapura. Kemarin lusa Papa janji mau pulang cepat buat main bola, tapi Papa malah pulang tengah malam lagi. Kalau Minggu, papa juga lebih sering berada di dalam ruang kerjanya seharian. Papa nggak ada waktu main sama Arkha! Apa papa nggak sayang Arkha?"
Arkhasa menatap Alysia dengan mata bulatnya yang polos, namun penuh dengan kekecewaan yang sangat dalam.
"Apa Papa sudah tidak suka sama Arkha? Apa Arkha nakal sampai Papa tidak mau main sama Arkha? Atau apa Arkha ini bukan anaknya Papa?"
Hati Alysia terasa dicubit. Dia segera melepas sabuk pengamannya dan berbalik menghadap ke belakang untuk meraih tangan kecil Arkhasa.
"Eh, dengar Mama dulu, sayang," ucap Alysia dengan nada tegas namun penuh kasih.
"Arkha anaknya Papa kok! Kata siapa Arkha bukan anaknya Papa? Arkha bukan anak nakal. Arkha itu anak yang hebat, pintar, dan sangat baik. Bahkan Arkha berprestasi kan di sekolah. Mama saja sangat bangga sama anak mama ini. Papa itu... Papa sedang punya banyak urusan yang harus diselesaikan, Nak."
"Tapi kenapa urusan Papa lebih penting daripada acara Arkha?" tanya Arkhasa polos, suaranya kembali pecah.
"Arka lihat Papa selalu sibuk sekali sama HP dan tabletnya. Padahal Arka sudah pakai baju rapi, sudah belajar dan juga sampai jadi juara supaya Papa bangga. Apa nanti kalau Arka tampil lagi, Papa tetap akan pergi?"
Alysia menarik napas panjang. Dia tidak ingin memburukkan citra Damian di depan anaknya, tapi dia juga tidak mau membohongi Arkhasa lagi dengan janji-janji kosong Damian.
"Arkha," Alysia mengusap pipi anaknya dengan lembut.
"Terkadang, orang dewasa memang lupa hal-hal yang paling berharga karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Papa mungkin lupa kalau senyum Arkha itu jauh lebih berharga daripada semua pekerjaan di dunia ini."
"Jadi Papa sudah tidak sayang sama Arkha?" Arkhasa kembali bertanya, kali ini dengan nada pasrah yang membuat dada Alysia sesak.
"Tidak, sayang. Papa sayang sama Arkha, tapi mungkin cara Papa menunjukkannya belum bisa dimengerti sama Arkha sekarang," jawab Alysia hati-hati.
"Tapi, Mama mau janji satu hal sama Arkha. Meskipun nanti Papa sibuk lagi, ada Mama yang selalu ada di sini. Mama yang akan jadi penonton paling semangat. Mama yang akan teriak 'Semangat Arkha!' paling kencang. Kita tidak butuh Papa kalau memang Papa belum bisa, oke? Kan ada Mama."
Arkhasa terdiam sejenak, mencerna ucapan ibunya. Dia kemudian memeluk leher Alysia yang menjulur ke kursi belakang.
"Mama tidak boleh sibuk juga ya? Mama jangan pergi ke Singapura juga," pinta Arkhasa pelan.
Alysia memeluk balik anak itu erat-erat. Ada air mata yang hampir jatuh, tapi dia tahan demi tetap terlihat kuat.
"Enggak, sayang. Mama tidak akan ke mana-mana tanpa Arkha. Kita berdua saja, ya?"
Arkhasa mengangguk di bahu Alysia.
"Iya, kita berdua saja. Arka cuma mau sama Mama."
Alysia kembali ke posisinya dan mulai menjalankan mobil saat lampu berubah hijau. Meski Arkhasa terlihat mulai tenang, Alysia tahu bahwa luka di hati anaknya dan luka di hatinya sendiri. Tidak akan bisa sembuh hanya dengan kata-kata. Sebuah perubahan besar harus segera terjadi.
Lalu bagaimana dengan dirinya? Apa dia sanggup pergi meninggalkan Arkhasa seperti ini? Apalagi dia ada niatan untuk pergi dari Damian dan tinggal menunggu waktu yang tepat. Dia bukan istri melainkan pengasuh Arkha. Lalu kalau dia pergi Apa Arkhasa tak semakin terluka? Apa dia tega? Bahkan dia sudah menganggap Arkha seperti anak kandungnya sendiri.
Bagaimana jika aku benar-benar pergi? bisik suara itu di kepalanya.
Jika Damian saja yang secara biologis adalah ayahnya mampu membuat Arkhasa hancur karena ketidakhadirannya, bagaimana dengan dirinya yang "hanya" seorang pengasuh? Kepergiannya nanti bukan hanya akan menjadi pengkhianatan bagi Damian, tapi yang jauh lebih menyakitkan adalah pengkhianatan mutlak bagi kepercayaan Arkhasa yang sudah sangat rapuh.
Alysia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang tidak beraturan. Dia teringat tumpukan dokumen di laci meja riasnya tiket, tabungan yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit selama dua tahun ini, dan sebuah janji pada dirinya sendiri untuk lepas dari jeratan rumah tangga yang dingin ini.
"Mama?" suara Arkhasa memecah lamunan, tipis dan ragu.
"Ya, sayang?" Alysia menyahut, suaranya sedikit bergetar meski dia berusaha keras menutupi.
"Kalau nanti Papa masih tidak punya waktu, kita pindah rumah saja, ya? Kita cari rumah yang tidak ada ruang kerjanya. Jadi Papa tidak bisa sembunyi lagi."
Kalimat polos itu bagaikan belati yang menghujam tepat ke ulu hati Alysia. Arkhasa tidak tahu bahwa di mata sang anak, Alysia adalah pelabuhan terakhir. Arkhasa tidak tahu bahwa "rumah" yang dia maksud sudah berada di ambang keruntuhan.
Alysia tersenyum getir, menahan air mata yang mendesak keluar. Dia membelokkan mobil memasuki gerbang sekolah Arkhasa.
"Kita akan cari jalan keluar yang terbaik untuk Arkha, ya? Apapun yang terjadi, Mama akan pastikan Arkha tidak sendirian."
Saat mobil berhenti sempurna, Arkhasa melepas sabuk pengamannya dan memeluk Alysia sekali lagi dengan sangat erat sebelum turun.
"Ingat ya, Mama. Janji."
"Janji," bisik Alysia.
Dia memperhatikan punggung kecil itu berjalan menjauh memasuki gerbang sekolah, langkahnya yang tadinya lesu kini tampak sedikit lebih mantap. Namun, saat sosok Arkhasa menghilang di balik pintu kelas, Alysia justru merasa napasnya tersumbat.
Dia mematikan mesin mobil. Di keheningan parkiran sekolah yang mulai sepi, ia akhirnya membiarkan pertahanan dirinya runtuh. Air mata yang dia tahan sejak tadi mengalir deras.
Apakah aku harus mengorbankan kebahagiaanku selamanya demi anak ini? Atau apakah aku harus menjadi orang jahat yang menghancurkan hatinya demi menyelamatkan diriku sendiri?
Alysia menatap dasbor mobil, lalu pada tas kerjanya yang berisi kunci cadangan apartemen di pusat kota. Dia tidak bisa terus berpura-pura. Namun, setiap kali dia menatap wajah Arkhasa, rencana kepergiannya terasa seperti mimpi buruk yang tidak sanggup dia eksekusi.
Dia terjebak dalam dilema yang tak memiliki jalan keluar yang bersih. Dia mencintai Arkhasa lebih dari apapun, tapi dia pun sudah tidak sanggup lagi membiarkan dirinya terkubur hidup-hidup di rumah Damian. Pria yang dia cintai sebagai suaminya, tapi ternyata pria itu tak pernah mencintainya dan malah memilih bertemu dengan wanita lain diam-diam di belakangnya dengan alasan dinas luar negri atau luar kota.
Bersama dengan wanita lain, bahkan seorang Damian bisa tersenyum lembut. Menyentuh tangannya dengan tanpa perlu berpura-pura di depan semua orang tidak seperti kepada dirinya. Apalah artinya dia bagi Damian selain orang yang mengurus segala kebutuhannya yang tak lebih dari asisten dan juga hanya ibu bagi anaknya.
Namun saat dia mantap untuk pergi, Arkhasa juga terluka karena Damian. Hal itu dilema lagi untuk Alysia. Dia masih menangis menumpahkan segala perasaan yang sedari tadi dia tahan.
Sebuah dering telepon membuyarkan tangisannya.
Nama "Damian" terpampang di layar. Alysia menatap ponsel itu dengan tatapan dingin, seolah menatap musuh yang paling dia benci sekaligus dia takuti.
lanjut lg thooorrrr🥳🥳🥳🥳
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,